Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 93 - Pergi Bertemu Katashi


__ADS_3

Hiro sekarang berdiri bersama Shima dan Chen Fu. Mereka memilih akan tetap berada di rumah sakit.


"Yang penting kita tetap waspada. Lagi pula kita tidak bisa memaksakan mereka yang sakit untuk pergi," ujar Chen Fu. Membuat Hiro dan Shima merespon dengan anggukan kepala secara bersamaan.


Orang-orang Nakagawa memang kesulitan memeriksa semua pasien, karena banyak sekali orang yang telah menjadi korban kebakaran. Beberapa orang bahkan ada yang mengenali mereka. Sehingga membuat komplotan Nakagawa dimarahi. Para korban kesal, karena pihak Nakagawa Satarlive tidak bisa menjaga keamanan tamunya dengan baik. Hiro dan Shima yang melihat dari kejauhan lantas bisa mendengus lega.


Satu minggu berlalu semenjak insiden kebakaran. Hiro, Shima dan Hana sudah kembali ke sekolah. Mereka tentu harus melihat wajah Izumi lagi. Gadis itu tidak terpisahkan dari Hiro. Membuat kesibukan Hiro semakin bertambah. Tetapi mendekati Izumi adalah satu-satunya jalan terakhir Hiro untuk bertemu Katashi.


"Hiro, besok ayahku menyuruhmu datang menemuinya!" Izumi memberitahu Hiro setelah membaca pesan diponselnya. Dia, Hiro dan Shima sedang makan bersama di kantin. Hiro hanya menganggukkan kepala, lalu saling bertatapan dengan Shima.


"Apa kau hanya akan mengajak Hiro?" kata Shima. Dia sadar kalau Izumi hanya berbicara kepada Hiro.


"Maaf Shima, ayahku hanya menyuruh Hiro untuk datang..." Izumi menunjukkan raut wajah menyesal. Seakan merasa tidak enak dengan Shima.


"Kalau begitu, harusnya kau tidak membicarakannya di depanku!" pungkas Shima, cemberut. Membuang muka dari Izumi.


Izumi terdiam seribu bahasa. Dia memang tidak terbiasa mengucapakan kata maaf dari mulutnya. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Hiro tidak berniat membahasnya lagi.


Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Hiro, Shima dan Hana kebetulan berada dalam bus yang sama. Entah kenapa hari itu Izumi tidak menawarkan tumpangan seperti biasanya. Padahal ketika di sekolah Izumi menikmati kebersamaannya dengan Hiro.


"Aku akan pergi dengan Izumi besok. Aku akan berusaha semampuku untuk mencari informasinya!" ujar Hiro, bertekad.


"Shima tidak ikut?" tanya Hana. Menatap sekilas ke arah Shima.


"Izumi hanya mengajak Hiro!" Shima menjawabkan pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh Hiro.


"Kau sebenarnya bisa ikut jika aku bersikeras. Izumi pasti tidak punya pilihan lain," imbuh Hiro.


"Tidak perlu. Aku sudah tidak berminat!" tolak Shima tegas. Membuat Hiro reflek memutar bola mata jengah.


__ADS_1


Hari pertemuan Hiro dan Katashi telah tiba. Sebelum pergi, Hiro berniat memeriksa keadaan Akira terlebih dahulu. Namun dia malah mendapat kabar dari Hana kalau Akira belum kembali semenjak kemarin sore.


"Maksudmu?" Hiro mulai merasa gelisah. Dia segera merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.


"Kau harus meneleponnya," saran Hana.


Hiro bergegas menghubungi sang ibu melalui telepon genggamnya. Panggilan pertama sama sekali tidak ada jawaban. Tetapi saat panggilan kedua, barulah Akira menjawab. Ibunya Hiro tersebut mengatakan kalau dirinya sedang banyak sekali kerjaan. Akira juga memberitahu bahwa dia mendapatkan pekerjaan baru.


"Benarkah? pekerjaan apa itu?" timpal Hiro, curiga.


"Hiro, nanti aku akan memberitahumu. Sekarang aku sangat sibuk! berhati-hatilah..." ujar Akira dari seberang telepon. Setelahnya dia langsung mematikan panggilan secara sepihak.


"Bagaimana?" tanya Hana, penasaran. Sedari tadi dia berdiri di depan Hiro.


"Dia katanya punya pekerjaan baru. Tetapi aku merasa ada yang aneh." Baru saja Hiro memasukkan ponsel ke saku, tanpa diduga gawai-nya tersebut kembali berbunyi. Dia lantas mengangkat panggilan yang tidak lain adalah dari Izumi.


