Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 17 - Serangan Hiro [2]


__ADS_3

Tanpa sengaja Takeshi mendengar sedikit suara Sekai. Dia mendadak merasa ada sesuatu yang ganjal. Terutama di luar ruangan tempatnya berada sekarang. Alhasil Takeshi bangkit dari tempat duduknya. Dia mengambil pistol yang ada di laci terlebih dahulu.


"Mau kemana Bos?" tanya salah satu anak buah Takeshi. Keningnya mengernyit heran karena melihat ketua-nya berjalan menuju pintu. Takeshi sontak berbalik badan untuk menatap lawan bicara.


"Aku mau--"


Jleb!


Perkataan Takeshi terhenti, saat sebuah katana menembus ke perutnya. Matanya terbuka lebar ketika menyaksikan benda tajam tersebut mengacung. Hingga Takeshi dapat melihat dengan jelas tetesan darahnya sendiri.


Hiro melakukannya dengan gerakan yang begitu cepat. Setelah yakin Takeshi tidak akan berbuat apa-apa lagi, Hiro langsung menarik kembali katana-nya. Kemudian melakukan serangan kepada dua orang yang tersisa.


Dikarenakan lawannya mabuk, maka semakin mudah Hiro menghabisinya. Hiro menumpas dua bawahan Takeshi secara bergantian. Dia melayangkan katana-nya ke dada lawan, dan berhasil mencipratkan darah yang lumayan banyak. Bahkan mengenai Amira yang kebetulan masih berada di sana. Dalam durasi kurang lebih satu menit, ketiga rentenir itu tumbang seketika.


"Si-siapa kau?" tanya Amira, terbata-bata. Dia terlihat lebih tenang dibanding saat para rentenir itu berada di sekitarnya. Sepertinya wanita tersebut sudah terbiasa menyaksikan kekerasan di depan matanya.


"Kau tidak perlu tahu, yang jelas kita bebas dari mereka sekarang!" ujar Hiro sambil mencoba melangkahkan kakinya untuk beranjak pergi. Namun Amira langsung mencegah, dan mengharuskan Hiro berhenti sejenak.


"Dari suaramu sepertinya kau masih sangat muda." Amira berusaha mengamati wajah Hiro. Tetapi tidak bisa, karena wajahnya ditutupi rapat dengan kain hitam. "Kau bodoh, jika kau ingin melanjutkan kehidupanmu lagi dengan lancar, setidaknya bersihkan jejakmu dahulu di sini." Amira perlahan berdiri. Sebelah tangannya memegangi bagian rahimnya yang terasa nyeri.


"Kau lihat benda di atas itu..." Amira berbicara dengan suara paraunya. Tangannya menunjuk ke arah kamera pengawas yang ada di sudut kanan atas.


"Apa itu?" tanya Hiro bingung.


Amira merasa heran dengan ketidaktahuan Hiro mengenai kamera pengawas. Bagaimana bisa seorang pemuda di zaman sekarang tidak mengetahui benda itu?


Akan tetapi, setelah melihat kerutan di dahi Hiro, Amira yakin kalau lelaki yang berpakaian ninja di depannya memang bicara serius.

__ADS_1


"Pergilah, aku akan urus semua ini sendiri. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku," saran Amira kepada Hiro. Kemudian mencoba memaksakan kakinya berjalan.


"Tidak, aku akan membantu. Tetapi bagaimana caranya? apakah aku harus menghancurkan kamera pengawasnya?" Hiro menawarkan diri, sebab dia merasa tidak tega melihat Amira melakukan semuanya sendirian. Apalagi keadaan wanita tersebut tampak lemah dan lunglai.


"Tidak. Kita harus mencari ruang dimana mereka mengontrol kamera pengawas!" tutur Amira memberitahu.


Hiro pun mengangguk, lalu segera melakukan pencarian. Dia dan Amira memeriksa ruangan yang ada di rumah satu per satu.


Tidak lama mencari, Hiro akhirnya menemukan ruang kontrol lebih dahulu. Di sana terdapat lima televisi, yang menampakkan rekaman video di beberapa ruangan penting rumah Takeshi. Hiro mengernyitkan kening, karena dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Kau menemukannya!" Amira datang. Wanita tersebut terlihat memegangi sebuah tas berukuran sedang. Dia meletakkan tasnya terlebih dahulu, lalu langsung mengutak-atik keyboard untuk menghapus rekaman yang tersimpan di hari itu. Termasuk keberadaannya saat bersama Takeshi.


"Pergilah, anak muda! mulai dari sini aku bisa mengatasi semuanya!" kata Amira.


"Kau yakin?" tanya Hiro memastikan.


