Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 88 - Rencana Penyelamatan [3]


__ADS_3

Alarm yang berbunyi membuat siapapun reflek berlari keluar. Apalagi dengan adanya bukti dari api yang berkobar dari salah satu lantai hotel.


"Nozomi berhasil membuat kamarnya terbakar. Katanya api akan terus membesar. Dia dan Shotsuki sedang dalam pelarian keluar dari hotel!" Hana memberitahu, setelah dirinya berbicara dengan Nozomi melalui ponsel.


"Kalau begitu, kita harus bergegas untuk masuk!" respon Hiro.


Orang-orang Nakagawa semakin banyak yang keluar dari ruang bawah tanah. Rata-rata dari mereka adalah lelaki.


"Sampai kapan kita akan menunggu mereka semua keluar. Sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama," ungkap Jun. Dia merasa khawatir terhadap rencana yang berjalan sekarang.


"Kita tunggu sebentar lagi. Jika sudah agak sepi, barulah kita masuk ke sana!" ujar Hiro, terus memperhatikan keadaan di pintu markas bawah tanah.


Sirine dari mobil pemadam kebakaran mulai terdengar. Suaranya membuat jantung Hiro berdebaran akibat merasa semakin didesak oleh waktu. Saat itulah dirinya dan yang lain melihat pintu masuk ke arah ruang bawah tanah telah sepi. Hingga Hiro pun dengan cekatan memegangi pintu mobil. Namun tiba-tiba tangan Shima mencegah perbuatannya.


"Kenapa?!" timpal Hiro, melayangkan tatapan tajam.


"Hiro, lihat! ada lima orang lelaki berperawakan besar!" Shima memberitahu dengan nada pelan. Dia terlihat mengarahkan jari telunjuknya ke arah lima orang Nakagawa tersebut. Shima tampak sedikit ciut. Bagaimana tidak? kelima lelaki itu bertubuh lebih besar dari orang-orang Nakagawa yang sering dilihat olehnya. Tubuh mereka sebesar atlet sumo, tidak gemuk tetapi lebih kencang dan berotot. Memiliki tato yang banyak dibeberapa bagian tubuh, serta berwajah sangar. Tidak seperti yang lain, mereka tampak memasuki area ruang bawah tanah.


"Bagaimana? apa kita batalkan saja rencananya? a-a-aku merasa tidak yakin bisa melawan mereka," imbuh lelaki yang sedari tadi meragu berkelahi. Dia membuat ketiga penghuni apartemen Guree yang lain menjadi ikut ketakutan.


"Kalian pengecut! aku tidak akan membatalkan rencananya. Lagi pula, jumlah kita lebih banyak dari mereka!" tegas Hiro. Dia langsung keluar dari mobil setelah memastikan kelima orang Nakagawa sudah pergi. Hiro melajukan langkahnya menuju pintu masuk ruang bawah tanah. Di ikuti oleh Shima dan yang lain dari belakang.


Ke-empat penghuni apartemen Guree yang tadi sempat meragu, akhirnya juga terpaksa mengikuti Hiro. Hanya Hana dan Jun yang tetap berdiam di mobil untuk berjaga. Sebenarnya awalnya Jun harus ikut, akan tetapi karena keadaannya yang tidak memadai, Hiro menyarankannya tinggal bersama Hana.


Hiro dan yang lain masuk ke markas Nakagawa melewati tangga. Selain karena membawa rombongan cukup banyak, tetapi juga untuk berjaga-jaga, kalau-kalau liftnya sudah tidak berfungsi.

__ADS_1


Hiro sendiri baru menyadari keberadaan tangga darurat, setelah kebetulan melihatnya di sisi bagian kanan. Di sana pintunya agak tersembunyi, tidak heran saat pertama kali dirinya mendatangi ruang bawah tanah, Hiro tidak menyadari keberadaan tangga darurat. Nampaknya kelima lelaki berbadan besar itulah yang membuka jalan tangga daruratnya.


Langkah kaki Hiro terhenti, ketika tiba di ruang utama bawah tanah. Tidak seperti ruang bawah tanah yang kuno dan kotor. Tempat yang disebut sebagai markas Nakagawa tersebut, tampak bersih. Bahkan memiliki lantai poreselen mahal. Tiang penyangganya pun terlihat terbuat dari perak yang mengkilap. Tampilan bangunannya lebih cenderung seperti gedung berteknologi canggil. Bak ruangan laboraturium yang sering dilihat dalam film-film sci-fi.


Seperti keadaan ruangan lain yang ada di hotel, di bawah tanah alarm juga terus berbunyi. Suaranya mendesak, layaknya detak jantung yang menderu-deru. Di beberapa sudut juga terdapat lampu alarm berwarna merah. Lampu itu akan mati dalam satu detik, lalu akan menyala juga dalam selang waktu yang sama.


