
Hiro menyarankan Hana untuk bekerjasama dengannya. Dia ingin gadis itu memberikan tas limited edition yang di inginkan Izumi.
"Tidak. Aku tidak mau! cari cara lain selain itu!" Hana langsung menolak mentah-mentah. Sebab benda yang di inginkan Izumi merupakan barang kesayangannya. Ditambah dia sangat membenci Izumi sepenuhnya. Hana berusaha berpikir untuk menemukan jalan lain selain usulan Hiro.
"Bagaimana kalau kita minta bantuan para ahli yang ada di apartemen ini?" Hana mendadak mengubah ekspresinya. Terlihat bersemangat dan meyakinkan. Dia lantas bercerita mengenai apartemen yang sekarang ditinggalinya. Gadis itu bilang bahwa apertemennya bukanlah tempat biasa.
Para penghuninya menamai apartemen tersebut dengan sebutan Guree (Abu-abu). Kata Hana di apartemen Guree terdapat lima lantai yang di isi oleh kelompok orang dengan keahlian berbeda.
"Pertama, ada lantai lima, yang di isi oleh para ahli hacking. Lalu lantai tujuh, terdapat kumpulan orang ahli bela diri. Selanjutnya ada lantai sembilan, ditinggali para ahli seni. Kemudian lantai dua belas, bagian khusus pengurus bisnis. Sedangkan yang terakhir adalah lantai lima belas, di isi oleh komplotan penipu, termasuk Kogoro." Hana berkata sambil mengangkat dagunya, seolah apa yang dikatakannya sangatlah keren. Namun suara gelak tawa menggelegar dari Kogoro seketika merubah semburat angkuhnya menjadi cemberut.
"Bwahahaha! ahli kau bilang? mereka lebih pantas disebut kumpulan orang bodoh. Hanya aku orang paling ahli di tempat ini. Akui saja, semenjak aku datang, keuntungan kalian langsung meningkat drastis!" Kogoro mendekati Hana. Sedikit membungkukkan badan, lalu menghisap rokok elektriknya. Dia lantas sengaja menyemburkan kepulan asap ke wajah Hana. Selanjutnya lelaki yang merupakan paman dari Shima itu menatap ke arah Hiro, dan kembali berucap, "Hiro, kau tahu kenapa kau bisa memenangkan pertarungan tadi dengan mudah? itu karena mereka tidak seahli yang kau kira. Mereka hanya terlalu percaya diri, persis seperti Hana."
"Sial kau Kogoro. Uhuk! uhuk!" respon Hana seraya mengibaskan tangan di depan wajahnya. Berusaha menjauhkan kepulan asap.
Kogoro sama sekali tidak hirau. Dia malah memasang mimik wajah bingung, dan masih dalam keadaan menatap Hiro. "Tunggu!" Kogoro memegangi pundak Hiro. "Sejak kapan kau ahli melakukan bela diri?" tanya-nya. "Sifatmu juga sangat berbeda dari yang aku tahu." Nampaknya pertanyaan tersebut sudah lama ingin dilontarkannya.
Pupil mata Hiro membesar, kemudian digerakkan ke arah lain. Tidak berani membalas tatapan Kogoro. Dia berusaha tenang dan mencari alasan yang tepat dikepala.
"Apa maksudmu Kogoro? kau tidak tahu kalau dia ahli berkelahi?" Hana ikut menimpali.
"Iya, yang aku tahu. Hiro dahulu adalah--"
"Kau tahu. Semuanya karena amnesia. Apa kau sudah lupa?" Hiro sengaja memotong ucapan Kogoro. Lagi pula jika dia mengatakan yang sebenarnya, Kogoro dan Hana pasti tidak akan percaya. Sebab sesuatu yang disebut reinkarnasi pada zaman modern, selalu dianggap mitos belaka.
"Apa? amnesia?" Kogoro mengerutkan dahi keheranan. Penjelasan Hiro terkesan aneh baginya. Karena secara logika, amnesia tidak akan mampu mengubah sikap bahkan keahlian seseorang secara drastis.
__ADS_1
"Kalau orang-orang Guree bodoh, berarti caraku tadi adalah satu-satunya jalan sekarang. Setidaknya lakukanlah untuk menebus kesalahanmu!" Hiro mengarahkan jari telunjuknya ke arah Hana. Sengaja mengubah topik pembicaraan.
"Apa? aku?" Hana terperangah. Bersikap seakan tidak mengerti.
Hiro memutar bola mata jengah. "Ayolah! apa aku perlu menyebutkan semua kejahatanmu terhadapku dan Shima?!" timpalnya. Menyalangkan mata.
Melihat Hiro dan Hana berbicara serius, Kogoro memilih beranjak pergi. Meninggalkan dua anak remaja aneh tersebut saling berdebat. Dia hendak menengok keadaan keponakannya.
