Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 76 - Menuju Basement


__ADS_3

Hiro melangkahkan kakinya memasuki kamar. Dia berjalan mengiringi Kogoro dari belakang. Terdapat satu ranjang besar, sofa dan furniture mewah lainnya. Pemandangan kota Tokyo dapat disaksikan dari jendela kaca yang terpampang. Menunjukkan hasil keindahan lampu dari berbagai gedung dan alat transportasi.


Hiro mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Memperhatikan apa yang ada di dalam kamar. Dari fasilitas yang terlihat, kamar itu sangat cukup untuk empat orang. Apalagi ukuran kasurnya yang lebar, dan mampu memuat sekitar tiga orang lebih.


Ilustrasi kamar tempat Hiro dan kawan-kawan menginap :



Kogoro tampak mendapatkan panggilan telepon. Lelaki berambut sebahu yang dikuncir itu segera berbicara melalui ponselnya. Dia terdengar mendapatkan panggilan mendesak.


"Aku harus pergi." ujar Kogoro sembari memasukkan ponselnya ke saku mantel.


"Apa? Paman ingin meninggalkan kami?" timpal Shima dengan dahi yang berkerut.


"Iya. Hanya sebentar. Kalian jangan nekat mencari tahu tanpa sepengetahuanku. Tunggu aku!" ujar Kogoro menatap tajam tiga remaja yang ada di hadapannya secara bergantian. Dia kemudian bergegas keluar dari kamar. Memasang sebuah topi dipuncak kepalanya.


Shima menghempaskan tubuhnya ke kasur. Hal serupa juga di lakukan Hiro. Keduanya telentang berdampingan. Sedangkan Hana memilih duduk di dekat jendela. Gadis itu memainkan ponselnya. Mereka benar-benar beristirahat dalam sesaat.


Dua jam berlalu. Kogoro tidak kunjung kembali. Shima berusaha menghubungi pamannya tersebut melalui ponsel, namun sama sekali tidak ada jawaban.


"Ini sudah larut malam. Jangan bilang dia sedang bersenang-senang di sini," gerutu Shima. Dia masih mencoba melakukan panggilan beberapa kali.


"Jika sudah lewat jam satu dia belum kembali juga, lebih baik kita saja yang melakukan rencananya," usul Hana. Sudah yang ketiga kalinya bola matanya melirik ke arah jam tangan.


"Lakukan sekarang saja. Lagi pula menurutku, ini hanya memastikan keberadaan ruang bawah tanah itu, jadi tidak akan ada bahaya," usul Hiro seraya merapikan baju untuk bersiap.


"Hiro, jika markas rahasianya benar ada. Maka mereka pasti akan menjaganya dengan ketat!" Hana baru bangkit dari tempat duduknya.


"Ayo kita pergi ke parkiran VIP. Kita tidak bisa membuang waktu karena Kogoro!" keputusan Hiro sudah bulat. Dia bahkan telah beranjak untuk membuka pintu. Alhasil Shima dan Hana tidak punya pilihan selain mengikutinya.

__ADS_1


Sebelum pergi mereka sengaja mengenakan setelan hitam. Dengan masker yang menutupi wajah, serta topi berwarna senada dipuncak kepala. Tampilan ketiganya terkesan mirip, dan lumayan sulit untuk dibedakan. Apalagi Hana sengaja memasukkan rambut panjangnya ke dalam topi. Hingga gayanya sekarang menyerupai lelaki.


Kini Hiro,Shima dan Hana berada di dalam lift. Menuju lantai paling bawah, yaitu parkiran VIP. Setibanya di sana pandangan ketiganya segera memindai ke segala penjuri. Mereka juga secara alami menyebar dan berupaya menggunakan mata dengan jeli.


Keadaan di parkiran VIP begitu sepi. Tidak terlihat satu pun petunjuk yang memastikan. Lama-kelamaan pencarian mereka memakan waktu satu jam. Hingga akhirnya ketiganya berkumpul dan mengungkapkan pendapat masing-masing. Wajah Hiro tampak tertunduk kecewa, karena dia tidak berhasil menemukan yang dicarinya.


"Aku tidak menemukan sesuatu hal yang mencurigakan!" Shima menggedikkan bahunya.


"Aku juga!" Hana mengangguk yakin.


Hiro membisu sejenak. Perlahan dia mengangkat kepala dan berkata, "Kalau begitu--" ucapannya harus terjeda, ketika sebuah mobil muncul. Lampunya yang terang benderang membuat Hiro bisa mengira dimana keberadaan mobil itu. Dia beserta Shima dan Hana bergegas untuk bersembunyi.


Ternyata tidak hanya satu mobil saja yang terlihat. Tetapi juga ada dua mobil lain yang mengikuti dari belakang. Beberapa saat kemudian, satu per satu orang yang ada di dalam mobil keluar. Mereka tampak memiliki badan atletis dan terkesan kuat. Dua di antaranya berderap menuju bagasi mobil.


