Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 38 - Pemberian Tas Berharga


__ADS_3

Akira hanya terdiam dan melangkah lebih dahulu. Hiro yang diabaikan terpaksa mengekori dari belakang. Mereka akhirnya memilih kembali pulang.


Setibanya di rumah, Akira dan Hiro melanjutkan aktivitas dengan menyiapkan makan malam. Sedangkan rumah Shima terlihat sepi, karena tidak ada satu pun penghuninya yang kembali.


"Apa Ibu akan mencari pekerjaan sekarang?" celetuk Hiro, setelah saling membisu bersama Akira selama setengah jam. Dia menarik kursi dan segera berkutat dengan hidangan di meja.


"Tentu saja. Jika aku tidak bekerja, kau akan makan apa? terus bagaimana aku membayar biaya sekolahmu?" balas Akira sembari memposisikan diri duduk berhadapan dengan putranya.


"Apakah aku perlu bekerja juga untuk--"


"Tidak Hiro. Ibu ingin kau fokus bersekolah. Belajarlah yang giat, dan cobalah temukan bakatmu. Sebab aku ingin masa depanmu ter-arah!" Akira sengaja memotong perkataan Hiro. Dia kemudian melahap sup miso yang dicampur dengan sedikit nasi.


"Bakat?" respon Hiro, tersenyum tipis. "Bagaimana kalau aku sudah memilikinya? Bu, kau sudah melihat sendiri kan bakatku apa?" lanjutnya. Kedua alisnya terangkat dengan penuh semangat. Hiro sedikit mencondongkan kepala ke arah sang ibu. Dia yakin, Akira sudah mengetahuinya.


Akira malah mengerutkan dahi heran. Pertanda dirinya masih mengira Hiro belum memiliki bakat apapun yang membanggakan. Baik itu dibidang akademik maupun olahraga. Malah dia merasa kenakalan putranya semakin bertambah setelah mengalami amnesia. Jujur saja Akira sangat mencemaskan perihal itu.


"Kau tidak tahu? bukankah..." Hiro batal melanjutkan kalimatnya. Sebab dia sekarang sadar kalau dirinya sama sekali tidak memakai jurus apapun ketika berusaha menyelamatkan ibunya. Semuanya dikarenakan lawan Hiro tidak sepadan. Pria berkumis tersebut bahkan dapat dikalahkannya dengan mudah.


"Kenapa?" tanya Akira sambil melakukan tatapan menyelidik. Menunggu jawaban dari putranya dalam beberapa saat. "Oh benar, aku ingin tahu siapa orang yang telah mengajarimu berbuat seenaknya seperti tadi?" sambungnya. Mengabaikan pernyataan ambigu Hiro, yang tadi sempat membuatnya penasaran. "Apa kau tahu betapa berbahayanya itu?"


Hiro menghela nafasnya. "Apa kau marah? padahal niatku hanya ingin menyelamatkanmu," ucapnya yang merasa kecewa.


"Tidak, Hiro. Aku hanya mencemaskanmu."


"Ibu hanya perlu percaya kepadaku, dengan begitu maka kecemasanmu tidak akan berlebihan," tutur Hiro, mencoba meyakinkan.


"Sayangnya itulah kelemahanku, Hiro. Kau harusnya mengerti, semenjak aku memberitahumu mengenai trauma yang aku derita." Penjelasan Akira membuat Hiro mengistirahatkan pita suaranya. Lalu hanya bergumul dengan sup misu yang baru dicicipinya sekitar dua sendok.

__ADS_1


Hiro mencoba memahami, bahwa trauma Akira memang sulit dimengerti. Semuanya terbukti dari betapa lemahnya dia saat menghadapi masalah. Sebenarnya Hiro merasa muak dengan sikapnya. Terkadang dia ingin meledakkan seluruh emosinya dan memberikan ketegasan kepada ibunya tersebut. Dirinya sekarang paham, dengan banyaknya orang yang gemar mengomeli Akira.


'Mungkinkah ini salah satu tujuanku terlempar ke abad-21? untuk melindungi wanita lemah seperti Akira? tetapi bagaimana aku bisa melindunginya, jika dia belum mampu mempercayaiku sepenuhnya?' gumam Hiro dalam hati. Menatap iba ke arah Akira. Dia lantas bersuara dari mulutnya, "Aku pastikan untuk secepatnya bersekolah. Dan akan aku tunjukkan bakatku yang sebenarnya nanti!"


Akira tersenyum tipis. Kemudian memanggut-manggutkan kepala. Wanita tersebut segera menambahkan sup miso ke dalam mangkuk Hiro.



Keesokan harinya, Hiro mengunjungi apartemen Guree. Dia hendak melihat keadaan Shima, yang kata Kogoro telah semakin membaik. Benar saja, sahabatnya itu sudah mendingan dibandingkan kemarin. Bahkan sudah bisa berdiri dan berjalan. Luka diwajahnya juga terlihat mengering.


