
Hiro dan Haori sudah saling berhadapan. Mengucapkan salam penghormatan lebih dahulu sebelum sama-sama beraksi.
Setelah Ryo meniup peluitnya. Maka pertandingan pun dimulai. Haori langsung unjuk gigi dengan gerakan lincahnya, tidak seperti gelagat Hiro yang terkesan santai. Keduanya berjalan mengitar secara alami, di atas matras berbentuk persegi.
"Kau benar-benar berlagak sekali!" celetuk Haori, menantang. Dia menduga Hiro adalah lawan yang dapat dikalahkan dengan mudah. Apalagi reputasi Hiro di sekolah dikenal sebagai murid bebal dalam bidang manapun, termasuk olahraga.
Hiro hanya tersenyum tipis, menanggapi remehan dari Haori. Fokus utamanya saat ini hanya menunggu lawannya bergerak lebih dahulu.
Di dalam bela diri Judo, yang terpenting adalah mengetahui kelemahan dari lawan. Sikap santai yang ditunjukkan Hiro sekarang sebenarnya merupakan strateginya. Dia tahu, Haori akan menunggunya lengah. Hiro hanya berusaha mempersiapkan diri dengan serangan lawannya tersebut.
Seperti yang diduga, dalam selang beberapa detik, Haori melakukan serangan tiba-tiba. Dia berlari tepat ke arah Hiro, lalu menyerang dengan teknik andalannya. Kedua tangannya otomatis memegang erat pundak dan pinggul Hiro secara bersamaan. Selanjutnya Haori pun mengerahkan tenaganya untuk segera membanting Hiro ke matras. Akan tetapi, Hiro bergeming dan malah melakukan serangan balik.
Tidak seperti Haori, Hiro melakukan tekniknya dengan begitu cepat. Layaknya pelatih Judo yang sudah memakai sabuk berwarna hitam. Gerakan gesitnya tak pernah diduga oleh Haori. Sehingga sekarang badan Haori berhasil dibanting Hiro ke matras.
Semua orang terkesiap kala menyaksikan teknik yang dilakukan Hiro. Bahkan untuk Ryo sendiri.
"Wohoo! bagus Hiro!" Shima satu-satunya orang yang memberi sorakan untuk Hiro. Dia bahkan menambahkan tepuk tangan, yang berhasil menular kepada beberapa temannya. Pendukung Hiro perlahan semakin bertambah.
Haori menggertakkan giginya. Sebelum Hiro melakukan serangan kuncian, dia lekas-lekas berdiri.
Sebenarnya Hiro mampu mengalahkan lawannya dalam sekejap. Tetapi karena Haori sejak awal bersikap arogan, dia lantas berniat untuk melakukan bantingan lebih banyak.
Benar saja, Haori kembali gagal pada serangan keduanya. Strateginya bekerja bak sebuah boomerang. Yang mana ketika dirinya berusaha menjatuhkan lawan, tetapi malah dia sendiri yang dijatuhkan. Hal tersebut terjadi terus menerus.
Bruk!
Hiro berhasil membanting lawannya untuk yang kelima kalinya. Dia membiarkan Haori berdiri lagi.
Bruk!
__ADS_1
Haori dibanting untuk yang ke-enam kalinya.
Kini semua penonton tidak diam seperti suasana di permulaan. Mereka malah semakin berdecak kagum kepada Hiro. Ryo bahkan sampai geleng-geleng kepala ketika menyaksikan adegan Haori terus dipermalukan. Bagaimana tidak malu? si pemilik sabuk hijau dikalahkan oleh orang yang masih mengenakan sabuk putih?
Setidaknya begitulah yang ada dalam pikiran semua orang. Itu karena mereka tidak tahu, kalau lawan Haori adalah sosok leluhurnya sendiri.
Bruk!
Haori ditumbangkan lagi ke matras. Kali ini Hiro langsung melakukan serangan kuncian. Yang mana Kedua tangannya langsung melingkar, untuk menjerat kepala beserta tangan Haori.
Haori berusaha menggerakkan kaki agar mampu berdiri lagi. Namun semakin dia banyak bergerak, maka Hiro akan menguatkan jeratannya. Sehingga kuncian yang dilakukan Hiro, perlahan membuat tenggorokan Haori tercekat, bahkan matanya mulai memerah.
Saat itulah Ryo selaku wasit menghentikan permainan. Hiro menang telak. Selanjutnya Ryo menyuruh Hiro dan Haori untuk kembali melakukan salam hormat. Tidak peduli siapa yang kalah dan menang. Sikap saling menghargai adalah yang terpenting.
