
"Sudah kuduga..." gumaman Eiji memecahkan keheningan. Hiro otomatis menoleh ke arahnya. Melakukan tatapan menyelidik. Namun Eiji hanya tersenyum tipis dan berucap, "Aku tidak sengaja menemukan banyak senjata digudang. Mungkin itu bisa membantumu. Aku sudah meletakkannya di samping pelataran kuil."
Eiji langsung beranjak pergi. Dia terlihat kembali ke rumah, menemani Shiro yang kebetulan dititipkan kepadanya. Adik lelaki Shima itu tengah tertidur pulas akibat kelelahan.
Hiro terpaku menatap jam pasir yang bergerak cepat. Menurut dugaannya, percobaan pertama Shima pasti akan berujung gagal. Karena saat latihan dulu, Hiro juga begitu. Bahkan mungkin lebih keras dari Shima. Dia sangat ingat, pernah disuruh berlari menaiki gunung sambil membawa dua ember berisi air penuh.
"Apa aku terlalu lembut padanya?" ucap Hiro sembari menatap jalanan yang tadi sudah dilewati Shima. Dia mendudukkan diri di pelataran kuil.
Semakin lama rasa bosan mulai menyelimuti. Hingga Hiro akhirnya berdiri dan melihat-lihat senjata yang tadi sempat diberitahukan Eiji. Satu senjata langsung menarik perhatiannya. Yaitu sebuah alat pemanah beserta anak-anak panahnya. Hiro lantas mengambil senjata tersebut, lalu berjalan ke sekitar kuil. Dia berniat mencari sesuatu yang pas untuk dipanah.
Dari kejauhan mata Hiro dapat menangkap penampakan seorang gadis. Dia tampak sendirian di padang rerumputan, dan memegangi sebuah kamera ditangannya. Siapa lagi kalau Izumi, yang sepertinya sengaja kabur dari penjagaan para bodyguardnya.
'Apa aku panah saja dia?' batin Hiro sembari mematri seringai diwajahnya.
Seolah tahu sedang dipandangi, Izumi membalas tatapan Hiro. Gadis tersebut sempat terpaku, karena Hiro tengah memegangi alat pemanah dan menyandang tas berisi anak panah dipunggungnya.
Hiro berusaha mengabaikan Izumi. Dia mendadak melihat pohon yang dipenuhi dengan buah kesemek. Kebetulan pohonnya terlihat berbuah lebat. Kesemek memang adalah jenis buah yang hanya akan berbuah di musim gugur.
Pergerakan Hiro menyadarkan Izumi. Dia lekas-lekas ikut menyibukkan diri dengan aktifitasnya sendiri. Seperti memotret beberapa pemandangan alam yang menarik perhatiannya.
Buk!
Suara buah yang terjatuh sekali lagi mengharuskan Izumi menoleh ke arah Hiro. Dia melihat lelaki itu sedang melakukan pose menarik alat pemanahnya. Tampak tegas dan berani. Tatapannya mengarah ke atas. Tepat ke buah kesemek matang yang tengah menjadi bidikannya.
Hiro menembakkan anak panahnya tepat ke sasaran. Buah kesemek matang pun seketika terjatuh ke tanah. Dia reflek menatap Izumi, sepertinya energi tatapan yang dilakukan gadis itu meningkatkan instingnya. Hiro berhasil memergoki Izumi tengah mengarahkan kamera kepadanya.
__ADS_1
Merasa tertangkap basah, Izumi lekas-lekas membalikkan badan. Akan tetapi dia malah semakin dibuat terkejut, karena seekor ular mendadak hampir menggapai keberadaannya. Kaki Izumi sontak melangkah mundur dengan sangat pelan. Jantungnya berdebar hebat akibat rasa takut yang kian memuncak. Sampai-sampai dirinya tidak menengok lagi dengan apa yang ada di belakang. Hingga akhirnya kaki Izumi tersandung batang kayu, menyebabkan tubuhnya seketika terjatuh dalam keadaan kaki yang mengangkang.
Izumi kini terduduk di tanah dalam keadaan mematung. Dia mulai merengek, namun berusaha sebisa mungkin agar tidak mengeluarkan suara.
Ular itu semakin mendekati Izumi. Sudah berjalan di antara kedua kakinya yang terbuka. Izumi sontak tambah ketakutan. Dia ingin berteriak, tetapi takut kalau-kalau ularnya malah akan menyerang dirinya. Apalagi sekarang Izumi tengah mengenakan dress selutut.
Syut!
Izumi tersentak kaget tatkala sebuah panah berhasil menancap tepat ke bagian kepala ular. Binatang itu langsung menggeliat-geliatkan badannya dengan liar karena kesakitan.
