Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 50 - Cerita Yakuza & Putri Yang Bodoh


__ADS_3

Hana berjalan lebih dahulu untuk memimpin jalan. Dia dan Hiro sedang berada di dalam lift. Perlahan bola matanya melirik ke arah satu-satunya lelaki yang berdiri di sampingnya.


"Hiro..." panggil Hana lirih. Membuat Hiro seketika membalas tatapannya. "Ini mengenai keluarga Nakagawa. Banyak hal yang harus kau ketahui," lanjutnya serius.


"Kalau begitu, kau bisa menceritakannya kepadaku sekarang!" sahut Hiro. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka, mengharuskannya dan Hana melangkah untuk keluar.


"Aku akan bercerita setelah kau menyelesaikan urusanmu," ujar Hana, berjanji. Dia lantas mengantarkan Hiro ke sebuah ruangan yang letaknya paling ujung. Bagian depan pintu ruangan tersebut tampak lusuh, seakan tidak terawat. Namun ketika Hana membuka pintunya, kelopak mata Hiro langsung melebar, karena penglihatannya disambut dengan pemandangan banyaknya komputer.


"Aku meragukan kata-kata Kogoro yang telah menyebut orang-orang ini bodoh!" celetuk Hiro, terkagum kala menyaksikan beberapa orang yang sedang sibuk dengan komputer.


"Apa kau tidak pernah ke warnet?" balas Hana, meringiskan wajah. "Tempat ini hanya seperti warnet bagiku," tambahnya memberikan penjelasan.


"Warnet? aku pernah mendengar kata itu dari Shima," respon Hiro dengan wajah polosnya. Menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tidak tahu mengenai kata yang disebutkan Hana.


"Hiro, apa kau..." Hana tidak menyelesaikan kalimatnya, akibat menyaksikan raut wajah Hiro yang terlihat sangat meyakinkan. Dia berpura-pura tidak tahu atau memang benar-benar bodoh?


"Lupakan, sekarang ayo kita bicara dengan Xen!" Hana mengajak Hiro berderap mendekati seorang lelaki dengan jaket hodie. Tubuhnya nampak berisi, dan di mejanya terdapat bungkus-bungkus kosong makanan ringan. Tidak lupa juga ada satu hingga tiga kaleng bir yang berhamburan di sekitaran bawah kursinya. Telinganya tertutupi dengan headphone. Dia terdengar berceloteh sendirian sambil fokus pada layar komputer.


Hana menepuk pundak Xen sekitar dua kali. Lalu membuka headphone-nya dengan paksa.


"Hei!!" geram Xen, tak terima dirinya diganggu.


"Aku butuh bantuanmu untuk mencari identitas seseorang!" sahut Hana, tegas. Namun yang didapatnya malah lirikan nakal dari Xen.


"Kau bisa melakukannya kan?" Hiro mendadak masuk ke dalam pembicaraan. Sedikit mencondongkan kepala ke arah komputer. Hingga menyebabkan Xen yang kebetulan berada di sebelahnya agak risih.

__ADS_1


"Tergantung, berapa kau akan membayarku," ucap Xen santai. Dia menyilangkan tangan didada dengan angkuhnya.


Hiro yang sempat merekahkan senyum, seketika merubah mimik wajahnya menjadi datar. Mendengar akan dituntut dengan bayaran, tentu dia merasa tidak akan mampu. Alhasil Hiro tak punya pilihan lain selain berniat memberikan ancaman kepada Xen. Lagi pula lelaki dengan jaket hodie tersebut tampak lemah dan jelas bukanlah lawan yang sebanding untuk Hiro. Akan tetapi sebelum Hiro melakukan aksinya, Hana sudah lebih dahulu berbicara pada Xen. Gadis itu terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Xen.


Entah apa yang dibicarakan Hana, sampai membuat Xen langsung setuju untuk membantu.


"Baiklah, aku perlu waktu untuk mencari. Selain itu, aku harus minta bantuan teman dari kepolisian. Sebab mencari informasi mengenai identitas seseorang tidak semudah membalikkan telapak tangan." Xen memberikan penjelasan. Kemudian kembali menyibukkan dirinya untuk bermain game.


Hiro dan Hana segera keluar ruangan. Mereka berjalan ke balkon yang kebetulan ada di lantai lima. Hana berniat akan membayar janjinya untuk menceritakan perihal keluarga Nakagawa.


"Aku akan mulai dengan cerita Izumi. Putri kesayangan keluarga Nakagawa. Baik itu Katashi, Itsuki, dan ibunya yang bernama Kanna," ungkap Hana sambil melipat tangannya di pagar beton yang mengelilingi balkon.


"Semua orang sudah tahu itu. Tetapi baru kali ini aku mendengar perihal ibunya Izumi," balas Hiro, memposisikan diri tidak jauh dari Hana.


