
Jun yang menyadari adanya semburat keresahan diwajah Hana, bergegas mendekat. "Hana, jangan terpengaruh dahulu. Mungkin saja dia berbohong!" ujarnya sembari menggerakkan bola mata ke arah Hiro.
"Eh? kau perlu apa lagi hah? aku sudah mengatakan yang sebenarnya!" tukas Hiro. Kupingnya tidak sengaja mendengar penuturan dari Jun.
Hana menyetujui pendapat Jun. Di zaman sekarang memang sulit menyerahkan kepercayaan dengan mudah. Terutama kepada orang yang baru saja dikenal. Selain itu, Hana semakin meragu kepada Hiro, karena beberapa menit lalu dia melihat lelaki tersebut sangat ahli melakukan bela diri. Bahkan terkesan seperti seorang profesional. Jurus yang digunakan Hiro jelas bukanlah gerakan yang asal-asalan.
Kini Hana menoleh ke arah Hiro dan berkata, "Hiro, karena kau dan Shima datang ke sini di waktu yang salah, maka kami terpaksa harus melakukan sesuatu."
Hiro terperangah tak percaya. "Apa kau bilang?!" suaranya lumayan nyaring, sampai berhasil membuat beberapa orang di ruangan melotot ke arahnya. Namun Hiro tidak peduli, kepentingannya sekarang hanyalah ingin membantu Shima.
"Baiklah... kau bisa melakukan apapun kepadaku. Tetapi biarkan Shima pergi dari sini!" ucap Hiro lagi dengan binaran mata penuh keyakinan. Darah kesetiaannya memang tidak pernah luntur. Apalagi Shima merupakan orang yang paling banyak membantunya.
"Tetapi, dia juga sudah melihat semuanya. Bagaimana bisa kami melepaskannya?" Jun ikut masuk ke dalam pembicaraan. Menyebabkan Hiro langsung melayangkan pelototan sebalnya.
"Melihat apa? maksudmu?" Hiro tidak mengerti.
Bruk!
Suara bantingan pintu segera menarik perhatian semua orang. Tampak Atsuki berdiri dengan raut wajah bersemangat. "Mereka datang!" ungkapnya memberitahu.
Hana yang mendengar, menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Mencoba mencari sosok-sosok yang dimaksud Atsuki. Dia lantas berderap menuju pintu, akan tetapi baru dirinya berjalan dua langkah, sosok yang dicarinya akhirnya muncul.
Tiga orang lelaki dengan setelan jas rapi masuk ke dalam ruangan. Namun salah satu di antaranya, tampak terkejut kala melihat Hiro sedang terikat. Wajahnya yang tadi sumringah berubah menjadi kecut. Apalagi ketika menyaksikan keponakannya sendiri terbaring lemah di lantai. Benar, lelaki berambut panjang sebahu namun di gelung ke atas itu adalah Kogoro.
"Shima!! sial! apa yang telah kalian lakukan kepada keponakanku!" geram Kogoro seraya berusaha membantu Shima bangkit. Tetapi tangannya reflek menutupi lubang hidungnya, karena bau pesing menguar dari badan keponakannya. Pertanda kalau Shima sempat terkencing di celana.
"Kau mengenalnya?" tanya Hana dengan kening yang mengernyit dalam. Dia mulai menyesali tindakannya terhadap Shima dan Hiro.
"Sudah kubilang dia keponakanku! cepat bantu aku mengobatinya!" Kogoro berbicara lantang. Menatap semua orang yang ada di sekelilingnya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, beberapa lelaki segera membantu Kogoro. Membawa Shima untuk di obati.
"Hei! apa kalian juga tidak mau membantuku?" sarkas Hiro kepada semua orang di hadapannya. Hana yang berada diposisi paling dekat, bergegas membuka ikatan tali yang menjerat tubuh Hiro.
"Sekarang, apa kau percaya kalau--"
"Hiiirrooo! kau!" ucapan Hiro terhenti tatkala Kogoro mendadak mencengkeram kerah bajunya. "Kenapa kau selalu melibatkan Shima ke dalam masalahmu!" timpalnya dengan keadaan mata yang menyalang. Berapi-api, seolah akan memakan Hiro hidup-hidup.
Seperti biasa, Hiro hanya menunjukkan wajah datar. Dia bahkan memutar bola mata malas dan menjawab, "Harusnya kau bercermin dahulu. Betapa minimnya kehadiranmu terhadap kehidupan keponakanmu. Dia tentu mencari seseorang yang dapat diandalkan! dan akulah orang itu."
Perkataan Hiro membuat cengkeraman Kogoro melonggar. Kalimat tersebut sangat menohok untuk Kogoro. Kepalanya perlahan menunduk.
"Dan aku pastikan Kogoro, aku lebih mampu melindungi Shima dibandingkan dirimu!" Hiro meletakkan jari telunjuknya ke dada bidang Kogoro.
"Apa? mampu? lalu kondisi Shima sekarang bagaimana? bukankah luka dan lebamnya membuktikan kalau kau gagal melindunginya?" balas Kogoro tidak ingin kalah.
