Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 31 - Momen Di Bilik Karoke


__ADS_3

Hiro tidak membuang kesempatannya. Dia yang tidak kuasa menahan hasrat lelakinya, menyambar bibir tipis milik Sakura. Salah satu tangannya perlahan menjalar dengan nakal, hingga membuat darah disekujur badan Sakura berdesir hebat. Sakura yang sepertinya memang memiliki niat itu dari awal, menerima dengan senang hati perlakuan Hiro terhadapnya.


Sementara Shima terlalu sibuk menghayati lagu yang dinyanyikannya. Dia saling berangkulan dengan Hima. Tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya di belakang. Melompat-lompat tidak karuan, karena mengikuti ketukan nada lagu bertempo cepat yang dilantunkannya.


Satu menit berlalu, lagu pun berakhir. Hima yang tidak sengaja menoleh ke belakang, kini mengetahui kegiatan temannya. Dia hanya membulatkan mata, lalu mengajak Shima keluar dari bilik karoke.


"Eh, eh... apa yang kau--" kalimat Shima terhenti saat dirinya tidak sengaja melihat apa yang dilakukan Hiro dan Sakura. Alhasil dia segera mengikuti Hima, dan memberikan sedikit privasi untuk sahabatnya.


Hiro menggeliatkan mulutnya dengan lihai. Membuat deru nafas Sakura mulai ngos-ngosan, hingga menimbulkan suara yang membuat Hiro semakin bersemangat.


"Mmpphh..."



Matahari sudah tenggelam ke ufuk barat. Lalu-lalang alat transportasi tampak gemerlapan dengan dua lampu di depannya. Bukannya bertambah sepi, kota Kyoto malah semakin ramai dengan para pejalan kaki. Kebanyakan dari mereka baru saja pulang dari kantor. Musim gugur menyebabkan sebagian besar dari mereka telah menggunakan mantel.


Hiro baru saja keluar dari tempat karoke. Dia melepas kepergian Sakura dan Hima. Senyuman dan lambaian tangan dilakukannya untuk menunjukkan salam terakhir. Sekarang dia tinggal menunggu Shima yang tak kunjung keluar dari toilet.


"Hiro..." Shima akhirnya muncul. Di bagian bibirnya terdapat sedikit warna lipstik pemberian dari Hima. Dia tampak linglung, dengan keadaan wajah seperti orang mabuk. Wajar saja, itu adalah pengalaman pertama untuk seorang Shima, yang katanya tidak pandai memikat hati para wanita.


"Sial, apa Hima juga melakukannya?" timpal Hiro, tak percaya. Dia kemudian terkekeh dan membawa Shima masuk ke dalam rangkulannya.


"Hahaa! Shima, masih ada lipstik Hima disekitaran bibirmu!" ujar Hiro sambil melangkahkan kakinya. Masih dalam keadaan merangkul sahabatnya.

__ADS_1


"Benarkah?" Shima segera mengusap area bibirnya dengan kasar. Selanjutnya dia dan Hiro saling tergelak bersama. Perlahan tangan Shima membalas ikut melingkar dipundak Hiro. Keduanya semakin senang, karena semua biaya saat di karoke tadi ditanggung oleh Sakura. Jadi uang mereka masih utuh. Kemungkinan mereka berniat bersenang-senang lagi di lain waktu.


Hiro dan Shima berjalan menyusuri trotoar bersama. Menuju tempat dimana mereka akan melakukan temu janji dengan Izumi.


Di sisi lain, tepatnya di sebuah cafe bertemakan seni klasik. Izumi sudah menunggu di salah satu meja. Dia mengenakan mantel panjang selutut berwarna abu-abu, dengan rok pendek serta sepatu bot bermerek ternama. Sebuah topi baret juga menutupi puncak kepalanya. Gadis itu telah memesan segelas Americano hangat sambil terus menatap keluar jendela. Helaan nafas telah beberapa kali dihembuskan dari mulutnya. Padahal kedatangannya baru saja terjadi sekitar lima menit yang lalu.


Jam yang melingkar di salah satu pergelangan tangannya sesekali dilirik oleh bola matanya. Kini jari-jemarinya yang digerakkan, diketuk-ketukkannya ke meja. Hal kecil itu berhasil sedikit menghilangkan kebosanannya.


Sepuluh menit berlalu, barulah kelihatan batang hidung Hiro dan Shima. Izumi yang tadi duduk malas menyandar ke kursi, segera menegakkan badannya. Memasang raut wajah cemberut diparasnya. Seolah dirinya telah menunggu terlalu lama.