"Percayalah, kali ini aku bisa mengatasi masalahku. Sekali lagi terima kasih!" sahut Amira dengan binar penuh keyakinan dimatanya.


"Tunggu, aku lupa menawarkanmu sesuatu," Amira lagi-lagi mencegat langkah Hiro. Dia tampak membuka tas yang tadi sempat dibawanya. Terlihat beberapa gepak uang memenuhi tas itu. "Aku tadi kebetulan menemukannya. Aku yakin alasanmu di sini pasti berkaitan dengan masalah hutang sepertiku. Terimalah!" Amira menyodorkan tiga gepak yen kepada Hiro.


"Maaf, aku hanya bisa memberimu sepuluh persen. Karena aku harus punya banyak biaya untuk pergi ke negara lain," ucap Amira lagi. Namun Hiro hanya terdiam. Meskipun tatapannya tidak teralihkan dari lembaran uang yang ditujukan kepadanya.


"Ambillah anak muda. Belilah apa yang kau mau." Amira memaksa tangan Hiro untuk memegang uang yang diberikannya. "Cepat pergi! kita tidak bisa berlama-lama di sini!" Amira mendesak. Dia juga segera bergegas untuk pergi.


Hiro akhirnya menerima uang yang diberikan kepadanya. Dia menyelipkan uang tersebut ke dalam kantong kain yang sudah menyatu dengan pakaian ninjanya. Sebelum pergi, Hiro mengamati Amira lebih dahulu. Demi memastikan kalau wanita tersebut baik-baik saja.


Hiro merasa lega, kala menyaksikan Amira pergi dengan lancar. Amira bahkan sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Kemudian pergi mengendarai taksi.

__ADS_1


Hiro sekarang yakin kalau Amira dalam keadaan baik. Selanjutnya dia langsung beranjak pergi untuk pulang. Melompat dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Dia dapat melakukannya dengan mudah, karena jarak antar bangunan berdekatan. Hiro sesekali bersembunyi, jika ada beberapa orang yang kebetulan merasakan kehadirannya.


Sebelum keluar dari gang, Hiro mengganti baju terlebih dahulu. Dia membelinya di sebuah toko dengan menggunakan uang pemberian Amira. Hiro memilih berbaur, agar perjalanannya bisa tenang. Tanpa adanya ejekan dari orang lain yang tentu akan membuatnya naik pitam.


...***...


Setibanya di rumah, Hiro segera membersihkan pakaian ninja dan juga katana. Di tengah malam dengan bulan purnama, Hiro asyik bergumul dengan air.


"Senpai, kau kemana saja? kenapa katana milik kakekku ada padamu?" teguran Shima membuat Hiro otomatis menghentikan kegiatannya. Dia menoleh dan berdiri menghadap Shima.


"Maaf Shima-Kun, aku tidak bisa membiarkan para rentenir itu terus menyakiti Akira." Hiro menjelaskan seadanya.


Shima melakukan tatapan menyelidik. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Sedangkan sebelah kakinya tampak digerakkan beberapa kali.


"Apa yang kau lakukan kepada para rentenir itu?" tanya Shima dengan raut wajah seriusnya.


"Kau tahu kan. Apa yang dilakukan ninja jika kesal... Itulah yang kami lakukan di abad ke-14," tutur Hiro sambil melayangkan pantatnya untuk duduk di atas sebuah batu.


"Kau membunuh mereka?" mata Shima terbuka lebar. Seolah merasa terkejut dengan pernyataan Hiro. Apalagi ketika Hiro menjawab pertanyaannya dengan anggukan kepala.


"Senpai, hukum di zaman sekarang lebih canggih dan ketat. Bagaimana kalau polisi mengetahui tentang pembunuhan yang kau lakukan?" timpal Shima cemas.


"Polisi? maksudmu prajurit keamanan yang sempat aku datangi tadi siang?" Hiro malah berbalik tanya. Dia masih terlihat tenang.


"Iya, sebutlah begitu." Shima terlalu malas untuk memberikan penjelasan lebih detail.


"Kita lihat saja nanti. Lagi pula aku sudah mengatasi benda yang bisa merekam itu."

__ADS_1


Shima hanya menghela nafas panjang. Dia mencoba memahami sikap Hiro yang sekarang. Mendadak dia merindukan sahabat lamanya. Namun apalah daya, Shima tidak bisa lagi menemukan Hiro yang dahulu. Perasaannya tiba-tiba menjadi emosional. Perlahan dia duduk di samping Hiro dengan kepala yang tertunduk sendu.


"Menurutmu... apa yang terjadi dengan Hiro yang sebenarnya..." lirih Shima, yang sontak membuat Hiro reflek menoleh ke arahnya.


__ADS_2