
Shima merasa sangat kelelahan. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak berminat untuk menyerah. Dengan langkah gontai akhirnya dia kembali berjalan menyusuri jalanan. Namun satu panggilan dari Hiro seketika mencegah kepergian Shima.
"Jika kau memaksakan diri begitu, mungkin kau bisa mati," ucap Hiro yang dilanjutkan dengan dengusan kasar. Dia menyarankan Shima untuk beristirahat terlebih dahulu. Kemudian memberikan satu buah kesemek matang kepada sahabatnya itu.
Mereka berdua duduk di teras kuil bersama. Saling menyandarkan punggungnya masing-masing ke dinding.
"Jika begini, sepertinya proses latihanku akan memakan waktu yang sangat lama. Iyakan?" Shima menatap Hiro dengan sudut matanya.
"Tidak juga. Sebenarnya hanya kau yang bisa menentukan lama atau tidaknya." Hiro memberitahu.
"Maksudmu?" Shima menegakkan badannya. Seakan semangatnya perlahan kembali.
"Jika kau bertekad menuntaskan latihan hari ini, maka besok kau bisa melanjutkan tahap yang kedua!" imbuh Hiro.
Sambil lekas-lekas menelan buah kesemeknya, Shima bergegas berdiri. Dia hendak berlari lagi keluar dari gerbang kuil.
"Aku pastikan akan kembali tepat waktu kali ini!" ujar Shima, bertekad. Hiro lantas membalik jam pasir dan menunggu.
Untuk yang kedua kalinya Shima gagal kembali tepat waktu. Lelaki berambut cepak tersebut akhirnya mencoba lagi. Akan tetapi hasilnya tetaplah sama. Tenaganya sudah terkuras habis. Bahkan keringat sudah membasahi hampir seluruh pakaiannya.
Matahari sudah mulai tenggelam ke ufuk barat. Sebentar lagi siang akan berganti malam. Hiro menyuruh Shima berhenti, dan melanjutkan besok pagi saja.
Hiro mengajak Shima ke pemandian air panas. Berharap tempat tersebut mampu menenangkan pikiran untuk sejenak.
Karena jaraknya yang tidak begitu jauh, Hiro dan Shima hanya perlu memakan waktu sekitar lima menit. Mereka tiba ke pemandian air panas hanya dengan beberapa langkah. Kini mereka tengah berbicara kepada pemilik tempat pemandian air panas. Mencoba memutuskan jenis pemandian seperti apa yang mereka mau.
Hiro dan Shima lebih memilih tempat pemandian terbuka. Karena kebetulan hari sedang tidak mendung, jadi mereka bisa menikmati mandi sambil memandangi keindahan langit malam.
"Huhh... inilah kenikmatan yang sebenarnya..." gumam Hiro, yang sudah memasukkan hampir seluruh badannya ke kolam. Sama halnya dengan Shima, yang memposisikan dirinya berada tidak jauh dari Hiro.
__ADS_1
Kepulan asap dari air panas berhasil menyamarkan sekujur tubuh Hiro dan Shima. Mereka sama-sama sedang tidak mengenakan satu helai benang pun. Keduanya mengapungkan kepala ke air, menatap ke arah langit yang dipenuhi bintang.
"Hiro, bukankah tas berwarna merah muda itu terasa aneh?" atensi Shima mendadak terpusat pada sebuah benda yang terpampang di atas meja. Berada tepat di pinggiran kanan kolam.
"Kenapa kau memperdulikannya?" respon Hiro santai. "Biarkan pemilik pemandian ini yang mengurusnya," lanjutnya. Kemudian kembali menyepi dan sesekali memasukkan kepala ke dalam air.
Keheningan membawa Hiro dan Shima bergumul dengan pemikiran masing-masing. Keduanya saling membisu cukup lama. Namun bunyi dering telepon langsung membuat mereka tersadar, lalu segera mencari sumber suara.
"Apa itu milikmu?" tanya Hiro, yang tentu saja langsung dapat gelengan tegas dari Shima.
"Aku meninggalkan ponselku bersama Shiro!" jawab Shima.
Benar saja, ponsel yang sedang berbunyi memang bukan milik Shima. Tetapi punya Itsuki, yang kebetulan juga berendam di kolam sebelah. Kakak lelaki dari Izumi itu sempat tertidur, dan suara ponsel yang bergema mengharuskannya membuka mata. Bagaimana tidak? volume nada dering yang diatur diponselnya sangatlah nyaring.
"Ah, sialan. Mengganggu saja!" keluh Itsuki sambil meraih ponselnya dan memeriksa orang yang sedang melakukan panggilan. Kekesalannya seketika pudar kala mengetahui nama orang yang dikenalnya.
"Halo, Ayah," sapa Itsuki.
