Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 95 - Shirohebi


__ADS_3

Hiro mencoba melakukan perlawanan. Amarahnya membuat kekuatannya membara. Sehingga Hiro mampu membanting tubuh Itsuki.


Bruk!


Itsuki kini terhempas ke tanah. Meringis kesakitan. Dia tentu semakin geram dengan Hiro.


"Cuh! kau pikir aku takut denganmu?!" tantang Hiro. Saking kesalnya dia meludahkan salivanya ke samping sebelum bicara. Kemudian dengan sigap menginjak dada Itsuki yang masih telentang. Melayangkan tinju beberapa kali. Hiro memukuli dengan beringas. Membuat wajah Itsuki seketika babak belur dan mengeluarkan darah.


Dari belakang Hiro, Katashi diam-diam mendekat. Ditangannya ada sebuah batu berukuran sedang yang siap untuk dijadikan senjata. Kala Hiro lengah dan terlalu sibuk memukuli Itsuki, saat itulah Katashi memukulkan batu ke kepala Hiro.


Penglihatan Hiro sontak menggelap. Dia langsung ambruk dan terjatuh ke tanah.



"Hiroshi! Hiroshi..." suara seorang lelaki tua membuat Hiro terbangun.


Hiro perlahan membuka mata, di menyaksikan langit kelam berwarna kemerahan. Dia merubah posisi menjadi duduk sembari mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Apa aku sudah mati, atau dalam mimpi?" gumam Hiro. Ketika berdiri, dia melihat dari kejauhan ada tangga panjang yang mengarah ke langit.


"Bisa dibilang begitu. Tetapi aku diberi wewenang untuk bicara kepadamu." Suara lelaki tua mendadak menyahut. Dia memposisikan dirinya berdiri di samping Hiro. Kedua tangannya saling bertautan di belakang punggungnya.


"Apa aku gagal? apa yang terjadi kepadaku?" Hiro menatap nanar sang lelaki tua.


"Entahlah. Semuanya tergantung pilihanmu... Jika kau memilih untuk kembali, maka aku pastikan penderitaan akan menyambutmu. Tetapi jika kau memutuskan untuk menaiki tangga itu, aku pastikan dirimu akan bahagia. Akio sahabatmu sudah menunggu..." Lelaki tua tersebut mengembangkan senyuman, setelah mengarahkan jari telunjuknya ke arah tangga menuju langit.


"Kau yakin aku bisa bahagia saat menaiki tangga itu? lihat, bukankah kakiku akan lelah saat melewatinya?" balas Hiro, yang meragu dengan penjelasan si lelaki tua. "Ah benar, kamu sering sekali muncul akhir-akhir ini. Tetapi sampai sekarang aku tidak tahu siapa dirimu?" tambahnya. Melakukan tatapan menyelidik.


"Aku Shirohebi. Dewa keberuntungan yang berwujud ular putih. Aku sudah lama mendampingi keturunan Yamada. Memberikan keberuntungan untuk mereka. Kau dan Hiro salah satunya. Tetapi keputusan Akira yang merubah namanya sedikit membuatku kecewa." Shirohebi menggelengkan kepala sendu.

__ADS_1


"Jadi karena itu kau memasukkanku ke dalam tubuh anak ini? agar dia kembali menjadi bagian Yamada? maksudmu begitu?" timpal Hiro. Menyimpulkan sekenanya saja.


"Tentu saja tidak!" Shirohebi membantah tegas. Mengangkat tangannya ke depan wajah Hiro. "Aku hanya ingin mengembalikan hak yang seharusnya menjadi milik Hiro. Tidak mungkin aku membiarkannya dan Akira terus menderita!" terangnya. Tanpa sengaja memberitahukan kebenaran.


"Maksudmu?" Hiro menuntut jawaban.


"Aku tidak bisa memberitahukan segalanya. Tetapi aku hanya bisa mengatakan kalau Katashi telah merampas banyak hal darimu dan kedua orang tuamu." Shirohebi menepuk pelan pundak Hiro, lalu kembali meneruskan, "Ah, waktu kita tidak banyak untuk bicara. Sekarang katakan apa pilihanmu, tinggal atau kembali?"


Hiro terdiam seribu bahasa. Berpikir sambil menatap ke arah tangga menuju langit. Dia sedikit tergoda untuk pergi ke sana. Akan tetapi di sisi lain, dirinya tidak bisa meninggalkan Akira, Shima dan semua teman-temannya begitu saja.


"Akio, atau Shima? itu pilihanmu..." ucap Shirohebi lirih. Semakin merunyamkan pikiran Hiro.


Helaan nafas panjang dilakukan oleh Hiro. Dia lantas menjawab, "Aku akan kembali. Apapun resikonya!"


"Kalau begitu, kau memutuskan untuk terus menjalani kehidupanmu sebagai Hiro," simpul Shirohebi. Menyebabkan mata Hiro sontak membulat.


