
Mata Izumi membulat sempurna, karena dirinya merasa begitu dibuat kaget dengan kehadiran Hiro. Bagaimana lelaki kolot dan miskin sepertinya mendadak bisa masuk ke klub malam mahal?
"Hiro, apa yang kau lakukan--"
"Lupakan!" Hiro menyahut tak acuh. Kemudian bergegas pergi meninggalkan Izumi. Namun keberadaan Shima yang sedari tadi berada di belakang reflek membuat langkahnya terhenti.
"Kenapa kau berbalik?" tanya Shima seraya mengernyitkan kening.
Hiro hanya melingus pergi begitu saja. Kemudian duduk di salah satu meja kosong yang tersedia. Di sana dia sudah memegangi gelas berisi alkohol. Shima yang melihat bergegas menghampiri, dan segera merebut gelas dari genggaman Hiro.
"Shima, kenapa kau mengambilnya?" protes Hiro tidak terima gelasnya diambil.
"Senpai, di zaman sekarang, negara kita tidak memperbolehkan seseorang berumur di bawah dua puluh tahun untuk meminum alkohol!" terang Shima memberitahu.
Hiro mendengus kasar, lalu mengambil botol alkohol yang tersedia. Nampaknya dia tidak peduli dengan teguran Shima. Lagi pula Hiro selalu menganggap dirinya merupakan lelaki dewasa. Alhasil dia sekarang menenggak alkohol langsung dari botolnya. Dia berhasil membuat Shima terperangah dengan keadaan mata yang terbelalak.
Izumi tiba-tiba muncul. Gadis itu duduk bergabung di meja Hiro dan Shima. Dia memandangi Hiro sambil menyilangkan tangan di depan dada. Izumi merasa terheran dengan kelakuan Hiro. Dahinya berkerut saat menyaksikan lelaki tersebut terus meneguk alkohol dari botolnya.
"Senpai, hentikan!" ujar Shima sembari merebut botol yang ada dalam genggaman Hiro. Akan tetapi usahanya sama sekali tidak berhasil.
"Kenapa kau memanggilnya Senpai?" tanya Izumi, menatap ke arah Shima dengan sudut matanya. Kakinya menyilang santai, sedikit menampakkan pahanya yang mulus dan putih bersih.
Shima menutup mulutnya rapat-rapat. Sepertinya dia tidak berniat menjawab pertanyaan Izumi. Dia lantas sengaja mengubah topik pembicaraan, agar rahasia mengenai siapa Hiro yang sebenarnya dapat disembunyikan dengan baik.
__ADS_1
"Kau sepertinya merubah warna rambutmu lagi?" ujar Shima, melirik ke arah rambut hitam Izumi.
"Bukan urusanmu." Izumi menyunggingkan mulutnya ke kanan. Bola matanya menatap Hiro dan Shima secara bergantian. Gadis tersebut terpikir kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran. Terutama kepada Hiro, yang telah membuatnya merasa kalah terus-menerus.
Perlahan Izumi bangkit dan berdiri. Kemudian memposisikan diri duduk dipangkuan Hiro. Gadis itu mulai kembali nakal sambil merebut botol dari tangan Hiro, dan dia dapat mengambilnya dengan mudah, seolah Hiro memang sengaja memberikan botol tersebut kepada Izumi. Shima yang menyaksikan hanya bisa meringiskan wajah.
Hiro yang mulai dikuasai alkohol, hanya tersenyum dengan keadaan mata yang sedikit memicing.
'Ugh, kenapa aku sudah merasa mabuk. Padahal biasanya tidak begini? apakah semuanya karena raga yang aku tempati masih sangat muda?' benak Hiro bertanya-tanya. Sebelah tangannya memegangi area kepala yang mulai terasa pusing. Matanya tertuju kepada Izumi yang masih betah duduk dipangkuannya. Nampaknya dia membuang jauh pikirannya mengenai perangai buruk Izumi. Semuanya karena hasrat lelakinya yang telah tergoda dengan gadis cantik itu.
Izumi kembali berseringai, kemudian berdiri. Tanpa diduga, dia menumpahkan alkohol yang ada di botol tepat ke wajah Hiro. "Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku tidak bisa berhenti mengganggumu sebelum kau benar-benar menderita dan bersimpuh kepadaku!"
