Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 97 - Melawan Itsuki [Final Fight 2]


__ADS_3

Hiro melangkah pelan ke arah Itsuki. Tanpa pikir panjang dia langsung melingkarkan tangan ke leher Itsuki. Menjerat sekuat tenaga.


"Kurang ajar!" geram Itsuki. Dia mencoba melepaskan tangan hiro dari lehernya.


"Hiro!" Shima melemparkan katana untuk Hiro. Katana itu dia biarkan meluncur di lantai. Hingga mengeluarkan bunyi berdecit yang jelas.


Hiro dengan sigap menghentikan pergerakan katana dengan sebelah kakinya. Dia kini hanya perlu meraih senjata tersebut dengan tangannya. Namun Itsuki tiba-tiba menggigit pergelangan tangan Hiro, lalu berusaha ikut-ikutan mengambil katana.


Karena tidak ingin Itsuki lebih dahulu mengambil katana, Hiro lantas menendang senjata itu kembali ke arah Shima.


Sekarang Itsuki marah besar. Dia berbalik badan dan langsung melayangkan jurus tinju bertubi-tubi. Hiro yang tidak menduga dengan serangan tersebut, sontak melangkah mundur. Perut dan dadanya dipukuli dengan beringas. Menyebabkan darah otomatis keluar dari mulutnya.


Shima yang berupaya menolong, bergegas menggunakan pistolnya. Tetapi sayangnya senjata apinya itu sudah kehabisan peluru. Shima tidak punya pilihan selain maju dengan katana. Berlari, dan segera menyayat punggung Itsuki sekenanya.


"Aaaakkkhhh!!" Shima memekik lantang sambil menumpaskan katana. Darah Itsuki seketika merembes dari punggungnya. Akan tetapi goresannya terlaku kecil. Itsuki yang masih kuat, berbalik, dan langsung mencekik leher Shima.


"Akhh... kkkkkk... kkkk..." tenggorokan Shima tercekat. Matanya memerah akibat merasakan sakit yang menyiksa. Perlahan katana dalam genggamannya pun terlepas. Saat itulah Hiro mengambil kesempatan untuk meraih senjata tersebut.


Hiro mengarahkan bagian tajam katana ke leher Itsuki dan berucap, "Lepaskan dia!"


"Hhhhhaaahaha..." Itsuki malah tergelak. Tangannya masih tidak bergeming dari leher Shima.


Hiro yang kesal dengan tingkah Itsuki, segera menusukkan ujung katana ke leher Itsuki. Tindakannya berhasil membuat Itsuki melepaskan tangan dari leher Shima.


"Kau harus menjawab pertanyaanku!" ujar Hiro. Dia telah memojokkan Itsuki ke dinding. Cairan merah nan kental mulai menetes dari luka dilehernya.


"Hiro, kenapa kau lakukan ini? aku adalah kakakmu bukan?" ungkap Itsuki. Kali ini suaranya bernada pelan. Seolah mengharapkan belas kasih dari Hiro.


"Omong kosong!" respon Hiro sembari menggertakkan gigi kesal. "Dimana ibuku?" tanya-nya dengan pelototan yang sangat mengancam. Hiro semakin menekan katana ke leher Itsuki.


"Maksudmu ibu kita berdua?..." balas Itsuki dengan tatapan nanarnya.


"Kau pikir aku akan terpengaruh dengan omong kosongmu itu? tidak!" Hiro semakin naik pitam.

__ADS_1


"Aku rasa, sekarang kau sedang terpengaruh..." imbuh Itsuki sembari mengukir senyuman tak berdosa.


"Dasar keparat!" Hiro mengayunkan katana ke udara. Bermaksud untuk menghabisi Itsuki dalam sekali tebas.


"Hiro!" Shima memegang erat tangan Hiro. Berusaha mencegah tindakan kawannya.


"Apa-apaan kau Shima!" Hiro langsung dibuat kesal dengan tindakan Shima.


"Polisi dalam perjalanan ke sini. Serahkan saja dia kepada polisi!" ujar Shima mengingatkan. Hiro yang mendengar terperangah.


"Persetan dengan polisi. Aku tidak peduli!" Hiro melepaskan genggaman Shima secara kasar. Kemudian berusaha kembali mengurus Itsuki. Namun Itsuki sudah beranjak kabur. Meskipun begitu, jalannya sangat lambat akibat luka-luka yang ada ditubuhnya.


Hiro menyeringai, dan bergegas menghampiri. Lalu menghujamkan katana-nya ke punggung Itsuki. Ujung tajam senjata itu menembus ke dada Itsuki.


"Ughhhh!" mata Itsuki membulat sempurna. Dia perlahan membusungkan dadanya yang terasa sakit bukan kepalang.


"Bagaimana? sakit bukan? aku harap kau langsung dibawa ke neraka oleh Dewa!" ujar Hiro. Dia menarik katana-nya kembali dengan mulus.


Bruk!


"Ternyata... ramalan cenayang itu benar ayah..." Itsuki bergumam sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Shima yang menyaksikan menundukkan kepala. Seakan dia merasa bersalah terhadap kematian Itsuki. Sementara Hiro terpaku menatap jasad Itsuki yang sudah tidak berdaya. Perlahan dia mengalihkan penglihatannya ke arah Shima.


