Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 81 - Tawaran Izumi


__ADS_3

Setelah mendapatkan mimpi yang dirasa aneh, Hiro membasuh wajah sekaligus membersihkan diri. Setelah selesai, Hiro berdiri di depan cermin. Menatap pantulannya sambil mencoba berpikir. Dia berusaha memahami apa yang dikatakan lelaki tua dalam mimpinya. Terutama tentang cara menyelinap yang menggunakan alarm kebakaran. Namun lelaki tua tersebut mengatakan Hiro harus melakukan cara yang berbeda dari sebelumnya. Itulah yang membuatnya bingung.


"Cara yang berbeda? bukankah alarm itu hanya bisa digunakan dengan cara ditekan? apanya yang berbeda? apakah kakek itu menipuku?" gumam Hiro. Sedikit meringiskan wajah akibat belum juga menemukan jawaban.


Hiro akhirnya memutuskan untuk segera pergi ke apartemen Guree. Dia hendak memastikan keadaan Shima. Mungkin saja sahabatnya itu masih dirundung kekalutan. Apalagi Kogoro merupakan satu-satunya keluarga yang Shima miliki selain Shiro.


Ketika baru keluar dari pintu pagar, Hiro langsung disambut dengan kedatangan Izumi. Tanpa melihat sosoknya pun dia bisa tahu dari aroma parfumnya yang semerbak. Dia datang sendirian. Tampaknya Izumi berhasil lepas dari jerat pengawal yang ditugaskan Itsuki untuk menjaganya. Gadis tersebut selalu punya cara demi mewujudkan keinginannya.


"Kenapa kau tidak bilang mau ke sini?" tanya Hiro gelagapan. Bola matanya terus mengarah ke rumahnya. Berharap Akira tidak muncul. Dia pun segera membawa Izumi menjauh dari lingkungan rumahnya.


"Kau tidak mengangkat teleponku. Malah membalas pesanku dengan satu kata 'Sibuk'. Karena itulah aku ingin memastikan kejujuranmu, makanya aku datang ke sini!" ungkap Izumi sembari menarik paksa tangannya dari genggaman Hiro.


"Membalas pesanmu? aku tidak..." Hiro menjeda ucapannya saat baru teringat kalau dirinya sudah menitipkan ponselnya kepada Hana. Jadi, kesimpulannya Hana-lah yang membalas pesan dari Izumi.


"Hiro, apa benar aku bisa mempercayaimu?! kau bersikap begini karena merasa bangga sudah mendapatkanku?!!" timpal Izumi dengan wajah masam.


"Tentu saja kau bisa mempercayaiku! akhir-akhir ini aku hanya kelelahan bekerja paruh waktu bersama Shima." Hiro berkilah. Sengaja menampakkan raut wajah sedih seakan frustasi.


"Seharusnya kau jujur saja kepadaku. Kenapa menutupinya?" balas Izumi yang perlahan iba.


"Karena aku tahu diri. Aku hanya lelaki kolot dan miskin, yang kebetulan berteman dengan orang kaya sepertimu," tutur Hiro asal. Dia langsung menyesali perkatannya barusan. Itu terlalu berlebihan untuknya.


'Sial, apa yang aku katakan!' gerutu Hiro dalam hati. Dia membuang muka malu ke samping.


"Kau sudah makan?" tanya Izumi. Mengubah topik pembicaraan. Dia sepertinya tidak mau mendengar Hiro terus merendah. "Ayo kita ke cafe, aku akan metraktirmu makanan enak!" tawarnya melangkah lebih dahulu memasuki mobil. Hiro terpaksa mengiringi. Sebab jika dia menolak maka kemungkinan dirinya akan kehilangan kepercayaan Izumi. Nanti Hiro malah tidak mendapat kesempatan untuk menemui Takeshi.

__ADS_1


Sudah hampir tiga jam lebih Hiro duduk bersama Izumi. Keduanya duduk saling berhadapan, sambil menikmati hidangan di sebuah cafe.


"Hiro, ayahku sudah menyisihkan jadwal untuk pertemuannya denganmu. Dia mengajakmu untuk makan malam. Tetapi bukan di Tokyo," celetuk Izumi yang baru saja menelan minumannya.


"Jadi? dia ingin bertemu dimana?" tanya Hiro, penasaran.


"Di villa-nya yang ada di gunung fuji. Ayahku sering menghabiskan waktu istirahatnya di sana. Apalagi kalau pikirannya sedang merasa stress," jelas Izumi. Kedua tangannya sibuk memegangi sendok dan garpu.


"Ayahmu stress?" respon Hiro. Dia sebenarnya sangat penasaran terhadap sosok Katashi.


Izumi mengangguk pelan. Dia melipat tangan di atas meja. Kemudian mencondongkan kepala ke arah Hiro. Izumi berbisik seraya meletakkan salah satu tangannya di samping mulut, "Ayahku sedang mengkhawatirkan perihal ramalan dari cenayang akhir-akhir ini."


"Ramalan?" Hiro menuntut jawaban kembali.


