Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 53 - Teler


__ADS_3

Kogoro dan Shima berdiri dalam keadaan saling berhadapan. Mereka sedang menunggu kedatangan Hiro.


Ketika Shima mengalihkan pandangannya ke arah jalan gang, dia dapat melihat Hiro yang tengah berjalan kian mendekat. Hiro melangkah sambil menghentakkan kakinya dengan penuh semangat.


"Itu Hiro! dia berhasil mendapatkan tasnya!" ucap Shima, merasa senang.


Kogoro ikut bahagia, lalu bergegas menghampiri Hiro dengan senyuman lebar. Namun senyuman itu seketika menipis saat menyaksikan kelakuan Hiro yang terbilang aneh. Dia terlihat melangkah dengan sempoyongan dan terus tersenyum lebar bak orang kelainan jiwa.


"Hiro, apa kau memakan benda yang ada di dalam tas ini?" tanya Kogoro sambil memegangi pundak Hiro.


"Eh? apa? makan? aku tidak mau makan. Entah kenapa perutku terasa sudah kenyang." Hiro mengusap-usap bagian perutnya.


Shima berjalan mendekati Hiro, dan ikut menanyakan perihal keadaan sahabatnya itu. Namun Hiro hanya tersenyum lebar sambil membawa Shima masuk kerangkulannya. Dia lantas berbisik, "Shima, ayo kita lanjutkan latihanmu. Kali ini aku akan mengajarkan jurusnya kepadamu!"


"Benarkah?" Shima mengangkat kedua alisnya bersamaan. Dia sebenarnya agak ragu dengan ucapan Hiro.


"Sepertinya Hiro sedang teler," ucap Kogoro, memberitahu Shima.


"Apa maksudmu?!" Shima membulatkan mata. Dia reflek melepaskan rangkulan Hiro dari pundaknya.


"Emm..." karena enggan menjelaskan dari mulut, Kogoro bergegas membuka tas yang sekarang sudah ada ditangannya. Dia memperlihatkan isinya kepada keponakannya.


"Paman juga menjual barang ini?" Shima bertanya dengan mata yang membelalak.


"Bukan aku, tetapi ini memang bisnis kecil orang-orang apartemen Guree. Kau harus tahu, kalau penghuni di apartemen ini bukanlah orang biasa. Meskipun kejahatan mereka masih sekelas teri, tetapi juga cukup berbahaya," jelas Kogoro, datar. Dia berharap Shima tidak marah kepadanya. Akan tetapi pupus sudah harapannya, ketika keponakannya itu meledakkan amarah. Perdebatan di antara Kogoro dan Shima kembali terjadi.


Sementara Hiro, sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Dia merasa lampu-lampu disekelilingnya bergerak dan memancarkan warna-warna yang berbeda. Tanpa terasa Hiro menghempaskan tubuhnya ke tanah. Gerakan yang dirasakannya terasa lebih lambat, seolah ada efek slow motion diaktifkan ke penglihatannya.


Bagi Hiro tanah yang direbahinya terasa empuk, bagaikan spring bed kualitas terbaik.


Bruk!

__ADS_1


Shima dan Kogoro langsung menoleh, ketika mendengar suara sesuatu terjatuh. Ternyata dia adalah Hiro, yang terlihat sudah rebahan di tanah.


"Shima, kau mau tahu aku melakukan pekerjaan-pekerjaan terlarang ini?!" Kogoro meneruskan perdebatan. Mengabaikan keadaan Hiro. Shima lantas mengalihkan bola mata ke arah pamannya tersebut.


"Karena aku orang yang bodoh!!" Kogoro menjeda ucapannya sejenak. "Kau tahu kan bagaimana nasib orang bodoh di negara ini? diabaikan, diremehkan, dan berakhir menjadi pengangguran. Makanya aku berakhir begini, aku tidak punya pilihan, Shima. Dan aku tidak ingin keponakanku punya nasib yang sama denganku!!" ucap Kogoro lagi dengan nada penuh penekanan. Dia menatap nanar keponakannya. Berharap mendapatkan belas kasih.


Shima terdiam seribu bahasa. Dia sama sekali tidak merespon ucapan sang paman. Dirinya malah beranjak membantu Hiro untuk bangkit.


Kogoro sudah pasrah dengan bagaimana anggapan Shima. Dia kemudian berbalik dan melangkah memasuki apartemen Guree.


Sedangkan Shima tengah berusaha sebisa mungkin menyeret Hiro untuk ikut bersamanya. Dia agak kewalahan membawa kawannya itu kembali pulang. Alhasil dirinya tidak punya pilihan lain selain masuk ke apartemen Guree.


Sesampainya di sebuah ruangan. Tepatnya di tempat banyak penghuni sedang asyik berkumpul, Shima membawa Hiro dengan santainya. Lalu mendudukkan temannya tersebut ke kursi kosong.


Raut wajah Hiro masih saja mengembangkan senyuman lebar. Sesekali tangannya akan menepuk-nepuk pipi Shima dengan kencang.