Hana menghembuskan nafas dari mulut. Dia memang tidak bisa membantah pernyataan Hiro mengenai dirinya. Terutama masalah tentang dompet Hiro yang telah dia ambil, serta perkelahian beberapa saat sebelumnya. Dia merasa sangat bersalah terhadap insiden yang menimpa Shima. Gadis itu juga tidak bisa menyangkal tentang ketidakahlian orang-orang di apartemennya. Dengan wajah masam dan hati yang berat, Hana akhirnya setuju.
"Baiklah..." lirihnya, yang sontak membuat mulut Hiro mengembang membentuk sebuah senyuman.
"Tenang saja, itu hanya sebuah tas biasa!" ujar Hiro, meremehkan.
Perlakuan Hiro, sontak membuat Hana salah paham. Dia mengira Hiro akan memberikan sentuhannya lagi. Ditambah sebelah tangan lelaki itu juga sedang mencengkeram erat lengannya.
"Jangan gila! aku sekarang sedang tidak bernafsu melakukannya!" ujar Hana dengan nada penuh penekanan. Momen yang terjadi di bilik karoke tergambar jelas di ingatannya.
Dahi Hiro mengernyit tak mengerti. Dia membuka lebar telapak tangan, seakan menuntut Hana memberikannya sesuatu. "Dompetku!" ucapnya serius.
Wajah Hana memerah malu. "Ah itu..." dia mengusap tengkuk tanpa alasan. "A-aku menyimpannya di rumah, tunggulah! aku akan ambilkan sekarang," sambungnya, bergegas pergi sambil berusaha membuang jauh rasa malunya. Setidaknya Hiro tidak langsung mengejeknya sebagai gadis mesum. Hana seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, karena lelaki seperti Hiro sama sekali tak peduli.
Hiro melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Shima berada. Kawannya itu sudah terbangun, tetapi masih telentang di atas tempat tidur.
"Hiro..." panggil Shima dengan suara paraunya. Dia mencoba duduk, namun Hiro langsung mencegahnya.
__ADS_1
"Jangan bodoh, Shima! tetaplah telentang di kasurmu!" perintah Hiro, yang sontak dituruti oleh Shima.
Sebuah kursi yang kebetulan berada samping tempat tidur, segera diduduki Hiro. Dia menatap iba kepada sahabatnya. Kepalanya terus berpikir keras dalam selang beberapa menit. Pertanyaan Shima bahkan hanya terdengar samar-samar ditelinganya. Alhasil Hiro perlahan menegakkan badannya dan berkata, "Shima, aku rasa... aku sudah siap mengajarimu ninjutsu!"
Shima yang mendengar, merasa sangat bersemangat. Dia reflek hendak memberikan pelukan, akan tetapi sekujur badannya menolak, hingga akhirnya Shima mengaduh kesakitan.
"Eeii! Shima, jangan berlebihan. Lagi pula kau tidak tahu betapa sulitnya latihanmu nanti!" geram Hiro, hampir melayangkan pukulannya, namun diurungkan karena banyaknya luka di tubuh Shima.
Hiro memilih pulang lebih dahulu. Membiarkan Shima tinggal bersama Kogoro. Hal itu karena keadaan Shima yang masih belum sepenuhnya pulih. Lagi pula, Kogoro juga memberi pesan untuk memastikan keadaan Shiro, yang tengah sendirian berada di rumah.
Di tengah larutnya malam, Hiro nekat pulang sendirian. Toh dia sudah terbiasa. Apalagi sekarang dia berada di abad-21, yang mana tengah malam tidak akan sepi seperti pada zamannya dulu.
Dari kejauhan, atensi Hiro dialihkan pada keributan yang terjadi di sebuah klub malam. Dia melihat lelaki dan wanita sedang mengomeli seorang perempuan yang sedang terduduk di tanah. Perempuan tersebut terlihat mengenakan dress selutut dengan lipstik merah menyala. Anehnya Hiro merasa sangat mengenali perempuan yang di omeli itu.
'Bukankah dia Akira?' batin Hiro dengan keadaan mata yang terbelalak. Dia bergegas menghampiri, namun langkahnya terhenti ketika melihat Akira bersimpuh ke arah wanita yang mengomelinya.
Akira tampak menghapus air mata yang menitik di pipinya. Dia bersikeras menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja. Setelah terlihat saling berbicara serius dengan wanita di hadapannya, Akira lantas ditinggalkan seorang diri.
Hiro lekas-lekas bersembunyi, ketika Akira tiba-tiba mengarahkan pandangan kepadanya.
Mengenai apa yang dilihatnya, membuat Hiro berpikir keras. Dia merasa kalau Akira melakukan pekerjaan beresiko. "Apa dia bekerja sebagai wanita malam?" gumamnya. Namun langsung ditepisnya sendiri pikiran itu.
'Tidak, tidak. Aku tidak boleh menyimpulkan sebelum mendapatkan buktinya!' ucap Hiro dalam hati. Besok hari, dia bertekad memata-matai Akira.
__ADS_1