
Sebelum sempat bersiap, Itsuki sudah lebih dahulu menendang Hiro dengan kakinya. Hiro sontak terjatuh ke lantai dalam keadaan telentang.
"Ughh!" erang Hiro. Tangannya reflek memegangi bagian dada. Matanya yang sempat terpejam perlahan dibuka. Nampaklah Izumi di hadapannya. Pupil mata gadis itu membesar, dan terlihat khawatir.
"Hiro, kau tidak--" ucapan Izumi harus terhenti, saat Hiro mendadak bangkit dan berdiri. Kemudian segera melakukan serangan balasan.
Itsuki dapat menghindarinya dengan gesit. Dia bergerak sambil meletakkan kedua tangannya di belakang punggung. Terus tersenyum remeh, ketika Hiro melayangkan beberapa jurus andalannya. Jujur saja gerakan Hiro tampak amatir kala berhadapan dengan Itsuki.
"Apa itu saja? kau sepertinya kurang berlatih!" ujar Itsuki yang sontak membuat Hiro menghentikan serangannya. Nafasnya kini tersengal-sengal sembari menatap tajam kepada lawannya.
Itsuki tiba-tiba bergerak. Dia berupaya kembali mengarahkan tendangan. Untung saja kali ini Hiro mampu menghindar. Meskipun begitu, Itsuki tidak berhenti, dia langsung berlanjut mengarahkan tinjuan lurus. Tepat ke arah hidung Hiro.
Buk!
"Aakh!" hidung Hiro sontak mengeluarkan darah. Dia memeganginya karena merasa kesakitan.
"Jangan memukulinya diwajah!" pekik Izumi, yang sedari tadi menonton dari depan pintu. Tetapi Itsuki nampaknya tak peduli. Dia malah mencengkeram erat kerah baju Hiro. Alhasil satu tangan Hiro reflek memegangi tangan Itsuki, sedangkan sebelah tangannya yang lain mencoba dipukulkan ke perut lawan.
Selanjutnya Hiro segera mengunci badan Itsuki, lalu berusaha membantingnya. Namun ternyata semuanya tidak semudah yang dia pikirkan. Sebab Itsuki bergeming dan malah mencoba melakukan hal yang sama. Hiro yang memiliki badan lebih kecil dengan mudah dihempaskan ke tanah.
Buk!
Sekarang Hiro kembali terbaring di tanah. Itsuki tersenyum miring.
"Ah! susah juga kalau punya lawan yang belum siap. Ya sudah, cukup sampai di sini saja. Sepertinya semua energimu telah terukuras tadi malam!" ucap Ituski, kemudian meludahkan salivanya ke samping. Dia segera membantu Hiro bangkit untuk berdiri. Usahanya itu tentu tidak diterima. Hiro mengabaikan uluran tangannya dan memilih berdiri sendiri. Dahinya mengerut kesal. Saat itulah ponselnya bergetar.
__ADS_1
Sebelum mengangkat panggilan telepon, Hiro menenangkan diri terlebih dahulu. Mengatur amarah dan menenggak ludahnya sendiri. Dia berjalan menjauh dari Itsuki dan kediaman Nakagawa. Menuju pintu gerbang yang berjarak sekitar dua puluh langkah lebih.
"Ya? ibuku baik-baik saja kan?" Hiro mengangkat panggilan yang ternyata lagi-lagi dari pihak rumah sakit. Dia terus membersihkan darah yang keluar dari hidung dengan lengan bajunya.
"Cepatlah ke sini. Ibumu mengamuk, dan meminta ingin bertemu denganmu!" sahut suara perempuan dari seberang telepon. Dia adalah perawat yang bertugas menjaga Akira.
Kabar tersebut sontak membuat Hiro berlari secepat mungkin. Suara panggilan Itsuki dan Izumi diabaikannya begitu saja. Padahal dua kakak beradik itu hendak menawarkan tumpangan untuk pulang. Namun sepertinya kekesalan Hiro tak bisa dibungkam dengan hal begitu.
Izumi yang berupaya mengejar Hiro dengan ikut berlari, hanya mampu mengikuti ke depan gerbang rumahnya. Dia menghentikan larinya, karena Hiro sudah berlari sangat jauh.
Hiro terus melajukan larinya. Nafasnya sudah ngos-ngosan dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Dia melakukannya karena mencoba melupakan pertarungannya beberapa saat lalu. Dipermalukan oleh musuh sendiri. Jujur saja itu sangat membuat dirinya kecewa.