"Hentikan!" sergah Hana. Dia tidak tahan lagi menyaksikan perdebatan dua lelaki di hadapannya. Gadis itu hanya butuh penjelasan sekarang. Sedetail mungkin.
Gedung apartemen yang didatangi Hiro hanya memiliki dua puluh lantai. Yang mana tiga lantai paling atas tidak memiliki satu pun penghuni, alias dimanfaatkan untuk hal lain. Kini Hiro sedang berada di lantai delapan belas. Baru saja keluar dari ruangan bersamaan dengan Kogoro. Mengikuti Hana yang berjalan memimpin menuju balkon.
Kogoro sendiri telah selesai mengurus Shima. Dari mulai mengganti baju dan mengobatinya. Kini Shima tengah menikmati waktu istirahatnya.
Hana menghentikan langkahnya di ujung balkon. Menatap ke arah hamparan kota Kyoto yang tertutupi banyak pohon dan gedung.
"Apa benar Izumi sepupumu?" tanya Hiro yang lebih dahulu bertanya. Dia berdiri tidak jauh dari belakang Hana. Sedangkan di samping kanannya ada Kogoro, yang baru saja menyesap rokok elektrik dengan rasa cappucino. Aroma khas kopi seketika menyeruak, dan menghantam indera penciuman Hiro.
"Ya. Dia sepupuku, tetapi itu dahulu. Sekarang sudah tidak!" balas Hana sambil memutar badannya. Lalu menatap ke arah Hiro. Dia meneruskan ceritanya.
__ADS_1
Hana memberitahu kalau dirinya beserta orang tuanya sudah tidak mau lagi menjadi bagian keluarga Nakagawa. "Izumi, dia hanya gadis bodoh..." ungkapnya lirih.
Hiro terkekeh. Dia mengingat kalau Izumi juga mengatakan kata yang sama dengan Hana. Keduanya saling membenci, tetapi memiliki telepati yang selaras.
"Kenapa kau tertawa? apa itu lucu?" timpal Hana yang merasa tersinggung dengan tawa kecil Hiro.
"Orang tua Hiro, sepertinya mempunyai hubungan penting dengan Katashi. Aku rasa itulah alasan Hiro menyetujui perintah Izumi." Kogoro mengemukakan pendapatnya. Perlahan dia menatap ke arah Hiro. "Kau melakukannya agar bisa dekat dengan Izumi kan? dan jika berhasil, maka kau akan memanfaatkannya untuk menemukan informasi," lanjutnya yang sontak membuat kedua kelopak mata Hiro terbuka lebar. Kaget dan juga kagum dengan tebakan Kogoro yang menurutnya benar seratus persen.
"Bagaimana kau tahu?" respon Hiro, mengedipkan mata dua kali.
"Kogoro adalah penipu handal. Dia memahami hipnotis dan perilaku orang-orang. Jadi tentu mudah baginya mengetahui semua gerak-gerikmu!" Hana menjawabkan pertanyaan Hiro.
"Apa?! jadi selama ini pekerjaanmu adalah penipu?" Hiro menilik dengan penuh amarah kepada Kogoro.
"Aku melakukannya karena punya alasan, Hiro. Aku akan cerita di waktu yang tepat. Terutama kepada Shima." Tatapan Kogoro mendadak berubah sendu. Seakan apa yang dikatakannya bermakna dan tulus. Hiro hanya mengangguk pelan mencoba memahami. Lagi pula dia sudah lelah berdebat.
Selanjutnya mereka kembali saling bicara serius. Berusaha berterus terang satu sama lain.
Hana mengatakan kalau alasan dirinya memisah dari keluarga Nakagawa, karena Katashi menjebak ayahnya. Gadis tersebut memberitahu, sampai sekarang ayahnya masih berada di penjara. Sedangkan ibunya sedang koma di rumah sakit. Hana juga memberitahu bahwa dia sudah lama berusaha mencari bukti tentang ketidakbersalahan ayahnya. Akan tetapi, usahanya selalu berhasil digagalkan oleh keluarga Nakagawa.
Mendengar penderitaan Hana, Hiro juga bercerita mengenai masalahnya. Terutama mengenai kematian ayahnya sendiri, tentang Akira dan juga foto yang yang telah ditemukannya.
Kini Hiro memandang ke arah Kogoro yang masih terdiam, dan sibuk menyesap rokoknya.
"Sekarang giliranmu!" tukas Hiro.
Kogoro tak acuh. Dia malah mengeluarkan kepulan asap berbau kopi dari mulutnya. "Sudah kubilang aku akan cerita di waktu yang tepat!" terangnya bersikeras.
"Baiklah..." sekali lagi Hiro berusaha maklum dengan betapa keras kepalanya Kogoro. Dia lantas kembali berucap "Yang jelas, sekarang kita semua tahu, kalau kita memiliki tujuan yang sama, yaitu mendapatkan informasi." Hiro menatap Hana. Tatapannya memancarkan aura penuh tekad. Seakan dia telah punya rencana untuk dilakukan.
__ADS_1