Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 49 - Mencari Tahu


__ADS_3

Mendengar penjelasan Eiji, Hiro sontak panik. Dia bergegas turun tangan untuk mencari Shiro. Sebelum kakinya sempat melangkah, Shima tiba-tiba sudah datang. Kali ini lelaki berambut cepak itu berhasil kembali tepat waktu. Dia terlihat sangat senang.


"Hiro, aku berhasil!" pekik Shima histeris. Dia tersenyum lebar hingga menampakkan gigi putihnya yang rapih. Namun Hiro malah membalasnya dengan mimik wajah serius, dan memberitahukan Shima secara pelan mengenai menghilangnya Shiro.


"Apa? jangan bercanda!" Shima sontak terkejut.


"Dia belum tentu hilang, karena aku masih belum mencarinya." Hiro mencoba menenangkan kepanikan yang tengah dirasakan Shima. Keduanya lantas mencari Shiro bersama-sama, dan tentu saja ditemani dengan bantuan Eiji.


Mereka menulusuri semua tempat. Terutama di area Shiro terakhir kali terlihat. Shima yang tadinya sempat bersemangat, mendadak menjadi gelisah. Dia begitu mencemaskan adik lelakinya. Sebab hanya Shiro-lah satu-satunya keluarga yang dimiliki Shima sekarang. Apalagi kini, hubungan di antara dirinya dan Kogoro sedang renggang.


Eiji memeriksa satu per satu ruangan yang ada di kuil. Termasuk lokasi-lokasi kecil yang hanya tidak diketahui banyak orang. Sedangkan Hiro mencoba melakukan pencarian keluar dari lingkungan kuil. Mungkin saja Shiro bermain-main di rerumputan atau di bawah pepohonan yang rindang.


Hiro mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Termasuk memperhatikan pohon kesemek yang sempat dia datangi kemarin. Pupil matanya langsung membesar ketika menyaksikan Shiro ada di sana. Anak itu tampak menikmati buah kesemek sendirian, dan menggigitnya layaknya orang yang tidak makan beberapa hari. Area mulutnya penuh dengan sari-sari yang dihasilkan oleh buah kesemek.


"Shiro!" panggil Hiro.


Shiro otomatis menoleh. Dia terlihat bergegas mengelap mulutnya yang celemotan.


Hiro melajukan larinya untuk mendatangi Shiro. Dia segera menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Shiro. Adik lelaki dari Shima itu mengatakan kalau dirinya sangat menyukai buah kesemek.


"Kemarin adalah pertama kalinya aku memakan buahnya, dan kau hanya memberi aku sedikit. Jadi tadi malam, aku mencoba mencari buahnya. Untung saja ada seorang kakek berbaju kimono yang memberitahukanku. Dia mempunyai rambut dan janggut berwarna putih!" terang Shiro menceritakan rentetan kejadian yang di alaminya tadi malam.


"Apa? Kakek tua?" Hiro mengerutkan dahi bingung, karena semenjak kedatangannya kemari, dirinya tidak pernah menyaksikan seorang lelaki tua berada disekitaran kuil. Tidak mungkin kakek yang diceritakan Shiro adalah penjaga kuil dan pemilik pemandian air panas. Sebab kedua orang tersebut masih terbilang muda, bahkan tidak memiliki uban di bagian rambutnya. Apalagi Eiji, rambut hitam pun dia tak punya.


"Ayo, sebaiknya kau temui kakakmu terlebih dahulu. Dia sangat menkhawatirkanmu!" ajak Hiro sembari menarik Shiro untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


"Ah iya, kakek itu juga menyampaikan sesuatu kepadamu." Ucapan Shiro sontak membuat langkah kaki Hiro berhenti. Kemudian sedikit berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Shiro. Dia memasang telinganya baik-baik.


"Dia bilang apa?" tanya Hiro, penasaran.


"Kakek itu mengatakan kepadaku bahwa kau harus berhati-hati dengan musuhmu. Dia juga menyampaikan kalau kau mesti belajar dari pengalaman sebelumnya." Shiro memberitahukan dengan raut wajah polosnya.


Hiro terkesiap sesaat. Dia tentu mengerti dengan pengalaman yang dimaksud oleh kakek tersebut. Apalagi kalau bukan pengkhianatan yang pernah diterimanya dalam kehidupan sebelumnya. Sepertinya si kakek bukanlah orang biasa.


"Shiro!!" teriakan Shima seketika menyadarkan Hiro dari lamunannya. Penglihatannya segera dialihkan ke arah sahabatnya. Shima terlihat berlari menghampiri Shiro. Lalu mencurahkan semua kekesalannya kepada adiknya itu. Shima terkesan seperti memarahi. Hingga berhasil membuat kepala Shiro tertunduk sedih.