Haori menyalami Hiro dengan tangan. Mimik wajahnya tampak kecewa. Dari kekalahannya, dia setidaknya belajar untuk tidak terlalu meremehkankan orang lain.
"Sepertinya kau menggunakan waktu jedamu dengan belajar Judo. Kau belajar dimana?" tanya Haori yang sudah melepaskan salamannya.
"Dengan Shima? benarkah? berarti Shima pasti juga jago sepertimu!" respon Haori seraya mengarahkan pandangannya ke arah Shima.
"Eh, bukan begi--"
"Ryo-Sensei! bolehkah aku merekomendasikan lawan untuk Seiko?" tanya Haori. Tanpa sengaja memotong kalimat yang hendak dikatakan Hiro.
"Apa ada lawan yang sepantaran dengannya?" balas Ryo penasaran.
Hiro lekas-lekas membuat Haori bungkam. Karena tidak mungkin dirinya membiarkan sahabatnya sendiri, menjadi orang yang akan dipermalukan selanjutnya. Ucapannya kepada Haori tadi hanya kesalahan belaka. Hiro mencoba meluruskan kesalahpahaman Haori baik-baik.
"Haori, dengarkan aku dahulu--"
__ADS_1
"Sudahlah Hiro, tenanglah." Lagi-lagi Haori tidak mau mendengarkan penjelasan Hiro. Dia malah kembali mengalihkan perhatiannya kepada Ryo. "Kata Hiro, Shima juga ikut berlatih bersamanya!" ungkapnya sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat ke arah Shima.
"Tidak, Ryo-Sensei! ini kesalahpahaman!" Hiro kembali meluruskan.
"Kenapa Hiro? padahal kau sendiri tadi yang bilang, kalau kau berlatih dengan Shima selama tidak bersekolah," tutur Haori memberitahu.
"Tidak, bukan begitu. Maksudku, Shima masih belum semahir diriku!" ungkap Hiro, mencoba meyakinkan.
"Wah, berarti Shima memang pantas untuk menjadi lawan Seiko. Karena Seiko juga keahliannya tidak semahir aku." Haori menyimpulkan.
"Ada benarnya juga. Baiklah, kalau begitu..." Ryo menoleh ke arah Shima. Kemudian memanggil lelaki berambut cepak itu untuk mendekat.
Dahi Shima mengerut bingung. Namun pada akhirnya dia menuruti perintah Ryo. Kemudian berjalan menghampiri guru olahraganya tersebut.
Sedangkan Hiro terus saja berusaha membuat Ryo agar tidak menjadikan Shima lawan dari Seiko. Tetapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Pilihan Ryo tetap bulat untuk membuat Shima dan Seiko bertarung di matras.
"Shima, maaf... aku sebenarnya tidak bermaksud..." Hiro memegangi lengan Shima. Keningnya mengukir garis-garis kekhawatiran.
"Hiro, apa maksudmu? kenapa kau meminta maaf?" sahut Shima, terheran. Dia masih tidak mengerti maksud dari panggilan Ryo terhadapnya.
"Ryo Sensei memilihmu untuk bertarung dengan Seiko!" ucap Hiro yang dilanjutkan dengan dengusan kasar. Hingga menyebabkan mata Shima sontak terbelalak. Meskipun begitu, dia bergegas merubah mimik wajahnya.
"Kau tenang saja, Hiro. Aku akan baik-baik saja. Lagi pula ini hanya olahraga biasa yang ada di sekolah. Bukan pertarungan yang mengancam nyawa, atau pun olahraga dalam olimpiade dunia!" Shima berusaha bersikap kalau dirinya baik-baik saja. Padahal keringat dingin sudah mengaliri telapak tangannya. "Kau tidak tahu, aku ini lebih jago berolahraga dibandingkan dirimu," sambungnya yang seketika membuat Hiro agak terkejut.
"Eh, maksudku, Hiro yang dulu!" kata Shima lagi, meluruskan.
Memang benar apa yang dikatakan Shima kepada Hiro. Olahraga Judo yang dilakukannya sekarang tidaklah berbahaya. Hiro tahu itu, namun setidaknya Shima harus memikirkan harga dirinya, ketika tampil di hadapan orang banyak.
"Kau yakin?" Hiro memastikan. Shima lantas menjawab dengan anggukan kepala. Kemudian beranjak pergi ke area matras.
__ADS_1
Hiro melangkah dengan berat masuk ke kerumunan penonton. Entah sudah berapa kali nafas dihela olehnya. Sebenarnya Hiro tidak tega menonton pertandingan Shima dengan Seiko. Sebab dia sudah memprediksi siapa yang akan menang. Tidak mungkin Shima.