"Apa maksud--"


"Tapi, hei! masih banyak yang ingin aku tanyakan!" pekik Hiro berusaha meraih wujud Shirohebi. Namun dirinya tak mampu. Apalagi tubuhnya juga mengalami hal yang sama seperti Shirohebi. Penglihatannya sekarang semakin kabur. Rasa pusing mulai menyengat kepalanya. Lama-kelamaan Hiro tidak mampu melihat apapun lagi. Semuanya berakhir dengan kegelapan.


...***...


"Haaahhh!" Hiro terbangun dengan satu tarikan nafas panjang. Relung paru-parunya terasa lebih lega. Dia kembali ke dunia seharusnya. Dimana jasadnya terkulai lemah. Sedangkan sebelah kakinya dijerat dengan rantai besi.


Hiro berada di ruangan gelap, yang hanya berpendarkan cahaya dari ventilasi. Dia tersungkur di lantai nan dingin. Dalam keadaan kepala yang masih terluka. Beberapa tetes darahnya membekas dipelipis.


Hiro tidak mengenakan pakaian atasan, dan hanya mengenakan celana yang sama seperti awal kedatangannya. Sepertinya orang-orang Nakagawa sengaja melucuti bajunya agar membuat Hiro kedinginan.


Pandangan Hiro mengedar ke segala penjuru. Berupaya mencari cara untuk ke luar ruangan. Nihil, tidak ada celah apapun selain ventilasi kecil, yang pastinya tidak akan memuat seluruh badan Hiro.

__ADS_1


'Shirohebi benar, penderitaan menyambutku,' batin Hiro sambil mengusap darah yang ada disekitaran wajahnya. Dia kini merubah posisinya menjadi duduk. Matanya memindai ke arah pintu.


Hiro berdiri dan mencoba berlari ke arah pintu, tetapi rantai yang mengikatnya langsung membuatnya terjatuh. Tangannya tidak dapat menggapai pintu. Bahkan tidak mendekati sedikit pun.


"Aaaaarghhhh!!!" Hiro tetap tidak menyerah. Dia tetap bertekad menggapai gagang pintu. Namun usahanya hanya membuat dirinya sendiri tersiksa. Jerat besi yang ada di kakinya membuat kulitnya lecet dan menimbulkan memar biru.


Tubuh Hiro gemetaran. Keringat membasahi seluruh badannya. Dia telentang di lantai. Menatap langit pelafon yang tidak diterangi oleh lampu.


Tap! Tap! Tap...


Terdengar bunyi derap langkah dari luar pintu. Hiro bergegas menoleh ke arah sumber suara. Segera mendudukkan dirinya kembali.


Ceklek!


Pintu telah terbuka. Muncullah Itsuki yang langsung mengukir seringai diwajahnya.


"Bagaimana? kau menikmatinya, Hiro?" ujar Itsuki. Dia masih berdiri di ambang pintu. Menikmati raut wajah penuh kebencian yang tengah ditampakkan oleh Hiro.


"Aku pastikan kau akan membayarnya!" geram Hiro, dengan gigi yang menggertak kesal. Akan tetapi yang didapatnya hanyalah sebuah tendangan kasar dari Itsuki. Hidung Hiro seketika berdarah.


"Sialan!" Hiro yang dibuat semakin marah berusaha melakukan perlawanan. Dia berdiri dan mencoba melayangkan serangan balasan. Namun Itsuki dengan mudahnya melangkah mundur, dan menyebabkan Hiro lagi-lagi tersungkur. Rantai yang menjerat salah satu kakinya bekerja sangat efektif untuk membuat Hiro tidak berdaya.


"Hahahaha! menyenangkan sekali." Itsuki tergelak sesaat. "Ah benar, aku ingin memberikan kabar baik untukmu." Itsuki sekarang berjongkok menghadap Hiro.


Hiro perlahan mengarahkan bola matanya kepada Itsuki. Merespon pernyataan yang baru saja dikatakan oleh Itsuki.


"Aku yakin kau sedang mencari ibumu bukan?" kata Itsuki lagi. "Tenanglah, keadaannya baik. Ayahku masih mempertimbangkan nasibmu dan ibumu sekarang. Tunggulah, waktu itu akan tiba!" Itsuki berujar dengan nada tenang. Terdengar menyebalkan ditelinga Hiro.


"Monster sepertimu tidak pantas hidup!" ungkap Hiro sembari mengeratkan rahang. Matanya terus menyalang ke arah Itsuki.

__ADS_1


"Sadarlah, Hiro! Kau masih anak kecil. Kau tidak akan bisa menang melawan orang dewasa sepertiku, apalagi ayahku!" balas Itsuki. Kemudian berdiri dan beranjak pergi. Dia mengunci pintu ruangan Hiro kembali.


__ADS_2