
Junko tambah dekat. Sedangkan Izumi sudah terpojok di pagar teralis. Keduanya sebenarnya sama-sama gemetaran. Akan tetapi takut dalam hal yang berbeda.
"Junko, kumohon!" pekik Izumi, menjadikan sebelah tangannya sebagai pelindung. Berjaga-jaga kalau Junko akan menyerang tiba-tiba. Dengan begitu tangannya sudah siaga untuk melakukan perlawanan.
"Aaaaarrkkkhhh!!!" Junko berteriak keras, sambil melakukan serangan kepada Izumi. Namun Izumi menangkis, dengan cara mencengkeram kuat tangan Junko yang sedang memegangi pisau. Bagian tajam benda itu sekarang tepat mengarah ke matanya.
Junko dan Izumi terus saling mempertahankan diri. Hingga pada akhirnya, Junko berhasil melukai bahu Izumi atas usahanya sendiri. Cairan merah perlahan membasahi seragam putih Izumi.
Izumi meringis kesakitan. Tetapi dia berusaha bertahan sebisa mungkin.
"Junko, hentikan!" Hiro mendadak keluar dari tempat persembunyian. Sepertinya dirinya sudah menentukan pilihan. Lelaki itu langsung berlari untuk melerai perkelahian yang sedang terjadi.
Junko dan Izumi yang menyadari kedatangan Hiro, sempat mematung beberapa saat. Keduanya otomatis mengalihkan pandangan ke arah Hiro yang kian mendekat.
"Hiro, tolong aku!!" Izumi bersuara lantang. Dia lengah sesaat, kala melayangkan tatapan penuh harap kepada Hiro.
Junko yang merasa terancam, menggunakan kesempatannya. Dia meneruskan serangannya. Hingga membuat Izumi reflek melangkah mundur.
Karena pagar teralis yang ada, hanya setinggi pinggul, Izumi sontak tidak bisa menyeimbangkan diri. Gadis itu kehilangan pijakannya, lalu terjatuh.
"Aaaarkkhhh!!!" Izumi reflek berteriak kencang.
Saat itulah Hiro tiba tepat waktu. Dia langsung meraih tangan Izumi yang hampir di bawa gravitasi bumi. Jika gadis tersebut terjatuh, maka dia harus melewati ketinggian sekitar 20 meter.
Kini Hiro dalam keadaan bertahan. Sedangkan Izumi bergelantungan di udara. Berharap Hiro bisa secepatnya menariknya ke atas.
"Lepaskan dia, Hiro!" Junko mencoba menghentikan.
Karena Hiro sama sekali tidak bergeming. Alhasil Junko menancapkan pisaunya dengan asal ke pinggul Hiro. Darah seketika mewarnai baju Hiro dengan warna merah. Kedua tangannya masih bekerja menahan beratnya badan Izumi.
"Junko, kau sudah gila!!" geram Hiro sembari terus membawa Izumi untuk naik. Untung dia masih mampu bertahan. Meski rasa luka di pinggulnya tersebut menimbulkan rasa sakit yang menusuk kuat.
"Hiro, cepat! aku sudah tidak kuat!" desak Izumi yang sudah merengek ketakutan. Keringat disekujur badannya mengalir deras. Hembusan angin berhasil menerpa rambut beserta pakaiannya. Nafas gadis itu mulai tak terkendali. Rasa takut tentu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Satu-satunya harapannya sekarang hanyalah Hiro.
"Aku bilang lepaskan dia! bukankah Izumi juga sudah berbuat buruk kepadamu? SADARLAH HIRO!" Junko sekali lagi mencoba mengarahkan pisau, namun tiba-tiba seseorang memeganginya dari belakang. Kemudian menjauhkan Junko dari Hiro. Ternyata dia adalah Shima.
__ADS_1
Terdapat beberapa siswa yang menyaksikan di bawah. Mereka khawatir dengan keadaan Izumi yang hampir terjatuh. Salah satu dari mereka lantas segera memberikan laporan kepada semua orang. Sebagian juga berusaha menyusul ke atap, agar dapat membantu Hiro. Lama-kelamaan penonton insiden tersebut semakin bertambah.
Perlahan tapi pasti, Hiro akhirnya dapat membawa Izumi kembali ke atas. Meskipun darah yang ada dipinggulnya semakin mengalir deras. Giginya menggertak karena dia memang sedang mengerahkan semua tenaganya. Akan tetapi, semakin Hiro memaksakan diri, maka tambah banyak pula darah berceceran dari pinggulnya.
"Aaarghhhh!!" Erang Hiro yang akhirnya berhasil menarik Izumi kembali ke atas. Setelahnya, dia langsung terhuyung dan jatuh ke lantai. Kepalanya diserang rasa pusing akibat darah segar yang semakin terbuang. Matanya perlahan menjadi kabur.
Sebelum pandangan Hiro menggelap, hal terakhir yang dilihatnya adalah kilauan cahaya matahari di kebiruan langit.
"Hiro!" Izumi dan Shima berteriak bersamaan. Keduanya sama-sama cemas.
