
Melihat gaya Hiro yang terkesan menantang, beberapa lelaki lantas melakukan perlawanan secara bergantian.
Serangan pertama dilakukan oleh lelaki berambut gondrong. Badannya kurus akan tetapi memiliki otot bisep yang meyakinkan di badannya. Dia membidik wajah Hiro dengan kepalan tinjunya.
"Hiro!" Shima reflek berteriak akibat didera perasaan cemas. Kakinya otomatis melangkah mundur. Mencoba memberikan lebih banyak ruang untuk kawannya.
Berbeda dengan Shima, Hiro menghadapi perkelahiannya begitu tenang. Sebab semua jurus Tai-jitsu sudah melekat dalam dirinya. Tangan kanannya dengan sigap memegangi kepalan tinju yang mengarah ke wajahnya. Saat itulah tangan kirinya beraksi, dan melancarkan pukulan ganda ke leher lawan. Tenggorokan lelaki berambut gondrong itu seketika tercekat, hingga berhasil membuat matanya memerah.
Tanpa diduga sebuah pot bunga hampir menghantam kepala Hiro. Namun karena insting kuat naluri ninjanya, membuat Hiro dengan mudah menghindari pot bunga yang mengarah kepadanya. Serpihan tanah yang berjatuhan dari pot bunga dapat terlihat jelas dimata Hiro. Semuanya bergerak bagaikan kilatan slow motion.
Bruk!
Pot bunga itu sekarang terjatuh. Pecah dan berhamburan di lantai. Selanjutnya Hiro harus menghadapi dua lelaki berkepala pelontos. Yang ternyata salah satunya adalah orang yang tadi telah melemparkan pot bunga kepadanya. Wajah mereka tampak sama persis, menandakan kalau keduanya memang adalah anak kembar. Gerakannya pun hampir selaras membuat dahi Hiro mengerut dalam.
'Kungfu? apa mereka berasal dari Tiongkok?' batin Hiro yang sangat mengenali jurus dua lelaki kembar di hadapannya. Wajar saja, di kehidupan sebelumnya Hiro sering bertemu dengan orang-orang Tiongkok di dermaga. Bahkan terkadang berkelahi dengan mereka. Keadaannya sekarang membuatnya teringat dengan masa-masa itu.
Terjadilah pertarungan antara Hiro dan dua lelaki kembar berkepala pelontos. Meskipun harus beberapa kali mendapatkan tendangan dan pukulan, Hiro tetap mampu melakukan serangan balasan. Kini Hiro berada di tengah antara keduanya. Tanpa pikir panjang, dia segera melakukan jurus andalannya. Yaitu memutar badannya dengan kecepatan kilat sambil mengangkat lurus sebelah kakinya.
Buk! Buk!
Dua lelaki kembar itu tumbang bersamaan. Kaki Hiro yang terasa kuat dan keras menghantam rongga dada mereka.
Menyadari anggota terkuat telah ditumbangkan, semua lelaki yang tersisa sontak melakukan aksi perlawanan. Semuanya melakukannya secara bersamaan. Mereka bahkan mengambil benda di sekitar untuk dijadikan senjata.
"Dasar curang!" keluh Hiro sembari menggertakkan gigi.
Hana yang menyaksikan adegan perkelahian tersebut, merasa dibuat kagum dengan keahlian Hiro. Dia juga dibuat sedikit terancam. Sebab itulah Hana berinisiatif menghubungi semua penghuni lainnya untuk membantu. Dia menghubungi penghuni-penghuni apartemen yang ada di lantai bawah.
__ADS_1
Kembali lagi pada Hiro. Dia merasa percaya diri melawan para lelaki yang sedang berlari menuju ke arahnya. Atensinya mendadak tertuju kepada lelaki berambut gondrong yang tadi sempat menyerangnya. Lelaki itu sudah pulih, dan baru saja keluar dari salah satu bilik apartemen. Di tangannya terlihat sebuah alat pemukul bisbol.
Tanpa pikir panjang, lelaki berambut gondrong itu berlari ke arah Hiro. Dia tiba lebih dahulu dibandingkan yang lain. Tetapi sekali lagi dia harus menerima kekalahan. Karena kaki Hiro dengan cekatan menendang alat vitalnya. Hal tersebut sontak membuatnya mengerang kesakitan. Dalam sekejap, alat pemukul bisbol sudah beralih digenggaman Hiro. Senyuman puas terukir diwajahnya. Dengan adanya senjata, dia merasa semakin yakin kalau dirinya mampu mengalahkan para lelaki di hadapannya.
Hiro melajukan larinya ke depan. Hingga pada saat semua lawannya mendekat, kedua kakinya dengan lihai memijak ke dinding. Jika dilihat, dia tampak berjalan seakan melawan gravitasi. Gerakan kakinya sangat cepat, karena berusaha mengimbangi tubuhnya agar tidak terjatuh.
