Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 77 - Melarikan Diri


__ADS_3

Ketika sudah melewati pintu bertuliskan danger. Hiro, Shima dan Hana disambut dengan sebuah lorong. Di ujungnya terdapat ruangan remang berisikan perkakas besi. Tempat itu terlihat sepi. Hanya ada suara mesin ruangan yang bergema memecah keheningan dikegelapan.


Hiro melangkah dengan pelan. Di iringi oleh Shima dan Hana dari belakang.


Atensi Hiro langsung tertuju ke arah ruangan dengan dua pintu. Tampilan pintu tersebut sangat mirip dengan lift. Dia lantas mendekat dan memastikannya. Dugaannya benar, sebab semuanya terbukti dari adanya tombol di samping pintu itu.


"Apa ini lift?" Hana menatap Hiro dengan sudut matanya.


"Bukankah sudah jelas?" dahi Hiro mengerut dalam. Jari telunjuknya segera menekan tombol lift. Beberapa saat kemudian pintu lift pun terbuka. Dia beserta yang lain langsung memasuki lift.


Tombol yang ada di dalam hanya berfungsi untuk turun ke lantai bawah. Membuat Hiro seketika menarik kesimpulan, kalau dirinya sudah menemukan ruang bawah tanah yang selama ini dicarinya.


"Ternyata dugaanmu benar!" ucap Hana. Lift perlahan berjalan ke bawah. Hingga berhenti di lantai tujuan.


"Tutupi wajah kalian. Jangan sampai mereka mengenali kita," saran Hiro sembari memperbaiki masker yang menutupi hidung beserta mulutnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Shima dan Hana. Keduanya juga bergegas merapikan topi dan masker.


Pintu lift terbuka pelan. Mata Hiro langsung membulat sempurna ketika menyaksikan banyak sekali lelaki berbadan kekar sedang berkumpul. Mereka berada tidak jauh dari lift. Tiga di antaranya kebetulan menyaksikan kehadiran Hiro, Shima dan Hana. Parahnya, mereka terlihat tengah memegangi senapan di tangan masing-masing. Berkumpul bersama, seolah mendiskusikan sesuatu hal penting.


"Sial!" umpat Hiro. Tangannya dengan sigap menarik Hana berlindungi dibalik tombol lift. Sedangkan Shima yang sudah terlatih, tentu paham harus bagaimana. Dia mengikuti pergerakan Hiro, dan bersembunyi disisi berlawanan dari kawannya itu.


Dor! Dor! Dor!


Tembakan beruntun diarahkan ke dalam lift. Membuat Hiro berusaha lekas-lekas menekan tombol, agar pintu lift segera menutup kembali. Dia, Shima dan Hana mencoba sebisa mungkin menghindari peluru yang memantul ke arahnya. Asap yang bercampur dengan bau timah menyengat indera penciuman.


"Shima, aku rasa kita harus menyelamatkan Kogoro di lain waktu!" ucap Hiro. Dia merasa tidak bisa mengambil resiko.


Shima menunjukkan raut wajah masam. Sambil mengatur deru nafasnya, dia berusaha berpikir untuk memutuskan.

__ADS_1


Bunyi tembakan mulai berhenti. Kini yang terdengar adalah suara derap langkah laju dari orang-orang Nakagawa. Mereka sedang berlari menuju lift.


"Baiklah!" Shima mengangguk pasrah. Dia memilih akan menyelamatkan Kogoro di waktu yang tepat.


Hana lantas memencet tombol lift. Dia melakukannya puluhan kali, agar pintunya akan lebih cepat tertutup. Keringat sudah membasahi beberapa sudut bagian tubuhnya. Jantungnya berdebar akibat diserang rasa panik.


Seorang lelaki berbadan kekar menghentikan pergerakan pintu lift. Shima yang posisinya lebih dekat dari lelaki tersebut, langsung melayangkan tendangan tepat ke bagian rongga dada. Hingga salah satu orang Nakagawa itu sontak terjatuh ke lantai.


Pintu lift kembali berjalan menutup. Hiro, Shima dan Hana sontak mendengus lega.


"Setelah keluar, kita harus pergi dari wilayah parkiran! sebelum mereka memberitahukan keberadaan kita dengan yang lain!" imbuh Hiro, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Shima dan Hana. Ketiganya bergegas pergi ketika pintu lift sudah terbuka. Akan tetapi ketika mereka keluar dari pintu bertuliskan danger. Dua lelaki berpakaian satpam sudah menghadang. Menodongkan senjatanya.


Shima reflek menghantam pistol yang digengam oleh salah satu satpam. Senjata api tersebut seketika terlempar dan jatuh.


