
Jun terdengar berbicara kepada bellboy. Dia beserta Chen Fu mengajaknya ke belakang mobil. Mempersilahkan petugas bellboy untuk mengambil semua barang-barang.
Ketika bagasi terbuka, mata si bellboy terbelalak, karena menyaksikan ada empat orang yang memakai topeng. Akan tetapi sebelum petugas bellboy melakukan sesuatu, Chen Fu dengan sigap memukulkan sebuah tongkat kayu yang dibawanya. Pukulannya tepat mengenai kepala petugas bellboy.
Sang bellboy sontak tidak sadarkan diri. Jun beserta yang lain membawa bellboy itu masuk ke dalam mobil. Mengikat dan menyumpal mulutnya dengan seutas kain.
"Kenapa kau memasukkannya ke mobil?" protes Hana tak terima.
"Dia sepertinya hanya pingsan. Kau tidak membunuhnya?" Hiro ikut menimpali Jun dan Chen Fu.
"Sudahlah, jangan banyak bacot. Lebih baik hubungi Xen, agar dia bisa cepat-cepat mengurus CCTV-nya!" balas Jun, yang tak mau peduli. Baru saja rencana awal sudah ada perdebatan kecil di antara mereka.
"Hiro, aku tidak mengerti kenapa jalan pikiranmu hanya ingin membunuh saja!" sindir Hana. Melakukan tatapan sinis.
"Aku hanya berjaga-jaga. Jika dia mengetahui identitas kita, bukankah berarti dia akan mengadukannya kepada semua orang. Apa kalian tidak berpikir begitu?!" sahut Hiro dengan dahi yang berkerut kesal. "Lagi pula, dia juga bagian orang Nakagawa!" Hiro kembali melakukan penegasan.
"Xen baru saja menghubungi. Dia bilang sudah mengatasi CCTV yang ada di parkiran!" Chen Fu yang baru saja menerima panggilan telepon, memberikan kabar baik kepada semua teman-temannya.
Kini hanya tinggal menunggu Shotsuki dan Nozomi beraksi. Entah kenapa keduanya sangat lama dalam melaksanakan tugas mereka.
Untuk berjaga-jaga, Hiro beserta yang lain, masih berada di dalam mobil untuk bersembunyi. Sekali-kali memang terlihat orang-orang Nakagawa berlalu lalang.
Bellboy yang tadi kena pukulan Chen Fu direbahkan di bawah kursi. Tempat Hiro dan Shima tadi bersembunyi. Perlahan mata si bellboy terbuka, langsung melirik ke arah ketiga orang yang duduk dikursi. Yaitu, Hiro, Shima dan Hana. Kebetulan ketiganya lengah, dan sibuk memperhatikan ke arah tiga orang Nakagawa yang berkumpul.
__ADS_1
Bellboy memancarkan binaran mata penuh tekad. Dia mendadak bangkit dan kemudian memukulkan kedua tangannya yang masih terikat. Hingga mengenai wajah Hiro dan Shima. Tanpa diduga, Hana juga menjadi korban pukulannya yang selanjutnya. Terjadi keributan yang berhasil menarik perhatian tiga orang Nakagawa yang ada.
Bellboy berupaya menarik pintu mobil, namun langsung dicegah oleh Shima. Lelaki berambut cepak itu hanya memeganginya sekuat tenaga.
"Hiro..." panggil Shima sembari menoleh. Dia mulai kewalahan menangani tenaga bellboy yang terus memberontak. Hiro dengan cekatan mengambil pisau yang ada di saku celana. Kemudian menancapkannya tepat ke leher bellboy. Cairan merah nan segar menyembur ke segala penjuru.
Mata Shima terbelalak, ketika darah bellboy sedikit menciprat ke area wajahnya. Dia lekas-lekas mengusap wajahnya dengan tangan.
"Hey! siapa di dalam? apa yang kalian lakukan dengan berdiam diri di sini?! cepat keluar?!" ujar salah satu pria bagian komplotan Nakagawa. Dia berperawakan tinggi dan mengenakan baju lumayan ketat. Sehingga otot bisepnya dapat terlihat jelas dari lekuk tubuhnya. Dia menggedor kaca jendela mobil beberapa kali.
"Maafkan teman saya, dia dan adiknya sedang bertengkar." Jun yang masih mengenakan pakaian normal, bergegas keluar dari mobil, demi melakukan pembelaan.
