
Hiro, Shima dan Hana masuk ke dalam cafe dan berbincang di sana. Hana merogoh tas ransel, lalu mengeluarkan smartphone-nya. Dia memperlihatkan sebuah data identitas mengenai Keichi Yamada.
"Informasi ini ternyata sangat penting!" Hana melebarkan kedua kelopak matanya. Bersemangat membahas mengenai kabar yang akan diberitahukannya. "Keichi Yamada ternyata adalah sahabat dekat Katashi Nakagawa. Dan menariknya, Keichi sudah dinyatakan menghilang enam belas tahun yang lalu. Ini fotonya!" Hana memperbesar gambar Keichi di layar ponselnya.
Hiro dan Shima memperhatikan baik-baik foto tersebut. Mereka merasa ada yang aneh dengan tampilan wajah Keichi. Hana yang sudah memahami keanehan itu memfokuskan atensinya kepada Hiro. Hal yang sama juga perlahan dilakukan Shima. Seolah memastikan betapa miripnya wajah Hiro dengan Keichi.
Hiro menatap Shima dan Hana secara bergantian. "Apa kalian memikirkan hal yang sama?" ujarnya masih berusaha mencerna kenyataan baik-baik.
"Kalau kamu ragu. Bagaimana aku tunjukkan saja foto Manami Yamada. Aku memang tidak pernah bertemu dengan ibumu, tetapi Kogoro mengatakan..." Hana menjeda sejenak, untuk mencari informasi Manami di ponselnya. Setelah ketemu, dia langsung menunjukkannya kepada Hiro. "Lebih baik kau sendiri saja yang pastikan kemiripannya!" sambungnya sembari memindahkan ponselnya ke tangan Hiro.
Mata Hiro dan Shima terbelalak bersamaan. Sebab foto Manami yang mereka lihat sangat mirip dengan Akira. Tidak! bukan mirip lagi, tetapi benar-benar sama-sama persis. Bermata sipit, berhidung mancung, serta memiliki bibir yang tipis.
Hiro menekan-nekan kepala dengan kedua tangannya. Rasa penasaran semakin membuncah hebat. Apalagi mengingat rupa Katashi juga sama persis seperti Takeda. Sebenarnya kebetulan apa semua ini? hal baik atau buruk?
Meskipun begitu, Hiro sedikit senang. Sebab secara perlahan kebenaran semakin terkuak. Kini hanya tinggal memastikan informasi yang tersimpan rapi di kotak pandora milik keluarga Nakagawa.
"Shima, cepat beritahu Izumi kalau kita setuju untuk pindah sekolah bersamanya!" titah Hiro.
"Kau yakin?" Shima memastikan.
"Pindah sekolah? apa ada hal buruk yang menimpa gadis bodoh itu?" Hana bertanya sambil terkekeh. Dia nampaknya senang kala mendengar Izumi tengah menanggung derita. Namun Hiro mengacungkan jari telunjuknya tepat ke depan wajah Hana. Lelaki tersebut ingin Hana menutup mulut terlebih dahulu.
Karena merasa didesak, akhirnya Shima mengirimkan pesan persetujuan kepada Izumi.
"Sepertinya dia menderita karena berita pembulian itu, benarkan?" Hana kembali bersuara. Penasaran dengan apa yang menimpa Izumi.
"Lihatlah Shima, seorang pembenci biasanya lebih penasaran dari pada seorang pengagum!" Hiro sengaja menyindir Hana.
Rengutan sontak mendominasi semburat diparas Hana. Dia merasa agak kesal dengan ucapan Hiro.
Plak!
__ADS_1
Shima tiba-tiba menepuk jidatnya sendiri. Dia baru teringat kalau dirinya berjanji akan menjemput Shiro sekolah hari ini. Lelaki berambut cepak itu lantas bergegas pulang. Meninggalkan Hiro dan Hana duduk saling berhadapan.
"Shima lelaki yang sangat polos. Kau harus tahu, ketika di tempat karoke, dia dan Aya hanya--"
"Maksudmu Hima?" potong Hiro. Dia ingat kalau gadis yang bermesraan di tempat karoke bersama Shima adalah Hima. Tetapi Hana menampiknya, karena Hima ternyata juga memakai nama palsu seperti dirinya.
"Emm... apa nama palsumu selalu Sakura?" Hiro bertanya dengan nada malas. Dia bermain-main dengan sedotan yang ada di dalam gelas minumannya.
"Mungkin, Kogoro yang membuatkan identitas palsu itu untukku." Hana menjawab jujur.
"Ngomong-ngomong tadi kau bermaksud memberitahu perihal Shima? memangnya dia berbuat sesuatu yang salah?" Hiro menuntut jawaban.
Hana tergelak kecil, lalu menjelaskan apa yang dilakukan Shima bersama Aya. Hana bilang Shima sangat kaku, jadi Aya hanya berhasil mencium bibirnya.
"Ah... harusnya aku minta penjelasan Shima saat itu. Aku kira dia dan Aya..." Hiro terkekeh. Dia merasa gemas terhadap betapa polosnya Shima.
