Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 94 - Bertemu Katashi


__ADS_3

Pesawat telah selesai lepas landas. Sudah berada ditahap penerbangan stabil. Penumpangnya diperbolehkan untuk bersantai.


Itsuki mengajak Hiro dan Izumi duduk ke sofa. Menikmati hidangan beserta minuman.


"Kalian tidak boleh meminum alkohol. Biar aku saja!" ucap Itsuki sambil menanai wine dari pramugari dengan gelasnya.


Izumi memutar bola mata sebal dan membalas, "Tidak menyenangkan. Harusnya kau tidak ikut bersama kami sekarang!"


"Alasan utamaku di sini adalah untuk mengawasi kalian!" Itsuki menunjuk ke arah Hiro dan Izumi secara bergantian. Kemudian menghirup wine yang ada dalam gelasnya. Dia terus menatap ke arah Hiro yang sedari tadi terdiam.


"Hiro, kau pasti juga sedang sama kesalnya seperti Izumi!" timpal Itsuki sedikit terkekeh geli.


"Begitukah menurutmu?" Hiro menatap tajam Itsuki. Lelaki yang wajahnya sama persis seperti Goku itu bersikap sangat menyebalkan.


"Kau pasti masih kesal dengan kekalahanmu tempo hari kan?" tukas Itsuki, yang hanya direspon Hiro dengan dengusan kasar.


Akibat merasakan pitam yang sudah di ujung tanduk, Hiro bergegas beranjak pergi ke toilet. Dia tidak tahan lagi menyaksikan lagak angkuh dari seorang Itsuki.


Hiro berada di dalam toilet. Dia mencoba menghubungi Shima. Mencari tahu kabar Akira.


"Hiro, aku baru saja mau meneleponmu. Ibumu tidak ada di tempat kerjanya. Katanya dia sudah pulang sejak kemarin. Kami tidak tahu dia ada dimana, coba kau hubungi dia lagi!" terang Shima dari seberang telepon.


"Apa? bagaimana mungkin? kalian sudah mencoba mencarinya ke rumah?" tanya Hiro. Dia mulai merasa cemas.


"Belum. Sekarang kami sedang dalam perjalanan ke sana!" jawab Shima, dengan nada suara yang terdengar tergesak-gesak.


"Baiklah. Hubungilah aku nanti lagi!" ujar Hiro. Lalu segera mematikan panggilan lebih dahulu, sebab suara ketukan langsung mengalihkan atensinya.


Setelah memasukkan ponsel ke saku celana, Hiro pun membukakan pintu. Ternyata orang yang sedari tadi mengetuk adalah Izumi. Gadis itu hanya memberitahu kalau sebentar lagi pesawat akan mendarat. Dia menyarankan Hiro untuk bersiap.


"Hiro!" Izumi menghentikan langkah Hiro. Menunjukkan mimik wajah yang terkesan serius.


"Apa benar kau ada terlibat dengan insiden kebakaran di hotel Starlive?" tanya Izumi dengan nada pelan. Sekali-kali dia menoleh ke arah pintu, takut kalau-kalau kakaknya akan muncul.


"Maksudmu?!" Hiro sontak membulatkan mata.

__ADS_1


"Itsuki memberitahuku kalau kau menjadi salah satu orang yang terlibat," jelas Izumi.


Hiro terdiam seribu bahasa. Dia tentu merasa tertangkap basah. Namun setidaknya dirinya tahu sekarang bahwa Itsuki telah mengetahui kedok Hiro yang sebenarnya. Semuanya berkat gadis yang tidak tahu apa-apa, dan sedang berdiri di hadapannya. Terus saja mengamati Hiro. Menunggu jawaban pasti.


Baru saja Hiro mengangakan mulut, pengumuman pemberitahuan dari Pilot terdengar. Mengurungkan niat Hiro untuk bicara. Lima menit lagi pesawat akan mendarat. Hiro dan Izumi bergegas duduk dikursi.


Setibanya di bandara. Hiro, Izumi dan Itsuki melanjutkan perjalanan dengan menaiki mobil. Hiro sebenarnya terpikir untuk kabur. Namun dia tetap memegang tekadnya, kalau dirinya akan mendapatkan informasi penting di villa Katashi. Lagi pula Hiro sedari tadi tidak bisa lepas dari pengamatan Itsuki. Seolah-olah Itsuki memang sengaja mengawasinya agar tidak melarikan diri.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di villa Katashi. Bangunan tersebut tampak besar, desainnya sendiri seperti rumah khas Jepang pada umumnya. Terdapat ukiran bunga sakura di pintu dan jendela. Ada juga kolam berhiaskan bunga teratai berwarna putih, dipenuhi oleh ikan koi.


Dua orang pelayan menyambut kedatangan Izumi dan Itsuki. Sedangkan Hiro hanya mengekori dari belakang. Pelayan ikut-ikutan menyambutnya, karena Hiro datang bersama kedua tuan muda mereka.


Hiro terus melangkah. Dia tidak hirau dengan Izumi yang terlihat menoleh beberapa kali ke arahnya. Perhatian Hiro hanya tertuju ke depan. Seorang lelaki paruh baya yang sudah duduk bersila di pavilion berukuran sedang. Dari perawakannya, Hiro yakin lelaki paruh baya itu adalah Katashi. Kumis dan janggutnya sama persis seperti Takeda.


Kilas balik ingatan Hiro ketika dibunuh kembali lagi. Wajah yang tidak menampakkan rasa bersalah sekarang berhadapan dengannya. Katashi menoleh dan tersenyum. Mengangkat gelas seloki berisi teh hijau. Dia melambaikan tangan, entah kepada siapa. Bisa untuk Hiro, Izumi atau Itsuki.