Kedatangan Hiro, membuat Shima bersemangat. Nampaknya dia sudah tidak sabar untuk berlatih bela diri ninjutsu. Seperti yang sudah dijanjikan Hiro.


"Setelah aku sembuh, kau akan mengajariku kan?" tanya Shima untuk yang sekian kalinya. Semenjak Hiro muncul, dia selalu saja membicarakan perihal ninjutsu, akibat saking bersemangatnya.


"Apa kau ada melihat dompetku?" ujar Hiro seraya mengamati meja di samping kasur Shima. Mencoba mencari benda yang dicarinya. Nihil, dia tidak dapat menemukannya.


"Apa uangnya masih ada?" Hiro meraih dompet yang disodorkan Shima.


"Aku menjaganya sangat baik dari semua orang. Pamanku dan anak bernama Atsuki hampir saja mengambilnya!" Shima tersenyum puas. Sedangkan Hiro terlihat memastikan jumlah uang dalam dompetnya, dan apa yang dikatakan Shima memang benar adanya. Uangnya sama sekali tidak berkurang.


Kini Hiro yang merasa dibuat senang. Dia langsung membawa Shima masuk ke dalam apitan ketiaknya. Lalu menggosok kasar puncak kepala sahabatnya penuh semangat.


"Sekarang lihat siapa yang berlebihan!" cerca Shima di sela-sela tawa kecilnya.


Ceklek!


Pintu tiba-tiba terbuka. Muncullah Hana yang tampak mengenakan seragam sekolah. Ditangannya terdapat sebuah tas karton yang berisi barang keinginan Izumi. Hiro otomatis melepaskan Shima dari rangkulannya.

__ADS_1


Izumi berderap mendekat, dan menyerahkan tas karton ditangannya kepada Hiro. "Kau tahu? aku rela mengorbankan tas ini bukan hanya rasa bersalah, tetapi juga karena aku menginginkan informasi penting dari keluarga Nakagawa. Kogoro nanti akan menjelaskan semuanya, termasuk apa yang kami lakukan di apartemen ini," jelasnya dengan wajah merengut.


"Terima kasih. Aku pastikan, informasi yang kita inginkan akan segera didapatkan secepatnya!" sahut Hiro. Kemudian membiarkan Hana beranjak pergi.


Keheningan terjadi beberapa saat. Hingga akhirnya Shima mendadak berbicara. Dia memberitahukan kalau dirinya sudah tahu semuanya. Termasuk pekerjaan Kogoro sekarang. Shima mengungkapkan bahwa hubungannya dengan sang paman sedang tidak baik.


"Hiro, aku tidak mau kau bekerja sama dengan orang-orang ini. Aku tidak mau kita terlibat dalam urusan yang melawan hukum!" ucap Shima, menampakkan semburat keseriusan diparasnya.


"Tenanglah Shima-Kun. Untuk sekarang kita biarkan saja berjalan seperti yang seharusnya. Lama-kelamaan kita akan melihat kedok mereka yang sesungguhnya. Dengan begitu, maka kita bisa memutuskan apakah mereka baik atau tidak." Hiro memegangi pundak Shima. Berusaha meyakinkan kawannya tersebut.


"Aku hanya khawatir dengan Shiro. Dia terlihat sudah akrab dengan Atsuki," ungkap Shima dengan kening yang mengernyit.


"Shiro dibawa Kogoro ke sini?"


"Iya!" Shima mengangguk yakin.


"Kita akan selesaikan urusan itu setelah aku pergi menemui Izumi. Ibuku terus mendesakku pergi sekolah!" balas Hiro sambil bersiap-siap untuk pergi. Selanjutnya dia bergegas menemui Izumi, untuk memberikan tas limited edition yang tadi diberikan Hana.


Kini Hiro telah berhadapan dengan Izumi. Keduanya bertemu di depan gerbang sekolah. Tanpa basa basi, Hiro langsung menyerahkan barang yang diinginkan Izumi. Gadis tersebut bergegas memeriksa tas karton yang diberikan Hiro. Perlahan kelopak matanya melebar. Pupilnya membesar seakan tak percaya.


"Wah! bagaimana kau bisa..." mulut Izumi tampak menganga.


"Apa kau puas?" tukas Hiro seraya menyilangkan tangan di depan dada. "Sekarang penuhi janjimu. Lakukan sesuatu kepada sekolah ini, agar mau kembali menerimaku sebagai murid!" tambahnya, mendesak.


"Tenang saja, Hiro. Aku akan melakukannya dengan cepat. Yang jelas besok pakailah seragammu dan datanglah ke sini untuk kembali menuntut ilmu." Izumi memberitahu sembari memakai tas limited edition yang sekarang sudah menjadi miliknya.


"Dan satu hal lagi..." Imbuhan Hiro seketika menyebabkan atensi Izumi teralih. "Aku ingin menjadi temanmu!" terang Hiro, yang tentu saja hanya sebuah kebohongan belaka. Sebelah tangannya menyodor kepada Izumi, menawarkan sebuah salaman persetujuan.

__ADS_1


__ADS_2