"Aku sudah mencari Keichi dan Manami selama bertahun-tahun, bisakah kita hentikan saja? bukankah sudah jelas kalau mereka tidak akan mengganggu kehidupan kita lagi?" Itsuki mendadak berhenti. Seolah membiarkan lawan bicaranya di seberang telepon meyelesaikan kalimatnya.
"Kenapa kau selalu mendengarkan peramal bodoh itu. Percayalah, tidak ada apapun yang terjadi. Bukankah Keichi Yamada dibunuh dengan tanganmu sendiri?" Itsuki berbicara sangat sopan. Setelahnya dia terdengar berusaha menenangkan orang yang sedang meneleponnya.
"Keichi Yamada..." lirih Hiro. Perlahan menjauhkan telinganya dari dinding. Lalu menatap ke arah Shima. "Apa kau mengenal nama itu?".
Raut wajah Shima tampak datar. Dia lantas menjawab dengan gelengan kepala. Mengatakan bahwa dirinya pun merasa asing terhadap nama yang disebutkan oleh Itsuki.
"Kenapa dia menyebut nama orang yang bermarga Yamada?" gumam Hiro pelan. Benaknya bertanya-tanya.
"Manami, apa mungkin nama belakangnya juga Yamada?" Shima mengemukakan apa yang ada dipikirannya. Namun jari telunjuk Hiro dengan sigap diletakkan dibibir Shima, karena suara yang dikeluarkan sahabatnya tersebut agak keras.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Bunyi ketukan pintu membuat Hiro dan Shima tersentak kaget secara bersamaan. Perhatian mereka segera teralih ke arah pintu.
"Apa itu Itsuki?" ujar Shima dengan keadaan mata yang sedikit membulat.
"Tenanglah kau diam saja di sini... biar aku yang menghadapinya," respon Hiro seraya keluar dari kolam dan bergegas mengenakan handuk dipinggangnya.
Ceklek!
Hiro segera membuka pintu. Bukannya menyaksikan Ituski, dirinya malah menemukan Izumi di depan matanya. Mata gadis itu langsung terbelalak ketika melihat Hiro yang kebetulan sedang bertelanjang dada. Rasa malunya tidak bisa dibohongi dengan bahasa yang ditampakkan oleh tubuhnya secara alami. Pipi Izumi tampak memerah. Apalagi dia juga dapat melihat Shima tengah sibuk memandanginya.
"A-aku ingin mengambil tasku," ungkap Izumi.
"Tas? maksudmu?" Hiro menggaruk bagian belakang kepala. Sebab dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Izumi. Atau dia sepenuhnya melupakan pembicaraan Shima, yang tadi sempat menyinggung masalah tas di atas meja.
"Arrghh!" Izumi melingus masuk begitu saja. Lebih baik cepat, dari pada harus lama-lama menyaksikan dua lelaki yang sedang bugil.
Setelah mengambil tas merah mudanya, Izumi mencoba bergegas untuk pergi.
"Izumi, kau tadi juga mandi di sini?" tanya Shima, yang otomatis menyebabkan Izumi menoleh.
"Benar..." balas Izumi dengan senyuman tipis dan melanjutkan, "oh iya, aku juga tadi sempat kencing disitu. Rasanya lebih panas bukan?" Izumi tergelak kecil sambil melanjutkan jalannya menuju pintu. Akan tetapi sekali lagi langkahnya harus terhenti, tatkala menemukan Hiro melakukan tatapan tajam kepadanya.
Izumi menghentikan tawanya. Wajahnya yang sempat berhenti memerah akibat Shima, kini bermula lagi. "Sampai jumpa di sekolah!" ucapnya dengan nada ketus, kemudian benar-benar berlalu pergi.
"Kau tahu, dia memang gadis yang mempunyai sifat terburuk!" kata Shima sembari mendongakkan kepala ke atas. Dia sangat paham kalau Izumi sedang bercanda, dan menurutnya sama sekali tidak lucu. Bahkan mungkin terkesan jahat. Karena gadis tersebut memang telah terbiasa bersikap begitu.
"Aku tidak peduli." Hiro menghela nafas panjang. "Yang terpenting sekarang adalah, mengetahui siapa Keichi dan Manami. Bisakah kau mencari tahunya di internet?" tanya-nya kepada Shima.
"Hiro, internet memang adalah alat yang selalu bisa menjawab pertanyaan kita. Tetapi bukan berarti internet mampu menjawab semua pertanyaan dengan benar. Apalagi untuk menemukan seseorang dengan nama tertentu. Kecuali, dengan bantuan seorang hacker handal," sahut Shima, menjelaskan.
"Hacker? aku seperti pernah mendengarnya..." Hiro berpikir dalam sesaat. Hingga akhirnya dia teringat dengan para ahli yang pernah disebutkan Hana. Yaitu kumpulan hacker yang tinggal di apartemen Guree.
__ADS_1