"Apa yang kau lakukan di sini hah?! ini bukan tempat yang tepat untuk berdiam diri. Kenapa kalian tidak masuk ke hotel?!" pria berperawakan tinggi tersebut mencengkeram erat kerah baju Jun.
Buk!
Jun mendapatkan sebuah tinju ketika dia tengah berusaha tenang. Tetapi sekarang kesabarannya telah habis. Jun tidak tinggal diam, dan segera melakukan pembalasan. Keributan kembali terjadi. Namun untung saja, untuk sekarang tidak ada orang Nakagawa lain yang menyadarinya.
Tiga lawan satu. Jun mulai kewalahan melakukan perlawanan sendirian. Dia beberapa kali melirik kesal ke arah teman-temannya di mobil.
"Kenapa semua orang diam saja? apa kalian takut?" tanya Hiro, menatap heran kepada Hana.
"Apa kau tidak melihat bagaimana tiga orang itu? badan mereka besar-besar. Apa orang-orang Nakagawa semuanya begitu? bagaimana kita bisa mengalahkan mereka?" seorang lelaki yang sering berlatih tinju bersama Jun bersuara. Ketiga temannya yang lain segera menganggukkan kepala. Pertanda menyetujui ucapannya.
__ADS_1
"Ini gila, apa kalian ingin Jun mati?!" geram Hiro. Dia keluar dari mobil, di ikuti Shima serta Chen Fu yang ternyata memilih untuk membantu. Ketiganya pun melakukan serangan kepada orang-orang Nakagawa. Mereka menangani bersama-sama dengan cara berbeda.
Shima tampak bergulat dengan lawannya. Dia tidak sempat menyerang dari arah belakang. Sementara Hiro dengan sigap melingkarkan tangannya ke leher lawan. Kemudian mengerahkan semua tenaganya untuk mencekat tenggorokan musuh. Dia melakukannya sampai memastikan lawan sudah kehabisan nafas. Hiro melakukan secara mulus dan tanpa adanya keributan.
Selanjutnya, Hiro bergegas membantu Jun yang terduduk kesakitan. Wajah Jun dipenuhi dengan lebam.
Chen Fu terus mencoba menghindar dari lelaki yang berhadapan dengannya. Dia dan Shima masih sibuk melakukan perlawanan.
Shima dan lawannya terlihat saling bertukar tatapan tajam. Memasang kuda-kuda dan diam sejenak di tempat. Seolah mencari waktu yang tepat untuk melakukan serangan. Namun belum salah satunya sempat bertindak, Hiro menancapkan pisaunya ke leher lelaki yang menjadi lawan Shima. Selanjutnya Hiro berniat membantu Chen Fu, akan tetapi pria berkepala pelontos itu sudah lebih dahulu menghabisi lawannya.
"Kita tidak butuh waktu untuk terlalu lama berkelahi. Aku yakin satu per satu dari mereka akan semakin banyak bermunculan!" kata Hiro. Dia beserta yang lain lekas-lekas menyembunyikan tiga jasad orang Nakagawa ke tempat tersembunyi. Mereka hanya melakukannya sebelum rencana kebakaran hotel terjadi.
"Sampai kapan kita akan menunggu Shotsuki dan Nozomi? apa susahnya menyalakan api?!" Jun menggerutu kesal, sambil memegangi bagian wajahnya yang sakit. Dia dan penghuni apartemen Guree lainnya telah kembali masuk ke mobil.
"Aku sudah menelepon mereka beberapa kali. Tetapi baik Shotsuki dan Nozomi tidak ada yang mengangkat!" Hana memberitahu seraya sibuk dengan ponselnya.
"Apa mereka terkena masalah?" Hiro mulai gelisah.
"Mudah-mudahan saja tidak..." harap Hana.
Baru saja mereka membicarakan perihal rencana peralihan perhatian, suara alarm mendadak bergema. Suaranya terdengar dari berbagai arah. Tanda tersebut membuat perasaan Hiro lega. Dia mengartikan kalau keadaan Shotsuki dan Nozomi baik-baik saja.
Setelah suara alarm kebakaran berbunyi, kini suara yang harus didengar adalah pekikan panik dan ketakutan. Terdengar jelas dari dalam dan luar hotel. Hiro dan yang lain hanya menunggu orang-orang Nakagawa keluar dari ruang bawah tanah. Satu demi satu dari mereka memang sudah berlarian keluar. Berusaha bergegas untuk menyelamatkan diri. Lama-kelamaan dari mereka semakin banyak yang keluar dari ruang bawah tanah.
__ADS_1