Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 96 - Melawan Itsuki [Final Fight 1]


__ADS_3

Hiro dibiarkan terkurung cukup lama. Dia hanya mengetahui siang dan malam lewat ventilasi yang ada. Bersandar ditembok sambil menghela nafas berat beberapa kali. Hiro hanya diberi makan satu kali sehari. Dia menghitung kalau dirinya sudah terkurung selama tiga hari.


"Woy! siapapun!" Hiro berteriak puluhan kali ke arah ventilasi. Berharap ada seseorang yang mendengar dan dapat menolongnya.


'Aku tidak mungkin akan mati di sini kan?' benak Hiro mulai bertanya-tanya. Mengenai nasib yang diterimanya sekarang. Apalagi Akira, dia sama sekali tidak mengetahui keadaan ibunya tersebut.


Suara jangkrik terdengar dari luar. Cahaya matahari berganti menjadi lampu. Hiro duduk sambil memeluk kedua kakinya. Menjadikan lututnya sandaran untuk kepala.


Bunyi derap langkah kian mendekat. Kemudian membuka kunci pintu dimana Hiro dikurung. Perlahan pintu terbuka. Sosok Izumi membuat mata Hiro sontak terbelalak.


Izumi terlihat memasang tatapan kosong. Wajahnya sembab, seolah baru saja selesai menangis. Rambutnya yang biasanya tampak rapi kini agak berantakan.


"Tamparlah dia sepuasnya Izumi!" Itsuki muncul dari belakang Izumi. Dia menyaksikan dari kejauhan.


"Izumi... kau--"


Plak!


Izumi benar-benar melakukan perintah kakaknya. Yaitu menampar Hiro. Membuat ucapan Hiro otomatis terpotong.


"Aku sudah mencari tahu semuanya..." Izumi berucap sangat pelan sambil berjongkok. Dia memegangi dagu Hiro. Berlagak seolah sedang marah kepada.


"Dan kau benar, Hiro... ayah dan kakakmu memang lebih buruk darimu," lanjut Izumi lagi.


"Nikmatilah Izumi, aku akan tinggalkan kalian berdua!" kata Itsuki. Dia mempercayai adiknya, dan segera beranjak pergi.


"Izumi... maafkan--"


"Tetapi bukan berarti aku memaafkanmu bodoh!" Izumi melepaskan dagu Hiro dengan kasar. Dia perlahan kembali berdiri. Mengharuskan Hiro mendongakkan kepala untuk menatapnya.

__ADS_1


"Selamat tinggal Hiro... ini akan menjadi terakhir kalinya kita bertemu..." ucap Izumi. Tanpa sengaja cairan bening dimatanya menetes lagi. Dia merasakan pengkhianatan terlalu banyak dari orang-orang yang dikasihinya. Termasuk Hiro.


Sebelum berbalik badan, Izumi melepaskan sebuah kunci dalam genggaman tangannya. Terjatuh tepat di depan mata Hiro. Kemudian berlalu pergi tanpa menutup pintu Hiro kembali.


Hiro lekas-lekas mengambil kunci yang ada di depannya. Sebelum menggunakannya dia menatap ke arah Izumi terlebih dahulu.


"Izumi!" panggilan Hiro tidak membuat Izumi menghentikan langkah kakinya. Gadis tersebut terus berjalan maju. Saat itulah seluruh listrik yang ada di bangunan tiba-tiba mati. Langsung menghilangkan jejak seorang Izumi dimata Hiro. Suara derap langkahnya bahkan semakin samar ditelinganya.


Hiro pun bergegas menggunakan kuncinya. Dia tahu kunci yang diberikan Izumi diperuntukkan untuk melepaskan rantai besi dikakinya. Hiro hanya bisa menggunakan indera perabanya untuk melepaskan rantai besi.


Benar saja, kunci yang diberikan Izumi langsung mampu membuka rantai besinya. Hiro sekarang berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Dia hanya bisa melihat dengan bermodalkan dari pendar cahaya yang ada di ventilasi. Hiro benar-benar tidak mengerti kenapa listriknya mendadak mati.


'Apakah ini rencana Izumi?' batin Hiro dalam hati. Dia terus melangkah maju, seraya berpegangan pada dinding yang ada di sampingnya.


Hiro baru saja berniat naik ke tangga. Namun dari kejauhan dia dapat mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Hiro otomatis bersembunyi, dan menunggu sosok itu muncul.


Tak! Tak! Tak!


Hiro melucuti baju yang dikenakan lelaki tersebut, lalu segera memakainya. Dia juga tidak lupa untuk mengambil senter dan pisau lipat yang ada dalam genggaman tangan lelaki itu.


