Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 21 - Klub Malam


__ADS_3

Wajah pada gambar banner itu memang Goku, akan tetapi pakaian yang digunakannya sangatlah berbeda. Goku terlihat mengenakan setelan jas berwarna hitam beserta dasi merahnya. Tersenyum sambil memegangi sebuah produk tertentu.


"Sialan!" geram Hiro sembari menendang banner iklan dengan kakinya. Jelas dia sangat marah terhadap penampakan wajah Goku. Banner iklan yang ditendangnya seketika tumbang. Setelahnya, Hiro menginjak-injak wajah Goku yang ada di banner. Setidaknya apa yang dilakukannya sedikit membuatnya puas.


Semua pasang mata langsung tertuju ke arah Hiro. Apalagi lelaki tersebut sedang menghentakkan kakinya dengan penuh amarah, layaknya orang yang kesetanan.


Shima yang menyaksikan, bergegas berlari menghampiri. Dia segera memegangi badan Hiro, agar keributan tidak terjadi. Shima khawatir dirinya dan Hiro akan di usir dari toko.


"Apa yang kau lakukan, Senpai?" tanya Shima dengan tatapan tajamnya. Dia tidak habis pikir Hiro selalu saja membuat masalah. Bahkan dengan hal kecil seperti banner sekalipun.


"Dia pengkhianat yang telah membuatku dan Akio terbunuh!" jawab Hiro seraya menunjuk ke banner, tepat dimana gambar lelaki yang disebutnya Goku berada.


"Goku?" Shima mengernyitkan kening. Dia sontak mengamati gambar banner yang ditunjuk oleh Hiro. Shima tentu bingung, karena lelaki yang ada pada banner iklan adalah salah satu pengusaha muda terkenal di Kyoto.


"Maksudmu Itsuki Nakagawa?" tanya Shima memastikan, dan langsung direspon oleh Hiro dengan satu kata Ya bernada tegas.


"Dia adalah kakak lelaki dari Izumi!" ucap Shima memberitahu. Menyebabkan mata Hiro seketika terbelalak. Dia tentu semakin dibuat kaget.


Hiro membeku di tempat. Bola matanya perlahan kembali mengarah ke gambar yang ada di banner. Dia merasa seakan sudah menguak teka-teki. Terutama dibalik alasan dirinya bereinkarnasi ke abad-21. Hiro yakin, keberadaannya di sini pasti mempunyai maksud tertentu.


"Nakagawa..." lirih Hiro. Dia langsung memasukkan nama marga tersebut ke dalam ingatannya.


"Halo, Tuan. Apakah ada sesuatu yang mengganggu anda? jika ingin melakukan keributan, tolong jangan lakukan di toko kami!" Seorang pramuniaga menegur Hiro. Dia mencoba memberikan peringatan.


"Senpai, ayo. Bukankah kau ingin kita bersenang-senang?" Shima menyeret Hiro ikut bersamanya, lalu menghadapkan badan ke arah pramuniaga yang tadi sempat menegur.

__ADS_1


"Maaf Tuan, temanku tidak bisa mengendalikan diri." Shima sedikit membungkukkan badannya. Meminta maaf atas nama Hiro.


Berbeda dengan Hiro yang masih terpaku untuk menatap kesal ke gambar yang ada di banner. Shima pun menyenggol Hiro dengan sikunya. Alhasil Hiro langsung tersadar, dan segera membungkukkan badan. Meminta maaf terhadap keributan yang tadi sempat dibuatnya.


Setelah memilah-milih baju, Hiro dan Shima pun keluar dari toko. Mereka sama-sama mengenakan jaket kulit hitam dan bercelana jeans. Perbedaannya hanya pada aksesoris. Hiro memakai topi hitam di puncak kepala. Sedangkan Shima mengenakan kacamata hitam untuk menyempurnakan penampilannya. Lelaki berambut cepak tersebut terlihat puas dengan dirinya sendiri.


Orang-orang yang berlalu lalang tentu tertarik untuk melihat sekilas. Sebab Hiro dan Shima agak berbeda setelah mengubah gayanya menjadi lebih dewasa.


Shima terus cengengesan sembari menyentuh bagian kepala dengan jari-jemarinya. Dia berpikir semua orang yang lewat terpesona kepadanya. Namun dia salah, karena orang-orang hanya tertarik melirik ke arah Hiro yang tentu memiliki wajah lebih tampan darinya.


Hiro sedari tadi membisu. Perasaannya mendadak memburuk, terutama setelah mengetahui ada lelaki yang memiliki wajah sama persis seperti Goku. Hiro penasaran bukan kepalang. Pikirannya terus menduga-duga akan banyak hal. Dia mendengus kasar, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Shima.


"Benda hitam itu, aku membencinya!" komentar Hiro, sambil menunjuk kacamata yang sedang terpaut di atas hidung mancung Shima. Tanpa bersalah sedikitpun, Hiro berderap untuk mencari transportasi umum.


