
Enam bulan berlalu. Minggu depan Hiro akan dilantik sebagai direktur utama perusahaan. Dia telah siap untuk memimpin. Namun perasaan tidak pantas kembali muncul dalam dirinya.
"Kau kenapa terlihat murung begitu?" tegur Shima. Dia dan Hiro tengah berdiri di jalan trotoar. Menunggu lampu hijau menyala.
"Hanya sedikit gelisah. Bukankah terlalu cepat aku diangkat sebagai direktur?" sahut Hiro sembari mengusap tengkuk tanpa alasan. Lampu hijau sudah menyala. Dia dan Shima lantas melangkah berbarengan melewati zebra cross.
"Bukankah itu lebih baik? pamanku pun senang dengan hal itu. Dia bilang, naluri menipunya kembali ingin muncul. Aku takut terjadi apa-apa, jika Kogoro yang terus memimpin," imbuh Shima. Mencoba menenangkan, kemudian melingkarkan tangan ke pundak Hiro. Mereka dalam perjalanan menuju rumah Hiro. Di sana akan ada acara makan malam.
Sementara itu, di rumah. Akira, Izumi dan Hana sedang berada di dapur. Mereka mempersiapkan hidangan untuk makan malam. Semua makanan sebenarnya bisa saja dipesan dari restoran. Namun Akira bersikukuh ingin memasak sendiri. Baginya, makan malam dengan hidangan rumah lebih baik.
"Izumi, cara memotongmu salah!" ujar Akira. Dia telah beberapakali menegur. Entah sudah berapa banyak Izumi mendapatkan omelan. Semuanya karena gadis itu sama sekali belum pernah memasak seumur hidupnya.
Raut wajah Izumi seketika masam. "Kenapa kita tidak memesan saja ke restoran. Itu pasti akan lebih mudah!" gerutunya dengan nada pelan. Sehingga Akira hanya mendengar samar-samar.
"Apa kau bilang?" timpal Akira, memastikan.
"Tidak ada apa-apa. Maksudku, wortelnya agak keras dan sulit untuk dipotong, hehe..." Izumi berkilah. Membuat Hana sontak menggelengkan kepala. Berbeda dengan Izumi, Hana sudah terbiasa memasak. Sebab dia memang lama hidup sendirian. Jujur saja, dia melakukan kerjasama yang sangat baik dengan Akira. Menyebabkan suasana hati Izumi semakin buruk.
"Kau tadi tidak bilang begitu. Bukankah katamu seharusnya kita memesan di restoran saja. Seperti itulah katanya tadi, Tante." Hana memberitahukan Akira yang sebenarnya. Membuat Izumi segera melayangkan pelototan tajam kepadanya. Akan tetapi Hana hanya menggedikkan bahu sambil melakukan ejekan dengan bibir bawahnya.
"Sudah! Tidak usah mengeluh. Lebih baik kau selesaikan saja potonganmu itu!" titah Akira. Mengharuskan Izumi menganggukkan kepala lemah. Lalu kembali melakukan tugasnya.
"Hana, apa supnya sudah matang?" tanya Akira. Memposisikan diri di samping Hana.
"Sepertinya begitu. Apa menurut Tante, rasanya sudah pas?" Hana menyendok kuah sup, lalu menyuapi Akira.
Izumi yang melihat merasa iri setengah mati. "Aku mau ke toilet!" ujarnya, dengan langkah cepat.
...***...
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Semua orang sudah berdatangan. Mereka sudah duduk di meja makan. Menikmati hidangan yang telah tersaji. Semuanya terlihat sangat bahagia. Kecuali Hiro dan Izumi. Hanya dua insan itu yang sedari tadi tidak bernafsu untuk menyuap makanan ke mulut.
Karena tidak bisa lagi menahan kegelisahan, Hiro akhirnya bangkit dari tempat duduk. Membuat perhatian semua orang di meja makan tertuju ke arahnya.
"Ada yang ingin aku katakan..." kata Hiro pelan. Dia menghembuskan nafas dari mulut dan melanjutkan, "aku tidak peduli kalian percaya atau tidak. Tetapi... aku ingin mengakui bahwa, aku bukanlah Hiro yang sebenarnya."
Semua orang menghening sejenak. Hingga suara tawa Kogoro menular kepada yang lainnya. Kecuali Shima dan Izumi.
Wajar Shima tidak tertawa, karena dia memang sudah tahu. Sedangkan Izumi, hanya sedang mengalami suasana hati yang buruk sedari sore. Dia menatap serius Hiro. Nampaknya gadis tersebut tak peduli siapa jati diri Hiro.
Bruk!
Hiro menghantamkan tangan ke atas meja. Menyebabkan semua orang terdiam seribu bahasa.
