
Keadaan hotel Nalagawa Starlive terbakar parah. Puluhan lebih pemadam saling bergantian untuk mematikannya. Kejadian itu berhasil menarik perhatian semua orang. Baik awak media atau pun masyarakat sekitar.
Sementara Hiro dan yang lain sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Hana sudah lemah dan mengeluarkan darah semakin banyak. Gadis tersebut sekarang berada dalam pelukan Hiro, karena lelaki itu kebetulan duduk di sampingnya.
Jun baru saja menerima panggilan telepon dari ponselnya. Dia mengatakan kalau sebagian orang-orang Nakagawa telah kembali ke apartemen Guree. Kecuali Kogoro, Chang Feng dan Chen Fu. Mereka sedang berada di rumah sakit.
"Itu bagus. Sebab jika semuanya ikut ke rumah sakit, mungkin orang-orang akan mencurigai kita. Apalagi jika komplotan Nakagawa mencari kita," ungkap Hiro yang dilanjutkan dengan helaan nafas panjang.
Jun menghentikan mobilnya di depan rumah sakit. Hiro bergegas keluar dan menggendong Hana masuk ke rumah sakit. Pihak medis segera menyambut, dan membawa Hana yang sudah direbahkan di kasur beroda. Gadis itu lalu dibawa ke unit gawat darurat.
Sedangkan Hiro dan Shima sama-sama berobat. Keduanya kebetulan hanya memiliki luka kecil. Kinerja satu orang perawat pun cukup untuk menangani mereka. Kini baik Hiro maupun Shima, tengah berada di toilet. Keduanya membasuh muka dan beberapa titik tubuh yang kotor.
"Aku rasa kita harus membeli baju baru," imbuh Shima seraya menatap pantulan dirinya dicermin.
"Tenang saja, aku tadi sudah menyuruh Jun untuk membeli pakaian baru untuk kita," sahut Hiro. Dia berada di salah satu bilik toilet. Duduk sambil menatap kosong ke pintu yang ada di depannya.
"Syukurlah..." respon Shima. Dia kemudian beranjak lebih dahulu karena harus mengurus Kogoro. Pamannya itu sedang di impus dan hanya butuh istirahat yang banyak, agar bisa sehat kembali.
Hiro berjalan malas menyusuri koridor rumah sakit. Langkahnya terhenti saat berada di depan ruang unit gawat darurat. Jika Chen Fu sedang menjaga Chang Feng, Shima mengurus Kogoro, maka Hiro kebagian untuk berada disisi Hana. Hiro berharap proses operasi Hana dapat berjalan dengan lancar. Hingga dia dapat melihat gadis tersebut sehat lagi.
Jun berderap menghampiri Hiro. Dia memposisikan diri duduk di sebelah. Lalu menyerahkan tas karton yang berisi pakaian baru.
"Aku akan pergi memperbaiki mobil. Jika temanku mengetahui mobilnya hancur, maka matilah aku!" celetuk Jun. Dia menepuk pelan pundak Hiro, kemudian beranjak pergi. Namun saat itulah Shima datang dan menggantikan Jun untuk menemani Hiro.
"Bagaimana kabar pamanmu?" tanya Hiro.
__ADS_1
"Dia terlihat kelelahan. Sedang tertidur sangat pulas. Jika dia sadar aku akan memberimu kabar!" balas Shima. Selanjutnya dia dan Hiro kembali terdiam.
Beberapa jam telah berlalu. Proses operasi Hana telah selesai, dan berjalan dengan lancar. Hiro dan Shima merasa sangat senang. Keduanya memeriksa keadaan Hana. Gadis itu memejamkan mata, pertanda kalau dia masih belum sadarkan diri.
Hiro mencoba untuk tidur. Dia berupaya menutup matanya rapat-rapat, namun rasa kantuk tak kunjung datang. Atensinya mendadak tertuju ke arah Shima yang tampak terpaku memandangi Hana.
"Kau menyukai Hana?" timpal Hiro, yang tentu saja membuat Shima kaget bukan kepalang.
"A-apa? kenapa kau menyimpulkan begitu? tentu saja tidak!" bantah Shima. Tergagap di awal, tetapi terdengar tegas di akhir.
"Awas saja kalau kau berbohong." Hiro melakukan tatapan menyelidik.
Shima tiba-tiba berdiri, dan segera beranjak pergi. Dia beralasan kalau dirinya harus menjaga Kogoro.
"Kau mau bertukar? bagaimana kalau aku yang menjaga Kogoro, dan kau di sini bersama Hana?" ujar Hiro yang masih duduk menyandar dikursinya.