"Shima, jangan memarahinya terlalu keras!" Hiro memperingatkan. Namun Shima nampaknya sama sekali tak hirau.


"Sudahlah, lebih baik kita pulang sekarang. Ayo Shiro, kau bersamaku saja. Kakakmu butuh waktu untuk menenangkan diri!" ujar Hiro lagi, merebut Shiro dari genggaman Shima. Kemudian melangkahkan kaki ke jalanan. Berniat hendak pulang ke rumah.


Shima hanya menunjukkan ekspresi datar, dan terpaksa mengikuti Hiro dari belakang. Dia benar-benar butuh waktu untuk tenang.


"Baiklah, aku dan--


"Apartemen Guree? aku ikut!" Shiro menyahut penuh semangat, dan tanpa sengaja memotong ucapan sang kakak.


"Shiro!" Shima memekik lantang. Dia sepertinya lupa kalau dirinya sedang berada di tempat umum. Akibat suara nyaringnya itu, semua penumpang yang ada di bus sontak menoleh ke arahnya.


"Kita lebih baik pulang saja," ucap Shima, memelankan suaranya. Nampaknya dia merasa tidak nyaman dengan tatapan semua orang.


"Sekarang aku ingin bertemu dengan Paman." Shiro menjawab sambil menundukkan kepala. Tidak berani menatap kakaknya.

__ADS_1


Sedangkan Hiro hanya membisu. Melipat tangannya di depan dada. Dia kali ini membiarkan Shima dan Shiro berdebat sesuka hati. Pandangannya pun dialihkan ke kaca jendela, yang menampakkan pemandangan kota Kyoto.


Akibat merasa tidak tega untuk menolak keinginan adiknya, Shima akhirnya setuju pergi ke apartemen Guree bersamaan dengan Hiro.



Setibanya di apartemen Guree, Shima dan Shiro langsung menemui pamannya. Meskipun Shiro tampak bahagia, tetapi hubungan di antara Shima dan Kogoro masih saja terasa dingin.


Sedangkan Hiro tengah berjalan menuju kediaman Hana. Dia sekarang sudah berada di depan pintu. Setelah memencet bel sekitar dua kali, barulah pintu terbuka. Muncullah sosok Hana yang hanya mengenakan celana pendek dan tanktop. Rambutnya digelung ke atas dengan asal.


"Hiro!" Hana agak terkejut kala menyaksikan kehadiran Hiro. Dia reflek menutup pintu kembali.


Kening Hiro mengernyit, namun dia masih diam diposisinya untuk menunggu. Karena dirinya tahu, Hana pasti akan membuka pintunya lagi.


Benar saja, belum sempat dua menit, Hana telah membuka pintu. Dia terlihat lebih baik dibanding tampilan yang sebelumnya. Gadis itu menggelung rambutnya lebih rapi, serta menambahkan kemeja kotak-kotak untuk menutupi badannya. Akan tetapi dia tidak mengancing kemejanya, dan membiarkannya terbuka.


"Kau menutup pintunya lagi hanya karena ingin memakai lipstik?" sindir Hiro, dia menyadari tampilan bibir Hana berubah jadi agak memerah dan sedikit mengkilap.


"Itu karena aku menganggapmu lelaki." Hana menjawab dengan nada ketus.


"Aah... sepertinya kau ingin lagi," goda Hiro, menyindiri perihal yang pernah terjadi di bilik karoke.


Mendengarnya Hana sontak langsung melotot tajam. "Kau pikir aku gadis murahan?!" rahangnya ikut mengerat kesal.


Anehnya Hiro malah merespon dengan wajah cemberut. Nampaknya kata murahan agak sensitif ditelinganya. Dia lantas menarik lengan Hana dengan paksa dan berkata, "Kau harus tahu, dalam hidupku... aku bahkan tidak pernah menganggap para pelac*ur sebagai wanita murahan. Apalagi gadis sepertimu." Hiro menjeda ucapannya sejenak, dan perlahan mendekatkan mulut ke telinga Hana. "Sama seperti lelaki, bagiku para wanita terkadang juga membutuhkan kenikmatan itu. Aku memahaminya, Hana. Jadi jangan pernah menganggap dirimu sendiri murahan."

__ADS_1


Hana hanya mematung dengan keadaan mata yang membulat. Dia tak mampu berkata-kata lagi. Sebab baru pertama kali Hana mendengar kalimat seperti itu dari mulut pria, terutama jika mengenai dirinya sendiri.


Selanjutnya Hiro tersenyum tipis dan mengubah topik pembicaraan. Dia segera memberitahukan mengenai maksud kedatangannya. Hiro ingin meminta bantuan para hacker yang tinggal di apartemen Guree. Maka dari itu, dirinya berharap Hana bisa membantunya untuk melakukan negosiasi.


__ADS_2