Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 23 - Berkelahi Saat Mabuk


__ADS_3

Salah satu dari lima lelaki berjalan mendekat, lalu mencengkeram erat kerah baju Shima. Hingga berhasil membuat tubuh lelaki berambut cepak itu terangkat. Mata Shima bahkan sudah memerah akibat kesulitan membawa oksigen melalui tenggorokannya. Setelahnya, Shima langsung dilemparkan ke bak sampah.


Shima tidak sempat melakukan perlawanan. Sehingga sekarang badannya terhempas mengenai bak sampah dan semen. Dia tentu merasakan sakit dan nyeri. Dahi Shima pun tampak sedikit mengeluarkan cairan berwarna merah.


"Aaarghh..." rintih Shima sembari mencoba bangkit kembali. Akan tetapi dia tidak mampu, karena ke-empat lelaki yang tersisa memberikan beberapa tendangan kepadanya.


"Lihat keponakanmu, dia sebentar lagi akan babak belur!" ucap si lelaki yang tadi sempat membanting Shima. Dia berbicara kepada Kogoro. Dengan seringai jahat yang terukir dari semburat wajahnya.


Sementara itu, Hiro mulai tersadar. Matanya mengerjap beberapa kali. Mulutnya mendadak mengeluarkan cairan kental yang berasal dari lambungnya. Perlahan suara keributan menarik atensinya. Dia lantas menoleh ke arah sumber suara tersebut. Sekarang Hiro dapat melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, kalau Shima tengah dikeroyok oleh beberapa orang.


Tanpa pikir panjang, Hiro bergegas berdiri. Meskipun rasa mabuk masih menggerayangi kepalanya, dia tetap memaksakan diri untuk menggerakkan kaki.


Hiro berjalan dengan sempoyongan. Kedua tangannya sudah mengepalkan tinju. Dia siap melayangkan pukulan kepada para lelaki yang telah berani menyakiti Shima.


Hiro menepuk pelan salah satu lelaki yang masih sibuk menendangi Shima. Lelaki tersebut sontak berbalik badan, dan saat itulah Hiro melayangkan tinjunya.


Untuk memastikan lawannya kalah, Hiro menambahkan tendangan ke dada. Lelaki yang diserangnya itu langsung terjatuh ke tanah dalam keadaan tersentak hebat.


Setelah memberikan pukulan, kepala Hiro kembali oleng. Dia hampir tumbang dari pijakannya. Namun untung saja badannya masih mampu mempertahankan diri. Hiro bahkan sudah siap melakukan serangan selanjutnya.


"Senpai..." lirih Shima seraya berusaha berdiri secara perlahan. Harapannya seketika muncul kala menyaksikan Hiro sudah beraksi. Walau dalam keadaan mabuk, Hiro dapat melayangkan pukulannya dengan baik.


Buk! Dhuak!


Tinju yang mengarah ke wajah berhasil ditangkis Hiro. Namun dia lengah dengan pukulan yang mengarah ke perutnya. Sebuah tinju sontak menghantam area lambungnya. Hingga Hiro reflek melangkah mundur. Semburan cairan dari sisa makanan keluar dari mulut Hiro. Muntahannya tersebut tepat mengenai semua lelaki yang berada di depannya.

__ADS_1


"Sialan! bocah ini memuntahiku!" geram salah satu lelaki sambil mengusap kasar wajahnya. Dia meringiskan wajah karena merasa jijik dan bau dengan muntahan Hiro.


Sedangkan Hiro sendiri sudah terjatuh ke tanah. Kepalanya serasa berputar. Dia terlihat betah rebahan di tanah. Matanya menatap ke arah langit Kyoto yang kosong melompong tanpa bintang.


"Aaaa..." Hiro hanya mengangakan mulut. Mencoba kembali mengumpulkan semua energinya. Akan tetapi sepasang tangan dari seorang lelaki mendadak menarik kerah bajunya. Badan Hiro otomatis terangkat.


Belum sempat memberikan pembalasan kepada Hiro, lelaki berbadan besar tersebut melihat mobil polisi dari kejauhan. Alhasil dia segera mengajak semua teman-temannya untuk kabur. Meninggalkan Hiro kembali telentang di tanah.


Ketika mendengar suara sirine mobil polisi, Kogoro ikut panik. Dia memaksakan diri untuk berjalan. Kemudian berderap menghampiri Shima. "Ayo kita pergi!" ucapnya mendesak.


"Apa? kenapa?" Shima malah berbalik tanya. Tetapi pamannya tidak menjawab sama sekali pertanyaannya. Dia malah terus menyeret Shima untuk ikut bersamanya.


"Tunggu Paman, jangan tinggalkan temanku!" Shima mencoba menghentikan langkah Kogoro. Jari telunjuknya mengarah ke arah Hiro yang masih asyik rebahan di atas tanah.


