
Izumi tersenyum miring. Dia tidak dapat membendung perasaan senangnya. Terutama ketika menemukan orang yang keras kepala sepertinya.
Bel pertanda masuk berbunyi. Semua murid bergegas pergi ke kelasnya masing-masing.
Di kelas, Hideo selaku guru yang mengajar di jam pertama mengatakan, kalau ujian semester akan tiba sebentar lagi. Dia tentu menyuruh semua muridnya untuk belajar lebih giat.
"Hiro, Shima! kalian berdua mempunyai nilai terburuk dari yang lainnya. Maka dari itu, berusahalah! ini demi masa depan kalian sendiri," ujar Hideo dengan nada tegas.
Hiro dan Shima hanya bisa menganggukkan kepala dengan ekspresi memalu. Sedangkan beberapa temannya sibuk mentertawakan mereka.
Setelah memberi nasehat, Hideo kembali menjelaskan mengenai rumus-rumus dalam Matematika. Waktu benar-benar berjalan sangat lambat saat berhadapan dengan hal yang dibenci. Itulah yang dirasakan Hiro sekarang.
Bunyi bel pertanda istirahat, bak sebuah surga untuk Hiro. Dia sudah sangat lama menanti suara tersebut.
Satu per satu murid saling bergantian keluar ruangan. Hal yang sama juga dilakukan Hiro dan Shima. Tetapi sebelum keduanya pergi, Hideo memanggil nama mereka.
"Ada apa, Sensei?" tanya Shima.
"Aku ingin bertanya seakrab apa persahabatan kalian?" bukannya menjawab, Hideo malah berbalik tanya.
Hiro tertawa kecil dan menyahut, "Persahabatan kami sudah seperti hubungan saudara kandung. Sangat dekat!"
"Benar, Sensei!" Shima mengiyakan, ikut terkekeh bersama Hiro.
Hideo menampakkan senyuman canggung. "Kalau begitu, mulai hari ini salah satu dari kalian akan pindah kelas!"
Ucapan Hideo sontak membuat Hiro dan Shima terkejut. Dia tidak menduga dengan keputusan dari guru Matematika-nya itu.
"Ke-kenapa?" tanya Shima, tak percaya.
"Ini demi kebaikan kalian. Kemungkinan kedekatan dari persahabatan itulah yang membuat nilai kalian memburuk. Menurutku ini adalah cara yang tepat untuk membuat masing-masing dari kalian fokus!" ungkap Hideo panjang lebar.
__ADS_1
"Tapi, kenapa sangat mendadak? bukankah sebentar lagi ujian?" balas Hiro yang tak terima.
"Itulah salah satu alasan kuat aku memisahkan kalian berdua!" keputusan Hideo tetap bulat. Dia bahkan memberitahu, bahwa Shima-lah yang akan pindah kelas.
"Sensei! masalahnya bukan itu. Tetapi karena--"
"Cukup! lebih baik kalian menurut saja!" potong Hideo, lalu beranjak pergi keluar kelas. Meninggalkan Hiro dan Shima yang sama-sama sedang menundukkan kepala.
Shima duduk di kursi kosong yang ada di depan guru. Dia menghela nafas berat. Sedangkan Hiro menyandarkan badannya ke meja. Menatap serius ke arah sahabatnya.
"Maafkan aku, Shima. Aku sering membawamu sibuk dengan masalahku. Sehingga membuatmu tidak sempat lagi untuk belajar," imbuh Hiro. Memposisikan dirinya duduk di kursi yang ada di sebelah Shima.
"Kau tidak salah. Hanya saja aku memanglah anak yang bodoh. Aku bahkan tidak punya bakat spesial dalam diriku," terang Shima yang perlahan mendenguskan nafas.
"Kenapa kau berucap begitu!" respon Hiro dengan dahi yang berkerut. Dia sangat benci melihat orang yang putus asa. "Hentikan Shima. Kau tidak sendiri, aku bahkan lebih bodoh darimu. Jika kau tidak ada, mungkin aku tidak akan bisa memahami dunia modern ini bekerja!" tambahnya.
"Tetapi setidaknya, kau ahli dalam bela diri..." lirih Shima pelan.
Tap! Tap! Tap!
"Hiro, Ryo-Sensei mencarimu!" ujar Seiko sembari berjalan menuju pintu. "Ayo ikut aku!" sambungnya, mendesak.
"Pergilah, Hiro!" ucap Shima sembari tersenyum tipis.
"Kau juga harus ikut aku." Hiro yang sudah berdiri, menatap Shima dengan sudut matanya. Dalam dan penuh harap.