"Shima, jika kau terus begini. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan musuhmu!" pungkas Hiro. Dia berderap menghampiri.


"Apa kau yang memimpin pasukan ninja yang tadi berdatangan?" tanya Hiro sambil menilik penampilan Shima dari ujung kaki hingga kepala.


"Bukan! tetapi kakek tua pemilik pemandian umum yang pernah kita datangi. Kogoro menyarankan kami pergi ke sana," jelas Shima.


"Maksudmu Hayate?" tanya Hiro memastikan. Shima pun menjawab dengan anggukan kepala.


"Aku terpaksa mengatakan jati dirimu yang sebenarnya kepada Hayate. Kalau kau adalah keturunan Yamada." Shima memberitahu sambil berjalan mengikuti Hiro yang melangkah maju. Mereka sedang memeriksa setiap ruangan.

__ADS_1


"Apa dia mempercayainya?" Hiro berbalik untuk menoleh ke arah Shima.


"Tidak, aku tidak memberitahunya tentang reinkarnasimu. Tetapi, mengatakan kalau Hiro juga keturunan Yamada." Shima berusaha meluruskan.


"Shima, lebih baik kita berpencar. Bangunan ini terlalu luas. Kau carilah informasi tersembunyi, sedangkan aku akan mencari Akira!" usul Hiro, kemudian bergegas menggerakkan kakinya. Akan tetapi langkahnya terhenti saat Shima kembali bersuara.


"Izumi... kami tidak akan tahu tempat ini tanpa bantuannya. Dia juga memberitahu letak kendali listrik yang ada di bangunan ini. Aku pikir, Izumi bukanlah gadis buruk yang selama ini kubayangkan," ungkap Shima. Raut wajahnya tampak sendu.


Hiro terdiam seribu bahasa. Dia mendadak mengkhawatirkan Izumi. Apalagi terakhir kali hal yang diucapkan gadis tersebut kepadanya adalah kalimat perpisahan. Namun Hiro berusaha membuang kecemasannya lebih dahulu, dan fokus dengan masalahnya sekarang.


Bangunan dimana Hiro berada bukanlah villa Katashi, melainkan sebuah bangunan lain yang lebih besar. Letaknya sendiri agak terpencil, jadi membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tempat tersebut.


Hiro berderap dengan percaya diri. Sebuah katana sudah ada dalam genggamannya. Siapapun yang ada di hadapannya siap dia tumpas tanpa ampun. Suara tembakan berdengung dari segala penjuru. Hiro meletakkan katana-nya ke atas pundaknya sejenak. Ketika salah satu orang Nakagawa meluncurkan peluru ke arahnya, Hiro menghindarinya dengan gesit. Berlari hingga mendekat, dan mengayunkan katana ke leher musuh.


Syut! Pyar!


Suara katana melingus di udara. Bau amis dari darah musuh menyeruak. Serangannya berhasil membuat lawannya ambruk. Selanjutnya, Hiro terus berjalan maju. Memeriksa setiap ruangan dengan seksama. Dia melangkah turun melewati anak tangga. Menuju lokasi yang diyakininya adalah tempat dimana Akira disandera. Namun ketika Hiro memeriksa ruangan yang ada satu per satu, dirinya tidak melihat kehadiran sang ibu sama sekali.


Nafas Hiro mulai naik turun dalam tempo cepat. Dia agak sedikit panik. Takut sesuatu terjadi kepada Akira.


"Hiro!!!" Shima tiba-tiba mendatangi Hiro. Dia memberitahukan kalau semua teman-temannya kesulitan melawan orang-orang Nakagawa. Beberapa di antaranya sudah ada yang meninggal.


"Dimana mereka?" tanya Hiro ikut khawatir.


"Ayo ikuti aku!" ajak Shima. Dia memimpin jalan untuk Hiro. Keduanya berlari menuju ruang utama. Dimana para bawahan Nakagawa berkumpul dan melawan orang-orang berpakaian ninja.


"Apa mereka orang-orang dari apartemen Guree?" tanya Hiro dengan nada berbisik.


"Sebagian iya, dan beberapa lagi adalah teman-teman dari Hayate. Dia ternyata punya banyak pasukan ninja!" jawab Shima. Dia dan Hiro menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan.


"Benarkah? sial! harusnya aku mengikuti firasatku dari awal. Aku tahu kakek tua itu memiliki koneksi erat dengan dunia ninja!" Hiro mengeluh kepada dirinya sendiri. Dia berusaha mengamati keadaan.


Hiro dan Shima ada di lantai dua. Bersembunyi di antara pagar pelindung. Dari sana mereka dapat melihat segalanya. Termasuk jumlah orang-orang Nakagawa.

__ADS_1


"Aku rasa katana ini tidak bisa melawan orang sebanyak itu. Kita harus mencari senjata yang bisa membunuh dari kejauhan!" ucap Hiro seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hingga atensinya pun tertuju ke alat pemanah yang terpajang di dinding.


__ADS_2