
Ryo setuju untuk bertanding melawan Hiro. Permainan nanti akan dilaksanakan ketika jam pelajaran sudah selesai.
Setelah melakukan kesepakatan, Hiro dan Shima keluar dari ruang guru. Hiro segera memutar tubuh Shima dan memegangi pundak kawannya itu.
"Shima, kumohon jangan merendah lagi. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Itu hanya akan membuat keadaan semakin memburuk!" tegas Hiro, yang disertai dengan kernyitan dikeningnya.
"Baiklah. Jangan cemaskan aku!" balas Shima, tersenyum.
Tiba-tiba suara keributan terdengar dari arah kantin. Menyebabkan atensi Hiro dan Shima dialihkan ke sumber suara. Keduanya lantas berjalan ke sana, untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi.
"Hahaha... kau pikir sekarang kami takut kepadamu?!"
"Hei Izumi! apa kamu tahu betapa menjijikannya sikapmu selama ini?!"
"Semua orang di sekolah ini sudah bersatu untuk melawanmu. Kami tidak takut lagi kepadamu dan keluarga Nakagawa-mu itu!"
Semua murid di kantin melakukan perundungan bersama kepada Izumi. Beberapa siswa lelaki bahkan ada yang melemparinya dengan makanan.
"Kau pantas mendapat karma!" ujar mereka, sinis. Menatap Izumi dengan perasaan jijik.
Izumi mengeratkan rahangnya. Kedua tangannya mengepalkan tinju. Dia mengurungkan niat untuk makan di kantin. Akan tetapi ketika membalikkan badan ke arah pintu, dia melihat Hiro berjalan melingus melewatinya. Di iringi Shima dari belakang. Ekspresi Izumi yang tadinya cemberut berubah menjadi datar. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan Hiro. Sebenarnya dirinya berharap lelaki tersebut bersedia membelanya.
Hiro berderap menghampiri beberapa lelaki yang sudah merundung Izumi. Kedua tangan Hiro mencengkeram erat kerah baju salah satu dari mereka. Namanya adalah Chizuru, lelaki berkacamata yang tadi pagi sempat bicara dengan Hiro. Semua mata tertuju pada momen ketegangan tersebut.
Chizuru malah mentertawakan perlakuan Hiro terhadapnya. Dia kemudian berkata, "Apa kau segitu menyukai Izumi? aku kira amnesia sudah berhasil membuatmu membenci gadis itu." Chizuru masih memasang mimik wajah cengengesan yang menyebalkan.
"Jika kau tidak suka pembulian, kenapa kau malah melakukannya dengan tanganmu sendiri?!" geram Hiro semakin mengeratkan pegangannya. Kini Chizuru mulai merubah ekspresinya menjadi lebih serius.
"Karena... Izumi memang pantas mendapatkannya. Harusnya kau bergabung dengan kami, Hiro. Bukankah kau juga termasuk salah satu orang yang sering dirundungnya?" balas Chizuru sembari menggertakkan gigi.
"Tidak!" Hiro menarik kerah baju yang dipegangnya, lalu melemparkan Chizuru ke arah meja.
Bruk! Prang!
Chizuru sontak terhuyung. Badannya terjatuh mengenai meja yang dipenuhi dengan makanan dan minuman. Seketika keadaan kantin menjadi ribut. Benda yang terbuat dari kaca langsung pecah, bahan makanan pun berhamburan di lantai.
__ADS_1
"Lihat, siapa sekarang yang melakukan perundungan?!" sarkas Chizuru, melotot tajam ke arah Hiro.
"Aku hanya memperingatkanmu!" sahut Hiro sambil mengarahkan jari telunjuknya ke dada Chizuru. Dia sedikit membungkukkan badan, karena Chizuru masih terduduk di lantai. Selanjutnya Hiro berbalik dan pergi menjauh.
Merasa tidak terima Chizuru diperlakukan se-enaknya, Haori yang merupakan teman dekatnya berniat melakukan serangan. Dia mengambil sebuah botol soda dan melemparkannya ke arah Hiro.
Shima yang kebetulan berdiri paling dekat, bergegas membawa Hiro menghindar dari botol soda. Keduanya merunduk ke bawah secara bersamaan. Sehingga benda keras itu meleset dan terjatuh ke lantai.
Prang!
Kini botol soda pecah menjadi serpihan-serpihan kecil nan tajam. Siswi-siswi yang terkejut reflek berteriak nyaring.
Serangan yang dilakukan Haori tentu membuat kemarahan Hiro semakin memuncak. Meskipun awal niatnya hanya ingin mengambil hati Izumi, namun perlakuan Haori kepadanya sudah keterlaluan.
Haori beserta Chizuru tampak siap melakukan perlawanan. Aksi perseteruan terjadi. Perkelahian menjalar kepada siswa yang lainnya. Bahkan Shima ikut bergabung, karena tidak mau membiarkan Hiro mendapat masalah sendirian.
Keributan yang terjadi, membuat Eri terpacu untuk menyerang Izumi. Mereka sontak saling adu jambak rambut. Kini bukan hanya lelaki yang terlibat dalam perkelahian, tetapi juga perempuan.