Izumi mendesak Hiro. Gadis itu katanya sudah menunggu di depan halte bus yang ada di dekat rumah Hiro.


"Sial!" umpat Hiro sembari mengusap wajah frustasi. Hana yang melihat sontak kembali penasaran.


"Tentu saja, kau tidak perlu cemas. Aku dan Shima akan memastikan Akira baik-baik saja. Pergilah!" jawab Hana. Dia tentu tidak akan menolak permohonan Hiro.


"Terima kasih!" tutur Hiro seraya tersenyum tipis. Lalu segera berlari menuju halte bus. Jaraknya sendiri cukup jauh dari apartemen Guree. Sampai sekarang Hiro tidak berniat memberitahukan Izumi, kalau dirinya sudah tinggal di apartemen Guree. Sebab gadis tersebut pasti akan marah, kala menyaksikan tampilan bangunan apartemen Guree yang lusuh. Apalagi Izumi tahu Hana tinggal di sana.


Nafas Hiro tersengal-sengal ketika tiba di hadapan Izumi. Dia mengatur deru nafasnya sejenak.


"Kau dari mana? bukankah rumahmu dari arah sana?" tanya Izumi dengan dahi yang mengerut dalam.


"Aku tadi baru saja menemui ibuku," sahut Hiro asal. Dia dalam posisi memegangi kedua lutut.


Sopir Izumi keluar dari mobil. Dia segera membukakan pintu untuk Izumi dan Hiro. Keduanya duduk di kursi belakang. Mereka segera pergi menuju bandara. Perjalanan dari Kyoto ke gunung Fuji lumayan jauh.

__ADS_1


Hiro hendak berderap lewat jalan khusus untuk penumpang pesawat umum, tetapi langsung dicegat oleh Izumi. Gadis itu lantas menunjukkan jalan yang benar.


"Aku dan keluargaku selalu menggunakan pesawat pribadi," celetuk Izumi. Dia memimpin jalan di depan. Sedangkan Hiro mengekori dari belakang.


Pesawat pribadi terlihat lebih kecil dibanding pesawat umum. Namun bagian dalamnya lebih mewah dan nyaman. Terdapat sofa dan juga bar kecil. Para pramugari dan pilot bahkan memberikan sambutan terbaik mereka.


Hiro sempat berdecak kagum. Ekspresinya tampak jelas diparasnya. Membuat Izumi yang tidak sengaja melihat reflek mengembangkan senyum. Namun senyumannya hanya berselang selama satu detik. Setelahnya dia langsung memasang mimik wajah datar.


Izumi dan Hiro sudah duduk dikursi pesawat. Namun pilot dan para pramugari terlihat masih berdiri di depan pintu. Seolah masih menantikan kedatangan seseorang.


"Kenapa kita belum berangkat. Apa ada orang lain yang akan ikut juga?" tanya Hiro.


"Iya..." lirih Izumi. Dia menundukkan kepala, tidak menatap ke arah Hiro sama sekali.


"Hiro!" Izumi tiba-tiba memegangi jari-jemari Hiro, kemudian meneruskan, "Kau--"


"Wah! Hiro-Kun. Kau sudah di sini ternyata!" kedatangan Itsuki membuat kalimat Izumi terpotong, dan reflek melepaskan tangannya dari jari-jemari Hiro.


Hiro sedikit terkejut melihat kemunculan Itsuki. Dia kini hanya bisa menampakkan salam dan senyuman palsu.


"Maafkan aku. Harusnya aku lebih cepat menemuimu, apalagi setelah melihatmu berlari terbirit-birit saat kalah melawanku," tutur Itsuki lembut. Namun perkataannya sangat menusuk dihati. Terkesan meremehkan.


"Aku harus--"


"Tetapi Izumi bilang kau baik-baik saja. Makanya aku memilih tidak menemuimu. Lagi pula pekerjaanku sangat banyak!" Itsuki menyambar bersuara lebih dahulu. Dia lalu memerintahkan pilot untuk menerbangkan pesawat. Itsuki seakan sengaja tidak mau mendengar Hiro bicara.


Hiro sekarang mengeratkan rahang kesal. Mengepalkan tinju disalah satu tangannya. Dia mencoba menahan diri.


"Hiro, pakai sabuk pengamanmu!" ucap Izumi. Dia sedari tadi mengamati gelagat Hiro, dan sesekali bertatapan dengan sang kakak.


Catatan Author :

__ADS_1


Maaf telat guys, hari ini banyak urusan kerjaan.


Btw, semoga betah terus ya, dan makasih buat yang setia. Author doakan semoga dapat pasangan yang setia : v


__ADS_2