Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 91 - Keganasan Si Jago Merah


__ADS_3

Hiro belum berhasil menemukan jalan keluar. Dia kini berinisiatif kembali ke posisi dimana Chang Feng berada.


Belum sempat Hiro melangkah, sosok lelaki berbadan besar mendadak muncul. Dia berhasil mendobrak pintu ruangan tempatnya dikurung oleh Chang Feng. Mungkin dialah sosok yang sempat dibicarakan Chang Feng sebelumnya.


Si lelaki bertubuh besar itu langsung melakukan serangan. Bahkan sebelum Hiro sempat bersiap. Hingga Hiro berhasil dibantingnya ke lantai. Katana yang dipegangnya otomatis ikut terjatuh. Terlepas dari tangannya.


Badan Hiro seketika terasa nyeri. Belum lagi api yang tambah membesar di atas atap. Menjatuhkan satu per satu puing bagian langit pelafon.


Kepulan asap tidak hanya membuat Hiro kesulitan bernfas, tetapi juga menyakiti matanya. Hiro mencoba bertahan, dan kembali bangkit. Dia berniat meraih katana yang jaraknya sekitar tiga langkah darinya.


"Ugh!" ketika tangan Hiro hampir meraih katana, sang lelaki berbadan besar lebih dahulu menendang senjata tajam itu. Katana tersebut sekarang semakin jauh dari gapaian Hiro.


Si lelaki bertubuh besar berseringai. Kemudian mencengkeram kerah baju Hiro. Dia berhasil membuat badan Hiro terangkat.


Hiro merasa tenggorokannya mulai tercekat. Badannya sudah bergetar dengan wajah yang memerah padam. Detak jantungnya perlahan melambat.


Hiro sempat berpikir dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, akibat merasa kelelahan. Matanya kini memejam rapat.


"Hiro!!!"


"Hiro!!! kau dimana?!"


Suara seseorang berhasil membuat mata Hiro kembali terbuka. Dia yakin itu adalah suara Hana. Hiro segera tersadar kalau dirinya masih mampu bertahan. Dia mencoba meraba-raba saku yang ada dicelananya. Hiro akhirnya menyadari, bahwa sedari awal dirinya menyimpan sebuah pisau lipat disaku celana. Tanpa ba bi bu, tangannya pun dengan sigap menancapkan mata pisau tepat ke mata lelaki yang ada di hadapannya. Cairan merah nan segar memuncrat. Berlinang jatuh mengikuti gravitasi.


"Aaaaaaaarkkkkhhhh!!!" si lelaki berbadan besar sontak memekik kesakitan. Cengkeramannya langsung terlepas. Tangannya reflek melindungi matanya yang terluka.

__ADS_1


Saat itulah Hiro melarikan diri. Dia tidak punya waktu untuk menghabisi musuhnya. Hiro berjalan sambil menumpu tangannya ke dinding. Berusaha memaksakan indera penglihatannya untuk bekerja. Sesekali matanya akan berair akibat rasa panas dan kepulan asap.


"Shima! Hana!" Hiro mencoba memanggil Shima.


"Hiro!!" suara seorang perempuan menyahut. Dia adalah Hana. Dari kejauhan Hiro bisa melihat gadis itu membuka pintu. Lalu bergegas menghampiri Hiro. Hana langsung memeluk erat Hiro. Entah kenapa gadis tersebut mendadak terisak. Mungkin dia merasa lega menyaksikan Hiro baik-baik saja.


"Apa kau berniat mati di sini bersamaku?..." sarkas Hiro yang mulai melemah. Dia menyindir Hana yang masih sibuk mendekapnya erat. Hana sontak tersadar, dan lekas-lekas membawa Hiro menuju jalan keluar.


Sang jago merah mulai mengganas. Membakar apapun yang ada didekatnya. Hana dan Hiro melangkah dengan cepat dan hati-hati. Apalagi ketika keduanya harus menaiki anak tangga.


"Yang lain mana? kenapa hanya kau yang membantu?..." tanya Hiro sembari terus melangkah maju. Dia berada dalam rangkulan Hana.


"Shima dan Jun membantu Chang Feng. Lukanya sangat parah tadi!" jawab Hana. Dia mengerahkan semua tenaganya untuk membantu Hiro. Terbukti dari gemertak gigi dan gemetar dari tubuhnya.


Ketika Hiro dan Hana keluar dari pintu tangga darurat, kobaran api menyambut mereka dari luar. Di sana api sudah menghalangi jalan. Hiro dan Hana reflek melangkah mundur. Mereka sekarang kebingungan. Mencoba mencari celah yang dapat dilewati.


