
Hiro dan Kogoro lekas-lekas pergi mencari Shima. Mereka sudah menelepon dan sudah tahu posisi lelaki berambut cepak itu ada dimana. Namun di depan pintu, terlihat ada pengawal Yutaro yang masih berjaga. Untung saja, apa yang dilakukan Shima terhadap Yutaro belum ketahuan.
"Bagaimana?" tanya Hiro, agak gelisah. Dia malas membuang tenaga untuk memukuli seorang krucil selevel pengawal.
"Tenang saja, aku akan mengurusnya. Kau temui Shima saja lebih dulu." Kogoro melajukan langkah kaki untuk menghampiri pengawal berbadan bugar tersebut. Sebelum benar-benar mendekat, dia menoleh sebentar ke arah Hiro, karena harus mengingatkan sesuatu. "Oh iya, lebih baik kau dan Shima lepaskan Yutaro. Dan perlakukan dia dengan baik!" titahnya, yang tentu saja membuat Hiro terheran. Kenapa Kogoro malah berusaha memperbaiki hubungan dengan targetnya?
"Maksudmu? apa kau bercanda?" tanya Hiro memastikan.
"Menurut saja. Itu adalah rencanaku dari awal!" sahut Kogoro. Kemudian mencoba mengajak bicara pengawal yang berjaga.
Hiro memutar bola mata jengah. Dia mengamati apa yang dilakukan Kogoro. Paman dari Shima itu membawa si pengawal ke arah ruang acara. Hiro masih belum tahu, bagaimana cara hipnotis bekerja.
Pintu kamar tamu segera dibuka. Tampaklah Shima yang langsung bangkit dari duduknya. Sedangkan Yutaro benar-benar di ikat dengan kabel listrik. Mulutnya dibekap dengan kain.
"Kau yang melakukan ini?" pertanyaan Hiro dijawab Shima dengan anggukan kepala.
Hiro menarik Shima lebih dekat dan membisikkan apa yang tadi sudah diperintahkan Kogoro. Shima sontak keheranan dan tidak terima. Dia lantas memberitahu Hiro kalau Yutaro menyukai sesama pria.
Mendengar hal itu, Hiro sempat terkejut. Akan tetapi sebuah ide cemerlang muncul dalam benaknya. Dia bergegas melepaskan kain yang membekap mulut Yutaro, lalu berkata, "Maafkan Shima, tetapi begitulah cara dia..."
"Apa-apaan! aku tidak akan memaafkan--" kalimat Yutaro seketika terhenti, saat jari telunjuk Hiro menyentuh area bibirnya. Digerakkannya dengan lembut, hingga membuat darah disekujur badan Yutaro berdesir.
"Shima harus menungguku agar kita bisa melakukannya, kau tahu maksudku kan?" tutur Hiro. Membuat Shima menelan saliva sendiri, akibat mulai merasa gugup. Untuk yang sekian kalinya, dirinya harus menghadapi kenekatan dari seorang Hiro. Apalagi kini, sahabatnya itu mulai membuka ikatan Yutaro.
'Aku akan membunuh Kogoro jika dia tidak datang tepat waktu!' berbeda dengan ucapan dimulutnya, Hiro sebenarnya mengeluh dalam hati.
"Hahaha... harusnya kau bilang dari awal, aku bisa saja melakukannya dengan senang hati. Aku sangat paham pada orang yang memiliki fetisisme seksual," imbuh Yutaro, menatap nakal ke arah Shima. Dia yang tadi sempat duduk, perlahan berdiri. Saat itulah Kogoro datang. Dia tampak sudah melepaskan setelan kokinya, dan hanya mengenakan pakaian biasa.
Kogoro langsung menatap Hiro dan Shima. Berbicara lewat bahasa tubuhnya. Yaitu meletakkan jari telunjuk ke depan bibir, pertanda kalau dirinya menyuruh untuk diam.
"Siapa kau?!" timpal Yutaro kepada Kogoro. Dahinya mengukir garis-garis keheranan.
"Maafkan aku jika mengganggu. Tetapi Tuan, aku baru saja mendengar perihal putrimu," ucap Kogoro dengan perasaan tenang. Dia segera memegangi pundak Yutaro. Menampakkan raut wajah penuh kecemasan. Seolah dirinya menampakkan simpati yang mendalam.
Yutaro terdiam seribu bahasa. Mendengarkan sugesti Kogoro yang perlahan mempengaruhinya. Apalagi Kogoro terus membicarakan perihal putri kesayangannya. Yang mana kata Kogoro, putrinya tersebut sering mencurahkan hati kepadanya. Semua perkataan Kogoro tentu hanya kebohongan belaka. Dia hanya butuh segala hal yang ada di dompet Yutaro.
__ADS_1
Hiro dan Shima memperhatikan apa yang dilakukan Kogoro. Mereka hanya bicara lewat tatapan.
"Begitukah cara pamanmu menipu orang?" tanya Hiro, berbisik ke telinga Shima.
"Sepertinya... teknik itu namanya hipnotis," Shima balas berbisik. Mendekatkan diri ke arah Hiro. Indera penciumannya langsung menghirup aroma yang menarik perhatian. Dia lalu mengungkapkan, "Baumu seperti Izumi, apa kau..." Shima membulatkan mata. Dia tidak kuasa menyelesaikan kalimat akhirnya Sebab dirinya tahu, Hiro pasti paham.
