Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 24 - Menguak Rahasia


__ADS_3

Hiro terbangun saat dini hari. Dia dapat melihat Shima tertidur di sofa yang ada di sebelah. Hiro mengamati keadaan Shima terlebih dahulu. Dia merasa lega kala menyaksikan sahabatnya baik-baik saja. Shima terlihat hanya memiliki luka kecil didahinya.


Dengusan lega berhembus dari hidung Hiro. Dia lantas menggunakan waktunya untuk pulang ke rumah. Lelaki tersebut berjalan dengan gontai akibat adanya rasa pusing yang masih tersisa.


Ceklek...


Hiro perlahan membuka pintu, lalu memasuki rumahnya. Dia langsung mencari Akira. Namun ibunya itu sama sekali tidak kelihatan. Pertanda kalau Akira belum pulang semenjak tadi pagi. Hiro hanya mengusap kasar wajahnya, lalu segera membersihkan diri. Lagi pula bau alkohol di tubuhnya sangatlah mengganggu.


Mumpung tidak ada Akira, Hiro berinisiatif mencari petunjuk mengenai ayahnya. Dia mulai mengobrak-abrik barang-barang yang ada di kamar Akira. Berharap dapat menemukan sesuatu hal penting.


Sebuah tas besar yang ada di atas lemari menarik perhatian Hiro. Tanpa ba bi bu, dia segera meraih tas besar itu. Kemudian memeriksa isi yang ada di dalamnya. Kotak kayu berukuran sedang memunculkan kernyitan dikeningnya. Apalagi benda tersebut tampak lusuh dan tua.


Trak!


Hiro langsung membuka kotak yang ditemukannya. Di sana dia mendapati dua lembar foto yang menarik atensinya.


Lembar foto yang pertama, memperlihatkan Akira berpose bersama satu lelaki dan wanita paruh baya. Ketiganya tampak tersenyum lebar. Akira juga terlihat begitu bahagia dalam foto tersebut. Hiro menduga kalau dua orang yang berfoto bersama Akira tersebut adalah kakek dan neneknya.


Foto yang kedua memperlihatkan gambar dua pasangan. Akira tampak bunting, dan menggandeng lelaki berperawakan tinggi. Sedangkan di sebelahnya ada satu pasangan lainnya. Seorang lelaki berkumis yang merangkul mesra wanita dengan rambut dikepang dua.


Hiro mengerutkan dahi, karena merasa mengenal sosok lelaki berkumis yang ada di foto. Setelah dirinya berusaha mengingat dengan baik, mata Hiro seketika membelalak. Sebab lelaki berkumis itu adalah Takeda. Jika dilihat baik-baik, Takeda tampak lebih muda di foto tersebut. Pantas saja Hiro kesulitan mengenalnya.


"Ternyata benar, dewa pasti punya alasan membawaku pergi ke zaman ini, lalu memasukkanku ke dalam raga Hiro..." gumam Hiro sambil mengeratkan rahangnya kesal. Dia ingin sekali merobek-robek foto yang sekarang ada dalam genggamannya. Akan tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu, karena Hiro membutuhkannya untuk mendapatkan petunjuk lebih banyak.


...***...

__ADS_1


Keesokan harinya, Akira tidak kunjung pulang. Hiro yang sempat tertidur, akhirnya terbangun kala mendengar suara pintu terbuka.


Shima muncul dengan kaos biru dan celana pendek. Jidatnya masih terlihat ditutupi dengan perban kecil. Dia bergegas menghampiri, dan menanyakan keadaan Hiro.


"Syukurlah..." gumam Shima setelah mengetahui sahabatnya sudah membaik. Lalu memposisikan diri duduk di sebelah Hiro.


"Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam?" tanya Hiro, menolehkan kepala ke arah Shima. Penasaran dengan perkelahian yang di alami Kogoro. Akibat mabuk, Hiro hampir melupakan banyak hal yang terjadi tadi malam. Terutama setelah Izumi menuangkan sebotol alkohol ke wajahnya.


"Entahlah, Pamanku masih tertidur. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya," ungkap Shima. Menatap kosong ke arah langit-langit pelafon.


"Kalau begitu, semakin banyak hal yang harus kita pecahkan sekarang." Hiro berucap sembari mengubah posisinya menjadi berdiri. Kemudian mengambil sebuah foto yang disimpannya dalam laci lemari.


Shima hanya membisu. Dia merasa malas untuk pergi ke sekolah. Apalagi Hiro sudah sepenuhnya dikeluarkan dari sekolah. Semangat Shima seketika luntur. Dia memilih membolos untuk sementara, sambil memikirkan pilihan yang baik demi pendidikannya.


