
Hiro langsung menggeleng pelan. Tentu dia menolak usulan Shima. Melatih satu orang saja dirinya kesulitan, apalagi banyak orang.
"Aku bisa saja melakukannya, tetapi tidak bisa sendirian. Apa menurutmu ada yang benar-benar menguasai ahli bela diri? orang yang cocok untuk menjadi pelatih?" tanya Hiro. Menatap Hana serius.
"Mungkin Chen Fu! tetapi..." Hana perlahan membisu.
"Tetapi apa?" desak Hiro.
"Chen Fu dan saudara kembarnya tidak bersedia mengajari siapapun. Tidak ada yang berminat untuk belajar kungfu," jelas Hana panjang lebar.
"Memangnya kenapa?" balas Hiro tak percaya.
"Aku tidak tahu alasannya. Makanya orang-orang di sini lebih banyak memilih berlatih tinju," ujar Hana berusaha menjelaskan lagi.
"Ngomong-ngomong siapa di sini yang kemampuan tinjunya paling hebat?" Hiro memposisikan diri duduk di hadapan Hana.
"Menurutku Jun. Dia lelaki botak yang suka bermain judi." Hana memberitahu.
"Maksudmu orang yang tadi sempat menyalahkanku?" tebak Hiro. Dia mengingat lelaki berkepala botak yang tadi menyebut Hiro sebagai penyebab celakanya Kogoro.
"Hiro, bukankah semua ini akan memakan waktu yang lama?" Shima yang baru saja menghabiskan semua rotinya, akhirnya angkat bicara.
Hiro menghela nafas panjang ketika mendengar ungkapan Shima. Harus berapa kali dirinya mendengar keluhan serupa dari sahabatnya tersebut.
"Aku tidak tahu harus bagaimana untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Tunggullah! aku yakin Kogoro baik-baik saja." Hiro menepuk pelan pundak Shima.
"Hiro benar! Kogoro adalah lelaki yang cerdik. Aku juga yakin kalau pamanmu masih baik-baik saja," tutur Hana ikut berusaha menenangkan. Pembicaraan mereka berakhir disitu.
__ADS_1
Hiro langsung menemui Chen Fu dan Jun. Dia ingin adanya kerjasama. Yaitu membimbing para penghuni apartemen Guree yang memiliki niat berlatih sungguh-sungguh. Jun tidak butuh lama untuk setuju. Tetapi tidak bagi Chen Fu dan Chang Feng, keduanya bersikukuh menolak.
"Hiro, aku tidak se-ahli yang kau pikirkan. Apa kau tahu? aku dulu adalah murid yang terburuk dibanding temanku lainnya!" Chen Fu memberi alasan berdasarkan dari kejujuran.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana dengan saudaramu? dia pasti setuju kan?" bola mata Hiro kini menatap ke arah Chang Feng. Namun dia langsung mendapat gelengan kepala. Pertanda kalau Chang Feng juga menolak tawaran Hiro.
"Ya sudah, aku memang tidak bisa memaksa. Berarti hanya aku dan Jun yang akan membantu semua orang berlatih." Hiro berlalu pergi dengan perasaan kesal. Chen Fu dan Chang Feng tetap diam. Keduanya teguh pada pilihan mereka.
Keesokan harinya, Hiro berjalan menyusuri jalanan sendirian. Musim dingin hampir berakhir. Pepohonan nampak sudah mengeluarkan bunga-bunga kecil nan kuncup.
Dari kejauhan Hiro menyaksikan ada tiga mobil yang terparkir di depan pintu pagar rumahnya. Matanya sontak menyipit. Kakinya digerakkan lebih cepat. Hiro penasaran terhadap orang-orang yang berkunjung ke rumahnya. Akan tetapi ketika dirinya sudah hampir tiba ke depan pagar, mata Hiro membulat sempurna. Dia melihat ada beberapa orang Nakagawa, sedang mengobrak-abrik rumah Shima dan juga kediamannya. Dirinya bisa tahu, karena ada dua wajah tidak asing yang pernah dilihatnya saat ada di rumah Nakagawa.
Hiro bergegas bersembunyi. Menaiki pagar rumah tetangganya dan berlindung di sebuah bonsai yang tumbuh merapat. Di sana dia memasang kedua telinganya baik-baik. Mencoba mengetahui apa maksud dan tujuan datangnya orang-orang Nakagawa.
"Aku tidak menemukan apa-apa di sana!"
"Mustahil! jika tidak ada, terus kenapa Kogoro datang ke hotel bersama mereka?! cepat! kita harus temukan tiga orang itu, nanti bos marah!" suara bariton yang terdengar sangar berbicara. Dia berkomunikasi dengan rekannya. "Kogoro sialan! dia memberikan nama samaran kepada tiga orang misterius itu!" tambahnya lagi.