"Aaarkhhh!!!" pekik Izumi yang merasa geli ketika badan ular tersebut mengenai kedua kakinya. Dia benar-benar merasa takut dan juga jijik. Izumi bergegas bangkit dan berdiri. Kemudian berlari sejauh mungkin dari posisi ular tadi.
"Hiro!" Izumi berlari menghampiri Hiro, sambil menghapus cairan bening yang sempat keluar dari sudut matanya.
Hiro hanya membisu, dan malah berjalan mendekati keberadaan ular yang tadi hampir menyerang Izumi. Anehnya binatang melata itu sudah menghilang secara misterius.
Hiro menjawab dengan anggukan kepala. Lalu berjalan mengambil beberapa buah kesemek yang telah berhasil dijatuhkannya.
"Kau belajar memanah dari siapa? benar-benar terlihat seperti profesional," ungkap Izumi. Bola matanya terus bergerak mengikuti kemana pun Hiro melangkah.
"Entahlah, haruskah aku memberitahumu. Bukankah kita tidak berteman?" respon Hiro, menatap Izumi dengan ekor matanya.
Izumi memutar bola mata sembari mengukir senyuman tipis. "Jadi kau masih mempermasalahkan itu?" ujarnya yang kini menggelengkan kepala tak percaya.
"Baiklah. Kau boleh menjadi temanku sekarang!" ucap Izumi. Melipat tangannya di depan dada. Mengamati Hiro yang sudah selesai mengumpulkan buah kesemek, dan tampak berderap mendekatinya.
__ADS_1
"Ya sudah..." Hiro menarik salah satu tangan Izumi dengan pelan, kemudian memberikan sebuah kesemek matang. "Sampai jumpa di sekolah..." sambungnya seraya tersenyum singkat, lalu melingus pergi begitu saja.
'Izumi, orang yang terlalu mudah untuk dibunuh, gadis sepertinya lebih baik dimanfaatkan sebaik mungkin,' batin Hiro yang sudah mengubah mimik wajahnya menjadi datar. Apa yang ditampakkannya di depan Izumi, hanyalah sandiwara belaka.
...***...
Hiro pergi ke rumah penjaga kuil. Dia berniat memberikan beberapa buah kesemek hasil buruannya. Sekalian juga memastikan keadaan Shiro, yang ternyata masih saja asyik tertidur.
"Kau menggunakan alat pemanahnya dengan baik," puji Eiji sembari mengupas kulit buah kesemek. Dia dan Hiro duduk di teras, sambil memperhatikan jalanan yang dapat terlihat dari kejauhan.
"Aku rasa, itu karena pemanahnya berfungsi sangat baik." Hiro mengambil sepotong buah kesemek pemberian Eiji. "Ngomong-ngomong, apa semua senjatanya milikmu?" tanyanya, melanjutkan pembicaraan.
"Tentu saja tidak. Itu barang-barang peninggalan orang-orang yang pernah berlatih di sini," jawab Eiji. Terkekeh hingga menampakkan deretan giginya yang putih.
Setelah puas menikmati buah kesemek, Hiro kembali ke pintu gerbang kuil. Memastikan pergerakan jam pasir. Dia menyaksikan pasir yang jatuh sedikit lagi akan habis. Pertanda bahwa waktu akan segera berakhir. Namun Shima tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Hiro mulai berjalan bolak balik, bak cara kerja setrikaan. Perhatiannya tidak teralihkan dari jalanan.
Beberapa menit terlewat, barulah Hiro bisa menyaksikan Shima muncul dari kejauhan. Dia sontak memeriksa jam pasir. Benar saja, semua pasir yang ada di bagian atas sudah berjatuhan ke bawah. Jelas Shima telah kehabisan waktu.
Shima melangkahkan kaki dengan berat. Seakan dirinya tengah membawa dua kilo batu di masing-masing kakinya. Wajahnya tampak sangat kelelahan. Hingga ketika dia sudah tiba di depan Hiro, tubuhnya langsung ambruk ke tanah.
"Bisakah kita langsung mempelajari jurusnya saja..." lirih Shima dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia tidak peduli lagi pada tanah yang mengotori sebagian wajahnya.
Hiro mendengus kasar. "Apa kau menyerah?" timpalnya sembari mengukir kernyitan dikeningnya.
__ADS_1
"Eh, bukan begitu... bolehkah aku meminta keringanan?" ujar Shima. Dia perlahan kembali bangkit.
"Shima, kau hanya ada dua pilihan jika berniat meminta keringanan begitu. Berhenti atau mencoba lagi!" balas Hiro, menegaskan.