
Hiro memutar bola mata jengah. Keinginan Shima agak berat untuknya. Apa lagi dia belum pernah melatih seseorang di kehidupan sebelumnya. Atau lebih tepatnya dia membenci itu. Menjadi seorang guru tidaklah mudah.
"Shima-Kun, kau--"
Bruk!
Pintu mendadak terhempas nyaring. Tampaklah Izumi tengah mencengkeram rambut Junko dengan beringas. Dia menyeret gadis berkacamata itu hanya dengan cara menarik helaian rambutnya yang panjang. Kemudian segera melemparkannya ke lantai. Kejadian tersebut sontak membuat ucapan Hiro terhenti. Shima bergegas menarik Hiro, dan mengajaknya untuk bersembunyi.
Junko sekarang terjerembab sambil merengek. Sesekali sebelah tangannya memperbaiki kacamata yang tidak sengaja bergesar akibat tersentak. Rambutnya tampak acak-acakan dengan disertai getaran tubuh.
"Bukankah kau sudah tahu aku tidak suka susu!" Izumi menendang badan Junko sekali. Dahinya mengerut kesal. Disertai pose angkuh berkacak pinggangnya. Dia benar-benar terlihat seperti perundung handal.
"Apa-apaan? kenapa gadis gila itu memukulinya?" tanya Hiro yang merasa geram dengan tindakan Izumi terhadap Junko.
"Aku sarankan kita tidak usah ikut campur!" usul Shima. Tangannya memegang pundak Hiro.
"Kenapa? kau takut karena dia seorang perempuan?" timpal Hiro, melirik sinis ke arah Shima.
"Bukan begitu, Izumi lumayan jago bela diri dan dia--"
"Aku tidak takut!" sebelum Shima menyelesaikan kalimatnya, Hiro sudah terlanjur berjalan menuju ke arah Junko dan Izumi.
"Hiro!" panggil Shima, yang akhirnya terpaksa keluar dari tempat persembunyiannya. Sebenarnya bukan kekalahan yang dikhawatirkan Shima, melainkan efek yang akan diterima Hiro jika berani mengganggu Izumi. Sebab gadis tersebut berasal dari keluarga yang terbilang berkuasa di Jepang. Jadi, akibatnya akan runyam jika seseorang sengaja membuat masalah dengannya.
Beberapa bulan lalu pernah ada seorang siswa yang berani melakukan perlawanan terhadap Izumi. Dan sekarang siswa itu dikeluarkan dari sekolah, hingga tidak mampu melanjutkan pendidikannya dimana pun. Sebab keluarga Nakagawa menjadikan namanya masuk ke daftar merah, agar siswa itu tidak diterima di berbagai sekolah yang ada.
Hiro berjalan menghampiri Junko, dan membantunya berdiri. Matanya langsung melotot tajam ke arah Izumi. Sedangkan gadis yang dipelototinya hanya berseringai remeh sembari melipat tangan di depan dada.
"Amnesia sepertinya bisa merubah seorang pecundang menjadi pahlawan," ujar Izumi seraya berderap mendekat. "Hiro, bukankah kau selalu berpihak kepadaku? apa kau sudah melupakannya?" Izumi memasang wajah seolah sedih. Jari telunjuknya tampak memainkan rambut merahnya.
"Hanya orang bodoh yang bersedia berada dipihakmu!" tukas Hiro sambil mencoba membawa Junko untuk pergi. Namun Izumi langsung menghalangi jalan. Gadis tersebut mencengkeram kerah baju Hiro, lalu mendekatkan wajahnya.
"Bagaimana? apa jantungmu berdebar? jantung tidak akan mengalami amnesia juga kan?" Izumi menempelkan jidatnya ke dahi Hiro.
"Aku tidak suka berdekatan dengan gadis terkutuk sepertimu. Enyahlah dari hadapanku!" Hiro mendorong dahi Izumi dengan kasar. Gadis berambut merah menyala tersebut hampir saja terjatuh ke lantai. Mulutnya hanya bisa menganga tak percaya. Matanya pun menyalang kesal ke arah Hiro yang sudah berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Izumi-chan, kau tidak apa-apa?" tanya Eri cemas.
"Apa aku terlihat baik-baik saja sekarang, hah?!" balas Izumi, kemudian menghentakkan sebelah kakinya dengan keras ke lantai. Satu teriakan penuh amarah keluar dari mulutnya. Kedua tangannya mengepal tinju. Izumi sekarang memasukkan nama Hiro untuk diadukan kepada ayahnya.
Shima berlari mengejar Hiro. Dia sedikit ketinggalan, karena diam sebentar untuk menyaksikan Izumi marah. Lelaki berambut cepak itu berusaha memberikan saran kepada Hiro.
"Shima, kenapa kau membela gadis terkutuk itu?" tukas Hiro, yang merasa tingkah Shima begitu berlebihan.
"Kau tidak mengerti, Izumi memang perempuan, tetapi dia bukanlah lawan yang mudah."
"Omong kosong, apa dia anak seorang kaisar?"
