
Bruk!
Shima terjatuh untuk sekian kalinya. Keringat yang membasahi badannya langsung berubah dingin ketika terhantam salju. Lelaki tersebut memilih untuk menyerah. Dia mengakui kalau dirinya masih belum mampu mengalahkan Hiro.
Menyaksikan pertarungan telah selesai, Kogoro lantas melangkahkan kakinya untuk masuk. Mematri senyuman tipis dan menatap lurus ke arah Hiro. Dia terkagum dengan anak remaja itu. Apalagi kebetulan sekali dirinya juga mencari orang yang ahli bela diri seperti Hiro.
"Aku paham sekarang, kenapa kau bisa merebut tas itu dengan mudah!" celetuk Kogoro. Membicarakan perihal tas yang berisi obat-obatan terlarang.
"Paman, sejak kapan kau datang?" tanya Shima sembari bangkit dan berdiri. Dia menatap sang paman dengan dahi berkerut.
Kogoro tersenyum dan mengajak Hiro beserta Shima masuk ke rumah. Bermaksud membicarakan sesuatu hal penting. Yaitu mengenai hutang ayahnya Shima yang masih belum lunas. Bahkan mendekati pun tidak, karena semakin lama bunganya terus bertambah, bak rumput liar di tanah subur.
"Sekarang aku sedang tidak mempunyai uang yang cukup untuk membayar hutang. Apalagi sebentar lagi aku juga mesti membayar iuran sekolahmu dan Shiro," terang Kogoro. Bertutur kata sambil memasang semburat sendu diparasnya.
"Apa kamu memang sengaja membuatku merasa bersalah?" pungkas Shima dengan wajah masamnya. Dia tidak tahu harus marah atau tidak. Naluri kebaikan dan empati saling berdebat dalam benaknya. Bingung apakah dirinya harus memberi belas kasih kepada seorang penipu seperti Kogoro. Akan tetapi di sisi lain pamannya tersebut melakukan pekerjaannya demi membantu dua keponakannya.
"Tidak punya uang? bukankah benda terlarang yang ada di dalam tas itu menghasilkan banyak uang?" tanya Hiro. Dia mengetahui segala hal tentang benda serbuk-serbuk putih dari Shima.
Jika Hiro mengajarkan bela diri, maka Shima memberikan pengetahuan lebih banyak tentang dunia modern. Jadi kini Hiro sudah tahu lebih banyak, tentang beberapa hal di abad-21. Termasuk obat-obatan terlarang yang pernah dicicipinya tanpa sengaja.
Kogoro terkekeh. "Itu adalah bisnis bersama. Makanya hasilnya pun akan dibagi rata. Jadi, tidak menghasilkan uang yang begitu banyak untuk satu orang," terangnya sambil mengambil sebatang rokok dari saku jaketnya.
"Lalu bagaimana kau akan membayar hutang dan iuran sekolahku nanti?" tanya Shima, mendadak khawatir.
__ADS_1
"Entahlah, aku sedang memikirkannya. Mungkin aku akan menipu lagi. Tetapi kali ini aku menginginkan skala yang lebih besar. Agar hutang ayahmu bisa langsung lunas!" Kogoro mulai menyalakan rokoknya dengan pemantik. Menyesapnya, lalu mengeluarkan asap dari lubang hidungnya.
"Jika kau melakukannya dan bisa melunasi semua hutangnya, bisakah itu menjadi hal yang terakhir kalinya?" Shima menatap penuh harap.
Kogoro hanya tersenyum, mendengar ucapan Shima yang terkesan seperti sebuah permohonan. "Rasanya tidak mungkin. Aku bekerjasama dengan penjahat kelas teri. Jadi, aku hanya berani mengambil skala kecil. Itu pun sesekali usaha kami gagal, akibat ada kelakuan satu orang yang ceroboh," balasnya yang dilanjutkan dengan dengusan kasar.
"Prajurit yang ceroboh, akan menjadi ahli jika dilatih dengan baik!" celetuk Hiro sembari menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Dia tampak mendongak, menatap langit pelafon rumah Shima.
Perkataannya sontak membuat Kogoro menoleh. "Sayangnya, mencari guru yang penyabar dan bersedia mengajari orang-orang bodoh itu sangatlah sulit!" ungkapnya sambil menggelengkan kepala.
