Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 74 - Kebenaran


__ADS_3

Dahi Hiro langsung mengukir kerutan kala melihat kehadiran Kogoro. Lelaki tersebut ternyata baru saja mengurus pembayaran rumah sakit ibunya Hana dan Akira. Jelas, uang penipuan yang telah dilakukannya semalam sudah dicairkan. Katanya dia mendapatkan banyak sekali uang dengan meng-hacking semua atm dan data milik Yutaro.


Kini Hiro dan Kogoro duduk di ruang tunggu. Menyaksikan berita yang ada di televisi. Mengenai peluncuran bisnis terbaru dari keluarga Nakagawa, yang dipimpin oleh Itsuki.


"Ibunya Hana juga dirawat di sini?" tanya Hiro. Lalu menghirup teh hangat dengan mulutnya. Rasa hangat itu seketika menjalar menenangkan pikiran dan perasaannya.


"Mmm!" Kogoro mengangguk untuk mengiyakan. "Dia sering menghabiskan waktunya di sini. Apa kalian tidak pernah bertemu?" lanjutnya, yang di akhiri dengan pertanyaan.


Hiro hanya menggeleng malas. Dia menghela nafasnya untuk yang sekian kali. Dirinya tampak tidak bersemangat sekarang. Apalagi setelah mendengarkan cerita dari Akira.


"Selama kau tidak ada, Hana katanya sering menemui ibumu," tutur Kogoro.


"Benarkah? kenapa dia tidak pernah bilang kepadaku?" Hiro melebarkan kedua kelopak matanya, yang direspon Kogoro dengan gedikan bahunya.


Beberapa saat kemudian Hana baru saja tiba di rumah sakit. Gadis itu ikut bergabung dan memilih duduk di sebelah Hiro. Langsung menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Ditangannya terdapat kantong plastik yang dipenuhi makanan.


"Aku sudah mendengar semuanya," ungkap Hana. Dia menoleh ke arah Hiro. Memandang sekilas, lalu beralih lagi menatap lurus ke depan.


"Ya, kau pasti menikmati uangmu sekarang," balas Hiro. Dia menyandarkan kepalanya ke belakang. Hingga sedikit mendongak ke atas. Matanya terpejam rapat sambil melipat kedua tangannya.


"Aku tidak membicarakan perihal uang. Maksudku, tentangmu dan Izumi." Ucapan Hana membuat Kogoro yang duduk di sisi kanan Hiro terkekeh.


Hiro bergeming. Dia masih dalam posisi yang sama. Telinganya yang selalu aktif tentu mendengar perkataan Hana. Hiro lantas menyahut, "Kenapa? kau cemburu?"


Perkataan Hiro sontak membuat pipi Hana memerah. Sedangkan Kogoro terdengar memecahkan tawanya. Hana sontak terdiam terhadap timpalan Hiro. Dia tidak membenarkan atau pun mengelak. Respon Hiro benar-benar seperti gumpalan kain yang mampu menyumpal mulutnya.


Melihat Kogoro yang sudah menghentikan tawa, Hana langsung menyalangkan mata. Dia menggertakkan gigi sebal.

__ADS_1


"Hiro, aku akan memberimu sebagian uang lagi untukmu, karena kau sudah ikut andil menjalankan rencanaku. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih," kata Kogoro. Tanpa sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Salah satu tangannya merogoh kantong yang ada dibalik mantelnya.


"Simpan saja dahulu. Aku akan segera mengambilnya nanti," jawab Hiro sembari bangkit dari tempat duduk. Dia lalu beranjak pergi menuju kamar sang ibu.


Hiro masuk ke dalam kamar Akira dirawat. Dia mencuci muka dan istirahat di sana. Tertidur tepat di samping ibunya dalam keadaan duduk.



"Hiro... Hiro..." suara samar seseorang yang memanggil, perlahan membangunkan. Hiro segera membuka mata dan melihat Akira sudah duduk. Di hadapan ibunya itu tampak meja yang dipenuhi makanan. Sepertinya pihak rumah sakit baru saja memberikannya.


"Ayo kita makan bersama-sama," ajak Akira dengan senyuman tulus yang mengembang diparasnya.


Hiro lantas memposisikan diri duduk di hadapan sang ibu. Ikut menikmati hidangan bersama. Toh perutnya memang belum terisi semenjak tadi pagi. Seorang ibu pasti selalu tahu, apa yang dibutuhkan oleh anaknya.


"Kau juga harus makan!" seru Hiro ketika melihat ibunya hanya diam memandanginya. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.


"Kita sebenarnya adalah orang yang berkecukupan, Hiro..." Akira menunjukkan kesenduan disemburat wajahnya, lalu meneruskan, "Tetapi karena satu pengkhianatan, kita kehilangan segalanya. Apa yang dimiliki keluarga Nakagawa sekarang, adalah hak kita."