"Iya, dia lebih tertutup dibanding yang lain. Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku akan menceritakan hal yang aku tahu saja kepadamu," Hana menjeda ucapannya sejenak.


"Putri? berarti dia adalah Izumi-kan?" tanya Hiro tak percaya. Dia langsung mendapatkan anggukan kepala dari Hana.


"Karena itulah aku menyebutnya gadis bodoh. Aku yakin alasan keluarganya melakukan itu karena dia seorang perempuan," terang Hana yang perlahan mengalihkan sorot matanya ke arah Hiro.


"Kasihan juga dia..." lirih Hiro, berucap dengan setengah hati.


Hana terkekeh dengan gelengan kepala. "Kasihan? meskipun posisinya begitu, tetapi dia juga bukan orang yang pantas untuk dikasihani. Bukankah kau sering melihat kelakuannya saat di sekolah? betapa kasar dan angkuhnya dia?" timpalnya yang disertai perasaan sebal. Apalagi ketika tidak sengaja membayangkan wajah Izumi dalam kepalanya.


"Ah... kau benar, aku melupakan poin itu." Hiro menyipitkan mata, karena dirinya tengah berpikir. Setelahnya, dia lantas bertanya, "Kau bilang salah satu orang Nakagawa adalah ketua Yakuza. Itu berarti kau masih belum tahu siapa ketuanya yang sebenarnya?"

__ADS_1


"Benar, sampai sekarang tidak ada yang tahu Hiro. Mereka bergerak seperti bayangan. Pernah ada orang kami yang menyamar dan berpura-pura menjadi bawahan Itsuki, tetapi belum sempat satu bulan kedoknya sudah ketahuan. Kata temanku, Itsuki langsung memenggal kepala orang kami itu dengan katana." Hana menceritakan panjang lebar.


"Apa itu berarti Itsuki adalah ketua Yakuza?" Hiro bertanya sambil memiringkan kepala.


Hana menggeleng tegas. "Aku tidak tahu. Tetapi kandidat terkuat menurutku adalah Katashi dan Itsuki." Hana memutar tubuhnya, lalu memegangi pundak Hiro. "Kau tidak takut kan? aku sebenarnya mengkhawatirkanmu."


Hiro membalas tatapan Hana dan tersenyum tipis. "Tidak ada yang aku takutkan. Aku lebih baik mati, dari pada hidup tanpa memberi pelajaran kepada Itsuki," dia seketika merubah raut wajahnya menjadi sinis.


Perlahan Hana melepaskan tangannya dari pundak Hiro. "Sejujurnya, aku tidak mau menceritakan ini kepadamu. Karena aku membutuhkanmu untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan ayahku. Tetapi ternyata kebencianmu terhadap mereka, nampaknya lebih parah dari kebencian yang aku rasakan!" balasnya dengan tatapan getir.


"Sudah jelas!" Hiro merespon sambil disertai seringainya. "Mungkin mendekati Izumi adalah jalan yang tepat!" imbuhnya, percaya diri.


"Aku pikir juga begitu. Tetapi dia bukan gadis yang mudah didekati, apalagi oleh para lelaki." Hana terdiam sejenak, lalu agak mendekatkan diri kepada Hiro dan melanjutkan, "katanya dia tidak suka bergaul dengan lelaki."


Hiro tersenyum remeh dan berkata, "Aku sudah menjadi temannya sekarang!"


"Apa? secepat itu?" Hana membulatkan mata. Namun Hiro hanya membalasnya dengan senyuman lebar, kedua alisnya juga digerakkan sekitar dua kali untuk menggoda gadis di sampingnya.


Hana lekas-lekas membuang muka. Dia sangat kesal menyaksikan ekspresi menyombong dari Hiro.


"Setelah mendengar rencanamu tentang mendekati Izumi. Aku pikir itu adalah ide yang sangat bagus. Meskipun dia tidak tahu apapun, setidaknya dengan mendekatinya, kau bisa mendatangi rumahnya. Dekatilah dia Hiro, sampai dia tertarik membawamu ke rumahnya." Hana menatap Hiro dengan sudut matanya. Entah kenapa dia merekahkan senyuman jahat dan meneruskan, "atau perlu ke kamarnya!"


Hiro hanya tergelak kecil, hingga sedikit menular kepada Hana. Selanjutnya keheningan sempat berseling selama beberapa saat.


"Ya sudah, kalau ceritanya telah selesai aku akan pulang," ungkap Hiro, yang lebih dahulu berjalan menuju lift. Sebelum memasuki lift, dia menoleh ke belakang untuk melihat Hana. Tetapi gadis tersebut masih mematung di tempat.

__ADS_1


Karena tidak mendapat respon, Hiro pun masuk ke dalam lift dan meninggalkan Hana seorang diri.


__ADS_2