
Hiro masih belum diperbolehkan bertemu dengan Akira. Dia hanya bisa memandangi dari balik jendela. Meskipun begitu, keadaan Akira sudah lebih baik.
Sambil menghela nafas kasar, Hiro melangkah keluar dari rumah sakit. Dia lebih dahulu sampai di apartemen guree. Dirinya akan bertemu dengan Shima di sana.
Setibanya di lantai tujuh, Hiro langsung masuk ke ruangan khusus untuk latihan bela diri. Dia di antar oleh Hana. Benar saja, tempat itu memang sangat sepi. Hanya terlihat dua lelaki kembar, yang merupakan imigran gelap dari Tiongkok. Mereka adalah Chen Fu dan Chang Feng. Keduanya hanya sedang berlatih memainkan sebuah tongkat. Namun perlengkapan yang ada langsung membuat Hiro terpesona. Ada banyak beragam jenis pedang di sana.
Kaki Hiro melangkah mendekati pedang yang menarik perhatiannya. Tangannya menyentuh pelan senjata tersebut.
"Senjata jenis itu sudah tidak pantas lagi digunakan di zaman sekarang," tegur Hana yang ikut mendekat, dan sudah memposisikan diri di sebelah Hiro.
"Dia benar. Makanya tempat ini sangat sepi." Chen Fu ikut melakukan teguran. Hingga mengurungkan niat Hiro untuk mengambil pedang yang di inginkannya.
"Kalian pasti bercanda," respon Hiro menatap Hana dan Chen Fu secara bergantian.
"Ikut aku!" ujar Hana yang juga di ikuti oleh Chen Fu. Alhasil Hiro terpaksa mengiringi dari belakang.
Hana membawa Hiro ke sebuah ruang kecil. Di sana terdapat beragam senjata modern. Dari mulai senapan, pistol, belati, dan panah crossbow. Pistol yang tersimpan di sana ada beragam jenis. Dari mulai kaliber, revolver, bahkan magnum.
"Akhirnya aku bisa berhadapan dengan senjata gila ini..." pupil mata Hiro membesar. Dia masih sangat ingat rasa sakit tembakan yang sempat menyakiti lengannya. Hal tersebut membuat, Hiro enggan menyentuh pistol-pistol yang terpampang di hadapannya.
"Kau mau berlatih menggunakannya?" Chen Fu mengambil sebuah senapan dan pistol sekaligus. Kemudian menyerahkan salah satunya kepada Hiro.
Walau sempat ragu, Hiro memberanikan diri menyambut senjata yang disodorkan Chen Fu. Pistol tersebut hanya revolver, dan kekuatan tembakannya tidak sekuat jenis magnum.
"Kalau mau berlatih tembak lebih baik lakukan di basement. Agar suaranya tidak menarik perhatian orang!" ungkap Hana, memberitahu Hiro dan Chen Fu.
Hiro menganggukkan kepala, menunjukkan kalau dirinya setuju dengan ajakan Chen Fu. Keduanya segera pergi beranjak pergi menuju basement. Kebetulan sekali, saat hendak memasuki lift mereka bertemu dengan Shima. Jadi lelaki berambut cepak itu otomatis bergabung. Ketiganya sudah melangkah masuk ke dalam lift. Namun sebelum pintu lift menutup, sebuah tangan muncul. Terlihat Hana masuk, lalu segera menjenjal tubuhnya di antara Hiro dan Chen Fu.
__ADS_1
"Apa-apaan kau!" protes Chen Fu, yang tak terima posisinya digeser. Tetapi Hana sama sekali tidak mengacuhkan.
Sesampainya di basement, Hiro agak terkejut. Sebab dia menemukan ada banyak orang di sana. Kogoro bahkan tampak hadir. Dia sedang sibuk bermain judi bersama kelima orang yang duduk disekitarannya.
Botol-botol alkohol tergeletak di setiap sudut. Bahkan dipinggiran tembok. Ada juga ring tinju yang terlihat di isi oleh pria kekar sedang berlatih.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" timpal Kogoro, ketika menyaksikan Hiro dan keponakannya datang.
Tanpa diduga, Hiro mengarahkan pistolnya asal ke arah Kogoro. Niatnya sebenarnya hanya ingin memberitahu tujuan kedatangannya ke basement. Namun dia tidak tahu, kalaun tindakannya itu membuat Kogoro dan beberapa orang yang melihat berseru kaget. Mereka bahkan reflek membulatkan mata. Melakukan pose pertahanan diri sebaik mungkin.