"Silahkan duduk..." Katashi menunjuk tempat yang masih kosong di sisi kanan, kiri dan depannya.


Itsuki lebih dahulu duduk. Dia berada di sebelah kanan Katashi. Sedangkan Izumi di sebelah kirinya. Sementara Hiro terpaksa harus duduk berhadapan dengan Katashi. Dia sama sekali tidak masalah terhadap hal tersebut.


"Benar." Hiro mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum.


"Senang bertemu denganmu Hiro. Izumi dan Itsuki sudah menceritakan banyak hal tentangmu. Terutama Izumi..." Katashi memandang Hiro serius.


"Lebih baik kita makan dahulu. Lalu kita bisa mengobrol sepuas mungkin. Lihat Izumi! wajahnya terus ditekuk sedari tadi, aku yakin dia sedang kelaparan!" celetuk Itsuki. Sengaja menghentikan pembicaraan Hiro dan Katashi.


"Tadi aku sudah makan di pesawat!" balas Izumi, sinis.


"Aku tahu. Tetapi yang aku tahu, Hiro belum makan!" Itsuki menunjuk ke arah Hiro. Menyebabkan semua atensi orang langsung tertuju ke arahnya.


Hiro lantas tidak punya pilihan selain menikmati hidangan yang ada. Memakan semuanya dengan perasaan yang berat. Dia tentu kehilangan dahaga laparnya akibat menyaksikan wajah-wajah yang menyebalkan disekitarnya.


Hanya butuh waktu beberapa menit, Hiro terlihat sudah menghabiskan semua makanan. Dia sekarang mengelap sudut bibirnya dengan sehelai tisu.


"Hiro, apa Izumi adalah gadis yang baik?" tanya Katashi tiba-tiba. Menghentikan kegiatan Hiro yang tadinya hendak menyesap teh hijau-nya.

__ADS_1


"Ayah! apa-apaan!" Izumi menegur Katashi. Kedua pipinya mendadak bersemu merah. Katashi yang melihat hanya mengusap puncak kepala putrinya tersebut.


"Aku rasa begitu," jawab Hiro sambil menganggukan kepala.


Katashi malah tergelak kecil dalam sesaat. Kemudian melayangkan pelototan tajam dan berucap, "Putriku pasti sangat bermanfaat untukmu!"


Deg!


Perkataan Katashi membuat jantung Hiro berdegub akibat merasa dibuat begitu kaget. Dia yang sedari tadi terus menunduk untuk berpura-pura ramah, kini mendongakkan kepala. Membalas tatapan tajam Katashi.


"Ayah, apa maksudmu?" tanya Izumi. Dia satu-satunya orang yang tidak mengerti.


"Kau pikir dirimu adalah ayah yang baik untuknya? perlukah aku mengatakan semua kedok rahasiamu kepada putrimu ini?!" Hiro tidak bisa menahan diri lagi. Dia tidak ingin terlihat bodoh lagi di depan musuhnya. Lagi pula dirinya sadar, kalau Itsuki dan Katashi sudah tahu semuanya. Buat apa Hiro terus-terusan berbohong.


"Hiro, kau..." Izumi kebingungan. Dia panik sembari menatap nanar ke arah tiga lelaki yang ada di hadapannya.


"Izumi, temanmu ini sudah menipumu." Itsuki bersuara. Dia ikut memojokkan Hiro.


"A-apa?! kenapa--"


"Izumi, ayah dan kakakmu adalah orang-orang jahat. Mereka sudah banyak membunuh orang, serta melakukan bisnis ilegal lainnya. Mereka berlagak terhormat di hadapanmu, dan--"


"Anakku, jangan dengarkan dia. Aku dan Itsuki adalah keluargamu. Apa kau mau mempercayai lelaki yang sudah memanfaatkan belas kasihmu ini?" Katashi memotong ucapan Hiro. Merangkul pelan pundak Izumi.


Mata Izumi mulai berkaca-kaca. Perlahan dia menatap ke arah Hiro. "Benarkah itu, Hiro? ka-kau hanya memanfaatkanku? jadi kau benar-benar terlibat dengan insiden kebakaran di hotel?" tanya-nya dengan suara yang bergetar. Izumi mencoba menahan tangisnya.


Hiro menelan salivanya sendiri sambil memejamkan mata rapat. Dia merasa tidak bisa membohongi Izumi lagi. Apalagi keadaan gadis itu sekarang tampak menyedihkan.


"Maafkan aku..." lirih Hiro. Tidak berani menatap Izumi. Menyebabkan Katashi dan Itsuki saling bertatapan dan tersenyum menang.


Izumi bergegas bangkit dari tempat duduk. Berniat ingin berlari, akan tetapi Hiro berhasil mencegatnya.


"Tetapi aku tidak berbohong mengenai ayah dan kakakmu Izumi! mereka juga sama denganku! bahkan lebih buruk--" Hiro tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika dua orang pengawal memegang erat kedua tangannya. Menyeretnya hingga menjatuhkannya ke tanah.


"Izumi! kau harus mencari tahunya! aku punya alasan melakukan semua ini!" pekik Hiro. Tangan kuat Itsuki mulai melingkar dilehernya. Membuat tenggorokannya seketika tercekat hebat.

__ADS_1


"Istirahatlah Izumi, aku akan mengurus orang yang berulah kepadamu ini seperti biasanya!" ujar Itsuki. Tersenyum kepada sang adik.


__ADS_2