
Kenikmatan mungkin dirasakan oleh Hiro. Akan tetapi tidak untuk Shima. Dia tersiksa menghadapi Yutaro. Meskipun lelaki paruh baya itu sangat ramah, Shima merasa gelagat Yutaro sangatlah aneh. Seperti memandang ke arahnya dengan tatapan dalam.
Shima dan Yutaro sedang duduk menikmati hidangan. Saling bersebelahan dengan keadaan pengawal yang tak hentinya mengikuti. Begitulah Yutaro, selalu kemana-mana di iringi pengawalnya, makanya Kogoro kesulitan melancarkan aksi penipuannya. Itulah alasan dirinya butuh bantuan Shima dan Hiro.
"Shima-Kun, apa kamu siap mengetahui bocoran tentang sekuel video game kesukaanmu? kebetulan aku menyimpannya di dalam ponselku." Yutaro bertutur kata pelan. Tangannya memegangi salah satu bagian paha Shima.
Shima tersenyum kecut. Seratus persen! ada yang aneh dengan Yutaro. Untung saja ponsel Shima berbunyi, jadi dia punya alasan untuk menghindar sebentar. Lelaki berambut cepak tersebut menjaga jarak Yutaro, lalu mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Kogoro.
"Iya, Paman?" ujar Shima. Meletakkan ponsel dibagian telinga kanannya.
"Aku sudah di sini. Apa kau dan Hiro berhasil mendekati Yutaro?" timpal Kogoro, bicara di seberang telepon.
"Aku sedang bersamanya sekarang, tetapi Hiro belum muncul juga sejak tadi. Ini sudah setengah jam lebih!" gerutu Shima seraya memperhatikan ke arah tangga. Sebab dirinya tahu kalau Hiro tadi berjalan ke sana.
"Aku sudah meneleponnya berkali-kali, tetapi tidak di angkat! apa yang sebenarnya dia lakukan?!" sahut Kogoro.
"Aku tidak tahu! sekarang Yutaro semakin aneh. Bisakah kau membantuku?" Shima gelagapan. Berharap sang paman dapat membantunya dari jerat Yutaro.
"Kau tenang saja. Coba panggil Hiro sebisa mungkin! jika tidak bisa, lebih baik kau jalankan saja rencananya. Bawa Yutaro jauh dari keramaian!" saran Kogoro.
Shima langsung menutup panggilan telepon, lalu mencoba menghubungi Hiro. Benar saja, sahabatnya itu sama sekali tidak menjawab. Sudah berapa kali nafas dihelanya dengan berat.
Akibat tidak ada respon sedikit pun, Shima mencoba berjalan menaiki tangga, namun usahanya tentu segera dihalangi oleh para pengawal yang berjaga.
"Tetapi aku harus menemui Hiro, dia tadi ke sana bersama Izumi!" Shima melakukan pembelaan diri, berusaha semaksimal mungkin mempengaruhi para pengawal.
"Kau hanya bisa masuk, jika salah satu keluarga Nakagawa mendampingimu!" pengawal tetap tegas.
"Izumi temanku! coba tanya saja dia!" seru Shima dengan dahi yang berkerut dalam.
__ADS_1
"Tetap tidak bisa." Si pengawal tetap pada pendiriannya.
Shima berdecak kesal, dan terpaksa mengurungkan niat. Dia lantas tidak punya pilihan lain selain menjalankan tugas seorang diri. Kembali berjalan menghampiri Yutaro.
"Kenapa lama sekali?" tukas Yutaro. Dia nampak kesal, karena terlalu lama menunggu.
"Maaf, pamanku tadi menelepon." Shima menjawab dengan asal, kemudian segera mengubah topik pembicaraan. Yaitu mengenai perihal sekuel video game yang sedari tadi terus disinggung oleh Yutaro.
"Aku akan beritahu kamu, tetapi tidak di sini!" Yutaro bangkit dari tempat duduknya. Senyuman tipis melengkung dibibirnya. Dia segera mengajak Shima ke sebuah ruangan yang tidak lain adalah kamar tamu.
"Tunggulah di luar!" perintah Yutaro kepada pengawalnya. Alhasil dia dan Shima hanya berduaan di dalam kamar. Seketika firasat buruk mulai bergumul menghantui pikiran Shima.
"Duduklah!" Yutaro mendorong Shima untuk duduk di kasur. "Aku tahu kau juga tertarik denganku kan?" lelaki berperut buncit itu berseringai sambil membuka ikat pinggangnya.
