Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 90 - Berusaha Selamat


__ADS_3

Hiro otomatis melangkah mundur. Pandangannya segera mengedar ke segala penjuru. Berusaha menemukan senjata yang bisa digunakan untuk melakukan perlawanan. Peluh bercucuran membasahi wajahnya. Bukan hanya akibat hawa panas yang ada, tetapi juga karena merasa terdesak.


Atensi Hiro mendadak tertuju ke arah ular putih yang berjalan dipinggir. Hewan itu masuk ke sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Hiro yakin kalau ular yang dilihatnya, sama persis dengan hewan dalam mimpinya. Binatang serupa yang sempat dilihatnya di kuil ketika melatih Shima tempo hari.


Tanpa pikir panjang, Hiro mengikuti jejak ular putih. Ketika masuk ke ruangan ular putih telah menghilang. Bola mata Hiro langsung mengarah pada dua katana yang menyilang di tembok. Terlihat seperti hiasan saja, tetapi saat didekati katana-nya ternyata asli. Hiro sontak mengambil keduanya sekaligus.


BRUK!


Pintu terdengar di banting. Pertanda lelaki berbadan besar juga menyusul Hiro masuk ke ruangan. Dia hanya sendirian. Sepertinya temannya tadi pergi lebih dahulu sambil membawa briefcase.


"Pengecut! ayo kita bertanding tanpa senjata!" tantang si lelaki berbadan besar.


Hiro memutar bola mata malas. Dia tak punya waktu untuk basa-basi. Dirinya diam di tempat sejenak, sampai lawannya lengah.


Lelaki bertubuh besar itu sedang sibuk melepaskan pakaian atasannya. Saat itulah Hiro melakukan serangan. Menumpaskan dua katana sekaligus ke badan musuh.


Bunyi melingus dari katana menggema. Si lelaki berbadan besar langsung tumbang. Bagaimana tidak? Hiro membidik bagian perut dan dadanya. Menggoreskan ujung tajam katana, sampai membelah kulit lawan ke bagian dalam. Darah sontak menciprat kemana-mana.


Hiro lekas-lekas menjauh dari jasad lelaki musuhnya. Sebab dirinya tidak mau menyaksikan organ-organ dalam yang keluar dari perut lelaki berbadan besar tersebut. Lagi pula Hiro juga harus menemui semua teman-temannya yang mungkin sedang kesulitan.


Semua ruangan diperiksa Hiro satu per satu. Dia juga tidak lupa memanggil orang-orang yang dicarinya.


"Hiro!! kami di sini!" Chen Fu memanggil dari dalam ruangan. Membuat Hiro otomatis datang menghampirinya.

__ADS_1


Ternyata Chen Fu tidak sendiri. Ada Shima dan dua penghuni apartemen Guree lain bersamanya. Chen Fu tampak babak belur dan terbaring lemah di lantai. Hal serupa juga terjadi kepada Shima dan yang lain. Namun Hiro bersyukur, tidak ada temannya yang mati atau pun terluka parah. Dia langsung menghempaskan dua katana ke lantai.


"Dua lelaki sumo itu yang melakukannya kepada kami. Mereka sudah membawa semua informasinya. Ternyata tujuan mereka masuk ke sini hanya untuk mengambil informasi penting itu. Hal yang selama ini kau cari-cari!" ucap Shima. Dia memaksakan diri untuk bangkit. Sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah. Hawa ruangan yang kian panas akibat api, membuat kulit Hiro dan kawan-kawan memerah.


"Sudahlah jangan pikirkan itu, yang terpenting Kogoro dan kalian sekarang baik-baik saja. Lebih baik kita keluar dari sini!" ungkap Hiro. Dia bergegas membantu Shima dan ketiga teman lainnya satu per satu. Mereka segera keluar dari ruangan. Tepat menuju ruang utama. Hiro tidak lupa mengambil salah satu katana untuk berjaga-jaga.


"Aku harus mencari Chang Feng dan yang lain, kalian duluan saja!" titah Hiro, lalu berlari masuk ke pintu dimana Chang Feng berada.


Hiro membelalakkan mata ketika baru membuka pintu. Dia melihat Chang Feng berjalan sambil memegangi area perutnya yang berdarah. Hiro pun langsung membantunya berjalan.


"Cepat kita pergi, orang itu sebentar lagi akan mengejar!" kata Chang Feng, hendak lekas-lekas pergi.