"Kenapa bos tidak membunuhnya saja?!"
"Dasar bodoh! jika dia mati, maka kita tidak bisa menemukan tiga orang misterius itu. Lagi pula, bos masih membutuhkan Kogoro untuk bisnis serbuk permatanya."
"Apa kita kembali saja?"
"Tidak! kita akan tunggu sampai penghuni rumahnya pulang. Lihat jemuran di sana, itu adalah pertanda kalau rumah ini baru ditinggalkan penghuninya!"
Pembicaraan orang-orang Nakagawa berakhir. Selanjutnya mereka terdengar berjalan melangkah jauh.
__ADS_1
'Jadi saat ke hotel, Kogoro memberikan identitas palsu untuk kami? pantas saja, orang-orang Nakagawa kesulitan melacakku dan Shima.' benak Hiro menduga-duga. 'Serbuk permata? bukankah itu obat terlarang yang sempat kucoba dulu?... Ah, entahlah. Yang penting sekarang aku sudah tahu, kalau Kogoro masih hidup,' sambungnya lagi dalam hati.
Hiro yang telah mengetahui tujuan orang-orang Nakagawa, bergegas pergi dari persembunyian. Dia memilih keluar dari pagar bagian belakang rumah tetangganya. Yang ada dipikirannya hanyalah Akira. Hiro takut ibunya tersebut akan keburu pulang ke rumah. Alhasil dia sekarang berlari menuju penatu tempat Akira bekerja.
"Hiro, kenapa kau ke sini? apa ada sesuatu yang terjadi?" timpal Akira. Dia langsung menyadari kehadiran sang putra saat tidak sengaja menoleh ke jendela. Kini dirinya keluar dari penatu dan menghadapi Hiro.
"Kapan Ibu akan pulang ke rumah?" bukannya menjawab, Hiro malah berbalik tanya.
"Mungkin sekitar lima jam lagi. Kenapa?" balas Akira dengan dahi yang berkerut.
Hiro terdiam dalam selang beberapa menit. Dia berupaya mengumpulkan keberanian untuk memberitahukan segalanya. Mata Akira segera terbelalak ketika mengetahui orang-orang Nakagawa mendatangi kediamannya.
"Bagaimana mereka bisa tahu? apa yang telah kau lakukan, Hiro?!" Akira mengguncang pundak sang putra histeris. Rasa paniknya perlahan muncul. Hiro mencoba sebisa mungkin untuk menenangkan.
"Bukan karena aku! mereka sedang mencari Kogoro!" terang Hiro. Dia terpaksa menutupi beberapa fakta agar ibunya tidak diserang panik yang parah.
"Kogoro?... benarkah?" Akira mulai tenang. Tetapi dia masih merasa penasaran. Hiro lantas menceritakan semuanya kepada sang ibu. Terutama mengenai siapa jati diri Kogoro yang sebenarnya. Hiro menceritakan pekerjaan ilegal yang digeluti oleh paman dari Shima tersebut.
Akira tidak percaya dengan kebenaran dari sosok Kogoro. Dia berharap Kogoro mendapat keajaiban dan bisa selamat. Namun sebenarnya wanita itu tidak percaya diri dengan harapannya. Dia tahu betul, keluarga Nakagawa tidak akan melepaskan tawanannya dengan mudah. Ekspresi Akira tampak datar. Menatap kosong ke arah depan, yang disertai pikiran berkecamuk.
"Aku akan menunggumu selesai. Kita hari ini lebih baik jangan pulang ke rumah. Aku akan membawamu ke tempat aman." Hiro mengajak Akira untuk menginap ke apartemen Guree.
Tempat-tempat di apartemen Guree sendiri, sangatlah banyak yang kosong. Akan tetapi hampir semuanya belum dibersihkan dengan baik. Alhasil Hiro berinisiatif menyuruh ibunya bermalam di apartemen Hana. Lagi pula gadis tersebut sudah saling mengenal dengan Akira. Sedangkan Hiro sendiri tidur bersama Shima dan Shiro, di kediaman Kogoro.
Tiga hari telah terlewati. Musim dingin sepenuhnya reda, dan berganti menjadi musim semi. Hiro, Shima beserta para penghuni apartemen Guree terus meluangkan waktu untuk berlatih bersama. Mereka mungkin masih jauh dari level profesional, tetapi setidaknya dengan adanya latihan yang rutin, tubuh mereka akan terbiasa dan kuat.
Hiro harus kembali bersekolah. Jujur saja, hingga sekarang dia masih belum bisa menemukan cara untuk menyelamatkan Kogoro. Dia terus memikirkan saran dari lelaki tua dalam mimpinya, namun Hiro tetap saja berada di jalan buntu.
__ADS_1