"Huhh... aku merindukan Hiro yang dulu..." ucap Shima, ketika Hiro sudah berjalan menjauh darinya.


...***...


Sore telah menjelang malam. Saat itulah semua bar dan klub malam mulai dibuka. Hingar-bingar keramaian selalu terjadi saat di jam-jam begitu. Shima berjalan lebih dahulu memasuki area depan klub malam. Tepatnya ke tempat Fujiya berada.


"Kau tidak lupa imbalannya kan?" Fujiya yang tidak tahu malu langsung menyambut kedatangan Shima dengan tagihan.


Hiro yang mengerti segera menyerahkan beberapa lembar yen kepada Fujiya. Lelaki berbadan kekar tersebut lantas tersenyum seraya mengambil uang pemberian Hiro.


"Jam segini, masih tidak begitu ramai. Jadi keadaan tidak akan terlalu bising. Silahkan masuk, dan selamat menikmati waktu kalian!" ujar Fujiya, lalu memberikan jalan untuk Hiro dan Shima.

__ADS_1


Lampu kerlap-kerlip memenuhi suasana. Suara dentum musik terdengar bergema. Hingga membuat Hiro dan Shima meringiskan wajah. Mereka belum terbiasa dengan suasana tersebut. Meskipun begitu, keduanya terus berjalan semakin masuk ke dalam.


Hiro dan Shima berhenti secara bersamaan. Mereka langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah. Menyaksikan beberapa wanita yang berhasil menarik perhatian. Kebanyakan orang tampak menari dan berkumpul di lantai dansa.


"Wow, pilihanmu hebat Shima-Kun. Sekarang bagaimana cara aku mendapatkan salah satu wanita itu?" Hiro menoleh ke arah Shima. Sepertinya dia sudah bisa tersenyum lagi.


Shima langsung menggeleng tegas dan menjawab, "Aku tidak tahu. Berkenalan mungkin?... maaf Senpai, aku tidak mempunyai pengalaman banyak dalam hal menaklukkan wanita."


"Ah, begitu... baiklah, aku akan berusaha sendiri." Hiro mulai melangkahkan kakinya menuju gerombolan orang-orang. Tetapi dia mendadak berhenti karena ingin menanyakan satu hal lagi. Alhasil Hiro berbalik dan kembali mendekati Shima.


"Biasanya mereka minta dibayar berapa?" tanya Hiro dengan nada pelan.


"Senpai! mereka bukanlah pelac*ur. Mereka orang-orang biasa yang juga sedang bersenang-senang di sini. Bukankah bercengkerama yang kau maksud adalah bisa mendapatkan perhatian dari seorang wanita? begitu kan?" nampaknya Shima salah memahami maksud keinginan Hiro dari awal.


"Shima! apa kau memang lelaki sepolos itu?!" Hiro terperangah tak percaya.


"Jadi, sedari awal yang kau maksud bersenang-senang itu adalah melakukan..." Shima tidak kuasa melanjutkan kalimat terakhirnya. Salivanya sendiri tertelan satu kali. Ternyata sosok Senpai yang ada dalam raga sahabatnya lumayan liar. Tidak seperti yang dia duga selama ini. Padahal Shima selalu berusaha maksimal untuk berperilaku sopan dan bertindak hormat.


"Ah, karena sudah di sini. Aku tidak punya pilihan lain selain mendekati salah satu wanita yang ada, ayo!" Hiro menarik tangan Shima. Keduanya mulai berbaur ke dalam kerumunan orang-orang yang sedang sibuk bergerak mengikuti irama musik.


Hiro melepas topinya. Mata nakalnya berlarian kemana-mana. Sesosok gadis berdress warna biru menarik perhatiannya. Bagaimana tidak? gadis itu tampak lihai menggerakkan tubuhnya. Apalagi dress yang dikenakannya terbilang ketat dan pendek.


Berbeda dengan Shima dia berjalan dengan canggung. Bahkan saking salah tingkahnya, sebelah tangannya reflek mengusap tengkuk tanpa alasan. Dia hanya terus berderap mengekori Hiro.


Sebelum menyapa gadis berdress biru, Hiro merapikan rambut dengan jari-jemarinya lebih dahulu. Lalu sengaja menabrakkan diri ke arah gadis tersebut.

__ADS_1


"Hei!" respon gadis berdress biru, kemudian membalikkan badan. Rambut hitamnya nan panjang menguarkan aroma harum yang khas. Namun betapa terkejutnya Hiro, ternyata gadis berdress biru itu adalah Izumi. Senyuman yang tadi sempat terukir diwajahnya pudar begitu saja.


'Astaga! bukankah rambut Izumi berwarna merah? kenapa dia bisa merubahnya secepat itu? atau dia bukanlah Izumi?' batin Hiro yang meragu.


__ADS_2