"Tidak untuk kali ini," sahut Shima, memaksakan dirinya tersenyum. Tetap duduk diam di tempatnya. Dia sebenarnya telah tahu maksud panggilan dari Ryo. Sebab sebagian besar murid yang dipanggil oleh guru olahraga itu, pasti akan berakhir di ikutkan sebuah pertandingan yang berkaitan dengan perwakilan sekolah. Kepiawaian Hiro saat bertarung tempo hari, nampaknya sudah membuat Ryo tertarik.
Hiro akhirnya mengikuti Seiko. Lagi pula dia juga tidak bisa memaksa Shima untuk ikut, karena memang hanya dirinyalah yang dipanggil oleh Ryo.
Seiko mengantarkan Hiro ke ruang guru. Dalam sekejap Hiro langsung menjadi pusat perhatian oleh semua guru. Namun orang-orang dewasa tersebut menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang datar, cemberut, dan heran. Satu-satunya guru yang terlihat sumringah hanyalah Ryo. Karena dialah satu-satunya guru yang mengetahui bagaimana keahlian Hiro.
__ADS_1
"Kau yakin Ryo-San?" seorang guru lelaki bersuara.
"Ngomong-ngomong, aku juga meragukannya. Bukannya dahulu kamu selalu mengeluhkan betapa buruknya dia?"
"Ya, Hiro tidak hanya buruk di bidang akademik tetapi juga olahraga!" beberapa guru memberikan respon tidak terima. Karena mereka menimbang keputusan dengan fakta yang sudah diketahui.
"Aku pastikan sekarang tidak. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya. Tetapi dia sangat hebat, Hiro bisa mewakili sekolah kita di pertandingan!" Ryo membantah semua pendapat rekan-rekan kerjanya. Dia tampak sangat percaya diri.
Hiro tengah membisu. Dia mendadak mencemaskan Shima. Apalagi setelah mendengar pernyataan dari Ryo. Hiro takut apa yang terjadi kepada Goku, akan berlaku juga dengan Shima. Alhasil dia menderapkan kakinya ke pintu. Berniat menemui sahabatnya tersebut. Akan tetapi langkahnya seketika berhenti, saat Shima tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Shima!" pupil mata Hiro membesar.
Sebenarnya sudah sejak awal Shima mengikuti Hiro. Dia sengaja berdiri di depan ruang guru untuk menguping.
Shima tampak tersenyum dan membalikkan badannya ke arah para guru. Tangannya dipukulkan ke sebuah meja. Hingga suara nyaringnya menarik perhatian semua orang di ruangan.
"Aku tahu ini sulit dipercaya. Tetapi bagaimana kalau Hiro bisa membuktikannya kepada kalian!" ucap Shima yang langsung menjadi bahan tertawaan beberapa guru. Bagaimana tidak? salah satu murid terbodoh di sekolah sedang berlagak sok tahu.
"Shima..." Hiro berusaha menghentikan. Akan tetapi dia malah mendapatkan penolakan tegas dari Shima.
Perlahan jari telunjuk Shima ditujukan ke arah Ryo. Dia bahkan memasang tatapan tajam dan serius. Saat itulah semua orang terdiam seribu bahasa. "Biarkan Hiro bertanding melawan Ryo-Sensei!" tantangnya.
"A-apa? aku?" Ryo dibuat begitu kaget.
Berbeda dengan para guru lainnya, yang terlihat memanggut-manggutkan kepala seakan setuju terhadap ide dari Shima.
"Kamu benar Shima-Kun, kami memang butuh bukti yang solid. Karena kami tidak mau sekolah ini dipermalukan. Lagi!" tutur Takara. Bola matanya melirik artikel tentang kasus pembulian Izumi di komputernya. Kasus itu tentu sudah berhasil mencoreng nama sekolah.
"Kalian bicara apa? hei! ini sama sekali tidak penting. Kita tidak perlu repot-repot melakukannya. Hiro sudah terbukti lihai melakukan semua teknik judo!" ungkap Ryo yang malas bertanding dengan Hiro. Dia tidak takut. Hanya saja dirinya yang sudah memakai sabuk cokelat (level tertinggi dalam judo), merasa tidak sebanding berhadapan dengan pemula seperti Hiro.
"Ryo-Sensei, apa kamu takut melawan muridmu sendiri?" timpal Takara sambil menyilangkan tangan didada.
__ADS_1
Mendengar ucapan rekannya, Ryo memecahkan tawa kecil dan menjawab, "Apa kau bilang? takut? aku hanya mengkhawatirkannya!" dia menunjuk Hiro dengan cara mengangkat dagunya.
Mungkin Ryo menganggap kalimat yang dikatakannya adalah hal biasa. Tetapi tidak untuk Hiro, ketika merasa diremehkan, disitulah dia mulai bertekad.