Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 25 - Mendatangi Rumah Keluarga Nakagawa


__ADS_3

Meskipun Shima belum tahu mengenai rencana Hiro, dirinya tidak punya pilihan selain mengikuti. Dia melakukannya, karena tidak mau mendapatkan omelan dari Akira.


Sebelum naik ke dalam bus, Hiro akhirnya bersuara. "Apa kau tahu alamat rumah Takeda, eh maksudku Katashi?" tanya Hiro dengan nada yang lumayan nyaring. Sampai-sampai beberapa orang di sekitarnya reflek menoleh ke arahnya. Melihat hal itu, Shima lantas gelagapan menyuruh Hiro untuk diam. Giginya digertakkaan kesal, karena merasa gemas dengan kelakuan Hiro yang seolah tidak mengetahui apa-apa. Tetapi, memang begitulah kenyataannya, Hiro memang masih tidak mengetahu apapun. Terutama tentang betapa berkuasanya keluarga Nakagawa di kota Kyoto.


"Berhati-hatilah, Senpai. Semua orang mengenal nama itu. Jadi, agak sensitif jika kau mengucapkannya di tempat umum." Shima memberitahu. Mulutnya tampak agak memaju sambil ditutupi dengan sebelah tangan.


"Apa?" Hiro meringiskan wajah. "Kenapa mereka sangat berlebihan?" lanjutnya mengangkat dagunya sekali seakan tidak kenal takut. Bahkan mungkin terkesan menantang.


Shima membalas dengan nada berbisik, "Tidak banyak orang yang berani macam-macam dengan keluarga Nakagawa. Bukankah aku sudah memberitahumu sebelumnya?"


"Aku rasa sudah." Hiro menghembuskan nafas melalui mulut. Kedua tangannya membentuk silang di depan dada. "Tetapi dimataku mereka tetap biasa saja. Tidak spesial, bahkan sama sekali tidak menakutkan."


"Itu karena kau belum melihat bagaimana cara mereka mengatasi masalah!" tukas Shima. Dia mendekatkan mulut lagi ke telinga Hiro. "Aku dengar, mereka sering memanipulasi pembunuhan. Parahnya, polisi pun sangat tunduk kepada mereka." Raut wajah Shima terlihat sangat serius. Menegaskan kalau hal yang dikatakannya tidak main-main.


Hiro terkekeh, tangan kanannya menepuk tengkuk Shima. "Apa kau lupa, kalau lelaki di sebelahmu ini juga sudah melakukan hal serupa?"


Shima terdiam seribu bahasa. Otaknya memutar ingatan beberapa hari yang lalu. Ketika Hiro menggunakan katana milik kakeknya untuk dipakai membunuh para rentenir. Lelaki berambut cepak itu tidak bisa menyangkal akan kehebatan yang dimiliki Hiro. Akan tetapi, dia hanya khawatir, karena Hiro tidak tahu betapa sulitnya berurusan dengan hukum di zaman sekarang.


"Ayo, bawa aku ke rumahnya Shima-Kun!" Hiro bangkit dari tempat duduknya. Bola matanya memancarkan binar penuh tekad.


"Tidak, Senpai. Kali ini aku akan menantang kemauanmu!" sahut Shima, ikut berdiri dan menghadapi Hiro dengan suara yang sedikit memekik. Lagi-lagi kedua lelaki tersebut berhasil menarik perhatian semua orang. Namun sepertinya mereka tidak peduli. Toh orang-orang hanya beranggapan kalau Hiro dan Shima hanya anak remaja labil yang sedang berdebat mulut.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu pulanglah. Aku bisa melakukannya tanpamu," balas Hiro, berusaha menunjukkan mimik wajah yang meyakinkan. Tetapi dalam lubuk hatinya, dia sebenarnya meragu, dan berharap Shima dapat membantu.


Shima kembali membisu. Dia merasakan dilema. Mungkin hanya Hiro yang mampu membuat otaknya kebingungan memilih. Shima sepenuhnya tidak mau berurusan dengan keluarga Nakagawa, tetapi bagaimana bisa dirinya membiarkan Hiro pergi begitu saja? terutama dengan pengetahuannya yang masih minim terhadap keadaan di abad-21.


Hiro berseringai, kala menyaksikan adanya keraguan di semburat wajah Shima. Dia yakin, Shima pasti tidak tega membiarkan dirinya pergi sendiri. Batin Hiro berkata kalau orang yang setia tidak pernah lepas dengan yang namanya kebodohan. Dia jelas mengetahuinya, setelah puas dibodohi oleh rekannya sendiri pada kehidupan sebelumnya. Hiro banyak belajar, bahwa tidak mudah memberikan kepercayaan kepada orang lain. Dia takut Shima akan mengalami nasib yang sama sepertinya suatu hari nanti. Hiro sebenarnya merasa iba dengan perangai sahabatnya tersebut. Membuatnya mulai sedikit berminat untuk menjadi guru bagi seorang Shima Kobayoshi.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumahnya. Tapi dengan satu syarat!" seperti dugaan Hiro, Shima tidak tega membiarkannya pergi sendirian.


