
Hiro berderap mendekati Takeshi. Dia langsung mencengkeram kerah baju lelaki berambut panjang sebahu itu. Rambutnya tampak di ikat ke belakang, dan sedikit berantakan akibat kegiatan tidurnya.
Mata Takeshi seketika terbelalak. Dia dibuat begitu kaget dengan kedatangan Hiro. Badan Takeshi lantas terangkat, membuat helaian rambutnya mulai bergerak mengikuti arus.
Bruk! Prang!
Hiro menghempaskan tubuh Takeshi tepat ke meja kaca yang berada tidak jauh dari sofa. Bunyi tubrukan beserta pecahan kaca berdenting memenuhi ruangan. Bahkan Shima yang ada di luar rumah dapat mendengar keributan itu. Dia sontak berlari untuk memasuki rumah.
Shima berusaha menyusul Hiro. Namun ketika dirinya memasuki rumah, dia malah menemukan beberapa orang berbadan kekar melotot ke arahnya.
"Kau urus temannya ini, sedangkan kami bertiga akan melihat keadaan di atas!" ujar salah satu pria berbadan kekar tersebut. Tiga dari mereka bergegas pergi ke loteng. Sepertinya mereka hendak memberikan pelajaran kepada Hiro. Mereka tidak butuh waktu yang lama untuk mendatangi Hiro.
"Woy bocah sint*ingl! beraninya kau masuk ke tempat kami tanpa izin!" suara teguran lelaki mengharuskan Hiro membalikkan badan untuk menoleh. Penampakan wajahnya sekarang begitu jelas. Menyebabkan ketiga lelaki di hadapannya dapat mengenalinya dengan baik.
"Dasar tidak tahu diri! bukankah kau putranya Akira?!" kata salah satu lelaki berbadan kekar lagi dengan suara lantangnya.
"Iya, dan aku akan memberikan pelajaran kepada kalian hari ini!" pekik Hiro, yang langsung dilanjutkan dengan serangan tak terduga. Dia mendorong salah satu pria yang kebetulan berdiri di depan tangga. Hiro melakukannya dengan sebuah tendangan kuat. Pria yang ditendangnya seketika hilang keseimbangan dan terjatuh ke tangga.
Melihat temannya sudah tumbang. Dua lelaki yang tertinggal lantas mencoba melakukan pembalasan. Salah satu di antara keduanya berhasil memberikan pukulan ke wajah, dan menyebabkan hidung Hiro mengeluarkan darah.
Bukannya menjadi lemah, darah yang menetes di hidungnya malah membuat adrenalin Hiro semakin terpacu. Dia sekarang mengeluarkan keahliannya dan bergerak dengan gesit. Mengeluarkan keahlian gerakan ninjutsu-nya yang telah lama disimpan.
__ADS_1
Hiro memukul wajah salah satu lawannya dengan gerakan tangan yang cepat. Kedua tanganya bergerak sangat cepat seperti kilatan angin. Dia juga mampu menghindari beberapa serangan balasan.
Sebagai seorang ninja, kegunaan indera penglihatan dan pendengaran harus digunakan dengan baik. Makanya pendengaran Hiro dapat mendengar dengan jelas, suara sebuah benda sedang terangkat dari belakangnya. Tanpa pikir panjang Hiro langsung melayangkan sebuah tendangan berputar, dan aksinya itu berhasil menghancurkan sebuah benda yang ternyata adalah kursi tua.
Sekarang pria kekar yang menyerang Hiro dengan kursi semakin geram. Dia mencoba mengarahkan tinju bertubi-tubi, namun lagi-lagi Hiro dapat menangkis gerakan tersebut dengan mudahnya. Pukulan yang mengenai wajah dan perut membuat pria berbadan kekar itu reflek bergerak mundur, hingga akhirnya terjatuh dari balkon.
"Aaargghh!! rasakan ini!" pekik satu-satunya lelaki berbadan kekar yang masih tertinggal. Dia segera berlari sekuat tenaga untuk membenamkan tinjunya. Akan tetapi salah satu kaki Hiro dengan sigap dipukulkan tepat ke senjata pribadi pria berbadan kekar tersebut.
Sekarang dua lawan Hiro telah tumbang. Satunya pingsan dan yang lainnya lagi mengerang kesakitan sambil memegangi alat pribadinya.