"Kau yakin?" tanya Hana, meragu.


"Percayalah kepadaku!" jawab Hiro. Dia menggengam erat jari-jemari Hana. Bersiap-siap menuntun Hana berlari ke depan.


"Sekarang!" pekik Hiro. Dia langsung berlari seraya menarik Hana ikut bersamanya. Mereka sebisa mungkin melewati api yang masih kecil, dan terdapat celah di antaranya. Hiro benar-benar memaksakan dirinya.


Setelah melewati api yang menghalangi jalan, Hiro langsung jatuh tersungkur. Pegangan tangannya otomatis terlepas dari Hana. Percikan-percikan api tampak menyela di beberapa titik pakaian Hiro dan Hana. Keduanya bergegas saling mematikan api kecil tersebut.


"Hiro!!" Shima memanggil dari arah pintu. Dia lekas-lekas membantu Hiro dan Hana.

__ADS_1


"Cepat! kita tidak punya waktu! aku pikir basement ini sebentar lagi akan tertutupi oleh api!" ujar Shima. Dia berusaha membantu Hiro dan Hana berdiri.


DOR! DOR! DOR!


Sosok lelaki berbadan besar muncul dari belakang. Dia menemubus api dengan mudahnya. Memegang machine gun dalam genggamannya. Menembakkan peluru ke arah Hiro dan kawan-kawan tanpa henti. Salah satu matanya yang berdarah seolah tidak berarti apa-apa untuknya.


Keadaan itu membuat Hiro, Shima dan Hana harus berlari sambil menunduk. Berusaha menghindari timah panas yang mengarah kepada mereka. Untung saja ketiganya berhasil menggapai pintu. Tanpa pikir panjang mereka bergegas menutup pintu kembali, agar si lelaki berbadan besar tak mampu mengejar.


"Ke sini! CEPAT!" Jun tampak sudah menunggu di mobil. Hiro dan yang lain lantas bergerak menuju ke arahnya. Lekas-lekas masuk ke dalam mobil.


Jun segera menginjak pedal gas, dan melajukan mobil keluar dari basement. Jujur saja, puing yang ditempeli oleh api berjatuhan. Sesekali hampir mengenai mobil yang dikendarai Jun.


"Aakh!" rintihan Hana membuat Hiro otomatis menoleh. Matanya seketika membulat saat menyaksikan perut bersimbah darah. Wajah gadis itu terlihat pucat dan meringis kesakitan. Sepertinya peluru yang ditembakkan si lelaki berbadan besar berhasil mengenai Hana.


"Hana!" Hiro mencoba memeriksa luka tembak yang ada diperut Hana. Terlihat parah dan terus mengeluarkan darah.


"Ada apa? Hana, kau baik-baik saja?" Shima yang duduk di samping Hiro merasa ikut cemas. Hana merespon dengan anggukan kepala. Dia tentu berbohong. Sebab sudah jelas keadan dirinya sekarang sangatlah genting.


"Jun, kita--" ucapan Hiro harus terpotong karena mobil yang dinaikinya sekarang dihantam oleh sebuah lampu besar. Tepat mengenai kap mobil yang ada di depan.


Jun sempat berhenti untuk sejenak, lalu kembali melajukan mobilnya lagi. Beberapa mobil disekitar terlihat ada yang meledak. Keadaan di basement terasa seperti neraka.


"Sedikit lagi!" ujar Shima. Matanya tertuju ke arah depan. Dia berharap Jun bisa bergegas keluar dari basement.


"Lihat! dua mobil itu menghalangi jalan!" Hiro menunjuk ke arah dua mobil, yang entah kenapa tepat berada di tengah jalan. Apalagi dua mobil tersebut tampak sedikit dikelilingi oleh kobaran api. Salah satu mobil terlihat mengeluarkan kepulan asap dari kap depan.

__ADS_1


"Sial!" rutuk Jun. Dia menginjak pedal gas sekuat tenaga. Mobil pun melaju dalam kecepatan tinggi. Jun berharap bisa keluar sebelum mobil yang ada di depannya meledak.


Jun menabrak kedua mobil yang menghalangi jalan. Dua mobil itu tergeser ke pinggir. Salah satunya langsung meledak. Membuat Hiro, Shima dan Hana reflek menundukkan kepala. Kaca jendela yang ada di bagian belakang mobil pecah. Akibat terkena imbas dari ledakan. Tetapi untung saja, Jun berhasil membawa semua orang keluar dari basement.


__ADS_2