
Seiko tampak menajamkan matanya saat menatap Shima. Selanjutnya, tanpa basa basi, dia segera melakukan serangannya.
Hiro menutup matanya rapat-rapat, karena tidak mau menyaksikan Shima dibanting di atas matras.
"Sepertinya kau dan teman bodohmu itu berlatih sangat keras!" suara Izumi seketika mengharuskan Hiro membuka mata kembali. Dia terperangah, karena Shima terlihat mampu bertahan.
Meskipun tidak tahu teknik-teknik dalam olahraga Judo. Setidaknya Shima memiliki tenaga yang kuat. Lelaki berambut cepak tersebut bergeming. Walau Seiko terus berusaha menjatuhkannya.
Pergulatan semakin memanas, akibat Shima dan Seiko sama-sama melakukan perlawanan.
Secercah harapan muncul dalam diri Hiro. Nampaknya Shima mempunyai kesempatan untuk menang.
"Ayo, Shima!" pekiknya memberi semangat. Memecah keheningan yang tengah terjadi.
Baru saja Hiro meneriakkan semangat, badan Shima sudah dibanting oleh Seiko. Hal itu membuat Hiro langsung meringiskan wajah. Seakan ikut merasakan rasa sakit yang diterima sahabatnya.
Shima kembali bangkit. Mimik wajahnya terlihat marah. Tanpa diduga dia melakukan serangan balik. Namun lagi-lagi Seiko malah menggunakan teknik yang dikuasainya. Hingga menyebabkan tubuh Shima terbanting untuk yang kedua kalinya.
Bruk!
"Aaarghh!" erang Shima. Dia perlahan berdiri. Kali ini tatapannya tampak bertekad.
Shima dan Seiko sama-sama bergerak untuk saling menyerang. Sebelum Sempat diserang, Shima langsung menggigit pundak Seiko sekuat tenaga. Dalam olahraga Judo sendiri, menggigit lawan adala salah satu hal yang tidak boleh dilakukan.
"Aaakhhh! Ryo-Sensei, dia menggigitku!" pekik Seiko yang didahului teriakan kesakitannya.
Ryo segera meniup peluit, dikarenakan Shima telah melakukan pelanggaran. Shima lantas mendapatkan peringatan. Meskipun begitu, pertandingan belumlah berakhir. Alhasil Shima dan Seiko kembali beraksi.
Hal yang sama terjadi lagi. Shima dan Seiko saling bertahan dipijakannya. Dengan hanya bermodalkan kekuatan, Shima mampu menahan serangan dari Seiko.
Lama-kelamaan Shima mulai kewalahan. Hingga akhirnya dia hanya bisa mencengkeram wajah Seiko. Tindakan Shima sekali lagi mengharuskan Ryo meniup peluitnya. Sebab Shima kembali melakukan pelanggaran.
"Ya ampun, Shima..." Hiro menggelengkan kepala. Jari telunjuknya menekan-nekan bagian jidatnya sendiri.
__ADS_1
Pertandingan berakhir, ketika Shima melanggar peraturan dikesempatan terakhirnya. Lelaki berambut cepak tersebut terlalu kuat menarik helaian rambut Seiko.
Akibat kecurangan yang dilakukan Shima, Ryo pun menyatakan Seiko memenangkan pertandingan.
Shima berlari kecil menghampiri Hiro. Dia merekahkan senyuman yang dipaksakan. Namun Hiro membalasnya dengan rangkulan lembut, lalu membawanya keluar dari kerumunan orang.
"Shima, sepulang sekolah ini aku akan langsung melatihmu," ungkap Hiro sembari menyamakan langkahnya dengan Shima.
"Benarkah?!" kedua alis Shima tampak terangkat. Seakan menunjukkan kalau dirinya begitu bersemangat. "Apa semua ini karena pertandinganku tadi?" tanya-nya.
Plak!
Hiro mendadak menampar dahi Shima. "Siapa yang mengajarimu untuk berbuat curang?!" timpalnya dengan kening yang mengernyit.
"Itu karena kau terlambat mengajariku!" balas Shima, sedikit cengengesan. Satu tangannya mengusap jidatnya yang terasa nyeri karena pukulan Hiro.
"Eh, apa?!" respon Hiro. Dia memutar bola mata jengah, hingga gerakan matanya berhenti kala tatapannya bertemu dengan Izumi. Gadis itu terlihat menoleh ke arahnya, kemudian berbalik badan dan berderap mendekat.
Shima yang juga menyaksikan, perlahan berbisik, "Hiro, aku pikir Izumi mulai tertarik denganmu."
"Maaf, emosiku selalu tersulut saat melihat wajahnya!"
"Maka hentikanlah mulai sekarang!"
"Baiklah, Senpai. Aku akan berusaha!"