Ketika lampu hijau menyala, Hiro melanjutkan larinya. Sesekali dia tidak sengaja menabrak beberapa orang yang lalu lalang di sekitaran. Yang di inginkannya sekarang hanyalah cepat-cepat sampai tanpa berinteraksi dengan siapapun. Makanya dia tidak menaiki bus atau pun taksi. Sepertinya amarahlah yang membuat Hiro melakukan itu. Dia malah memilih jalan yang panjang dan melelahkan. Tetapi sebenarnya, alasan utamanya adalah, karena Hiro tidak membawa uang yang cukup.
Butuh sekitar lima belas menit untuk tiba di rumah sakit. Hiro masuk ke kamar Akira dengan langkah gontai. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali akibat adanya pandangan yang berkunang-kunang. Separuh bajunya kini basah akibat keringat. Hiro membuang asal jasnya ke lantai.
"Hiro!" panggil Akira, seraya bergegas bangkit dari kasurnya. Hiro lantas berupaya menghampiri lebih dahulu, dan mencegah pergerakan sang ibu.
"Kamu kenapa? hidungmu berdarah! apa kau berkelahi?" tanya Akira cemas. Rambutnya tampak berantakan sekali. Bibirnya pun pucat. Membuat Hiro merasa iba saat menyaksikannya.
Entah kenapa Hiro tak mampu bicara sepatah kata pun. Dia perlahan meletakkan kepala dipundak ibunya.
Akira menepuk pelan punggung putranya. Air matanya mulai berjatuhan.
__ADS_1
"Maafkan aku, Hiro..." ungkap Akira. "Aku seorang Ibu yang sangat merepotkan bukan?" lanjutnya sembari mengenduskan hidungnya yang sudah dipenuhi oleh cairan alami.
Hiro masih membisu. Dia masih tidak berminat berbicara. Hanya membiarkan Akira terus berucap sesuka hati.
"Aku sudah memikirkan semuanya baik-baik. Kamu benar, harusnya aku tidak memendam rasa sakit sendirian. Tetapi, apakah tidak apa jika aku mengatakan yang sebenarnya?..." perkataan Akira langsung menarik perhatian Hiro. Dia perlahan menegakkan badannya dan menatap serius kepada Akira.
"Ibu tidak perlu memaksa, jika tidak bisa bercerita. Aku tidak mau kamu jatuh sakit lagi." Akhirnya Hiro bersuara. Dia terpaksa karena peduli dengan kondisi ibunya.
Akira menggeleng tegas dan membalas, "Aku akan bercerita sekarang." Dia meliarkan pandangannya ke sekeliling. Memastikan tidak ada seorang pun yang mendengarkan pembicaraannya dengan Hiro. Tangannya segera mengelap air mata yang berjatuhan dipipi. Akira menenangkan diri lebih dahulu.
"Ayahmu dibunuh oleh Katashi Nakagawa. Dan kamu benar, mengenai nama asliku. Manami Yamada!" Akira memegangi pundak sang putra. Hiro yang mendengar sontak membelalakkan mata.
"A-a-ayahmu dibunuh dengan cara yang sadis sekali. Saat itu aku sedang mengandung dirimu. Perutku sudah besar karena umur kandungannya sudah mencapai delapan bulan..." Akira bercerita dengan pelan. Memorinya berusaha mengingat kenangan buruk yang terjadi.
"O-o-orang itu... orang itu..." tangan Akira mulai gemetaran. Bahkan matanya ikut bergetar hebat. Dia tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Ibu, tenanglah... kau tidak harus melakukannya. Jangan coba mengingatnya, jika itu adalah hal yang sangat buruk!" imbuh Hiro, meyakinkan Akira. Dia tidak ingin ibunya diserang rasa panik lagi. Seperti di waktu-waktu sebelumnya.
Hiro memberikan segelas air putih kepada Akira. Kemudian membantu ibunya merebahkan diri ke hospital bed. Benar saja, usahanya berhasil membuat ibunya lebih tenang. Lalu memejamkan mata dan akhirnya tertidur.
Gerakan kaki Hiro terlihat berat saat berjalan. Ternyata dugaannya selama ini benar mengenai Katashi. Tetapi sayangnya hingga sekarang, Hiro belum pernah menemui sosok yang wajahnya sangat mirip dengan Takeda itu.
Hiro berderap menuju tempat minuman. Di sana dirinya mencoba membuat teh hangat.
"Ibumu tadi mengamuk sampai keluar dari kamar!" suara seorang lelaki menyebabkan Hiro tersentak kaget. Hiro segera menoleh ke pemilik sumber suara. Ternyata dia adalah Kogoro.
__ADS_1