
Setelah memastikan Shima pergi, Hiro berbalik dan melangkahkan kaki menyusuri kerumunan orang di ruang acara. Atensinya diliarkan ke berbagai arah. Berusaha mencari sosok Katashi. Sayangnya dia hanya berhasil menyorot keberadaan Itsuki. Hiro memunculkan niatnya untuk mendekat.
"Hiro!" panggilan Izumi seketika menghentikan jalan Hiro. Gadis tersebut terlihat berlari menuruni tangga. Mengenakan gaun yang sama seperti sebelumnya. Rambutnya yang lurus dan tergerai indah, masih terlihat rapi walaupun sudah sempat di acak-acak oleh Hiro. Dia berderap menghampiri, lalu menarik Hiro untuk ikut bersamanya. Menaiki tangga dengan keadaan tangan yang digenggam erat.
Saat itulah pandangan Hiro dan Itsuki saling bertemu dari kejauhan. Itsuki tidak tersenyum dan hanya menatap tajam ke arah Hiro. Hal tersebut bahkan disadari oleh Izumi. Namun gadis itu nampaknya tak peduli.
"Kakakmu sepertinya kesal denganku, apa sebaiknya aku pulang saja?" tanya Hiro sembari menarik tangannya dari Izumi. Melepaskan genggaman secara paksa. Mereka sudah melewati jejeran pengawal dan telah menjauh dari ruang acara.
"Bukankah tempo hari, kau menantangnya bertarung? kenapa hari ini melihatnya melotot saja kau takut?" timpal Izumi menyilangkan tangan didada.
Hiro melebarkan mata dan sedikit menggeleng. "A-apa? siapa bilang!" bantahnya, tegas.
"Kalau begitu, harusnya kau tidak peduli dengan apa yang akan dilakukannya kepadamu." Izumi kembali melangkah maju. "Lagi pula, aku ada dipihakmu!" sambungnya, yang kini berhenti di depan sebuah pintu. Izumi membuka pintu tersebut dan menyuruh Hiro masuk.
Ketika masuk ke dalam ruangan, Hiro langsung mengenali tempat sekarang dirinya berada. Dengan segala furniture berwarna merah, apa lagi kalau bukan kamar Izumi. Titik lokasi yang sempat didatangi Hiro sebelumnya. Hingga dirinya harus mendapatkan luka tembak.
Kedatangan Hiro disambut dengan kemarahan seekor kucing. Hewan yang sama dari sebelumnya. Kucing itu menggeram dan menaikkan semua bulunya. Seakan waspada terhadap Hiro. Sepertinya dia mengenali, orang yang pernah menyelinap diam-diam ke dalam kamar tuannya.
Hiro mencoba menyingkirkan kucingnya dengan kakinya. Namun dia malah mendapatkan cakaran dan amukan dari binatang tersebut.
"Chubi-chan! apa yang kau lakukan!!" pekik Izumi sembari bergegas mengambil kucingnya, kemudian menjauhkannya dari Hiro. Kucing itu langsung tenang ketika berada dalam pelukan Izumi.
Sedangkan Hiro membisu, perlahan dia memeriksa keadaan kakinya yang sempat dicakar. Benar-benar penuh goresan dan sedikit berdarah. Akan tetapi itu bukan hal besar baginya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Izumi, khawatir. Dia terdengar memarahi kucingnya.
"Kau kenapa Chubi-chan, padahal biasanya kau selalu ramah pada semua temanku." Izumi mengeluarkan hewan peliharaannya dari kamar dan segera menutup pintu kembali.
Hiro mendudukkan dirinya di pinggir kasur. Menghela nafas dari mulutnya.
"Jadi, aku akan tidur bersamamu di sini?" tukas Hiro menopang badan dengan dua tangan yang berdiri tegak di balik punggungnya.