Kini Hiro melanjutkan jalannya untuk menaiki anak tangga. Ketika sudah di atas, dirinya menyaksikan semakin banyak bawahan Nakagawa. Ada sekitar lima orang lebih. Mereka tampak kebingungan terhadap matinya listrik di bangunan.


Berbeda dengan Hiro, yang malah senang dengan matinya listrik, dan berusaha memakai kesempatanya sebaik mungkin.


Hiro memilih masuk ke ruangan terdekat. Mencoba mencari sesuatu yang dapat membantunya untuk melakukan perlawanan. Namun bukannya menemukan senjata, dia malah menemukan denah bangunan. Sebuah keberuntungan bagi Hiro.


Hiro lantas memperhatikan denah bangunan yang dilihatnya. Dia berupaya mencari tempat penting atau lokasi dimana Akira berada.


Dor! Dor! Dor!

__ADS_1


Suara tembakan peluru dari arah luar membuat Hiro tersentak kaget. Orang-orang Nakagawa terdengar berlarian dan beranjak pergi. Sepertinya mereka sedang berupaya untuk mencari tahu lokasi sumber tembakan.


Hiro memeriksa lewat jendela. Matanya sedikit menyipit tatkala menyaksikan beberapa orang berpakaian ninja. Mereka menyusup di antara semak dan pepohonan.


'Mereka siapa? Apakah Shima dan kawan-kawan? Ataukah orang lain?' Hiro penasaran. Menerka-nerka dalam pikirannya. Akan tetapi dia harus membuang rasa penasarannya itu terlebih dahulu, agar dirinya bisa fokus. Hal utama bagi Hiro sekarang adalah menemukan Akira, mencari informasi dan kalau perlu, membunuh Itsuki dan Katashi.


Hiro membuka pintu dengan pelan. Menggerakkan bola matanya ke segala arah. Memastikan orang-orang Nakagawa telah pergi. Dia kemudian berjalan menyusuri lorong sambil memegangi pisau ditangannya.


Menurut denah yang Hiro lihat tadi, ada beberapa ruangan terpencil di bagian utara bangunan. Tata letak ruangan tersebut mengingatkan Hiro dengan ruang tawanan yang pernah ditemukannya saat di basement hotel. Dia merasa kalau Akira ada di sana.


Saat asyik melajukan langkahnya, tanpa sengaja Hiro berpapasan dengan Itsuki membuat matanya sontak membulat sempurna.


"Hiro!!! siapa yang melepaskanmu?!" geram Itsuki. Matanya membuncah hebat. Marah, dan seolah akan memakan Hiro hidup-hidup.


"Sudah kubilang kalau kau akan membayar semua kesalahanmu!" Hiro berusaha menghujamkan pisau ke perut Itsuki. Namun tangan Itsuki dengan sigap mencegahnya. Keduanya lantas saling beradu kekuatan.


"Aaaaargghhhh!!!" Itsuki berhasil mendorong. Sehingga Hiro terjatuh ke lantai. Pisaunya terlepas begitu saja dari tangannya. Tetapi dia tidak ingin terlalu berlama-lama diam di tempat. Hiro akhirnya berdiri dan berlari menjauh dari Itsuki untuk sementara. Dirinya berniat mencari lokasi yang menguntungkan untuk berkelahi.


"Lihat! kau berlari lagi seperti seorang pecundang!" pekik Itsuki. Jaraknya semakin jauh dari belakang.


Hiro masuk ke sebuah gudang. Di sana dia bergegas memposisikan dirinya berada di atas pintu. Berpegangan pada ujung dinding yang bisa dijadikannya untuk mengapit badannya. Dirinya tinggal menunggu Itsuki masuk. Maka Hiro akan langsung menyerang tanpa ampun.


Dor!


"Woy! Itsuki, aku ada di sini!" suara seorang lelaki menarik atensi Hiro. Dia yakin itu adalah suara Shima. Sahabatnya tersebut berhasil mengalihkan perhatian Itsuki.


Dor! Dor!


Shima terdengar terus menembakkan pelurunya. Hiro yang khawatir bergegas turun dari tempat persembunyian.

__ADS_1


"Lawanlah aku tanpa senjata bodoh itu, pecundang bodoh! kau pikir aku tidak tahu siapa kau!" ucap Itsuki. Dia mampu menghindari timah panas yang meluncur ke arahnya dengan baik.


Dari belakang Itsuki, Hiro perlahan keluar. Dia menyaksikan Shima berpakaian ninja. Matanya sontak langsung bersibobrok dengan Shima. Hiro lantas meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Bermaksud menyuruh sahabatnya agar terus mengalihkan perhatian Itsuki.


__ADS_2