Hiro sadar, namun dia tidak langsung membuka mata. Telinganya disambut dengan alunan musik Gagaku. Entah kenapa Hiro berpikiran kalau dia kembali ke zaman asalnya.
'Apa aku kembali lagi? Oh Dewa, aku harap begitu,' harap Hiro dalam hati. Pendengarannya hanya difokuskan dengan bunyi nada musik Gagaku yang bergema. Secara alami mulutnya melengkung dan membentuk sebuah senyuman. 'Sekarang aku akan membuka mata, dan memastikan--'
"Apa dia sudah sadar?"
"Belum, tetapi kata dokter keadaannya akan semakin membaik!"
Shima dan Akira segera menyambut sadarnya Hiro dengan aura positif. Perasaan kecewa Hiro perlahan berubah menjadi lebih baik.
"Kau tahu, Shima? aku lebih sering terluka di zaman ini, dibanding di abad ke-14!" keluh Hiro, yang sudah duduk di atas hospital bed-nya. Dia menatap Shima yang sedang sibuk dengan ponsel. Sedangkan Akira baru saja keluar ruangan, karena ada sesuatu hal yang harus di urusnya.
Shima tergelak sejenak mendengar keluhan Hiro, lalu meletakkan ponsel ke atas nakas. "Tetapi, bedanya kau punya banyak nyawa di sini, dibanding di zamanmu dulu,"
"Ya, kau benar..." Hiro tak bisa membantah.
Ceklek...
Pintu terbuka pelan. Muncullah Izumi yang tengah mengenakan dress berwarna biru doker, beserta mantel tebal berwarna hitam. Gadis itu datang sendirian. Ditangannya terdapat se-parcel buah-buahan untuk Hiro.
Senyuman tipis terukir diwajah Hiro. Sebuah ide cemerlang seketika muncul dalam benaknya. Mungkin Dewa tidak mengembalikannya ke abad-14, tetapi malah membantu dirinya untuk dekat dengan Izumi. Meskipun dia harus rela terluka agar dapat mengambil simpati dari gadis tersebut. Hiro akan memakai peluangnya sekarang sebaik mungkin.
"Apa kau sudah puas menyiksa Hiro?" timpal Shima ketus. Berbeda dengan Hiro, yang terus menatap serius ke arah Izumi.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kau akan senekat itu, Hiro... padahal aku sudah banyak melakukan hal buruk kepadamu," ungkap Izumi. Tidak menghiraukan sama sekali teguran Shima. Raut wajahnya kali ini sangat berbeda. Seakan benar-benar menunjukkan kekhawatiran yang tulus.
"Kalau kau merasa begitu, bukankah harusnya kau minta maaf padanya?" pungkas Shima seraya menyilangkan tangan di depan dada.
"Shima, aku dari tadi bicara dengan Hiro, dan bukan kepadamu!" balas Izumi. Menatap sebal Shima.
"Sudahlah..." Hiro memegangi lengan Shima, lalu meneruskan ucapannya, "tenanglah, kau harus menjaga emosimu."
Tidak lama kemudian, datanglah Akira. Matanya langsung menyalang ke arah Izumi. Padahal sebelumnya wanita itu sempat memperlakukan Izumi dengan baik. Akira bahkan berusaha mengusir Izumi dari ruangan.
"Pergilah! jangan pernah ganggu Hiro!" tegas Akira dengan dahi yang berkerut.
"Tetapi, aku hanya--"
"Sudah cukup kau mengganggu putraku! Pergi!" Akira sengaja memotong kalimat yang hendak diucapkan Izumi.
"Ibu kenapa bersikap begitu?" protes Hiro, tak percaya. Tindakan tidak ramah Akira, tentu akan menghambat strateginya untuk mendekati Izumi.
Mimik wajah Izumi tampak masam, akibat diperlakukan dengan kasar oleh Akira. Dikarenakan terus didesak, Izumi akhirnya terpaksa keluar dari ruangan. Yang tentu saja disertai dengan perasaan kecewa dan menyesal.
Kini yang tersisa hanyalah perdebatan Hiro dan ibunya. Shima yang merasa tidak enak, memilih beranjak pergi.
"Aku rasa yang harus berobat adalah kau!" ujar Hiro sembari membuang muka ke arah jendela.
"Hiro, aku baru tahu kalau Izumi..." lirih Akira pelan. Sebelah tangannya memegangi bagian kepala. Seolah kenyataan yang diterimanya telah membuat kepalanya pusing.
"Kau baru tahu kalau dia adalah anaknya Katashi Nakagawa?" tebak Hiro. Menyebabkan mata Akira sontak terbelalak.
"A-apa... bagaimana..." Akira tampak kebingungan untuk merespon.
"Aku menemukan foto lamamu. Dan sepertinya Ibu memiliki hubungan dekat dengan Katashi." Lagi-lagi Hiro menggunakan kesempatannya dengan baik. Membuat mulut Akira terdiam seribu bahasa dalam selang beberapa detik.
Akira memejamkan mata sejenak. Mencoba menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Dia sadar betapa kerasnya keingintahuan putranya. Nampaknya dirinya memang harus menceritakan semuanya sekarang.
Catatan kaki :
__ADS_1
Gagaku : Musik tradisional Jepang.