
Izumi tidak kuasa menahan amarahnya. Hingga tangannya reflek menjambak rambut Hana. Namun Hiro dengan sigap melepaskan tangan Izumi secara paksa.
Hana yang hampir membalas perlakuan Izumi, hanya menggertakkan gigi kesal. Menatap tajam ke arah Izumi. Sepertinya dia sudah lelah menahan rasa benci yang terpendam selama beberapa tahun. Izumi benar-benar membuatnya jijik. Semua penderitaan yang diterima keluarganya, tergambar jelas ketika Izumi muncul di hadapannya.
"Hiro, kenapa kau membelanya?!!" geram Izumi. Dahinya berkerut dalam.
Hiro hanya mendengus kasar, lalu membawa Izumi pergi menjauh dari Hana. Takutnya ketegangan akan muncul seperti tadi.
Ketika membuka pintu toilet, Hiro langsung melihat kehadiran Shima. Dia saling bertatapan sejenak. Tetapi Hiro hanya berbicara lewat isyarat tubuhnya. Yaitu dengan cara menggerakkan bola mata ke arah Izumi, yang mengartikan kalau dirinya hendak pergi menjauhkan Izumi terlebih dahulu. Shima pun membiarkan Hiro dan Izumi berlalu pergi. Bertemu muka dengan Hana kembali.
Kebetulan sedang jam istirahat. Jadi Hiro memilih mengajak Izumi ke kantin. Makan dan minum dengan duduk saling berhadapan di sana. Izumi masih tampak cemberut, seakan tidak selera memakan hidangannya.
"Makanlah cepat, nanti jam istirahatnya habis!" ujar Hiro. Kemudian menyumpal mulutnya dengan satu potong omelet. Kegiatan makannya harus berhenti, karena ponselnya mendadak berbunyi. Ketika dirinya memeriksa, nama Shima tertera di layar ponsel. Hiro segera mengangkat.
"Hiro, aku tahu kau sekarang bersama Izumi. Aku dan Hana menunggu di belakang sekolah. Ada yang ingin kami bicarakan," kata Shima dari seberang telepon. Belum sempat Hiro bicara, dia sudah mematikan panggilan secara sepihak.
Sebelum pergi, Hiro bergesakan menghabiskan makanannya dahulu. Hal itu membuat Izumi agak risih.
"Kamu kenapa tergesak-gesak sekali?" komentar Izumi dengan ringisan wajahnya.
Hiro hanya terdiam dan sibuk meminum air mineral, sebagai penutup makan sianganya. "Aku mau ke toilet dulu!" ungkapnya sembari bangkit dari tempat duduk.
"Bukankah tadi kau sudah ke toilet?" timpal Izumi, menggeleng heran.
"Kali ini benar-benar panggilan alam!" sahut Hiro, lalu beranjak pergi meninggalkan Izumi. Dia berlari kecil menuju belakang sekolah. Shima dan Hana terlihat menunggunya di sana.
"Aku kalian ingin membicarakan hal penting?" tanya Hiro. Memandangi Shima dan Hana secara bergantian.
Shima dan Hana saling bertatapan terlebih dahulu. Kemudian salah satu dari mereka berbicara.
__ADS_1
"Aku rasa... kau tidak perlu mendekati Izumi lagi," imbuh Hana, yang berbicara lebih dahulu. Gadis itu melipat tangan di depan dada.
Hiro memutar bola mata sambil tersenyum dan berkata, "Aku rasa masih perlu. Karena--"
"Karena kau ingin terus bercinta dengannya?!" Hana sengaja memotong ucapan Hiro.
"A-apa?! kenapa kau mengungkitnya. Itu hanya caraku untuk membuat dia semakin mempercayaiku?!!" balas Hiro. Bertukar tatapan tajam dengan Hana.
"Begitukah?!" Hana menoleh ke arah Shima dan melanjutkan, "Shima, kau tahu? tadi pagi dia sempat-sempatnya bercumbu dengan Izumi di toilet!"
"Kenapa kau melibatkan Shima?!!!" Hiro mencengkeram erat lengan Hana.
Shima yang sedari tadi duduk di atas batu, perlahan berdiri. "Hiro, aku juga setuju dengan Hana. Cukup sudah mendekati gadis itu," ujarnya. Yang tentu saja membuat perasaan Hiro langsung dibuat kecewa. Dia perlahan melemah dan melepaskan lengan Hana. Menatap serius kepada Shima.
"Apa alasannya?!" timpal Hiro. Suasana terasa lebih tegang dibanding pertengkarannya dengan Hana tadi.
"Aku rasa, cukup saja. Mendekati Izumi, hanya memperlambat segalanya. Aku tidak ingin kau terus mengulur waktu, hanya karena alasan misi untuk mendekatinya!" terang Shima dengan nada penuh penekanan.