"Maksud Ibu?!" mata Hiro membuncah. Dia tidak sabar untuk mendengarkan lanjutan cerita dari Akira.


"Mereka mengambil semuanya, Hiro. Orang-orang itu, punya kekuatan yang tidak pernah aku dan ayahmu duga. Mungkin saja mereka masih melakukannya kepada orang lain, dan dilakukan secara rahasia. Persis seperti yang mereka lakukan kepada kita." Akira bercerita panjang lebar. Dia menatap kosong ke arah hidangan yang ada di meja.


"Apa Ibu bicara perihal warisan?" Hiro menyimpulkan. Akira pun menjawab dengan anggukan pelan.


Hiro memejamkan mata sejenak, karena berupaya menenangkan diri. Sebab dia hampir saja meluapkan amarah kepada ibunya. Hiro ingin sekali menimpali beberapa pertanyaan seperti, kenapa Akira membiarkan keluarga Nakagawa merebut semuanya? kenapa Akira tidak melakukan apapun sejak dahulu? dan, kenapa Akira terus mengalah, lalu menjalani kehidupannya yang sulit?


Hiro bergegas meninggalkan Akira. Dia keluar dari ruangan sebentar. Sebab Hiro tahu, jika dirinya tidak bisa menahan amarah, maka kemungkinan Akira akan diserang trauma lagi. Pembicaraan dua ibu dan anak itu berakhir di sana.

__ADS_1


Dua hari terlewati, Akira sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dia sudah bisa kembali beraktifitas, meski harus kehilangan pekerjaannya lagi.


Sedangkan Hiro tengah pergi bersama Shima dan Hana. Ketiganya ada di apartemen Guree. Bergumul dengan satu komputer untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Katashi Nakagawa. Kebetulan sekali, liburan musim dingin telah tiba. Jadi mereka memanfaatkan waktu dengan baik.


Hiro sudah memberitahukan semuanya kepada Shima dan Hana. Keduanya tersebut menjadi orang yang pertama diberitahu Hiro mengenai kebenaran dari cerita Akira.


"Jujur, aku masih tidak bisa mempercayai perkataanmu." Semenjak tahu, Hana terus saja mengucapkan kalimat yang sama.


"Karena itulah aku butuh bukti sekarang!!" Hiro memukulkan tangannya ke meja. Dia lelah mendengar keluhan Hana. Tindakannya itu tentu berhasil mengejutkan semua orang yang ada di sekeliling. Termasuk Hana sendiri.


Sebuah artikel yang baru saja ditekan Hiro, tiba-tiba muncul dilayar komputer. Menampilkan gambar hotel bintang lima milik Katashi yang ada di Tokyo. Atensi Hiro sontak tertuju pada layar komputer. Dia langsung teringat dengan replika bangunan yang dilihatnya saat berada di ruang kerja Katashi.


"Aku pernah melihat replikanya ketika di rumah Nakagawa kemarin!" jari telunjuk Hiro di arahkan ke layar komputer.


"Memangnya kenapa? apa kau berpikir itu markas rahasia mereka? tidak masuk akal. Itu adalah hotel, dan jelas adalah tempat umum." Hana mengerutkan dahi heran. Dia menganggap Hiro terlalu berebihan.


Hiro berpikir sejenak sambil terus menatap gambar yang ada di artikel. Dia mengingat kalau, bangunan replika dan kenyataan sangat berbeda.


'Apakah desain yang ada dibagian bawah itu tidak dibangun?... atau...' Hiro berusaha menduga-duga. Hingga terbersitlah dalam pikirannya sesuatu yang membuatnya yakin.


"Aku mengerti sekarang!" ungkap Hiro. Menyebabkan Shima dan Hana segera memasang kupingnya baik-baik.


"Ada apa?" tanya Shima, mendesak.


Hiro pun mengemukakan yang ada dipikirannya, bahwa dia mengira kalau desain yang ada di replika mungkin saja ikut dibangun.


"Tetapi kita tidak bisa melihat bangunan yang posisinya ada di lantai paling bawah itu. Apalagi cakupannya terlihat dua kali lipat lebih besar. Sangat berbeda dari aslinya yang cenderung sejajar dengan lantai lainnya. Lihat!" terang Hiro panjang lebar.

__ADS_1


"Aku yakin, lantai paling bawah itu berada di bawah tanah. Makanya kita tidak bisa melihatnya dari luar!" sambung Hiro lagi, yang reflek menyebabkan mata Shima dan Hana membelalak bersamaan. Mereka kini merasa kalau yang dikatakan Hiro masuk akal.


__ADS_2