"Kau tidak mau?" balas Izumi. Dia terlihat melepaskan sepatu high heels-nya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku menolak..." Hiro memutar bola mata sejenak. Dia perlahan berjalan menghampiri Izumi. Mengangkat gadis itu sekuat tenaga. Hingga kaki Izumi mengunci dipinggangnya, sedangkan kedua tangannya dikalungkan ke pundak Hiro. Bibir mereka lantas saling berpagutan, lalu berlanjut dengan memainkan lidah. Suara mengecap yang saling beradu, memecahkan suasana hening di kamar.
"Mmph!..." Izumi sudah tak acuh dengan gumam berisik yang dikeluarkan pita suaranya. Dia dan Hiro melakukannya lagi. Tidak peduli dengan acara penting yang terjadi di ruang utama.
Mentari menembus jendela yang terhalang oleh gorden berwarna merah. Cahaya yang tampak cerah dari pagi biasanya. Jam sudah menunjuk ke arah angka sepuluh. Hiro terbangun akibat sinar yang menghantam tepat ke wajahnya. Dia merasakan dadanya terasa berat. Setelah diperiksanya, ternyata Izumi menjadikan dada bidangnya sebagai bantal. Gadis tersebut masih tertidur pulas. Nampaknya apa yang sudah terjadi semalaman telah membuatnya lelah.
Hiro dan Izumi masih tidak mengenakan sehelai kain pun dibadan mereka. Lekuk tubuh keduanya tertutupi oleh selimut tebal yang lagi-lagi berwarna merah.
Hiro membeku sejenak agar kesadarannya bisa terkumpul. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Untuk sekian kalinya dia tidak menemukan sesuatu yang penting.
'Dimana sebenarnya mereka menyimpan semua informasi itu?' batin Hiro, bertanya-tanya.
Izumi akhirnya bergerak. Dia membuka mata dan merubah posisi menjadi telentang, tepat di samping Hiro.
'Apa aku harus menanyakannya pada Izumi...' Hiro kembali bersuara dari dalam hatinya. Menatap Izumi dengan ujung matanya.
"Karena kau tidak suka bau keringat mereka?" terka Hiro, asal. Dia tahu Izumi suka menjaga kebersihan. Terbukti dari kulit putihnya yang bersih, bahkan terdapat warna merah muda di beberapa titik tubuhnya, seolah belum tersentuh apapun. Makanya Hiro tidak kuasa menolak keindahan tubuh milik gadis itu. Sangat candu.
Izumi terkekeh mendengar tebakan Hiro. "Itu sebenarnya benar!" dia memiringkan badannya ke arah Hiro. "Tetapi alasan utamanya adalah... karena aku hanya percaya pada dua lelaki di dunia ini, kakakku dan ayahku... dan sekarang aku tidak menyangka kau sudah menjadi salah satunya," ungkapnya seraya tersenyum tipis. Dia menatap Hiro dengan mata yang berbinar-binar.
"Berbeda dengan lelaki lain, aku malah suka bau khas dari badanmu..." ucap Izumi lagi.
"Tentang ayahmu... aku tidak ada melihat kehadirannya tadi malam." Hiro mengubah posisi menjadi duduk. Sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak mau mendengarkan Izumi berbicara semakin dalam tentang perasaan. Hiro benci membahas hal seperti itu. Jelas, dirinya memang tidak ada memiliki perasaan apapun terhadap Izumi.
"Ayahku memang tidak hadir. Dia sudah mengatakannya dari jauh-jauh hari. Katanya banyak hal yang harus di urusnya," terang Izumi.
"Benarkah? padahal aku sangat ingin bertemu dengan ayahmu. Aku sangat mengaguminya," imbuh Hiro, yang tentu saja hanya kebohongan belaka.
"Kau mengaguminya? sejak kapan?" Izumi ikut mengubah posisi menjadi duduk. Penasaran akan jawaban Hiro.
"Entahlah... mungkin sebelum aku mengetahui kalau dia adalah ayahmu. Sikapmu di sekolah sangat berbeda dengannya, bukankah begitu?" Hiro menjawab seadanya, yang dia inginkan adalah membawa topik pembicaraannya ke arah informasi berguna.