Hiro mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Karena jumlah semua orang yang ikut adalah tiga belas, Hiro membagi pasukannya menjadi lima kelompok. Tidak lupa juga untuk lekas-lekas mengenakan earpiece yang diberikan oleh Hana. Beruntung Hiro memiliki gadis pintar seperti Hana masuk dalam rencananya. Tanpa Hana, mungkin Hiro dan yang lain akan menggunakan ponsel untuk berkomunikasi. Hal tersebut tentu akan merepotkan. Terutama ketika sedang dalam keadaan terdesak.


Hiro membiarkan Empat orang pengecut tetap di ruang utama untuk berjaga. Bersembunyi dan akan memastikan keadaan baik-baik saja. Berusaha sebisa mungkin mencegah atau memberi waktu yang banyak untuk Hiro dan kawan-kawan.


Sementara empat sisa kelompok lainnya, harus berpencar. Mereka lewat jalan yang berbeda-beda. Sebab dari ruang utama, terlihat ada empat pintu yang mengarah ke tempat berbeda.


Hiro, Shima, Chen Fu, dan Chang Feng memilih memisah. Karena ke-empatnya sama-sama ahli bela diri, jadi mereka harus memimpin kelompoknya masing-masing. Melindungi, dan memastikan tidak ada yang diserang apalagi terluka.


Hiro kebetulan hanya memiliki satu orang dalam kelompoknya. Sama halnya dengan Shima dan Chen Fu. Hanya Chang Feng yang mempunyai dua anggota dalam kelompoknya.


"Baiklah!" sahut Kyohei. Lelaki yang menjadi bagian kelompok Hiro. Dia segera mengeluarkan pistol dari sakunya.


Hiro dan Kyohei memeriksa setiap ruangan yang mereka lewati satu per satu. Berharap menemukan tempat istimewa. Dimana semua informasi rahasia akan tersimpan di dalamnya. Sekalian juga mencari tahu tempat Kogoro ditawan.


Sudah sekitar sepuluh menit lamanya, Hiro dan Kyohei melakukan pencarian. Namun tidak ada hal penting yang mereka temukan. Meskipun begitu, keduanya tetap berjalan maju. Hingga atensi Hiro terpusat pada pintu yang ada di sisi kiri. Tidak seperti pintu-pintu lain, pintu yang dilihatnya sekarang terlihat penuh koyakan dan dipenuhi goresan darah. Terdengar juga suara teriakan meminta tolong dari arah pintu tersebut.


Hiro dan Kyohei bergegas menghampiri pintu penuh koyakan itu. Mereka memcoba membuka, tetapi pintunya terkunci.


"Arrrgghh! sial!" umpat Hiro sambil menghantamkan tangan ke pintu. Dia dan Kyohei tidak punya pilihan lain selain mendobrak. Toh pintu yang ingin mereka buka berbahan kayu biasa, dan membuat Hiro merasa yakin kalau dirinya dan Kyohei mampu mendobraknya.

__ADS_1


"Pintu ini paling berbeda dengan yang lainnya!" ucap Hiro sembari mendobrakan diri ke pintu. Hal serupa juga dilakukan oleh Kyohei.


"Sepertinya orang-orang yang ada di dalam dianggap tidak penting!" Kyohei mengungkapkan pendapatnya.


BRUK! BRUK! BRUK!


Sudah yang ketiga kalinya Hiro dan Kyohei melakukan pendobrakan. Pintu yang ada memang tampak sudah tidak bergeming.


Peluh telah membasahi beberapa titik tubuh Hiro. Dia menggertakkan gigi, agar semua tenaganya bisa dikerahkan. Hingga tidak lama kemudian, pintu akhirnya bisa terbuka.


Suara pekikan minta tolong langsung menyambut kedatangan Hiro dan Kyohei. Ternyata ada banyak sekali orang di dalam. Pintu yang tadi didobrak Hiro, membawanya lagi kepada banyaknya pintu-pintu lain yang berjejer di sisi kiri dan kanan.


Keadaan tersebut membuat mata Hiro terbelalak. Dia bergegas memeriksa salah satu pintu yang ada.


"Siapa di sana?!" tanya Hiro dengan nada suara yang tinggi. Menempelkan telinganya ke pintu.


"Kami semuanya di sini wanita! orang-orang itu akan menjual kami!" jawab salah satu wanita yang ada di dalam ruangan.


BRAK!


Suara benda yang dibanting membuat Hiro tersentak kaget. Dia sontak menoleh untuk memastikan. Betapa terkejutnya Hiro, saat menyaksikan Kyohei sudah tersungkur di lantai. Sosok lelaki berbadan besar sudah berdiri di hadapan Hiro. Dia adalah lelaki yang memiliki tubuh seperti atlet sumo. Salah satu dari lima lelaki yang dilihatnya sebelum masuk ke ruang bawah tanah.


Catatan Kaki :


-Earpiece : Alat untuk menerima panggilan telepon. Identik sebagai alat komunikasi rahasia.

__ADS_1


-Sumo :  Olahraga saling dorong antara dua orang. Atletnya harus memiliki badan besar, karena dianggap sebagai kekuatan.


__ADS_2