"Dia sangat berbeda denganmu, Hiro. Bagaimana bisa kalian dapat berteman seakrab itu dengan perangai yang berlawanan." Hana berpendapat.
Tanpa disangka, Hana ternyata mengikuti. Gadis tersebut ingin berkunjung ke rumah Hiro. Dia memberi alasan, kalau dirinya berniat menemui Akira. Hana hendak memastikan kemiripannya dengan Manami.
Hiro dan Hana melangkah bersamaan. Hingga tidak terasa mereka sampai di tempat tujuan. Sayangnya, Akira kebetuan tidak ada di rumah. Jadi, sekarang Hana hanya bisa melihat-lihat tempat tinggal Hiro. Pandangan gadis itu mengedar ke sekeliling.
"Hidupmu ternyata memprihatinkan juga. Bahkan tampilan rumahmu lebih buruk dari hunianku di apartemen Guree," komentar Hana sambil melangkahkan kakinya masuk ke kamar Hiro.
"Apa? kau membandingkannya dengan apartemen tua itu? tidak sebanding!" sahut Hiro, menggeleng remeh. Tangannya sibuk membuka kancing seragamnya satu per satu. Tetapi dia harus menghentikan kegiatannya, saat menyaksikan Hana memperhatikannya dari ambang pintu. Sorot mata gadis itu mendadak berubah. Persis seperti tatapan yang dilakukannya ketika berada di bilik karoke. Nakal dan bernafsu.
"Aku tahu tatapan itu!" ucap Hiro, tersenyum miring.
"Jika tahu, sebaiknya diam dan lakukanlah!" Hana melempar asal tas ranselnya. Kemudian membidik bibir Hiro dengan mulutnya. Sebagai seorang lelaki, Hiro tentu tidak akan menolak serangan tidak terduga tersebut.
Hiro sedikit menundukkan kepala, karena badannya memang lebih tinggi dari Hana. Tangan keduanya mengunci satu sama lain. Saling memeluk, hingga ciuman yang mereka lakukan perlahan semakin intens. Bahkan sudah membuat Hana mulai kesulitan mengatur nafasnya.
__ADS_1
Hiro memojokkan Hana ke dinding. Dia memindahkan sentuhan bibirnya ke leher Hana, sehingga menyebabkan gadis tersebut reflek mengangakan mulut. Merasakan ada sesuatu yang menggelitik tajam diperutnya.
Tangan nakal Hiro perlahan mulai menyingkap rok Hana. Namun sebelum berbuat semakin jauh, suara panggilan Akira mengharuskan Hiro dan Hana lekas-lekas memisahkan diri.
"Ba-bagaimana? apa aku harus sembunyi?" tanya Hana gelagapan. Tangannya sibuk merapikan rambut yang tadi sempat di acak-acak oleh Hiro.
"Tidak perlu. Kenapa kau ketakutan begitu?" respon Hiro yang terkesan tenang. Dia malah menyuruh Hana keluar dan menemui Akira.
"Benarkah? apa ibumu tidak akan memarahimu?" tanya Hana, cemas.
"Entahlah. Tetapi hari ini, aku memang bertekad ingin berdebat dengannya!" jawab Hiro bergegas keluar lebih dahulu dari kamar. Hana lantas mengikuti dan langsung berhadapan dengan sosok Akira. Ibu dari Hiro itu membulatkan mata kala melihat kehadiran Hana.
"Hiro, dia siapa? apa dia teman barumu? kenapa seragam sekolah kalian berbeda," Akira segera melayangkan pertanyaan. Dia tersenyum canggung.
"Namanya Hana!" ujar Hiro memperkenalkan. Hana pun sedikit membungkuk dan mengukir senyuman diwajahnya. Dia merasa agak canggung menghadapi Akira. Namun dibalik itu, dia meyakini satu hal, kalau Manami adalah Akira.
"Halo, senang berkenalan denganmu." Hana melangkah lebih dekat. Akira membalas tersenyum dan menepuk pelan pundaknya. Saat itulah Hiro memberikan kode kepada Hana, agar segera pulang. Bola matanya beberapa kali digerakkan ke arah pintu keluar.
Suasana menghening canggung dalam sesaat. Baik Akira maupun Hana tidak tahu harus berinteraksi bagaimana. Andai ada satu jangkrik menontoni adegan tersebut, mungkin dia akan mendendangkan suaranya.
"Se-sepertinya aku harus pulang sekarang," ungkap Hana sambil mengaitkan secuil helai rambut ke daun telinga.
"Kenapa buru-buru?" timpal Akira, mengangkat kedua alisnya bersamaan.
"Dia ada janji yang mendesak katanya." Hiro memberikan alasan. "Cepat! nanti kau terlambat!" desak Hiro yang sekarang bicara dengan Hana.
Sembari menghembuskan nafas lega dari mulut, Hana pun berderap keluar rumah. Dia kembali pulang ke apartemen Guree.
...____________...
Catatan Author :
__ADS_1
Guys, jangan lupa like dan komennya di setiap bab ya. Biar author nggak kapok crazy up :')