Suasana di kantin bertambah parah. Piring-piring dan makanan bertebaran dimana-mana. Beberapa meja dan kursi ada yang terbalik. Suara pekikan murid yang tidak ingin terlibat memekakkan telinga. Dentingan dari suara gelas dan sendok yang jatuh saling sahut menyahut.
Penjaga kantin tampak kewalahan. Dia yang berusaha berteriak untuk memberikan teguran, malah terkena lemparan telur dadar. Akhirnya dia tidak punya pilihan selain melarikan diri dan melapor kepada kepala sekolah.
Hiro dan yang lain sontak berhenti melakukan kegiatan intensnya. Wajahnya terlihat mendapatkan goresan kecil, entah dari siapa.
Semua murid yang terlibat perkelahian langsung diberi sanksi. Mereka dihukum membersihkan area sekolah selama satu minggu. Dari mulai lapangan, kelas, koridor serta toilet. Hukuman akan berlaku setelah pulang sekolah. Jadi, ketika teman-temannya pulang ke rumah, mereka yang dihukum akan tinggal lebih lama di sekolah.
Kini Hiro, Shima dan Izumi sedang berada di lapangan. Membersihkan sampah dedaunan kering yang berhamburan. Kelompok murid yang dihukum sendiri dibagi berdasarkan tempat tertentu.
Hiro dan Shima tampak bekerjasama membersihkan dedaunan. Hiro yang menyapu, sedangkan Shima yang membawa tumpukan daun ke bak sampah.
Sementara Izumi, hanya duduk santai di bangku panjang. Menjadikan sapu yang dipegangnya sebagai alat untuk menopang tangannya.
Dari kejauhan terlihat Ryo tengah berderap kian mendekat. Setibanya di hadapan murid yang dicarinya, dia langsung memberitahu kalau Hiro sudah kehilangan peluang untuk ikut pertandingan judo antar sekolah. Jadi, tidak akan ada pertandingan yang terjadi di antara Hiro dan Ryo. Sebab masalah yang dibuat Hiro dikantin tadi sangat berlebihan.
Hiro sama sekali tidak sedih. Malah dia tidak peduli akan hal itu. Ia lantas kembali menyapu dan membantu Shima. Bergumul dalam diam dan fokus pada pekerjaan selang puluhan menit.
__ADS_1
"Aku tidak akan melupakan apa yang kalian lakukan tadi," celetuk Izumi, memecah keheningan yang sempat terjadi.
Shima menatap malas ke arah Izumi. "Jika kau merasa berterima kasih, kenapa tidak membantu kami?" pungkasnya.
"Hmmh... aku merasa sangat lelah. Hari ini terasa sangat berat bagiku," keluh Izumi seraya menghela nafas berat.
"Karena bulian yang kau terima?" timpal Hiro, menebak. Menambahkan tawa kecilnya. Gigi-gigi putihnya yang rapih mengintip dari balik bibirnya.
Izumi hanya membalas dengan tatapan tajam. Sedikit memanyunkan mulut kesal, akibat ucapan Hiro.
"Aku akan membalas perbuatan mereka. Lihat saja nanti!" gerutu Izumi. Mendengus kasar untuk yang sekian kalinya.
Hiro dan Shima reflek saling bertukar pandang. Bagaimana tidak? setelah banyaknya insiden buruk yang menimpa, gadis tersebut masih saja egois dan tidak ingin kalah. Kedua lelaki itu hanya geleng kepala melihat perangai Izumi, dan mencoba sebisa mungkin untuk memahami.
Perlahan Shima mendekatkan mulutnya ke telinga Hiro. Dia mengambil kesempatan, saat Izumi sedang sibuk dengan ponselnya.
"Hiro, sekarang aku mengerti kenapa Eri dan Ashami tidak mau berteman dengannya?" bisik Shima, pelan.
"Dia sangat menyebalkan!" respon Hiro, melirik Izumi selintas.
Interaksi Hiro dan Shima berakhir, saat Izumi mendadak berdiri, dan meletakkan sapunya. Dia kemudian berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya.
...
Waktu sudah semakin sore. Upaya bersih-bersih sudah selesai. Hiro dan Shima telah mengenakan tasnya masing-masing. Keduanya baru melangkah keluar dari gerbang sekolah. Namun sebuah mobil mewah tiba-tiba memaksa pergerakan kaki mereka terhenti.
Perlahan kaca jendela mobil terbuka. Tampaklah Izumi yang tengah duduk di depan setir. "Ayo masuk! ikutlah denganku, aku mau mengajak kalian bersenang-senang. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku!"
"Sopirmu mana?" tanya Shima sambil celingak-celingukan ke dalam mobil. Tetapi dia tidak berhasil menemukan sosok yang dicari.
"Aku sudah menyuruhnya pulang. Dia punya kegiatan penting bersama keluarganya. Cepat masuk!" ujar Izumi, yang diakhiri dengan desakannya.
Hiro tersenyum tipis dan bergegas memegang pegangan pintu mobil. Dia berniat duduk di belakang. Namun Shima sepertinya ingin memilih tempat duduk yang sama.
__ADS_1
"Aku bukan sopir kalian. Hiro, duduklah bersamaku di depan!" titah Izumi dengan kening yang mengernyit. Hiro pun menurut, dan duduk tepat di samping Izumi.
Shima tersenyum lebar, karena puas bisa mendapatkan tempat duduk yang di inginkannya.