Shima menepuk jidatnya sendiri. Karena dirinya sempat lupa kalau Hiro yang sekarang bukanlah Hiro sebenarnya. Alhasil Shima pun menjelaskan semuanya. Termasuk bagaimana kekuasaan kelas atas terhadap orang-orang biasa di zaman sekarang. Apalagi Katashi Nakagawa, selaku ayahnya Izumi tidak hanya berkecimpung di dunia bisnis. Lelaki paruh baya itu juga sedang menggeluti dunia politik. Atau lebih tepatnya sudah menjadi wakil gubernur kota Kyoto.
"Mungkin kau bisa menyamakan Izumi dengan anak seorang kaisar, yah begitulah perumpamaannya," terang Shima seraya mendengus kasar.
"Kenapa kau tidak bilang dari awal?!" balas Hiro dengan dahi yang berkerut.
"Aku sudah berusaha mencegahmu, tetapi kau selalu saja mengabaikannya!" sergah Shima. Dengan nada penuh penekanan. Menyebabkan Hiro reflek melayangkan pukulan ke rambut cepak milik Shima.
...***...
Bel pertanda pulang berbunyi. Semua murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Mereka saling berdahuluan untuk pulang lebih dahulu.
Hiro tengah berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Dia menatap heran ke seorang siswi yang asyik bicara sendiri, sedangkan sebelah tangannya tampak memegangi sebuah ponsel.
Shima menyusul, dia memposisikan dirinya berada di samping Hiro. Shima menatap Hiro dengan sudut matanya.
"Sepertinya benar, kamu memang orang dari masa lalu," celetuk Shima, yang sontak mengharuskan Hiro menoleh ke arahnya. Dia dapat melihat ekspresi bingung dan penasaran Hiro, kala mengamati seorang siswa sedang berbicara melalui telepon.
"Benda yang berada di telinga siswi itu namanya--"
"Ponsel, aku tahu. Tetapi kenapa siswi itu berbicara pada benda mati begitu?" Hiro menuntut jawaban.
"Aku akan mengajarimu." Shima mengambil ponsel yang tersimpan di saku celananya. Dia menjelaskan Hiro tentang bagaimana cara menghubungi seseorang melalui telepon. Sekarang dia membiarkan Hiro mempraktikannya sendiri.
__ADS_1
"Tunggu, bagaimana tadi?" Hiro terlihat kebingunan, sampai-sampai dia tidak mengalihkan atensinya dari layar ponsel.
"Ya ampun, kau lebih payah dari nenekku!" sarkas Shima. Dia terpaksa mengulangi penjelasannya. Lelaki itu sepenuhnya percaya bahwa jiwa yang ada dalam tubuh sahabatnya memanglah bukan Hiro.
Shima sengaja berjalan menjauhi Hiro. Agar penggilan telepon pertama sahabatnya itu dapat meyakinkan.
"Halo? Senpai... bisakah kau mengajariku bela diri ninjutsu?" tanya Shima dari seberang telepon. Dia berdiri di seberang jalan. Saling berhadapan dengan Hiro dari kejauhan.
"Wah! Shima-kun, aku bisa mendengar suaramu dari sini. Hebat sekali, bagaimana bisa?" jawab Hiro histeris senang. Dia semakin mengagumi ponsel yang sekarang berada dalam genggamannya. Shima yang menyaksikan dari jauh hanya terkekeh. Kemudian kembali berjalan menghampiri Hiro. Keduanya pun segera pulang ke rumah masing-masing.
Hiro melangkah sambil terus mengutak-atik ponselnya. Matanya menampakkan binar kekaguman. Hingga jarinya pun tidak sengaja memencet tombol musik. Lagu dari penyanyi Hikaru Utada yang berjudul Goodbye Happines terputar otomatis di ponselnya.
...đ”...
...So goodbye loneliness...
...(Jadi selamat tinggal kesepian)...
...æăźæ ćŁăăăă§...
...(Bernyanyi bersama untuk sebuah lagu cinta)...
...ăăȘăăźçłă«æ ăç§ăŻçŹăŁăŠăăă...
...(Tercermin dalam matamu, aku tertawa)...
...So goodbye happiness...
...(Selamat tinggal kebahagiaan)...
...đ”...
Hiro tersentak kaget. Dia tidak tahu cara mematikan musik yang sekarang berbunyi di ponsel. Jari-jemarinya menyentuh dengan asal. Raut wajahnya terlihat begitu panik. Hingga akhirnya dia pun terpaksa meminta bantuan seorang lelaki yang kebetulan lewat. Saking paniknya, Hiro tidak begitu memperhatikan wajah dari lelaki yang sekarang berada di hadapannya.
"Tolong, bisakah kau mematikan suaranya?! kumohon..." ucap Hiro sembari menyodorkan ponselnya.
__ADS_1
"Tentu saja, ponsel ini tidak akan bersuara lagi untuk selamanya. Karena akan dihitung sebagai pembayaran hutangmu dan ibumu," sahut lelaki itu. Dia ternyata adalah salah satu rentenir yang mendatangi rumah Hiro tempo hari.