"Maaf terlambat." Hiro segera menarik kursi yang ada di depan Izumi, kemudian mendudukinya. Di ikuti Shima yang memilih kursi di samping kanan Hiro. Dua lelaki tersebut tidak peduli dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Izumi. Persetan pada gadis itu, yang jelas sekarang mereka sedang memiliki mood baik.


Shima malah mengambil lembar menu. Lalu memanggil pelayan, memesan minuman untuk dirinya dan juga Hiro. Tidak lupa, dua porsi burger sebagai menu makan malam mereka.


"Burger itu makanan seperti apa?" bisik Hiro ke telinga Shima. Pembawaan wajahnya masih tampak berseri-seri. Namun Shima malah terkekeh kala mendengar pertanyaan konyol Hiro. Tingkah yang ditunjukkan keduanya benar-benar membuat Izumi sebal. Gadis itu seolah dianggap benda pajangan yang diabaikan.


Karena merasa kesal, Izumi menghantam meja dengan lima cap jarinya. Menyebabkan Hiro dan Shima tersentak kaget. Semua pasang mata sontak tertuju kepadanya. Akan tetapi dia sama sekali tak hirau.


"Hei idiot! aku tidak akan membuang waktu sekarang untuk melihat kegilaan kalian!" tukas Izumi yang kini merubah tangannya menjadi kepalan tinju. Matanya menatap tajam ke arah Hiro.


"Tenanglah Izumi-chan, kenapa kau sangat serius? lagi pula misi kita hanya akan mencuri sebuah tas tak berguna kan?" balas Hiro santai. Menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Mencuri?" respon Izumi seraya mengarahkan bola mata ke kanan atas. Memikirkan satu kata yang menarik perhatiannya. Sebab dia enggan mengakui kalau dirinya adalah pencuri.

__ADS_1


"Jika kau tidak ingin membuang waktu, lebih baik cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan!" Shima ikut bersuara. Sepertinya kejadian beberapa menit yang lalu membuat rasa percaya dirinya perlahan muncul.


Izumi hanya berseringai remeh. Sebelum bersuara dia meminum Americano-nya terlebih dahulu.


"Hana adalah sepupuku. Dia bersekolah tidak jauh dari sini. Meskipun anak itu agak bodoh, tetapi dia sangat hebat untuk mendapatkan barang-barang berharga. Terutama yang limited edition. Dan yang aku tidak suka darinya, Hana selalu meremehkanku, katanya aku tidak punya sesuatu yang dimilikinya!" jelas Izumi sembari membayangkan wajah menyebalkan sepupunya.


"Aku sebenarnya tidak mau kalian mencuri. Tetapi lebih ke arah menipunya!" ucap Izumi. Seketika membuat Hiro dan Shima terdiam seribu bahasa.


Izumi sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Hiro dan Shima. Dia hendak berbicara dengan nada pelan.


"Kalian bisa menyamar menjadi pembersih, atau tukang servis air. Apalah, pokoknya kalian harus berhasil masuk ke dalam apartemen Hima atas ijinnya."


"Jika dia sepupumu, kenapa kau tidak lakukan sendiri saja?!" timpal Hiro yang sebenarnya masih merasa aneh dengan kemauan Izumi.


"Hiro, aku dan Hana adalah musuh. Ayah dan ibunya juga tidak memiliki hubungan yang baik dengan ayahku. Jadi... kau tahu? aku tidak akan diperbolehkannya masuk ke apartemennya." Izumi memberitahu dengan panjang lebar. Kemudian dia mengambil ponsel dari tas selempang kecilnya. Berniat memperlihatkan foto Hana kepada dua lelaki yang sedang duduk satu meja dengannya.


Terpampanglah penampakan foto Hana yang seketika membuat mata Hiro dan Shima membulat sempurna. Bagaimana tidak? wajah gadis tersebut sama persis dengan siswi yang tadi mengaku bernama Sakura.


"Kau yakin namanya Hana?" tanya Hiro dengan dahi yang mengerut dalam.


"Bukankah dia Sakura?" komentar Shima, yang juga sedang menyibukkan diri menilik foto di layar ponsel Izumi.


"Apa kalian mengenalnya?" tanya Izumi penasaran. Dia dapat melihat dengan jelas kebingungan yang ditunjukkan dua lelaki di hadapannya.

__ADS_1


Hiro dan Shima hanya saling berpandangan. Mereka sepertinya mempunyai pemikiran yang sama.


"Tunggu, apa gadis itu membohongi kita?" ungkap Hiro menerka-nerka terhadap apa yang telah terjadi. Entah kenapa tangannya reflek meraba bagian saku celana. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ah benar, dompet yang berisi uang sisa pemberian Amira telah musnah dari tempat penyimpanannya.


__ADS_2