"Aku serius! Hiro sudah mati semenjak kecelakaan terjadi. Saat itulah jiwaku datang ke dunia ini, dan masuk ke raga anak malang ini!" Hiro menjelaskan sambil menunjuk dirinya sendiri. Ekspresinya tampak begitu serius. Menyebabkan orang-orang yang menyaksikan, merasa mulai terpengaruh untuk percaya.
"Jika bukan Hiro, lalu kau siapa?..." tanya Akira. Dia menatap nanar Hiro.
"Jadi maksudmu, Tuan Hiroshi bereinkarnasi ke tubuh Hiro. Bagitu?" Hana menyimpulkan dengan dahi mengernyit.
"Maafkan aku, Hiro. Tetapi ini memang sangat sulit dipercaya," ungkap Kogoro menepis semua penjelasan yang dirasanya tidak masuk akal.
Izumi tiba-tiba berdiri dan berucap, "Aku tidak peduli, Hiro. Yang jelas setelah kecelakaan terjadi, banyak sekali keadaan berubah. Dirimu sekaranglah, yang telah membuat semua orang di sini bisa makan enak dan bahagia!" Setelah mengatakan pendapatnya, Izumi berlalu begitu saja. Meninggalkan meja makan.
Suasana makan malam menjadi agak canggung. Membuat Hiro merasa harus melakukan sesuatu untuk merubahnya.
"Hahaha! Kalian kenapa sangat serius. Aku hanya bercanda!" Hiro terpaksa menarik kembali semua perkataannya mengenai reinkarnasi.
"Gila kau, Hiro! Kami sudah sangat serius menanggapinya!" protes Hana seraya melemparkan rumput laut kering ke arah Hiro.
__ADS_1
"Lihat! Pacarmu bahkan merajuk!" timpal Kogoro. Semua orang kembali tertawa, dan melanjutkan kembali makan malam. Berbeda dengan Akira, dia sepertinya tampak serius menanggapi ucapan Hiro. Seorang ibu pasti tahu dengan detail, bagaimana gelagat anaknya. Terutama saat mengatakan kebohongan atau kejujuran.
Hiro beranjak pergi dari ruang makan. Dia berniat menemui Izumi. Gadis itu berdiri menyandar di tiang sambil memandangi kolam yang berisi ikan. Tangannya sesrekali mengusap ke sudut matanya.
"Kau kenapa?" Hiro menyentuh pelan pundak Izumi.
"Eh, Hiro?" Izumi gelagapan mengusap wajahnya.
"Kau menangis?" tanya Hiro, khawatir.
"Bukankah sudah jelas?!" balas Izumi, mengakui.
"Apa kau marah dengan yang kukatakan saat di meja makan tadi?" Hiro bertanya dengan dahi yang berkerut.
"Apa-apaan. Tentu tidak! Jujur saja, aku memang jatuh cinta kepada Hiro setelah kecelakaan itu terjadi. Amnesia atau apalah, yang jelas aku sangat menyukainya!" tutur Izumi, menegaskan. Membuat Hiro seketika tersenyum dengan wajah yang merona.
"Tetapi, aku terganggu dengan satu hal. Aku rasa ibumu tidak menyukaiku. Dia lebih menyukai Hana..." lirih Izumi sambil menunduk sendu.
"Apa? Benarkah?" respon Hiro.
"Siapa yang bilang begitu? seingatku aku tidak pernah bilang kalau aku lebih menyukai Hana dari pada dirimu." Akira mendadak muncul. Sepertinya dia mendengar semua ucapan Izumi kepada Hiro barusan.
Akira ikut bergabung bersama Hiro dan Izumi. Dia memposisikan dirinya di tengah keduanya. Merangkul pinggang Izumi sekaligus putranya sendiri.
"Aku percaya dengan apa yang kamu katakan, Tuan Hiroshi. Aku bisa merasakan sejak awal, kalau dirimu bukanlah Hiro. Putraku yang lemah dan penakut, tidak mungkin tiba-tiba ahli berkelahi. Tetapi... bukan berarti aku menolakmu untuk ada di sini. Aku akan tetap menerima, bahkan mungkin tetap menganggapmu sebagai anakku. Semua yang kau lakukan untuk keluargaku, aku sangat berterima kasih..." ungkap Akira panjang lebar. Penuh akan penghayatan, yang disertai dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu, kumohon jangan memanggilku dengan sebutan Tuan Hiroshi!" ujar Hiro melakukan protes.
"Tentu saja." Akira menjawab dengan senyuman.
__ADS_1
"Dan kau Izumi, kau gadis yang hebat. Aku senang kau bersedia menjadi bagian dari kami. Masalah memasak, kau bisa mempelajarinya lebih giat lagi, mengerti?" Akira berbicara kepada Izumi. Dia mengusap pucuk kepala gadis itu. Izumi yang mendengarnya lantas merekahkan senyuman tenang.
Pembicaraan mereka berakhir disitu. Hiro, Izumi dan Akira kini melanjutkan dengan saling bercanda. Selanjutnya mereka kembali bergabung ke meja makan.