"Apa yang kau--" Shima mencoba menghentikan tindakan Izumi. Namun lelaki berambut cepak tersebut harus kena dorongan dari Izumi. Shima sontak langsung terjatuh ke lantai. Tubuhnya menabrak meja yang ada di belakang. Hingga menyebabkan beberapa botol dan gelas berjatuhan dan pecah. Keributan itu seketika menarik perhatian semua orang.
Sebelum semua orang beranggapan miring, Izumi segera berucap, "Dia tadi mencoba melecehkanku!" tangan Izumi menunjuk ke arah Shima. Dia memeluk badannya sendiri sambil menampakkan raut wajah ketakutan, agar apa yang dikatakannya dapat meyakinkan semua orang di sekitar.
"Fujiya! usir dia dari sini!" titah Izumi, lalu menoleh ke arah Hiro yang sudah setengah sadar. "Dia juga!" sambung Izumi, yang sekarang menunjuk ke arah Hiro.
Fujiya menuruti perintah Izumi. Tanpa pikir panjang dia segera mengusir Hiro dan Shima dari klub malam. Wajar saja Fujiya memilih berada di sisi Izumi, tentu semuanya karena uang dan kekuasaan keluarga Nakagawa.
Bruk!
Hiro dan Shima dilempar secara bersamaan ke tanah. Tepatnya di lokasi yang sudah bukan lagi area klub. Adegan tersebut membuat Shima teringat dengan kejadian saat berada di kantor debt collector. Semuanya seperti deja vu untuknya. Hanya saja kali ini, Hiro tampak tidak berniat bangkit dari tanah.
__ADS_1
"Senpai, ayo kita pergi!" Shima berusaha membantu Hiro berdiri. Meskipun dalam keadaan mabuk, Hiro masih mampu untuk melangkahkan kakinya. Sekarang dia berada dalam bopongan Shima. Berjalan menyusuri jalanan trotoar yang kebetulan lumayan sepi.
Langkah Shima terhenti, ketika tidak sengaja menyaksikan segerombolan orang yang sibuk megeroyok seorang lelaki. Matanya menyipit agar bisa melihat dengan jelas sosok lelaki yang sedang dipukuli tersebut. Shima merasa tidak asing dengan lelaki itu.
"Paman?" mata Shima terbelalak kala menyadari bahwa lelaki tersebut adalah pamannya, Kogoro. Shima panik bukan kepalang. Dia berniat membantu pamannya tetapi nyalinya tidak besar untuk berani melakukan perlawanan. Apalagi para lelaki yang sedang mengeroyok pamannya tampak berbadan besar.
Orang-orang yang berlalu lalang pun hanya sedikit. Jika memang ada, mereka sama sekali tidak peduli. Seolah tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain.
Shima terus memikirkan cara untuk membantu Kogoro. Hingga terbersitlah ide dalam benaknya. Dia merasa kalau Hiro pasti mampu mengalahkan kelima lelaki berbadan besar itu.
"Senpai! bisakah kau membantuku? Senpai!" Shima menepuk-nepuk wajah Hiro. Berharap usahanya tersebut mampu menyadarkan Hiro.
"Ughh... Goku, Takeda, tunggulah pembalasanku..." lirih Hiro yang tidak bergeming. Dia meracau tidak karuan, mengucapkan nama orang-orang yang dibencinya.
"Sial!" umpat Shima yang pada akhirnya tidak punya pilihan lain selain turun tangan sendiri. Sebelum bertindak, dia lebih dahulu menghubungi polisi, lalu meletakkan Hiro bersandar di sebuah tiang iklan. Selanjutnya Shima bergegas menyelamatkan Kogoro.
Tak! Tak! Tak!
Shima menghentikan langkah kakinya. Kepalanya yang sempat tertunduk perlahan didongakkan. "Hentikan!" pekik Shima, yang sontak membuat kelima lelaki berbalik badan untuk menoleh ke arahnya.
"Lihat, ada bocah sedang bermain-main, haha..." remeh salah satu lelaki yang menjadi bagian pengeroyok Kogoro.
"Shima..." Kogoro yang sudah lemah dan babak belur dapat mengenali suara dan wajah keponakannya dengan baik. Dia berusaha menghentikan tindakan nekat Shima. Namun berbicara pun dia sudah tidak mampu. Rasa pusing dan nyeri menelisik disekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Lepaskan pamanku!" ucap Shima memberanikan diri. Padahal peluh kegugupan sudah membasahi beberapa bagian badannya. Terutama di pelipis dan area punggungnya.
"Oh, jadi kau keponakannya? kebetulan sekali!" bukannya terancam segerombolan lelaki itu malah kegirangan.