"Arigatou, Shima-Kun." Hiro tersenyum puas. Dia memaksa Shima masuk ke dalam rangkulannya. Seakan tidak peduli dengan syarat yang di ajukan sahabatnya.


"Jangan nekat menyelinap masuk ke rumahnya. Kumohon!" ucap Shima berusaha memperingatkan. Hiro hanya merespon dengan memanggut-manggutkan kepala. Nyalinya sama sekali tidak berubah. Selanjutnya mereka pun segera menaiki bus.


Shima mengetahui alamat Katashi dari salah satu teman sekolahnya. Meski info yang dia dapatkan tidak sepenuhnya gratis. Shima bertanya kepada Eri, salah satu bagian geng Izumi di sekolah. Rumah keluarga Nakagawa sendiri berada di kitaran pusat kota. Terbilang bukan lokasi yang sulit untuk ditemukan.


Tidak memakan waktu lebih dari lima menit, sampailah Hiro dan Shima di tempat tujuan. Keduanya sendiri sedang berada di samping kiri rumah keluarga Nakagawa. Meskipun tertutupi bangunan beton yang tinggi, Shima tetap terperangah melihat betapa mewah dan besarnya rumah tersebut. Semuanya bisa terlihat dari bangunan lantai tiga yang mengintip keluar dari pagar yang mengelilingi.


Berbeda dengan Hiro, dia telah siap memanjat dinding pembatas. Shima yang asyik terpaku akhirnya tidak sempat mencegah kelakuan kawannya.


"Senpai, bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, kalau--"


"Aku tahu, tetapi biarkan aku mencoba terlebih dahulu." Hiro memotong ucapan Shima. Keduanya sama-sama berbicara dengan nada pelan.

__ADS_1


Hiro bergegas memanjat pohon yang kebetulan ada di sana. Kemudian memperhatikan keadaan rumah Katashi.


Suasana tampak ramai oleh penjaga. Bahkan ada dua orang polisi yang berjaga di pos dekat pintu pagar. Belum lagi penjaga di depan pintu rumah, yang terlihat memiliki perawakan besar dan bugar.


"Senpai, jika kau ingin masuk ke sana, lebih baik kita pikirkan caranya matang-matang. Kau hanya sendiri, dan aku sama sekali tidak ahli berkelahi sepertimu. Lagi pula, kau tidak tahu teknologi seperti apa yang mereka pakai untuk mendeteksi penyelinap!" Shima berkata dengan pelan. Berharap Hiro segera dapat mengurungkan niatnya.


Hiro memejamkan mata cukup lama. Kali ini dia setuju dengan pendapat Shima. Apalagi sekarang hari masih siang. Matahari bersinar cerah, kedok penyelinapannya akan diketahui dengan mudah. Hiro pun turun dari pohon, membuat mulut Shima otomatis melengkung membentuk sebuah senyuman.


Sambil menyandarkan punggung ke pohon, Hiro menggunakan kepalanya untuk berpikir. Tentang bagaimana cara dirinya dapat masuk dengan mudah ke rumah keluarga Nakagawa.


"Aku akan datang lagi ke sini saat malam. Ketika semua orang sibuk tertidur!" ungkap Hiro, tekadnya masih belum luntur.


"Kau yakin?" Shima ragu dengan rencana Hiro. Matanya mengerjap beberapa kali. Angin kecil yang berhembus berhasil menjatuhkan satu hingga tiga daun kering dari pohon.


"Tentu Shima-Kun." Hiro mengangguk tegas.


"Kau tidak takut dengan teknologi yang aku katakan sebelumnya?"


"Bukankah mereka hanya punya kamera pengawas seperti di tempat lainnya?..." Hiro mengulurkan kedua tangan dalam keadaan salah satu alis yang terangkat. "Aku akan menghancurkannya sebelum beraksi. Aku pastikan itu!"


"Baiklah, jika kau seyakin itu. Aku harap kau berhasil, Senpai..." Shima akhirnya mengalah. Kepalanya perlahan menunduk kecewa.

__ADS_1


"Tenanglah Shima-Kun, aku bisa menjaga diriku." Hiro menepuk pelan pundak Shima. Mencoba menenangkan perasaan sahabatnya yang ciut.


__ADS_2