"Dasar anak bodoh! kau pikir dengan serangan ini hutangmu bisa lunas begitu saja?!" Takeshi yang sedari tadi telentang di lantai, perlahan merubah posisinya menjadi duduk. Terdapat beberapa goresan ditubuhnya akibat serpihan kaca yang mengenainya. Takeshi melotot tajam ke arah Hiro. Meskipun begitu, dia tetap diam diposisinya, karena sekujur badannya terasa begitu sakit.
"Jika kalian berani lagi mendatangi rumahku dan menyakiti Akira, maka aku tidak akan segan-segan menghunus kepala kalian dengan pedang. Dan ingat! nanti aku akan melakukannya tanpa terang-terangan seperti ini!" balas Hiro membalas pelototan Takeshi dengan penuh amarah. Selanjutnya dia pun segera melangkahkan kaki untuk turun ke bawah.
Hiro sudah berada di lantai bawah. Ruangan yang ada tampak kosong melompong. Sehingga akhirnya dia pun memilih untuk keluar dari rumah. Dia juga tidak lupa mengambil tisu yang kebetulan ada di atas meja. Kemudian menggunakannya untuk membersihkan darah dari hidungnya.
Drrt... drrt...
Ponsel Hiro mendadak bergetar. Sebuah panggilan dari Shima langsung membuat kelopak matanya melebar. Dia baru teringat dengan keadaan Shima yang ternyata sedari tadi sempat mengikutinya.
"Shima-Kun, kau dimana?" ujar Hiro cemas. Telinganya dapat mendengar jelas suara nafas Shima yang sedang tersengal-sengal.
__ADS_1
"Senpai, aku sekarang sedang bersembunyi di sebuah salon. Dua bawahan rentenir itu terus mengejarku..." jawab Shima dengan nada pelan. Membuktikan kalau dirinya benar-benar tengah bersembunyi.
"Kau bersembunyi dimana? aku akan membantu!"
"Tidak. Aku bisa mengatasi ini Senpai, kau tunggu saja di dekat motor. Aku akan menyusul secepat mungkin!" perkataan Shima terdengar begitu meyakinkan, dan berhasil membuat Hiro menaruh kepercayaannya.
"Baiklah!" Hiro mematikan panggilan telepon lebih dahulu. Lalu berjalan menuju motor Shima yang terparkir tidak begitu jauh.
Langkah Hiro sempat berhenti, saat menyaksikan ada dua wanita cantik di sekitar motor Shima. Kedua tangannya otomatis bergegas merapikan baju yang sekarang dikenakannya. Dia juga tidak lupa untuk menyisir rambutnya dengan jari-jemarinya. Setelah benar-benar siap, Hiro pun menderapkan kakinya untuk menghampiri dua wanita cantik itu.
"Wah, lihat. Sepertinya ada bocah yang nyasar ke wilayah kita?" ucap salah satu wanita berpakaian merah, dengan gaya rambut pendek sebahu. Dia duduk di atas motor Shima sambil menyilangkan kaki, menyebabkan dressnya sedikit menyusut. Hingga paha putih mulusnya dapat terlihat jelas.
"Apa kau terpisah dari ibumu, anak muda?" tanya wanita berambut panjang bergelombang. Dia mengenakan dress berwarna hitam dan juga jaket berbahan jeans. Wanita tersebut berdiri di depan motor. Saling berhadapan dengan wanita yang berpakaian merah.
Hiro terkekeh, dan merasa geli dipanggil dengan sebutan 'Bocah'. Padahal sudah jelas-jelas dirinya adalah lelaki dewasa. Ya, setidaknya untuk jiwanya, bukan fisik yang sekarang dimilikinya.
"Aku bukan bocah, dan sepenuhnya adalah lelaki dewasa. Coba lihat bekas darah yang ada di hidungku!" sahut Hiro, yang sontak membuat para wanita menatap ke arahnya. Setelahnya kedua wanita tersebut malah tertawa terbahak-bahak.
"Bocah, harusnya lihat dahulu pakaian yang kau kenakan itu!" timpal sang wanita berambut panjang. Lalu melanjutkan tawanya lagi.
"Kalian mau aku membuktikannya?!" balas Hiro, semakin mendekatkan dirinya kepada wanita yang sedang duduk di motor.
__ADS_1
"Hahaha, kau lucu sekali. Kenalkan aku Emi, dan dia Hanae!" ujar wanita berambut pendek, yang di akhiri dengan tangan yang menunjuk ke arah temannya. Dia melirik ke arah Hiro yang terlihat melakukan tatapan nakal.