"Lihat yang aku temukan!" Hiro menyodorkan selembar foto kepada Shima.


Shima yang masih terduduk, perlahan mendongakkan kepala. Dia menatap tak percaya kepada Hiro yang tengah berdiri di hadapannya. "Bagaimana ibumu bisa berfoto bersama Katashi Nakagawa?"


"Katashi? jadi dia juga bagian keluarga Nakagawa?" Hiro reflek mengguncang pundak Shima. Hingga badan lelaki berambut cepak tersebut bergerak mengikuti tenaga dari guncangannya.


"Katashi adalah pebisnis terkaya di kota Kyoto. Eh tidak, tidak! aku pikir dia sudah menjadi salah satu orang terkaya di Jepang. Kekuasaannya semakin bertambah, karena Katashi sekarang juga sedang menggeluti dunia politik." Shima memberitahu tentang apa yang sudah diketahuinya. Pupil matanya tampak membesar, karena fokus menatap Hiro yang sedang mondar-mandir di depannya.


"Senpai, apa kau baik-baik saja?" tanya Shima yang merasa khawatir. Dia terdiam sejenak untuk mengamati gelagat gelisah yang ditunjukkan Hiro. "Apa Katashi juga mirip seseorang dari kehidupanmu yang sebelumnya?"


Hiro awalnya tidak merespon sama sekali pertanyaan Shima. Dia yang tadi sempat berjalan bolak-balik, kembali duduk di samping Shima. Sampai akhirnya dia memberitahu, kalau Katashi sangat mirip dengan lelaki yang telah menancapkan pedang ke jantungnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?" Shima melebarkan kedua kelopak matanya. Ikut terkejut dengan kenyataan yang diterima oleh Hiro.


"Aku tahu. Tetapi bagiku ini seperti sinyal untukku Shima-Kun. Kalau aku dan Hiro memiliki kehidupan yang saling terkoneksi." Hiro mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Dia sangat yakin dengan dugaan tersebut.


"Ah benar, aku lupa memberitahumu tentang apa yang disebutkan Kogoro tentang ayahmu." Shima mendadak mengingat percakapan yang dilakukannya tadi malam bersama sang paman.


"Apa?!" Hiro bersemangat untuk mencari tahu. Ia bahkan sampai mencondongkan kepala ke arah Shima.


"Ini sedikit menyedihkan. Kamu tidak apa-apa kan?" balas Shima yang tampak enggan memberitahu. Agak sulit memang, menyampaikan kabar yang terbilang buruk kepada seseorang. Apalagi hal itu mengenai nasib ayah kandung sahabatnya sendiri.


Hiro mendengus kasar dan menerka, "Apa ayahnya Hiro sudah mati?"


Mata Shima sontak terbelalak. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya-nya merasa kaget sekaligus kagum.


"Hanya asal menebak. Soalnya apa lagi hal yang menyedihkan selain kematian," balas Hiro seraya berdiri dan berjalan keluar dari rumah. Saat itulah bola matanya menangkap kemunculan Akira yang baru saja kembali.


Shima yang tadi mengekori, sudah berdiri di belakang Hiro. Dia bergegas menyembunyikan foto yang tadi diberikan Hiro ke saku celananya. Shima berbisik, "Senpai, sebaiknya rahasiakan perihal apa yang sudah kita ketahui tadi dari Akira."


Hiro mengangguk pelan. "Aku juga berpikir begitu. Aku tahu kita berdua masih dianggap anak kecil olehnya," balas Hiro yang kembali beralih menatap ibunya.


Akira terlihat berderap dengan pelan sambil menggigit bibir bawahnya. Wajahnya menampakkan ekspresi lesu dan lelah. Dia langsung cemberut ketika menyaksikan kehadiran putranya. Sepertinya Akira masih marah pada Hiro, akibat putranya tersebut tidak menjalani sekolahnya dengan baik.


"Bersiaplah! hari ini aku akan carikan sekolah baru untukmu!" tukas Akira, kemudian melingus begitu saja masuk ke rumah. Akan tetapi Hiro malah melangkahkan kaki menuju pintu pagar. Jelas, dia mengabaikan perintah Akira.


"Senpai, apa yang kau--"

__ADS_1


"Ayo! kita tidak bisa menunda lagi. Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui banyak hal tentang Takeda!" ujar Hiro, sengaja memotong ucapan Shima. Lalu melanjutkan jalannya keluar dari pekarangan rumah.


__ADS_2