Di waktu yang tepat Hiro langsung melompat ke bawah. Tangannya mengangkat alat pemukul bisbol ke atas. Dia berniat menghantam senjatanya ke arah para lelaki yang kini keheranan melihat aksinya.
Dor!!!
Sebuah tembakan seketika mengharuskan Hiro mengurungkan serangannya. Suara dengung tembakan membuatnya teringat dengan luka yang pernah menghantam lengannya. Jantungnya mendadak berdebar hebat. Penglihatannya segera di alihkan ke arah sosok yang sudah melakukan tembakan acak tadi. Namun seseorang dari belakang tiba-tiba memukul kepala Hiro dengan benda keras. Menyebabkan pandangannya perlahan menggelap. Hal terakhir yang dilihatnya sebelum tidak sadarkan diri, adalah teriakan Shima yang tengah mencoba memanggil namanya.
"HIRO!"
"Oi! Oi!" suara anak kecil beserta tamparan keras diwajah, berhasil menyadarkan Hiro. Matanya perlahan terbuka. Kehadiran Hana yang sedang berdiri menyilangkan tangan, menyambutnya.
"Dia sadar!" ujar anak lelaki yang tadi berusaha menyadarkan Hiro.
"Aku tahu. Sekarang pergilah beritahu Jun untuk membawa temannya ke sini!" titah Hana kepada anak lelaki yang bernama Atsuko itu. Atsuko pun bergegas menuruti perintah Hana, dan berlari keluar ruangan.
Hiro mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia berada di ruangan yang luas. Terdapat sekitar tiga kelompok lelaki yang berkumpul di meja yang berbeda. Sesekali dari mereka menatap tajam kepadanya. Terutama untuk para lelaki yang sudah menjadi korban pukulan Hiro.
"Fokuslah kepadaku!" Hana memegang kasar wajah Hiro, lalu mengarahkannya ke depan. Keduanya saling bertukar pelototan kesal. "Siapa kau sebenarnya? apa Klan Akuma yang mengutusmu?" tanya-nya.
"Apa?! nama klan macam apa itu?!" balas Hiro. Dia benar-benar sama sekali tidak tahu menahu dengan klan yang disebutkan Hana.
__ADS_1
Plak!
Hana langsung menampar salah satu pipi Hiro. "Kau sama saja seperti teman bodohmu itu. Katakan yang sebenarnya! jika tidak, aku akan--"
"Apa?! kau mau apa?!" timpal Hiro, sengaja memotong ucapan Hana. Dia mengangkat dagunya seolah tidak takut.
Ceklek!
Pintu mendadak terbuka. Muncullah seorang lelaki bernama Jun, sambil menyeret Shima yang terlihat sudah terkulai lemah.
Mata Hiro membulat sempurna, kala menyaksikan paras Shima yang babak belur. Dipenuhi luka dan juga lebam berwarna hitam keunguan.
"Kalau tidak, kami akan semakin membuat Shima menderita. Apa salahnya berkata jujur. Mungkin saja nyawamu dan temanmu akan terselamatkan!" Hana melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat dijeda Hiro.
Sejujurnya Hiro masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Di mulai tempat sekarang dia berada, kemudian identitas Hana yang terkesan seperti ketua dari komplotannya. Padahal menurutnya Hana masih sangat muda. Kecuali gadis tersebut memang terlahir dari orang tua yang berkuasa layaknya Izumi.
'Apa orang tuanya sepasang penjahat kelas kakap?' pikir Hiro, menduga-duga. Penglihatannya kemudian kembali di arahkan kepada Shima. Sahabatnya itu tampak tengkurap di lantai. Terpejam dalam keadaan salah satu kelopak mata yang membengkak. Hiro merasa bersalah, dan tidak tega melihatnya.
"Baiklah, aku akan katakan yang sebenarnya," kata Hiro pelan. "Alasan kami ke sini karena Izumi. Kau mengenalnya bukan?" sambung Hiro di akhiri dengan satu pertanyaan.
Kening Hana mengukir garis-garis penuh tanya. Lalu memiringkan sedikit kepalanya. "Izumi?" Hana tergelak sesaat.
"Apa dia menyuruhmu mengambil koleksi limited edition-ku?" tebak Hana dengan alis yang terangkat. Hiro sontak mengangguk, dan mengucapkan kata ya.
Hana menghembuskan nafas sambil memegangi jidatnya sendiri. Dia memandangi Hiro dan Shima secara bergantian. "Harusnya kalian tidak mendatangiku hari ini. Ugh!" tuturnya.
Catatan kaki :
__ADS_1
Tai-jitsu : Kemampuan bela diri tangan kosong.
Penjahat kelas kakap : Penjahat profesional dan berpengalaman.