Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 61 - Kenyataan Pahit


__ADS_3

Setelah Hana pergi, Akira langsung melayangkan tatapan menyelidik ke arah sang putra. Apalagi dirinya juga berhasil memergoki Hiro keluar dari kamar bersamaan dengan Hana.


"Apa itu pacarmu?" tanya Akira.


"Bukan, dia hanya melihat-lihat rumah kita. Percayalah, kami tidak melakukan apapun." Hiro mencoba meyakinkan. Matanya reflek menghindari tatapan Akira. Sebab sudah jelas dia berbohong.


"Untuk apa dia melihat-lihat rumah kita? alasanmu malah semakin membuatku curiga," balas Akira. Dia melakukan pose berkacak pinggang, dan terus mengintimidasi Hiro dengan sorot matanya.


Hiro mendengus kasar. Dia merasa, kalau yang diperlakukan tidak adil sekarang adalah dirinya. Dan hari ini Hiro ingin membuat Akira menceritakan semua hal yang berkaitan dengan keluarga Nakagawa. Hiro juga bertekad tidak peduli terhadap trauma Akira yang terkesan berlebihan. Menurutnya tidak baik mengulur-ulurkan waktu terlalu banyak. Dia terlalu penasaran dengan apa yang telah terjadi kepada Akira dan suaminya.


"Terserahmu mau menganggapnya seperti apa. Aku tidak peduli." Hiro pasrah dengan intimidasi Akira. Toh bukan itu hal yang terpenting untuk dibahas.


Akira melemahkan pundaknya dan mengubah pancaran matanya menjadi teduh. Dia terlihat meraih kantong plastik yang sempat diletakkan di atas meja. Kemudian menyerahkannya kepada Hiro.


"Ini, maaf aku tidak bisa langsung menggantikannya. Tetapi hari ini, sepertinya aku punya uang berlebih dan bisa membelikannya untukmu," tutur Akira lembut. Dia berharap Hiro menyukai barang yang dibelinya.


Hiro meraih benda berbentuk persegi dari dalam plastik. Ternyata itu adalah sebuah ponsel baru. Pupil mata Hiro membesar. Sebab dia agak terkejut dengan barang pemberian Akira. Dirinya tahu betapa mahalnya benda tersebut.


"Ibu kenapa membuang-buang uang untuk membeli ini?" tanya Hiro dengan dahi berkerut. Dia tentu tahu bagaimana kondisi keuangan ibunya.


"Aku baru saja mendapat gajihan. Karena kerjaku bagus, aku juga mendapatkan bonus dari atasan," jelas Akira pelan.


Hiro akhirnya mengangguk. Pertanda bahwa dirinya tidak punya pilihan selain menerima pemberian sang ibu. Dia lalu mengajak Akira duduk saling berhadapan di meja makan. Bermaksud melontarkan banyak pertanyaan. Keseriusan terpancar dari raut wajah Hiro.


"Kenapa kamu terlihat tegang? aku kira kau akan melompat kegirangan ketika mendapatkan ponsel baru," pungkas Akira. Merasa heran dengan gelagat putranya.


"Ada yang ingin aku tanyakan, dan aku tidak bisa menunda-nundanya lagi." Hiro membisu sejenak untuk menghela nafas. Sedangkan Akira sudah melipat tangan di atas meja. Memasang telinganya baik-baik.


"Apa benar nama aslimu adalah Akira?" tanya Hiro, yang sontak membuat mata Akira membelalak. Dia seolah tertangkap basah.

__ADS_1


"Ke-kenapa kamu bertanya begitu? apa kau meragukanku?" Akira berbalik tanya dengan terbata-bata.


"Ibu jujur saja kepadaku. Karena aku telah berhasil menemukan informasi tentangmu."


Akira terperangah dengan sikap putranya. Semenjak Hiro lahir, hal yang paling di inginkannya adalah melupakan masa lalunya. Dia berusaha sebisa mungkin membuat Hiro tidak mengetahui apapun. Akira mengira dengan begitu, kehidupannya bisa menjadi lebih tenang.


Memang semuanya berjalan lancar selama bertahun-tahun. Meskipun kehidupan Akira dan Hiro harus diselimuti kesulitan ekonomi, tetapi setidaknya mereka terbebas dari yang namanya bahaya.


"Hiro, aku tidak bisa--"


"Apa Ibu ingin mengelak lagi?... dan terus menutupi semuanya dariku? aku adalah anakmu, dan berhak mengetahui segala apa yang telah terjadi kepadamu!" Hiro sengaja memotong ucapan Akira. Dia tidak sanggup lagi mendengar cerita bersambung dari Akira, yang seakan dicicil seperti membayar iuran kredit.


Mimik wajah Akira langsung berubah masam. Dia tidak marah atau pun sakit hati. Namun hanya mencemaskan sikap Hiro. Akira terlalu takut kehidupan Hiro akan menjadi tidak tenang setelah mengetahui semuanya.