Berbeda dengan Hiro, dia langsung memegangi tangan satpam yang satunya. Memelintirnya hingga dirinya mampu merebut pistol. Sedangkan Hana, berinisiatif berlari ke arah lift terlebih dahulu. Tetapi langkahnya terhenti, karena tiba-tiba pikirannya terbersit akan sesuatu hal.


Shima lantas berjalan ke belakang kedua satpam. Lalu menghantamkan kedua kepala mereka satu sama lain. Dia melakukannya sekuat tenaga dan di ulang beberapa kali. Usahanya tentu berhasil membuat para satpam pingsan.


"Shima, cukup! kita hanya butuh mereka tidak sadarkan diri!" Hiro memperingatkan kawannya yang hampir lupa diri. Sepertinya Shima kesal dengan apa yang telah terjadi kepada sang paman.


"Tapi kau tadi membunuh salah satunya!" sahut Shima seraya melepaskan kedua satpam yang tadi sempat dipegangnya.


"Aku tidak mau terlalu banyak korban. Terlalu kentara!" jelas Hiro singkat.


Hana berlari menghampiri. Dia mendapatkan tatapan heran dari Hiro dan Shima. Bagaimana tidak? gadis itu belum membuka pintu lift menuju hotel.


"Kau kenapa kembali?!" geram Hiro. Keningnya mengernyit sebal.

__ADS_1


"Aku pikir, bodoh jika kembali lewat jalan pertama kali kita ke sini. Bukankah mereka akan menghadang kita lagi? kita bahkan masih mengenakan pakaian sama. Ini gila, dari awal, aku bahkan lupa tentang adanya CCTV!" Hana menerangkan panjang lebar dan tergesak-gesak. Peluhnya bercucuran di kedua pelipis.


"Mengenai CCTV, itulah alasanku membuat kita berpakaian senada. Menutupi wajah, agar tidak dikenali!" balas Hiro. Kepalanya celingak-celingukan ke segala arah. Hingga indera penglihatannya menangkap beberapa orang yang berdatangan. Mereka terlihat tergesak-gesak sambil mengedarkan pandangan, seakan mencari-cari sesuatu.


Hiro yakin, orang-orang yang berdatangan adalah komplotan Nakagawa. Dia, Shima dan Hana bergegas melarikan diri. Berjalan mengendap-endap dibalik mobil yang berjajar.


"Bagian keamanan memberitahu, kalau mereka ada di area parkiran sebelah utara!" seorang lelaki berucap setelah mendengar pemberitahuan dari ponselnya. Kawanannya sontak mengikuti arahannya.


Hiro yang mendengar, merasa tertangkap basah. "Cepat!" titahnya seraya menoleh selintas ke arah Shima dan Hana yang ada di belakang. Mereka melangkah dengan cepat. Berupaya menggapai pintu gerbang yang mengarah keluar.


Langkah Hiro seketika harus berhenti, saat menyaksikan lebih banyak orang yang berjaga di pintu gerbang. Dia lantas menarik Shima dan Hana untuk berlindung.


"Sekarang bagaimana?" tanya Hana, ketakutan. Terbukti dari suaranya yang terdengar bergetar.


"Hiro... mustahil kita berdua bisa mengalahkan mereka!" ungkap Shima yang juga khawatir.


Hiro menenggak salivanya sendiri. Kemudian mengamati semua benda yang ada di sekeliling. Terlintaslah dalam pikirannya ketika menyaksikan benda yang kebetulan disentuhnya. Yaitu mobil.


"Hana, bisakah kau mengendarai mobil?" tanya Hiro.


"Tentu saja. Aku dahulu sering diam-diam memakai mobil ayahku!" jawab Hana, yakin. Dia terdiam sejenak, karena baru memahami ide cemerlang dari Hiro. "Brilian Hiro! ayo kita masuki salah satu mobil yang ada!" lanjutnya sambil bergegas lebih dahulu mencari mobil yang tidak terkunci. Ketiganya bergerak dengan cepat, dan berusaha sebisa mungkin tidak ketahuan oleh orang-orang Nakagawa.


"Teman-teman!" pekik Shima. Dia menemukan mobil yang tidak dikunci. Hiro dan Hana pun berlari menghampiri. Mereka kini sudah berada di dalam mobil. Membiarkan Hana duduk di depan setir. Hiro duduk di sebelah, sementara Shima di kursi bagian belakang.


Catatan Author :


Jangan lupa buat dukung karya Author ya. Terserah mau like, komen, hadiah atau vote. Aku terima dengan sepenuh hati. Jujur sih, perihal semua itu emang bikin Author semakin semangat nulis... hehe :v

__ADS_1


__ADS_2