"Lagi pula, kita sudah tahu dimana markas orang-orang Nakagawa. Sudah dipastikan kalau semua informasi rahasia tersimpan di sana. Jadi, misi mendekati Izumi tidak penting lagi!" jelas Hana panjang lebar. Berusaha meyakinkan Hiro.
"Shima, bukankah aku sudah mengatakan semuanya tadi malam? kalau pamanmu masih hidup?! dia baik-baik saja Shima!!" Hiro mengguncang-guncang histeris badan Shima. Dia menungkit apa yang telah didengarnya saat pulang ke rumah tempo hari.
"Tapi apa kau akan menjamin dia akan terus bertahan?! bisakah?!!" Shima menyalangkan mata penuh kekesalan.
"Beginikah caramu berterima kasih kepadaku? sikapmu sudah keterlaluan, Shima!" balas Hiro. Mulai menegeratkan rahangnya.
"Bukankah kau juga keterlaluan sekarang?! aku selalu mengorbankan banyak hal hanya untuk menolongmu! kau tahu itu?!" Jari telunjuk Shima menunjuk-nunjuk ke arah dada Hiro. Keningnya masih mengukir garis-garis akibat pitamnya yang melonjak naik.
"Aku tidak mengerti kalian begitu marah dengan kedekatanku dengan Izumi. Bukankah kalian sudah tahu, kalau itu hanya sandiwara?!" Hiro menjeda sejenak untuk mencoba menenangkan diri. Sebagai orang yang memiliki jiwa paling tua, dia harus bertindak dengan bijak. Apalagi menghadapi dua remaja yang kini menjadi teman dekatnya. Suasana menghening dalam sesaat.
__ADS_1
"Baiklah jika itu mau kalian. Aku akan berhenti mendekati Izumi. Tetapi dengan satu syarat. Setelah aku bertemu dengan Katashi," ucap Hiro lagi.
"Kapan kau akan menemuinya?" tanya Shima. Dia tampak lebih tenang dari sebelumnya.
"Entahlah, Izumi bilang Katashi sudah menyisihkan jadwalnya untuk bertemu denganku," jawab Hiro. Akan tetapi Shima malah merespon dengan lidah yang berdecak kesal. Sebab dirinya berpikir kalau sahabatnya terus berusaha mengulur waktu. Gelagat Shima sontak membuat Hiro merasa risih.
Hiro mendekatkan wajahnya ke arah Shima dan berucap, "Shima, jika kau sudah tidak sabar untuk menyelamatkan pamanmu, kenapa kau tidak pergi sendiri saja?!"
Selanjutnya Hiro berbalik dan melangkah pergi. Dia yakin apa yang diucapkannya barusan mampu menyadarkan kawannya. Bahwa Shima, tidak akan berani mengambil resiko sendirian. Apalagi menyelinap masuk ke markas besar orang-orang Nakagawa.
Hiro duduk merenung di sebuah bangku panjang. Dia menatap kosong ke arah langit yang ditutupi oleh awan putih. Dirinya mendadak rindu dengan kehidupannya yang dulu. Terutama terhadap suasana menyenangkan saat Hiro masih berlatih di akademi ninja.
"Hiro, aku mencari-carimu!" suara seorang gadis menyadarkan Hiro dari lamunan. Dia menoleh ke samping dan menyaksikan Izumi telah ikut duduk.
"Wajahmu terlihat suram. Seorang Hiro ternyata bisa sedih juga. Menangislah jika kau mau," komentar Izumi, yang dilanjutkan dengan tawa kecilnya. Tingkahnya membuat Hiro mengembangkan senyuman tipis.
"Bukankah kau yang tadi menangis?" Hiro membalas, akibat tidak ingin kalah.
"Apa ada yang mengganggumu?" tanya Izumi. Dia memasukkan sebuah permen karet ke mulutnya. Tidak lupa juga untuk memberikannya kepada Hiro. Izumi tadi membeli permen karet sekitar lima bungkus.
"Aku hanya ingin pulang..." lirih Hiro. Jari-jemarinya sibuk membuka bungkus permen karet pemberian Izumi.
Izumi terkekeh geli seraya menutupi mulut dengan telapak tangan. "Dasar bodoh! dua jam lagi bel pulang akan berbunyi, kenapa kau mencemaskannya?" tukasnya.
"Maksudku pulang ke tempat asalku," jelas Hiro, ambigu.
"Ke kampung halaman? dimana itu?" Izumi merasa penasaran.
__ADS_1
Hiro perlahan menatap Izumi dengan sudut matanya. Kemudian hanya tergelak kecil. Dia tidak berniat memberikan penjelasan panjang lebar. Lagi pula, untuk apa menceritakan siapa jati dirinya kepada musuhnya sendiri.