__ADS_1
Izumi tertawa kecil sembari menggelengkan kepala. Dia lantas beringsut untuk duduk di dekat Hiro. "Kalau begitu, mungkin nanti kita bisa pergi ke Tokyo untuk menemuinya. Aku juga sudah banyak bercerita tentangmu kepadanya. Ayahku mengharapkan hal yang sama!" tuturnya.
"Baiklah, ide bagus!" Hiro tersenyum simpul. Kemudian memegangi tengkuk Izumi. Berniat hendak menyambar bibir gadis itu. Akan tetapi, Izumi malah menahan pergerakan Hiro.
"Tetapi kau harus berhati-hati saat berkunjung ke Tokyo nanti," ucap Izumi.
"Kenapa? apa ada hal berbahaya?" tanya Hiro, penasaran.
"Ayahku banyak menyimpan data berharganya di sana. Jadi, dia tidak akan mempercayai orang baru dengan mudah. Aku tidak peduli itu apa, dan aku yakin kau pasti berpikiran hal yang sama denganku!" ujar Izumi mengungkapkan segala hal yang selama ini dicari-cari oleh Hiro.
Hiro sontak tersenyum girang dan membalas, "Ya, remaja seperti kita buat apa peduli dengan urusan orang dewasa."
'Dapat!' seru Hiro dalam hati. Dia kini tahu semua informasi berguna itu disimpan. Hanya tinggal mencari tahu tempat yang tepat.
"Itulah alasan ayahku menjaga tempat ini lebih ketat. Agar semua orang mengira datanya tersimpan di sini. Memang banyak orang yang mencoba datang menyelinap ke sini. Bahkan ada satu orang yang berani masuk ke dalam kamarku!" Izumi memberitahu panjang lebar.
Hiro jelas tahu, orang yang dimaksud Izumi pasti dirinya. Untung saja saat itu dia bergerak cepat dan menutup wajahnya dengan rapat. Sehingga Izumi tidak mengenalinya.
"Yang penting kau aman. Para pengawal di sini melakukan pekerjaannya dengan baik," respon Hiro. Perlahan memalingkan wajahnya.
Pembicaraan mereka berakhir disitu. Selanjutnya Hiro segera bersiap untuk pulang. Mengenakan pakaiannya kembali. Dia berinisiatif memeriksa telepon genggamnya, dan menemukan puluhan panggilan tidak terjawab dari rumah sakit. Hiro langsung mencemaskan keadaan ibunya.
"Aku akan menyuruh seorang sopir untuk mengantarmu!" Izumi terlihat mengenakan pakaiannya juga. Dia memakai dress selutut, berwarna biru dongker polos.
Hiro keluar dengan keadaan tergesak-gesak. Mengabaikan tawaran dari Izumi. Ketika dia membuka pintu depan, penglihatannya segera disambut dengan penampakkan Itsuki.
"Bukankah tadi malam harusnya kita membahas pertarungan kita?" pungkas Itsuki seraya melepas pakaian atasnya. Tampaklah badan atletisnya yang dihiasi dengan tato baru bergambar naga. Dia berjalan kian mendekat.
Hiro hanya terdiam seribu bahasa. Bersiap-siap dengan apa yang akan dilakukan Itsuki terhadapnya.
"Kau sudah mendapatkan surga dari adikku. Maka, terimalah neraka dariku. Ayo kita bertarung!" tantang Itsuki dengan tatapan tajamnya. Melemparkan pakaian kepada salah satu pengawal. Dia tidak sabar ingin memukuli lelaki yang sudah berani menyentuh adik perempuannya. Meskipun dirinya tidak membenci Hiro, tetapi rasa kesal tentu dirasakan olehnya.
Hiro sontak berseringai. Sebenarnya bertarung dengan Itsuki adalah hal yang paling di inginkannya semenjak mengenal keluarga Nakagawa.
__ADS_1