"Sial, apa dia Hiro?" Kogoro baru menyadari kalau ternyata lelaki yang sedang mabuk tersebut adalah Hiro. Alhasil dia dan Shima bergegas membawa Hiro. Mereka masuk ke dalam sebuah gang terdekat.


"Apa yang terjadi kepada Hiro? aku rasa dia bukan tipe anak yang nakal?" tanya Kogoro pelan. Dia melirik ke arah Hiro yang sibuk meracau tidak karuan.


"Itu tidak penting!" sahut Shima dengan kerutan didahinya. Melakukan tatapan menyelidik ke arah sang paman. "Yang paling penting bagiku adalah, alasan kau dipukuli oleh preman-preman itu. Dan juga, kenapa kau kabur dari polisi?" Shima melayangkan pertanyaan bertubu-tubi.


Suara sirine mobil polisi menyelamatkan Kogoro dari pertanyaan keponakannya. Dia lantas meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir. Memberitahu Shima untuk menutup mulutnya sebentar. Sesekali Kogoro mencoba mengintip, memastikan tidak ada polisi yang mendekat.


Hiro, Shima beserta Kogoro terpaksa mengendarai taksi untuk pulang. Ketiganya sekarang sudah berada di dalam taksi. Sedari tadi Shima dan Kogoro terus berdebat. Karena jujur saja, Shima sangat penasaran dengan pekerjaan pamannya sekarang. Sebab baru-baru ini, Kogoro sangat jarang pulang. Jika ditanya, maka Kogoro akan selalu memberi alasan, kalau dirinya tengah disibukkan dengan pekerjaan. Padahal Shima yakin, bekerja sebagai tukang bengkel tidak akan membuat seseorang menghabiskan waktu sebanyak itu.


"Apa Paman melakukan pekerjaan ilegal?" tebak Shima dengan mimik wajah serius. Dia hanya bicara asal akibat terlalu curiga. Sopir taksi yang kebetulan mendengar, juga ikut kaget.

__ADS_1


Plak!


Karena ucapannya sendiri, Shima harus menerima geplakan di kepala dari pamannya. Meskipun begitu, Kogoro sama sekali tidak membantah tebakan Shima.


"Kita bicarakan di rumah saja!" ujar Kogoro, diteruskan dengan lidah yang berdecak kesal.


...***...


Shima membuka pintu pagar dengan pelan. Bola matanya memperhatikan kediaman Hiro. Berharap tidak menemukan kehadiran Akira di depan rumah.


Setelah memperhatikan dengan seksama. Shima pun memberikan sinyal kepada pamannya untuk masuk. Kogoro lantas berderap pelan dalam keadaan membopong Hiro.


Bruk!


Kogoro menghempaskan Hiro ke sofa. Lelaki berusia tiga puluh tahun itu segera meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Kemudian dilanjutkan dengan melayangkan pantatnya ke sofa yang ada di dekatnya. Dia menatap ke arah Hiro yang nampaknya sudah masuk ke alam mimpi.


"Aku kasihan dengannya... apa dia mabuk karena mengetahui tentang ayahnya?" tanya Kogoro asal. Pertanyaannya tentu membuat Shima heran.


"Maksudmu? apa kau tahu siapa ayahnya?" balas Shima penasaran.


"Lupakan!" Kogoro segera memutuskan pembicaraan. Gelagatnya tentu memunculkan rasa penasaran Shima menjadi kian menggebu. Alhasil Shima langsung melayangkan pelototan tajamnya. Hingga berhasil membuat Kogoro tidak kuasa mengabaikan tatapan penuh amarah tersebut.


Kogoro akhirnya menceritakan yang sebenarnya. Karena beberapa waktu lalu, dirinya sempat memergoki Akira mengunjungi area pemakaman. Saat itulah Kogoro mengetahui perihal ayahnya Hiro. Benar, suami dari Akira itu telah meninggal dunia.


"Akira berpesan, untuk tidak memberitahukan mengenai ini kepada Hiro. Dia bilang semuanya demi kebaikan Hiro," terang Kogoro seraya menopang dagu dengan sebelah tangan.

__ADS_1


Shima mendengus kasar, lalu menuntut jawaban lagi kepada pamannya. Terutama mengenai pekerjaan Kogoro yang sebenarnya.


"Tentu saja aku masih bekerja di bengkel. Menurutmu apalagi hah?" Kogoro berlagak marah. Selanjutnya dia segera berdiri dan masuk ke dalam kamar untuk tidur. Meninggalkan Shima yang sepertinya masih belum puas dengan jawabannya. Shima merasakan ada yang janggal dengan pamannya.


__ADS_2