Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 69 - Surga Dari Izumi


__ADS_3

Kemunculan Izumi sontak membuat pengawal yang tadi sempat mencegat ciut, Hiro dan Shima akhirnya diperbolehkan masuk ke tempat acara. Sekarang keduanya tengah berjalan mengiringi Izumi.


"Apa kau lihat?" bisik Shima. Matanya tidak sengaja menangkap sosok yang dia yakini sebagai Yutaro. Target Kogoro.


"Ya, Izumi memang tampak berbeda!" respon Hiro tidak mengalihkan atensinya dari pergerakan Izumi.


"Bukan itu! maksudku, lelaki paruh baya yang sedang berdiri di dekat Itsuki." Shima memutar kepala Hiro ke arah seharusnya. Hendak memastikan kalau yang dilihatnya memanglah orang yang benar.


Hiro otomatis menyipitkan mata. Mencoba memperjelas sosok Yutaro. Berbadan gemuk, perut buncit, serta mengenakan kalung emas rantai dilehernya. "Benar!" Hiro menganggukkan kepala dan meneruskan, "dia Yutaro! wajahnya persis seperti difoto."


Izumi membawa Hiro dan Shima untuk menemui kakaknya, yang kebetulan sekali tengah berbincang dengan Yutaro.


Itsuki yang merasa girang dengan kedatangan Hiro dan Shima, langsung menyambut ramah. Beruntungnya, Itsuki juga memperkenalkan mereka kepada Yutaro. Jadi baik Hiro dan Shima tidak perlu repot-repot melakukan pendekatan. Keduanya akan memanfaatkan waktu dengan baik.


"Aku mendengar kalian adalah penyelamat dari keponakanku yang cantik ini." Yutaro membawa masuk Izumi dalam rangkulannya. Mereka terlihat dekat, layaknya seperti ayah dan anak. Izumi bahkan mengembangkan senyum dan melingkarkan tangannya ke pinggul Yutaro.


Perlahan Izumi mendekatkan mulut ke telinga Yutaro. Kemudian menutupi pergerakan mulutnya dengan tangan. Entah apa kalimat yang sedang dibisikkannya. Gelagat tersebut sontak membuat dahi Hiro dan Shima mengernyit bersamaan.


Yutaro membeku, matanya meliar ke segala arah. Berusaha fokus dengan bisikan yang diucapkan Izumi di kupingnya. Kemudian memanggut-manggutkan kepala sembari tersenyum lebar.


"Heh! Izumi, kamu jangan macam-macam dengan paman konglomeratmu ini." Itsuki menegur kelakuan adiknya. Dia menepuk pundak Izumi sekitar dua kali. "Jangan meminta yang tidak-tidak. Kalau mau sesuatu bilang saja kepadaku," tambahnya.


"Kakak tenang saja, aku hanya memberitahu kegiatanmu akhir-akhir ini," ujar Izumi, menatap malas ke arah sang kakak. Itsuki lantas memutar bola mata jengah.


"Ayo, lebih baik kalian nikmati hidangan dan minuman yang ada!" saran Itsuki kepada Hiro dan Shima. Tangannya menunjuk ke arah meja yang berisikan dengan berbagai macam hidangan mewah.


"Dan jangan coba-coba meminum alkohol!" ucap Itsuki lagi, memperingatkan. Dia kemudian pergi untuk mengurus tamu-tamunya yang lain.


Kini hanya tinggal Hiro, Shima, Izumi, dan Yutaro. Mereka saling memegang minuman ditangan masing-masing. Anehnya Yutaro malah lebih banyak berbincang dengan Shima. Ternyata bisnis video game yang dipimpin Yutaro kebetulan sangat digemari oleh Shima.


"Apa anda akan membuat sekuel tentang video game itu?" tanya Shima dengan kedua alis yang terangkat.


"Kami sedang proses menyusun rencananya. Lagi pula sekarang aku disibukkan dengan bisnisku yang lain," jelas Yutaro seraya tersenyum tipis. Lalu menenggak wine-nya beberapa teguk. "Bagaimana denganmu? apa kamu masih memainkan game-nya?" tanya-nya melanjutkan percakapan.

__ADS_1


Shima langsung menggeleng. "Akhir-akhir ini aku sibuk dengan sekolahku," kilahnya. Dia tentu berbohong mengenai sekolah, sebab kesibukan Shima yang sebenarnya adalah berlatih bela diri.


Hiro dan Izumi saling terdiam. Keduanya sama-sama tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Shima dan Yutaro. Alhasil Izumi yang mulai merasa bosan segera membawa Hiro ikut bersamanya. Mencoba memisahkan Hiro dan Shima untuk sesaat.


"Kalian lanjutkan saja bicaranya, aku dan Hiro akan kembali!" ujar Izumi sembari mengunci tangannya di lengan Hiro.


"Eh? Hiro, kau--" Shima sudah menggerakkan kaki satu langkah untuk mengejar. Akan tetapi, Yutaro dengan sigap mencegahnya.


"Shima, kamu mau kuberitahu bocoran tentang sekuel video game-ku?" imbuh Yutaro. Perkataannya membuat Shima sedikit tertarik.


Sementara Hiro yang sempat berjalan agak jauh dari posisi Shima, bergegas melepaskan tangan Izumi. Dia meminta izin untuk berbicara dengan Shima sebentar.


"Apa sesulit itu memisahkanmu dengan Shima?!" dahi Izumi mengernyit kesal. Dia menunggu Hiro dengan helaan nafas kasar.