Adegan bisik-berbisik terus dilakukan Shima dan Hiro. Sampai akhirnya Izumi tiba di hadapan mereka. Dia memergoki Hiro yang sedang menyalangkan mata ke arah Shima. Dikarenakan Shima terdengar kembali memanggilnya dengan sebutan Senpai.
"Izumi?" sapa Shima, yang sontak menyebabkan Hiro reflek mengalihkan atensinya kepada Izumi.
"Sepertinya sekarang ada yang sudah berniat ingin menerimaku sebagai temannya," Hiro berlagak berbicara kepada Shima. Sengaja menyindiri Izumi secara langsung.
Izumi mengembangkan senyum dan berucap, "Kalian berdua manghalangiku!" tukasnya, menunjuk botol minuman yang ada tepat di belakang Shima dan Hiro. Benda tersebut sedang bertengger di atas meja.
__ADS_1
"Ayo Hiro, lebih baik kita kembali menonton pertandingan!" Shima segera menyeret Hiro dengan rangkulannya. Namun langkah mereka langsung terhenti ketika Izumi mendadak memanggil nama Hiro.
"Aku akan memikirkannya," ungkap Izumi sembari memutar tutup botol minuman yang sudah ada digenggamannya. Sepertinya dia membicarakan perihal tawaran Hiro, yang sempat ingin menjadi temannya.
"Jangan lama-lama, temanku bukan tipe orang yang suka menunggu!" ucap Shima. Lalu kembali membawa Hiro pergi bersamanya. Izumi hanya memasang wajah datar dan segera meneguk minumannya.
Hiro dan Shima telah pulang dari sekolah. Setelah berganti baju, keduanya berniat pergi lagi. Tetapi kali ini mereka membawa Shiro untuk ikut. Sebab Shima tidak akan membiarkan adiknya dibawa oleh Kogoro ke apartemen Guree.
Tujuan mereka adalah gunung Kurama. Sebuah tempat tenang, yang menurut Hiro dapat membantu pelatihan Shima. Jaraknya hanya memakan waktu setengah jam dari tempat tinggal mereka.
Kini Hiro sedang berjalan lebih dahulu menaiki jalanan yang menanjak. Dia hampir melakukannya setengah jalan. Ketika dirinya menoleh ke belakang, Shima tampak tertinggal jauh. Bukannya tidak kuat, teman berambut cepaknya itu sedang menggendong Shiro dipundaknya.
"Kenapa kalian diam saja saat aku sudah melangkah sangat jauh?!" tanya Hiro dengan nada penuh penekanan. Dia berdiri menunggu Shima sambil melakulan pose berkacak pinggang.
"Kau terlihat bersemangat, jadi kami tidak ingin mengganggu..." jawab Shima lirih, dengan nafas yang mulai tersengal-sengal. Perlahan dia menurunkan Shiro dari pundaknya. Kemudian langsung mendudukan diri ke tanah. Kedua kakinya berselonjor lurus.
"Baru setengah jalan kau sudah mau istirahat?" timpal Hiro, terperangah.
"Eh, ini semua karena aku tadi menggendong Shiro," ujar Shima memberi alasan.
Hiro lantas mencoba mengerti, dan meneruskan langkahnya. Kali ini dia yang bertugas menggendong Shiro.
Hiro sebenarnya tidak mengerti kapan tubuhnya terbiasa dengan gerakan yang dia kuasai dikepala. Semuanya terjadi secara alami. Kemungkinan badannya hanya akan terasa kaku ketika di awal-awal saja. Jika sudah terbiasa, maka segala gerakan akan dapat dilakukan mulus olehnya. Hal itu mungkin juga berlaku untuk Shima.
Langkah kaki Hiro berhenti saat tiba di halaman depan kuil Kurama. Dia segera menyuruh Shiro beristirahat di bangku yang ada di sekitaran kuil. Lalu memeriksa keadaan Shima, yang masih tertinggal di belakang. Sahabatnya itu berjalan sangat lambat bak seekor keong.
"Shima!!" pekik Hiro dengan dahi yang berkerut. "Kau niat berlatih atau tidak?!" kritiknya.
"Tunggu Hiro!" Shima melajukan derap langkah kakinya. Dia memaksakan diri untuk menggerakkan kakinya yang sebenarnya sudah terasa pegal.
Shima berlari melingus begitu saja melewati Hiro. Kemudian langsung merebahkan diri ke lantai yang ada di kuil. Dia berusaha mengatur deru nafasnya akibat kelelahan.
__ADS_1
Hiro mendengus kasar. Matanya melakukan tatapan malas kepada Shima. Dia lantas ikut duduk sejenak. Pandangannya mengedar ke segala arah. Berniat mencari tempat yang tepat untuk melakukan pelatihan tahap pertama.