"Shima, apa kau tahu gosip tentang perselingkuhanku?" ucap Yutaro, yang kini sudah melepaskan ikat pinggang dari celananya.
"Mungkin..." Shima menjawab ragu.
Mata Shima sontak membulat sempurna. Sekarang dia paham dengan maksud Kogoro tentang fakta bahwa Yutaro menyukai lelaki muda. Selain itu, dirinya jelas mengerti alasan dibalik tatapan nakal dan sikap ramah dari Yutaro.
'Sialan!' Shima mengumpat dalam hati.
Di sisi lain, tepatnya di area dapur. Kogoro terjebak dengan kekangan dari kepala koki. Dia terus disuruh-suruh. Dari mulai memasak, mengiris sayuran serta mencuci piring.
Ketika Kogoro berusaha menghindar, pasti selalu saja ada yang menegurnya. Sebab suasana di dapur benar-benar seperti peperangan.
"Aarggh! dasar bocah, kenapa dia tidak kunjung mengangkat panggilanku!" keluh Kogoro sembari menggertakkan gigi kesal. Dia mencuri kesempatan untuk menelepon Hiro. Kogoro seperti menghubungi nomor berhantu. Sepi dan hanya dijawab dengan suara perempuan yang menyebut kalau pemilik nomor sedang sibuk.
Kogoro mencoba menyelinap keluar dari dapur, namun lagi-lagi usahanya tidak membuahkan hasil.
__ADS_1
"Hei! kau mau kemana?!" pekik sang ketua koki, yang mengharuskan pergerakan kaki Kogoro terhenti.
Sementara itu di ruang kerja Katashi. Hiro dan Izumi dalam tahap mengatur deru nafas. Mereka telah menyelesaikan kegiatan intim. Melepaskan dan saling memisah sejenak. Hiro mengubah posisi menjadi duduk, kemudian bergegas mengenakan pakaian.
Berbeda dengan Izumi, karena itu pengamalaman pertamanya. Dia merasa lemah dan masih merasakan sensasi kegiatan tadi.
Hiro baru saja memeriksa ponselnya. Dia menyaksikan ada puluhan panggilan tak terjawab. Dirinya baru teringat dengan perihal rencana Kogoro. Alhasil Hiro berniat cepat-cepat pergi. Sebelum beranjak, dia merelakan jasnya untuk menutupi seluruh badan Izumi yang masih telanjang.
"Kau mau kemana..." Izumi bertanya dengan suara parau. Matanya dalam keadaan mengerjap malas. Sedangkan tangannya memegang lemah lengan Hiro.
"Aku mau ke toilet dulu," jawab Hiro sembari melepaskan pegangan Izumi dengan pelan.
"Kau harus kembali lagi!" Izumi melebarkan kelopak matanya. Menatap lugas Hiro.
"Kenapa?" Hiro penasaran.
"Untuk apa bertanya lagi, kalau sudah tahu." Izumi perlahan menutup matanya dan lanjut berucap, "pokoknya kau harus bermalam di sini."
Setelah menyeringai mendengar ucapan Izumi, Hiro bergegas keluar dari ruangan. Tangannya dengan cekatan mengusap layar ponsel, kemudian menghubungi Shima.
"Hiro! syukurlah kau menjawab. Ini gila! aku terpaksa harus mengikat Yutaro dengan kabel listrik. Untung saja dia tidak ahli bela diri, makanya aku bisa menumbangkannya!" Shima menjawab panik dari seberang telepon.
"Apa yang terjadi? kau tidak apa-apa kan?" tanya Hiro, melangkah dengan tergesak-gesak. Dia berjalan ke arah dapur untuk menjemput Kogoro.
"Untuk sekarang, aku baik-baik saja. Tetapi Yutaro terus mempelototiku!"
Setelah mendengar Shima baik-baik saja, Hiro langsung masuk ke area dapur. Semua pasang mata otomatis tertuju kepadanya. Hiro sengaja menampakkan raut wajah marah, agar dirinya dapat membawa pergi Kogoro dari dapur lebih cepat.
"Siapa di sini yang bernama Kogoro?! dia harus menyelesaikan masalahnya denganku!!" Hiro memekik lantang. Dia mampu mengeluarkan amarah kepura-puraannya secara maksimal.
__ADS_1
Orang-orang yang ada di dapur segera menunjukkan tangan ke arah Kogoro. Tidak ada yang peduli dengannya. Apalagi semua pekerja di dapur sangat menghormati tamu acara, jadi mereka tentu membiarkan Kogoro pergi bersama Hiro.