Hiro menarik tangan Shima dan berbisik, "Jika terjadi hal buruk, lakukan saja jurus yang aku ajarkan kepadamu!" dia menjeda kalimatnya sebentar, untuk memeriksa keadaan orang-orang disekitar. "Telepon saja aku, jika ada hal mendesak!" sambung Hiro sambil menepuk pelan pundak Shima.


"Kau berhati-hatilah." Shima menyempatkan diri berbisik kepada Hiro. Selanjutnya dia dan Hiro benar-benar berpisah.


Hiro kembali menghampiri Izumi. Gadis tersebut langsung mengajak Hiro menaiki tangga. Melewati banyaknya pengawal yang tampak berjejer menjaga lokasi pribadi keluarga Nakagawa.


"Kenapa?! dia temanku! apa dia terlihat berbahaya bagimu?!" timpal Izumi ketus. Tentu saja dengan ekspresi sebalnya.


Pengawal tersebut seketika ciut. Dia lantas memberikan jalan untuk Izumi dan Hiro.


"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Hiro. Dia berderap di belakang Izumi. Matanya meliar ke segala arah, berusaha menemukan petunjuk tentang ruang kerja Katashi.


"Kemarin aku membelikanmu sesuatu," balas Izumi. Terus melangkah maju. Namun jalannya harus terhenti saat baru menyadari Hiro diam di tempat, dan menatap ke arah foto keluarga Nakagawa. Izumi pun berbalik, lalu bergegas mendekati Hiro.


"Kenapa? apa wajahku jelek difoto itu?" tanya Izumi, yang ikut-ikutan menatap ke arah gambar di dalam figura besar.


Hiro terkekeh. Dia langsung menampik pernyataan Izumi. "Tidak mungkin. Justru kau yang paling cantik di sana!" komentar Hiro.


"Jadi aku lebih cantik dari ibuku?" Izumi menatap Hiro dengan ujung matanya.

__ADS_1


"Haruskah aku menjelaskannya?" respon Hiro. Perlahan menoleh ke arah Izumi. Atensinya langsung tertuju pada dua pintu besar di ujung lorong. Ruangan dengan pintu mewah tersebut pasti bukan tempat biasa.


Izumi yang menyadari tatapan Hiro teralih, segera berkata, "kau ingin ke sana?"


"Bolehkah?" Hiro meragu. Akan tetapi Izumi malah tersenyum lebar, kemudian memimpin Hiro masuk ke dalam ruangan dengan dua pintu besar itu. Ternyata tempat tersebut adalah ruang kerja Katashi. Hiro yang mengetahuinya tentu merasa sangat senang. Dengan begitu, dia tidak perlu repot-repot mengambil resiko untuk menyelinap.


Kata Izumi, ayahnya jarang berkunjung ke kota Kyoto. Dia lebih sering menghabiskan waktu di Tokyo. Menurut Izumi, ruang kerja ayahnya hanyalah tempat terbengkalai yang tidak berguna. Makanya dia berani mengajak Hiro masuk ke sana.


'Sial!' Hiro mengumpat dalam hati, ketika mengetahui ruang kerja Katashi tidak berisi informasi yang berguna.


Di ruangan yang luas dan mewah itu, Hiro mengedarkan pandangannya. Memang apa yang dikatakan Izumi benar, ruang kerja Katashi tidak ditemukan sesuatu hal penting. Tetapi ada sebuah benda yang paling menarik perhatian Hiro. Yaitu replika gedung yang terpampang di meja. Desainnya tampak aneh, terutama di bagian bawah bangunan replika itu.


"Gedung ini sangat mirip dengan hotel bintang lima milik ayah di Tokyo. Hanya berbeda dibagian bawahnya saja," terang Izumi, memberitahu.


"Bagian bawahnya aneh. Lebih besar dibanding area atasnya," ungkap Hiro yang sedikit membungkukkan badan.


"Kata ayah, ini adalah replika hotel impiannya yang tidak terwujud. Makanya dia masih memajangnya di sini." Izumi kembali memberi penjelasan.


Hiro sudah memperhatikan semua barang yang ada di ruangan. Perlahan dia memindahkan bola matanya ke arah Izumi. Gadis itu juga terlihat membalas tatapannya.


Tak... Tak... Tak...


Izumi melangkah lebih dekat. Dia ingin melakukan sesuatu yang sedari tadi ada dalam pikirannya. Yaitu mencium bibir Hiro. Ditariknya dasi Hiro, lalu Izumi pun memagut dengan pelan bibir lelaki itu.


Tangan Hiro otomatis melingkar dipinggul Izumi. Keduanya memulai pergerakan secara lembut.


Ketika Hiro semakin bersemangat, Izumi malah melepaskan tautan bibirnya dan berucap, "Ini pertama kalinya untukku, jadi bila--"


"Bicaralah lewat tubuhmu!" potong Hiro, lalu kembali memadukan mulutnya dengan bibir Izumi.


Ponsel Hiro mendadak bergetar, membuatnya otomatis menghentikan cumbuannya. Akan tetapi sebelum dirinya sempat mengambil ponsel, Izumi tiba-tiba mendorongnya ke sofa.


Hiro menurut saja. Tangannya dengan cekatan menarik resleting gaun yang ada dipunggung Izumi. Pakaian gadis itu telah melonggar dan segera dilepaskan.

__ADS_1


"Kau yakin ingin melakukan untuk yang pertama kalinya denganku?" tanya Hiro. Nafasnya sudah semakin sulit di atur.


"Aku percaya kepadamu!" sahut Izumi. Selanjutnya, dia dan Hiro segera menyatu dalam tubuh untuk yang pertama kalinya.


__ADS_2