"Iya, katanya cenayang itu mengatakan kalau apa yang dia miliki sekarang akan menghilang dalam sekejap. Seperti ditelan bumi, pfffft!" Izumi bercerita dengan tawa kecilnya. Membuktikan kalau dirinya tidak mempercayai segala apa yang telah dikatakan oleh cenayang.


"Itsuki hanya memberitahuku begitu. Jujur, aku dan kakakku kewalahan meyakinkan ayah." Pengetahuan Izumi sampai disitu. Hiro yang baru saja mendengar sekarang tahu, mengenai pembicaraan Itsuki saat di pemandian umum.


'Sepertinya Katashi cemas dengan ramalan cenayang itu. Makanya dia berusaha mencari orang yang menurutnya akan kembali. Yaitu Manami Yamada, yang tidak lain adalah Akira. Apakah Itsuki ditugaskan untuk membunuh Akira? Mungkin itulah alasan Akira merubah nama aslinya. Yaitu berjaga-jaga kalau suatu hari orang-orang Nakagawa akan mencarinya. Berarti selama ini Akira mencoba kabur dari mereka?' Pikiran Hiro menelisik dan terus mencoba memecahkan kebenaran yang muncul satu per satu.


"Ayahku aneh kan? dia masih saja percaya dengan ramalan. Padahal dia salah satu investor teknologi ternama di negeri ini. Pikirannya seharusnya logis!" celetuk Izumi. Hingga berhasil menyadarkan Hiro dari segala hal yang ada dipikirannya.


"Kau benar," jawab Hiro tersenyum. Lalu memasukkan beberapa kentang goreng ke dalam mulut.


Matahari semakin berjalan ke arah barat. Membuktikan kalau waktu sore telah tiba. Hiro dan Izumi sibuk bergelut dijalanan sepi. Sebab sesudah menghabiskan makanan di cafe, Izumi menawarkan diri untuk mengajarkan Hiro mengemudi. Kata Izumi, Itsuki banyak menghabiskan uang gara-gara membayar denda. Hal itu dikarenakan Hiro berkendara dengan cara ugal-ugalan dan banyak mengakibatkan kerusakan.

__ADS_1


"Bagus, Hiro. Kau harus bisa menstabilkan arahnya dengan menggunakan kemudinya!" ujar Izumi. Setelah percobaan yang ke-delapan barulah cara mengendara Hiro mulai mengalami kemajuan. Dia sepenuhnya paham bagaimana cara mengendalikan sebuah mobil. Senyuman puas terpatri di semburat parasnya.


Berbeda dengan Izumi. Dia harus berapa kali diserang panik, karena beberapakali Hiro hampir menabrak pohon hingga terperosok masuk ke area hutan. Mobilnya bahkan banyak mengalami lecet. Padahal mobil tersebut baru dibeli semenjak kejadian penculikannya beberapa waktu lalu.


"Aku sudah bisa disebut ahli bukan?" ungkap Hiro percaya diri. Dia menghentikan mobilnya ke pinggir jalan.


"Tidak!" ketus Izumi, lalu mendengus kasar. "Harusnya aku yang pantas dibilang ahli, karena berhasil mengajari lelaki ceroboh sepertimu!" tukasnya angkuh.


Hiro tergelak kecil. Baginya sikap arogan Izumi tidak pernah berubah. Ketika sore menjelang malam, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing.



Sekarang Hiro sudah berada di apartemen Guree. Dia langsung mencari keberadaan Shima. Sahabatnya tersebut tampak berlatih bersama Chen Fu. Melihat Shima yang sepertinya belum bisa diganggu, Hiro akhirnya kembali berjalan keluar ruangan. Kebetulan dirinya bertemu Hana.


"Kenapa kau baru muncul?!" timpal Hana. "Kau harus berterima kasih kepadaku. Karena seharian ini, aku yang menemani Shima. Dia terpuruk sendirian!" tambahnya lagi.


"Maaf... aku harus mengurus sesuatu tadi!" balas Hiro memberi alasan.


"Maksudmu mengurus Izumi?" Hana mengeluarkan ponsel Hiro dari saku celana jeansnya. Dia memperlihatkan pesan dari Izumi, yang mengatakan sedang dalam perjalanan ke rumah Hiro saat pagi tadi.


"Benar! bukankah mendekatinya adalah rencana kita? kenapa kau malah memarahiku?!" Hiro mulai naik pitam dengan segala timpalan Hana.


"Bukan begitu!! kau sendiri yang bilang kan, kalau berada di samping Shima adalah yang paling utama?! lalu apa sekarang?! omonganmu tidak terbukti!" balas Hana tak ingin kalah. Saat itulah Shima tiba-tiba membuka pintu. Dia baru mengetahui keberadaan Hiro saat mendengar suaranya.


"Hiro, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu!" seru Shima. Dia tidak peduli dengan seberapa terlambatnya Hiro. Karena Hiro adalah satu-satunya harapan Shima untuk menyelamatkan Kogoro.

__ADS_1


Hana sontak terdiam. Setelah mengembalikan ponsel Hiro, dia memilih beranjak pergi.


__ADS_2