"Hiro, aku harus menjaga pamanku!" Shima menegaskan. Kemudian pergi keluar ruangan.
Hiro yang merasa bosan, berpindah duduk ke depan jendela. Menyaksikan kesibukan kota Tokyo yang selalu dipenuhi manusia dan alat transportasi. Hampir satu jam dia mematung di sana. Ketika Hiro mengalihkan pandangan ke belakang, Hana terlihat sudah bangun. Mata gadis itu tampak mengerjap beberapa kali. Nampaknya dia baru saja siuman.
"Hana, sejak kapan kau sadar?" Hiro berjalan mendekat dan duduk di ujung kasur tempat Hana telentang.
"Baru saja." Hana meliarkan bola matanya ke sekeliling. Mencoba mencari tahu petunjuk tentang lokasi dimana dirinya berada. "Kita di rumah sakit?" tanya-nya memastikan. Hiro lantas mengangguk untuk mengiyakan.
Hana perlahan merubah posisinya menjadi duduk.
__ADS_1
"Hei! jangan bergerak terlalu banyak. Bagaimana kalau lukamu berdarah lagi?!" Hiro memarahi dengan dahi yang berkerut. Dia langsung mendapat tatapan tajam dari Hana.
"Maafkan aku Hana, suasana hatiku terasa buruk sekarang..." Hiro lekas-lekas meminta maaf. Dia sadar diri ketika menyaksikan tatapa tajam yang dilayangkan Hana. Sikap marahnya terkesan berlebihan. Padahal Hiro bisa menegur dengan cara baik-baik.
"Kau juga harus beristirahat. Aku yakin kau juga merasa sangat lelah," ujar Hana. Menatap serius. Dia bisa tahu dari sikap Hiro yang sensitif.
"Aku sudah mencoba, tetapi apa yang aku rasakan sekarang membuat mataku sulit untuk tertidur." Hiro berterus terang. Dia merasa gagal total, saat tidak berhasil menemukan informasi yang dicari-carinya. Belum lagi, dengan beberapa orang apartemen Guree yang sudah mati, serta teman-temannya yang terluka akibat rencananya. Raut wajah Hiro benar-benar menampakkan kekecewaan yang mendalam. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya.
Hiro menundukkan kepala. Berkecamuk dengan banyak hal dikepalanya. Dalam pikirannya mendadak terlintas mengenai jadwal pertemuannya dengan Katashi. Dia berpikir dirinya bisa mendapatkan informasi penting saat berkunjung ke villa Katashi nanti.
"Ah benar!" Hiro kini mengangkat kepala penuh semangat. Sepercik kepercayaan diri muncul lagi. "Hana, aku akan berusaha mencari informasi, saat aku dan Izumi menemui Katashi. Aku akan pastikan itu! dan--" Hiro menjeda kalimatnya, ketika tangan Hana tiba-tiba memegangi lengannya.
"Beristirahatlah, Hiro..." saran Hana, matanya tampak berbinar. Dia menangkup wajah Hiro, kemudian memberikan sebuah ciuman hangat. Tidak bernafsu, akan tetapi lebih tulus dari biasanya.
Hiro hanya membeku. Namun bibirnya ikut bergerak untuk merespon sentuhan Hana. Merasa berbeda dengan ciuman Hana yang terkesan lembut, Hiro lantas melepaskan tautan bibirnya. Dia memasang wajah biasa, seolah tidak ada apapun yang terjadi.
"Apa kau lapar? aku yakin kau lapar!" kata Hiro sambil berdiri. Dia tidak berani menatap Hana, dan hanya berderap menuju pintu keluar.
'Sial! Hana kenapa serius sekali?!' batin Hiro seraya keluar dari tempat Hana dirawat.
Ketika melangkah keluar dari area rumah sakit, perhatian Hiro langsung tertuju kepada gerombolan lelaki yang tidak asing untuknya. Berbadan kekar, tinggi dan sangar. Siapa lagi kalau bukan orang-orang Nakagawa. Salah satu lelaki bertubuh besar juga terlihat, dia mencelingak-celingukan kepalanya seakan mencari-cari sesuatu.
Hiro berpikir kalau orang-orang Nakagawa tersebut mungkin saja mencarinya dan para penghuni apartemen Guree. Perasaannya mulai dirundung kecemasan. Apalagi Kogoro juga sedang masih dalam perawatan.
"Kenapa harus sekarang!" gerutu Hiro sembari memegangi jidatnya dengan satu tangan. Dia pun bergegas menemui teman-temannya, untuk memberitahukan kabar tentang kedatangan orang-orang Nakagawa.
__ADS_1