"Hiro! jangan menggunakannya sembarangan!" geram Kogoro dengan keadaan mata yang menyalang. "Cepat turunkan pistolmu. Ini tidak lucu!" tambahnya yang sekarang mengeratkan rahang.
Dahi Hiro berkerut heran. Lalu perlahan menurunkan pistolnya. Membuat semua orang langsung mendengus lega.
Hiro sekarang sadar, betapa berbahayanya senjata yang dipegangnya. "Maaf, aku hanya ingin memberitahu. Kalau kami akan berlatih menggunakan senjata ini," terangnya pelan.
Karena tidak ingin basa-basi, Chen Fu dan Hana berjalan lebih dahulu ke ruang latihan. Di sebuah tempat yang kedap suara, dan pas sekali untuk dijadikan lokasi latihan tembak.
"Apa kalian memutuskan bergabung ke sini?" tanya Kogoro dengan tatapan serius.
"Mungkin..." jawab Hiro datar. Kemudian berderap lebih dahulu untuk mengikuti Chen Fu. Sedangkan Shima tampak masih berdiri di depan pamannya. Mereka tengah mendiskusikan sesuatu.
Hiro hanya memperhatikan sekilas. Selanjutnya dia benar-benar masuk ke ruangan untuk berlatih menembak. Dirinya menyaksikan Chen Fu terlebih dahulu.
Chen Fu meluncurkan peluru tepat ke papan sasaran.
Dor!!!
__ADS_1
Suara tembakannya seketika membuat Hiro tersentak kaget. Melengking dan memekakkan telinga. Raut wajahnya menampakkan ketakutan yang jelas.
"Haha! baru kali ini aku bisa melihat wajahmu ketakutan!" ungkap Hana tergelak. Dia berhasil memergoki ekspresi takut diwajah Hiro.
Hiro merespon dengan lidah yang berdecak kesal dan membalas, "Suaranya benar-benar nyaring. Kupingku menderita!"
Kali ini tawa Hana tertular kepada Chen Fu. Mereka tidak kuasa menahannya. Hana lantas berjalan mendekati sebuah lemari yang ada di dekat pintu. Gadis itu membuka lemari, dan mengambil sebuah alat berbentuk headphone. Dia memberikan benda tersebut kepada Hiro.
"Ini, gunakanlah untuk menutup telingamu!" saran Hana, yang langsung disambut dan dipakai oleh Hiro.
"Sekarang cobalah!" Chen Fu memberikan ruang untuk Hiro. Memposisikannya tepat ke arah papan sasaran.
Hiro menelan saliva-nya terlebih dahulu. Perlahan pistol yang dipegangnya diarahkan ke papan sasaran. Jujur saja, tangannya terlihat gemetaran, sehingga memberikan efek getar terhadap benda yang dipegangnya.
"Hiro!" Shima baru saja datang. Dia berhenti tepat di ambang pintu. Terpaku untuk memperhatikan aksi Hiro. Kedua tangannya reflek menutupi lubang telinga.
"Tenangkanlah dirimu lebih dahulu. Setelah yakin, baru kau--"
Dor!!!
Suara tembakan berhasil memotong perkataan Chen Fu. Hiro melepas tembakannya jauh dari sasaran. Bidikannya meleset, biji pelurunya menghantam tembok. Hiro gagal dipercobaan pertama. Akan tetapi kegagalan itulah yang membuatnya semakin termotivasi untuk mencoba lagi.
Dor!! Dor!! Dor!!
Hiro terus menembak tanpa henti. Hingga menyebabkan Shima, Hana dan Chen Fu meringis saat mendengarnya. Tindakan Hiro terkesan tidak tahu diri. Ditambah belum ada bidikannya yang mengenai titik tengah di papan sasaran.
Tidak terasa, peluru yang ada di pistol Hiro telah habis. Hiro sontak kebingungan. Puluhan kali dia mencoba menarik pelatuk pistol. Akan tetapi tidak ada peluru yang keluar.
__ADS_1
Tiga orang yang menyaksikan gelagat Hiro, tentu merasa geli. Mereka kini mengetahui satu hal. Bahwa Hiro memang masihlah pemula.
"Hiro, itu tidak akan berfungsi jika pelurunya sudah habis," jelas Hana sembari merebut pistol yang ada ditangan Hiro. Dia bergegas membuka bagian tempat penyimpanan peluru yang ada di dalam pistol. Kemudian membuktikan kalau sudah tidak ada peluru lagi yang mengisi selongsong.