Mata Hiro, Shima dan Hana membelalak bersamaan. Karena ketiganya menyaksikan seorang lelaki dikeluarkan dari bagasi. Mereka sangat yakin kalau lelaki itu adalah Kogoro. Paman dari Shima tersebut terlihat terkulai lemah dan tidak sadarkan diri.


Shima hampir saja berteriak. Akan tetapi tangan Hiro dengan sigap menutup mulutnya rapat-rapat.


"Tidak sekarang Shima. Lihat, mereka sangat banyak, dan memiliki senjata api dipinggangnya masing-masing!" Hana menyahut, karena dia merasa tidak yakin Hiro dan Shima mampu mengalahkan lelaki berbadan kekar, yang berjumlah sekitar lima belas orang itu.


"Apakah mereka orang-orang Nakagawa?" tanya Hiro pelan.


"Sepertinya begitu. Sebab kita sedang berada dibangunan milik Nakagawa kan?" Hana menyimpulkan.


Dua orang lelaki di antara orang-orang Nakagawa, terdengar membicarakan perihal Kogoro. Mereka mengatakan kalau Kogoro sudah berusaha melakukan penipuan. Yang mana paman dari Shima itu ternyata telah mencoba mencuri obat-obatan terlarang milik mereka.


"Aneh sekali. Bukankah Kogoro selalu tidak mau berurusan dengan orang-orang Nakagawa?" tanya Hiro dengan nada berbisik.


"Aku juga sepemikiran. Apakah dia dijebak?" balas Hana. Menatap ke arah Hiro selintas.

__ADS_1


"Hiro, ayolah! aku yakin kau bisa mengalahkan mereka. Kita juga membawa pistol kan?" Shima mendesak dengan raut wajah panik.


Hiro sontak mencoba menenangkannya sebisa mungkin. Sebab dirinya hendak menyaksikan kemana perginya orang-orang Nakagawa tersebut.


Para lelaki berbadan atletis itu membawa Kogoro masuk ke sebuah pintu yang bertuliskan danger (bahaya) di depannya. Mereka bahkan menggunakan sejenis kartu untuk membuka pintu tersebut. Ternyata tulisan peringatan yang ada di depan pintu, hanyalah akal-akalan orang-orang Nakagawa saja.


Semua orang Nakagawa telah masuk ke dalam pintu bertuliskan danger. Hanya tertinggal satu orang lelaki yang masih berdiri memegangi ponselnya. Dia berdiri di dekat mobil yang baru saja diparkirkan.


"Tunggulah di sini!" titah Hiro sambil lekas-lekas berdiri. Dia mengendap-endap ke arah si lelaki yang tengah sibuk menelepon. Setelah berhasil berada di belakang lelaki itu, Hiro langsung melingkarkan lengan ke leher sasarannya.


Kretak!


Karena tidak ingin membuang waktu. Tangan Hiro dengan cekatan mematahkan leher lelaki berbadan atletis tersebut. Lawannya seketika ambruk ke tanah, karena tidak menduga akan serangan Hiro.


Selanjutnya, Hiro segera mencari kartu yang akan menjadi jalan masuk dirinya ke pintu misterius. Dia yakin, pintunya pasti akan mengantarkannya ke ruang bawah tanah.


Shima dan Hana bergegas menghampiri. Mereka sangat ketakutan dengan tindakan nekat Hiro barusan.


"Apa dia mati?" tanya Hana sembari memeriksa nafas lelaki yang tadi sudah diserang Hiro. Benar saja, dia tidak bisa merasakan hembusan nafas yang keluar dari mulut dan hidung lelaki tersebut.


"Ayo Hiro, aku takut mereka melakukan sesuatu yang buruk kepada Pamanku!" desak Shima. Dia terus menoleh ke arah pintu dimana Kogoro dibawa.


"Ayo kita sembunyikan dia ke bawah mobil!" perintah Hiro. Dia dan Hana menyeret jasad si lelaki berbadan atletis ke bawah mobil.


"Hiro, kau tidak takut melakukan hal tadi?" tanya Hana seraya menyamakan langkahnya terhadap Hiro dan Shima.


"Sejak kapan kau takut dengan polisi?" Hiro malah berbalik tanya.


"Bukan polisi yang aku takutkan. Tetapi orang-orang Nakagawa. Jika mereka tahu, kemungkinan mereka akan terus mencari kita!" ujar Hana, yang dirundung rasa kekhawatiran.

__ADS_1


"Tenanglah, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Kogoro!" Hiro segera mengarahkan kartu yang seketia berhasil membuka pintu rahasia. Dia, Shima dan Hana lantas memasuki wilayah tertutup dan misterius tersebut.


__ADS_2