"Ah benar. Jika kalian mencari tempat latihan yang nyaman, datanglah ke apartemen Guree. Tepatnya di lantai tujuh. Di sana banyak fasilitas untuk berlatih bela diri." Kogoro berucap lagi. Dia menjeda kalimatnya, untuk mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulut. "Dan... di lantai itu agak sepi, karena orang-orang lebih tertarik berlatih tinju dari pada melakukan bela diri tradisional," sambungnya, melakukan pose yang sama seperti Hiro.
"Kami akan memikirkannya..." lirih Hiro, mengakhiri percakapan. Mereka lantas saling terdiam satu sama lain.
Hiro memindai gerak-gerik teman-teman sekelasnya. Dan hanya dia satu-satunya orang yang belum menjawab satu pun soal ujian. Waktu yang terus berjalan membuat Hiro semakin merasa didesak.
"Sepuluh menit lagi!" ucap Hideo, guru yang kebetulan mengawas. Sedari tadi bola matanya terus tertuju ke arah Hiro. Karena menurutnya, Hiro sedang melakukan gelagat yang mencurigakan.
Hiro menundukkan kepala. Menatap kosong ke arah kertas yang berisi puluhan soal Matematika. 'Harusnya aku tidak kembali ke sekolah. Lebih baik bergabung bersama Kogoro dari pada melakukan ini," keluhnya dari dalam hati.
Tiba-tiba indera penciuman Hiro menangkap parfum yang tidak asing. Aroma harumnya sangat khas, dan hanya digunakan oleh siswi seperti Izumi. Gadis itu berjalan melewati tempat Hiro duduk. Sebelah tangannya bergerak seperti bayangan. Hingga terlemparlah gumpalan kertas tepat ke atas meja.
__ADS_1
Hiro lekas-lekas membuka gumpalan kertas pemberian Izumi. Matanya terbelalak ketika melihat kode yang terlihat seperti jawaban soal. Tanpa pikir panjang, Hiro segera menyalin jawaban tersebut ke lembar jawaban. Dia hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk menulisnya. Selanjutnya Hiro langsung mengumpulkan lembar jawaban dan keluar kelas.
Di depan kelas, Izumi sudah menunggu. Gadis itu terlihat menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dia bergegas mengejar Hiro yang tampak melingus pergi ke arah kelas Shima.
"Apa kau dan Shima di ikat dengan tali gaib? kalian tidak pernah terpisahkan seperti anak ayam dan induknya!" kritik Izumi seraya menyamakan jalannya dengan Hiro.
"Mungkin..." jawab Hiro. Dia menyaksikan Izumi terus menatap tajam kepadanya.
Hiro sangat paham maksud tatapan Izumi. Gadis tersebut pasti mengharapkan ucapan terima kasih darinya.
"Terima kasih untuk yang tadi." Hiro tidak punya pilihan lain selain mengucapkannya. Dia sebenarnya merasa sangat berat melakukannya. Hatinya tidak akan mudah luluh, meski gadis arogan seperti Izumi telah memberikan jawaban soal ujian kepadanya. Bagi Hiro itu hanya hal kecil. Perbuatan Izumi hanya seperti titik kecil di atas selembar kertas.
Hiro dan Izumi sekarang menunggu Shima. Keduanya sama-sama menyandar ke tembok depan kelas.
"Lihat Izumi, dia tidak punya teman selain babu-nya sendiri."
"Hiro, meskipun kau hebat bela diri, kau tetaplah anak yang bodoh!"
Beberapa cercaan dari murid-murid yang lalu lalang tertangkap di pendengaran Hiro. Dia tidak memperdulikannya. Namun berbeda dengan Izumi, yang langsung merubah ekspresinya menjadi merengut.
"Hiro, maukah kau melakukan sesuatu untukku?" tanya Izumi dengan tatapan serius. Hiro sontak mencondongkan kepala sambil mengangkat alisnya. Pertanda kalau dirinya siap mendengarkan perkataan Izumi.
"Ayo kita pindah sekolah!" ujar Izumi. Membuat mata Hiro seketika membulat.
__ADS_1
"Apa kau bercanda? kita sudah mau naik ke kelas tiga!" sahut Hiro, tak percaya.
"Aku memberimu waktu hingga jam lima sore. Jawablah sebelum waktunya tiba. Sebab jika kau masih bersekolah di sini, kau pasti terkena imbasnya juga." Izumi berkata sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sepertinya dia tengah menyiapkan pembalasan dendam untuk orang-orang yang sudah membulinya.