"Aku akan ceritakan nanti," ujar Hiro. Menatap Shima dengan sudut matanya.
Perlu sekitar lima menit lebih Kogoro menundukkan Yutaro. Dia sekarang menikmati dompet yang diserahkan oleh Yutaro dengan sukarela.
Satu per satu, Kogoro memotret kartu atm, ktp, serta benda penting lainnya. Dia tidak mencuri sepersen pun uang Yutaro. Semuanya dilakukannya agar dirinya, Hiro dan Shima tidak akan dilacak dengan mudah.
Kogoro yang tadi sempat berjongkok, perlahan berdiri. Dia mengeluarkan sebuah spidol dari saku celana. Kemudian menggambar tahi lalat di salah satu pipinya. Tindakan konyolnya itu membuat Hiro dan Shima geleng-geleng kepala.
"Sekarang giliran kalian!" Kogoro menyodorkan spidolnya kepada Hiro dan Shima.
"Untuk apa?" tukas Hiro, mencoba menolak.
"Agar yang di ingatnya hanya titik hitam itu. Jadi dia tidak akan mengingat wajah kita dengan mudah!" jelas Kogoro. Seketika berhasil meyakinkan Hiro dan keponakannya.
"Kalau sudah, mendekatlah dan perlihatkan wajah kalian kepadanya," perintah Kogoro seraya menunjukkan tangan ke arah Yutaro.
Setelah mengucapkan beberapa kalimat, Kogoro berhasil membuat Yutaro pergi keluar dengan sukarela. Bahkan dia membuat lelaki berperut buncit tersebut berjalan dengan senyuman lebar.
Kini hanya ada Hiro, Shima dan Kogoro yang ada di ruangan.
"Selesai sudah, mudah bukan?" Kogoro tersenyum girang.
"Mudah bagimu!" Shima menggertakkan gigi kesal. Bagaimana tidak? pamannya itu sudah berani menumbalkan dirinya kepada orang mengerikan seperti Yutaro. "Kau bahkan tidak memberitahu kami kalau Yutaro penyuka sesama jenis!" lanjutnya, yang mengubah pose menjadi melipat tangan di depan dada. Bersandar di nakas yang ada di belakang pinggulnya.
"Benar, kau sangat keterlaluan!" Hiro ikut menimpali.
"Hiro, kau juga sama saja!" untuk yang pertama kalinya, Shima menatap sebal kepada Hiro.
"Aku?" Hiro agak kaget dirinya ikut-ikutan disalahkan.
__ADS_1
"Memangnya kau kemana? karena keterlambatanmu rencana kita hampir gagal." Kogoro memandang serius Hiro. Namun lelaki yang ditatapnya hanya tersenyum sambil menundukkan kepala.
"Aku yakin dia bercumbu dengan Izumi!" celetuk Shima, tergelak kecil. Tawanya berhasil menular kepada sang paman.
"Sejak kapan kau jadi nakal begini, hah!" Kogoro menampar pelan pipi Hiro.
"Apa-apaan kau!" geram Hiro, tidak terima pipinya ditampar.
Kogoro hanya diam, dan segera mengajak Hiro dan Shima menghapus titik hitam diwajah, lalu bergegas pergi keluar dari ruangan.
"Sekarang, kita akan pulang kan?" tanya Shima. Dia beserta Hiro dan Kogoro berjalan beriringan. Menyusuri lorong rumah keluarga Nakagawa yang lumayan panjang.
"Iya, kalian keluar dari pintu depan saja. Aku harus mengurus CCTV. Lagi pula, aku harus kembali ke dapur. Jika aku masuk lewat sana, maka keluarnya pun harus dari sana juga!" balas Kogoro. Berhenti di depan sebuah lemari kecil, lalu membuka salah satu laci. Di sana dia mengambil setelan koki untuk dipakai kembali.
Hiro dan Shima lantas memisah dari Kogoro. Mereka yakin Kogoro mampu mengatasi urusan selanjutnya sendirian.
Ketika hampir mendekati pintu keluar, Hiro mendadak menghentikan langkah Shima.
"Kau tidak apa, jika pulang sendiri?" tanya Hiro. Menyebabkan senyuman disemburat wajah Shima terpatri. Dia pasti paham dengan tujuan Hiro.
"Tentu saja. Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri sekarang. Semuanya karenamu, meskipun aku belum selihai dirimu," ungkap Shima. Memegangi salah satu bahu Hiro.
"Aaah! aku yakin sebentar lagi kau akan semakin hebat." Hiro berusaha memberikan dorongan positif. Dia sebenarnya ingin memuji, tetapi urung karena menurutnya Shima masih belum menunjukkan usaha yang maksimal.
Sebelum pergi Shima berkata, "Hiro, aku tahu kau bersenang-senang. Tetapi jangan lupakan tujuanmu datang ke sini."
"Kau tenang saja, itulah tujuan utamaku memilih mengikuti keinginan Izumi!" Hiro menyahut sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.
Sedangkan Shima telah menggerakkan kaki melewati pintu. Menoleh sejenak dan memajukan bibir bawahnya. Dia jelas berusaha mengejek.
Catatan kaki :
-Fetisisme seksual : Ketertarikan seksual yang muncul pada benda atau bagian tubuh yang tidak lazim, atau yang umumnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang seksual oleh umum.
-Sugesti : Pemberian pengaruh atau pandangan dari satu pihak kepada pihak lain.
__ADS_1