"Katakan saja, bukankah jika dipendam sendiri akan semakin memburuk?!" Hiro terus mendesak.


Akira menangkup wajahnya. Mencoba menenangkan diri sejenak. Dia benar-benar tidak mampu bercerita kepada Hiro. Kejadian mengerikan dimasa lalunya sangatlah menyiksa mentalnya.


Mendengar pernyataan Akira, mata Hiro membulat sempurna. Dia lantas segera kembali melayangkan pertanyaan, "Siapa yang membunuhnya? apa dia bagian orang Nakagawa?"


Akira sama sekali tidak menjawab. Dia malah menutup kedua telinganya rapat-rapat. Cairan dari mata dan hidungnya sudah melinangi hampir separuh wajahnya.


Hiro bergegas bangkit dari tempat duduknya. Dia merasa bersalah, karena tidak tega menyaksikan Akira menangis histeris. Perlahan Hiro berjalan mendekat, dan mencoba menyentuh pundak sang ibu. Tetapi Akira langsung menjauhkan tangan Hiro darinya. Ibunya itu tampak gemetaran.


Akira mendadak berdiri. Dan saat dilangkah pertama, dia tiba-tiba ambruk ke lantai. Tidak sadarkan diri. Hiro bergegas membawa ke rumah sakit akibat merasa khawatir.



Kini Hiro berada di rumah sakit. Menunggu ibunya siuman dari pingsan. Dokter memberitahu kalau Akira mengalami bipolar. Yaitu suatu gangguan mental yang berhubungan dengan perubahan suasana hati, mulai dari posisi terendah, seperti depresi dan tertekan, hingga yang tertinggi (menimbulkan kepanikan).

__ADS_1


Lelaki bersetelan jas putih tersebut juga menyarankan, agar Hiro jangan terlalu sering memancing emosi ibunya sendiri.


Hiro mendengus kasar. Dia menumpu kepala dengan tangannya sendiri. Benaknya selalu bertanya-tanya. 'Apa pembunuhan yang terjadi pada suami Akira separah itu? sampai dia jadi trauma begitu? Jadi sepertinya benar, Manami Yamada adalah Akira,' batinnya sembari memainkan jari-jemarinya tanpa alasan. Pergerakannya membuat Hiro berpikir lebih rileks.


Setelah menunggu sekitar satu jam, Akira akhirnya terbangun. Akan tetapi perempuan itu terdengar membuat keributan dari dalam kamar. Akira terdengar menghempaskan beberapa benda ke lantai. Peralatan medis sontak berhamburan dimana-mana.


Hiro bergegas masuk. Penglihatannya segera disambut dengan rengekan sang ibu. Akira tampak memegang pisau bedah dan mengarahkannya kepada orang yang berani mendekat.


"Ibu!" panggil Hiro, yang tentu saja menyebabkan Akira reflek menoleh ke arahnya.


Pisau bedah akhirnya dilepaskan oleh Akira. Dia melangkah mundur. Dirinya terus menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin membicarakannya... aku tidak mau... ti-tidak..." ucap Akira masih dengan tangisannya yang tak kunjung berhenti.


Tak! Tak! Tak!


Suara derap kaki terdengar mendekat. Ternyata dia adalah dokter yang bertugas. Dia menyarankan Hiro untuk keluar dari ruangan dan membiarkan Akira beristirahat.


Penyesalan semakin menggerogoti perasaan Hiro. Dia berjalan dengan gontai. Kemudian duduk di kursi ruang tunggu dengan tatapan kosong. Jujur, dirinya tidak menyangka Akira akan mengalami trauma separah ini.


"Ugh... aku terlalu nekat lagi, kenapa kau tidak pernah sadar diri, bodoh!" gumam Hiro mengutuk dirinya sendiri. Dia mengacak-acak rambut frustasi.


Setelah sepuluh menit duduk, Dokter tiba-tiba datang. Dia segera memberitahu Hiro, agar tidak menemui sang ibu untuk sementara waktu.


"Jangan bercanda, dia tidak punya siapapun selain aku!" tolak Hiro tak terima.


"Maksudku kamu masih boleh ke sini menjenguknya. Tetapi jangan muncul di hadapannya untuk sementara," jelas Dokter yang bernama Kaguya itu.


"Sampai kapan aku tidak diperbolehkan bertemu dengannya?" Hiro mengerutkan dahi kesal.


"Sampai dia bisa kembali tenang. Saat itulah kamu harus bicara baik-baik dengannya." Kaguya tersenyum, lalu beranjak pergi untuk melakukan pekerjaannya lagi.

__ADS_1


Hiro melangkahkan kaki ke ruangan Akira. Dia menuruti apa yang dikatakan Kaguya. Kini Hiro hanya mampu melihat ibunya dari jendela. Akira tampak telentang sambil menekan kepala dengan satu tangannya.


__ADS_2