"Bagaimana dengan yang lain?" Hiro menanyakan dua orang lelaki yang ikut bersama Chang Feng. Akan tetapi Chang Feng mengatakan kalau hanya dirinya yang berhasil selamat.


"Dia terluka, tetapi masih hidup!" sahut Hiro. Dia mengerahkan semua tenaga untuk membawa Chang Feng ke pintu keluar. Sayangnya pintu darurat menuju jalan keluar terkunci. Hiro berusaha menarik gagang pintunya, namun hasilnya sia-sia. Nampaknya lelaki berbadan besar yang terakhir kali keluar sengaja mengunci pintu, agar orang-orang yang ada di ruang bawah tanah terjebak.


"Apa pintunya dikunci?" Chang Feng ikut merasa cemas. Apalagi asap mulai muncul dari langit pelafon. Membuatnya dan Hiro sontak terbatuk dan tambah kepanasan.


Dug! Dug! Dug!


Hiro menggedor pintu sekuat tenaga. Perasaan kesal mendominasi dirinya. "Ada seseorang di luar?!!" pekiknya nyaring. Hiro juga mencoba berbicara melalui earpiece yang masih menempel ditelinganya. Berusaha menghubungi siapapun yang bisa mendengar. Akan tetapi tidak ada sahutan dari siapapun.


"Earpiece-mu mana?" tanya Hiro. Dia kebetulan tidak melihat earpiece ditelinga Chang Feng.

__ADS_1


"Lelaki berbadan besar itu menghancurkan earpiece kami, makanya kami tidak bisa memberi atau mendengar kabar dari kalian." Chang Feng menjelaskan sembari menyandarkan punggung ke dinding. Luka diperutnya semakin parah.


"Tunggulah di sini, aku akan berusaha mencari jalan keluar lain!" imbuh Hiro. Kemudian berlari menuruni tangga. Kepalanya celingak-celingukan ke segala arah. Bahkan ke bagian atap. Saat itulah sepecik api mulai terlihat, menyebabkan Hiro merasa semakin dikejar oleh waktu. Lift yang ada tentu sudah tidak berfungsi, mustahil Hiro dan Chang Feng keliar lewat sana.


Hiro kembali memasuki empat pintu yang ada satu per satu. Keringatnya telah membasahi pakaian yang dia kenakan. Nafasnya menderu-deru, dengan jantung yang terus berpacu lebih cepat dari biasanya.


Sesekali Hiro menenggak saliva-nya. Dia menghela nafas panjang agar bisa lebih tenang. Sebab dirinya tahu betul, perasaan panik hanya akan mengganggu konsentrasinya.


Mata Hiro sedikit berkunang-kunang. Asap yang kian mengepul membuatnya harus terbatuk beberapa kali. Dia memaksakan diri berjalan ke ujung, kalau-kalau jalan keluar lain tersimpan rapat di sana.


Sementara Chang Feng baru saja mendudukkan dirinya ke lantai. Dia tidak kuat lagi berdiri. Darah tak henti-hentinya keluar dari luka tusukan diperutnya. Sekarang lelaki berkepala pelontos itu hanya bisa pasrah. Chang Feng merasa ajalnya sebentar lagi akan tiba.


Dug! Dug! Dug!


"Hiro!! Chang Feng!!" gedoran di pintu dan suara teriakan Hana terdengar dari luar. Beberapa kali gadis tersebut mencoba menarik gagang pintu. Tidak seperti pintu lainnya, pintu ditangga darurat memiliki kunci manual biasa. Tidak memakai jenis kunci berbentuk kartu.


Chang Feng yang lemah, hanya mampu membalas panggilan Hana dengan menggedorkan tangannya ke pintu. Dia segera menoleh ke arah pintu dimana Hiro berada.


"Hiro..." Chang Feng ingin sekali memanggil Hiro. Namun rasa sakit yang dideritanya membuat dia tidak dapat mengeluarkan suara nyaring. Chang Feng sudah merasakan dirinya hampir kehilangan kesadaran. Terutama dengan adanya kepulan asap yang terus mencekat jalur pernafasannya.


"Bertahanlah, kami akan melakukan sesuatu untuk membantu!" ujar Hana dari luar. Dia tidak sendirian, tetapi ditemani oleh Jun, Shima dan Chen Fu. Mereka bersama-sama berupaya mendobrak pintu.


Catatan Author :

__ADS_1


Double upnya besok ya guys :')


__ADS_2