"Apa dia mabuk?" seorang lelaki berkepala pelontos mendekat. Dia adalah salah satu lelaki ahli kungfu yang sempat menjadi lawan Hiro. Namanya adalah Chen Fu. Imigran gelap asal Tiongkok yang memilih menetap di Kyoto, bersamaan dengan saudara kembarnya.


"Huhh... beruntung sekali jika dia memang tidak sengaja. Karena barang itu sangatlah mahal," balas Chen Fu, kemudian berlalu pergi begitu saja.


Selepas beberapa jam kemudian. Hiro mulai tersadar dari halusinasinya. Serbuk terlarang yang sempat dicobanya tadi benar-benar telah memberikan efek kuat. Selanjutnya dia segera mengajak Shima dan Shiro pulang ke rumah.



Pagi telah tiba. Matahari tampak tertutupi oleh awan hitam nan temaram. Sebagian besar pepohonan telah ditinggalkan ribuan dedaunannya. Pertanda musim akan segera berganti sebentar lagi.


Hiro dan Shima sedang sama-sama berlari. Keduanya sedang mengejar waktu. Sebab beberapa menit lagi gerbang sekolah akan ditutup.


Lari Shima mulai lebih laju. Menandakan bahwa dirinya sudah terbiasa dengan latihan fisik. Dia dan Hiro berhenti ketika telah berhasil melewati pintu gerbang. Kini mereka menyusuri koridor sekolah dan langsung disambut dengan suara perdebatan perempuan.


Izumi tampak bertengkar dengan Eri. Keduanya melakukan adu mulut yang blak-blakan. Nampaknya percobaan pembunuhan yang dilakukan Junko, berhasil memberikan dampak buruk untuk Izumi.

__ADS_1


"Mulai hari ini aku tidak mau berteman denganmu lagi!" ucap Eri sambil menarik tangan Ashami. Lalu meninggalkan Izumi seorang diri.


"Aku pastikan kalian pasti akan menyesal!!" pekik Izumi seraya menghentakkan sebelah kakinya. Dia mengeratkan rahang kesel, disertai dengan dahi yang mengerut dalam. "Apa kalian dengar?! hah!!" lanjutnya lagi masih dengan suara nyaringnya. Gadis itu semakin menjadi pusat perhatian semua orang. Namun dia tak peduli, dan malah menyalangkan mata ke arah orang-orang yang menatapnya.


Seorang siswa berkacamata dengan badan tinggi semampai, mendadak berdiri di sebelah Hiro. Bola matanya juga tertuju ke arah Izumi. "Lihat Izumi. Dia bukan apa-apa jika publik melakukan perlawanan. Tetapi entah kenapa, masih banyak orang-orang tidak menyadari cara brilian itu," celetuk siswa berkacamata, sambil mengulurkan kedua tangan ke depan. Dia lantas mendapatkan tatapan heran dari Hiro dan Shima.


"Maksudmu?" tanya Hiro memastikan.


Sang siswa berkacamata menoleh dan berkata, "Apa kau tidak melihat berita di internet tadi malam? semua kedok perundungan yang dilakukan Izumi telah tersebar. Aku pikir Junko telah merencanakan pembalasan dendam yang sangat baik, walau dia masih tetap harus berada di penjara." Setelah memberitahu, siswa berkacamata itu pergi.


Hiro perlahan mengukir senyuman diwajahnya. Kemudian menggelengkan kepala dengan percaya diri. Jari-jemarinya disisirkan di antara ribuan helai rambutnya.


"Apa kau teler lagi?" Shima yang heran dengan ekspresi Hiro, mengernyitkan kening.


Hiro melingkarkan tangannya ke pundak Shima. Lalu mendekatkan mulut ke telinga sahabatnya tersebut. "Shima, Dewa benar-benar telah membantu kita. Lihat yang terjadi kepada Izumi sekarang? bukankah luar biasa? kita semakin punya peluang besar untuk mendekatinya!" ungkapnya bersemangat. Hiro segera berderap menghampiri Izumi.


"Tapi, Hiro--" Shima terpaksa menutup mulutnya, karena menyaksikan Hiro telah ngeloyor begitu saja meninggalkannya.


"Izumi, kau baik-baik saja?" tanya Hiro sembari memegang pelan salah satu bahu Izumi. Gadis itu sontak menoleh.


"Apa aku terlihat baik-baik saja?!" sembur Izumi, membentak tanpa alasan.


Hiro reflek terperanjat. Dia hampir saja mengumpat pada Izumi. Namun dirinya berusaha tenang sebisa mungkin.


"Kau tidak perlu mencemaskan Eri dan Ashami!" ujar Hiro.


"Maksudmu?" Izumi tidak mengerti.


"Karena kau sudah punya aku untuk menjadi temanmu." Hiro menepuk pelan lengan Izumi. Sedikit menyunggingkan mulutnya ke kanan.


Izumi membisu dalam sesaat. Perlahan dia tersenyum tipis dan berucap, "Tetapi menjadi temanku tidak mudah, Hiro. Kau harus ikut terlibat terhadap apapun yang aku lakukan, dan juga aku sering--"

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Yang jelas aku benar-benar ingin menjadi temanmu!" Hiro sengaja memotong perkataan Izumi.


__ADS_2