Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 59 - Dikerjai Habis-Habisan


__ADS_3

Shima baru saja keluar dari kelas. Dia langsung bergabung bersama Hiro dan Izumi. Namun Takara mendadak datang. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu adalah guru yang bertugas sebagai bendahara sekolah.


Takara memberikan sebuah surat kepada Hiro dan Shima. Guru yang dikenal paling cantik tersebut menyuruh mereka untuk menyerahkan suratnya kepada orang tua atau wali bersangkutan. Setelah melakukan tugasnya Takara berlalu pergi.


"Jelas ini adalah tagihan iuran sekolah!" ujar Shima menebak. Menatap malas amplop putih yang ada di tangannya.


Hiro bergegas membuka amplop untuk memastikan. Memang benar yang dikatakan Shima, kalau isi surat yang ada di dalam amplop adalah tagihan iuran sekolah.


"Pas sekali. Jadi kalian punya alasan jelas untuk pindah sekolah!" ungkap Izumi, yang sedari tadi berdiri di samping Hiro.


"Pindah sekolah? maksudmu?" dahi Shima mengerut dalam. Dia benar-benar tidak mengerti maksud dari gadis yang sekarang menjadi komplotan temannya.


Hiro perlahan mendekatkan mulut ke telinga Shima. Dia berbisik, "Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu terhadap sekolah ini..."


"Segitunya?!" respon Shima, tanpa sengaja dia mengeluarkan suara yang keras. Hingga berhasil membuat Izumi melotot ke arahnya.


Shima segera mengembangkan senyuman canggung. "Apa semuanya karena, orang-orang di sekolah ini tidak memihak lagi kepadamu?" tanya-nya, menerka.


"Kalau kau sudah tahu, kenapa bertanya lagi!" balas Izumi sembari memutar bola mata jengah.


Hiro menanyakan rencana Izumi. Akan tetapi gadis itu hanya tersenyum tipis. Seolah sengaja ingin membuat semua orang penasaran. Bukannya menjawab, Izumi malah meminta nomor ponsel Hiro. Dia bilang akan memberitahukan rencananya melalui pesan teks.


"Emm... tapi aku tidak punya ponsel..." lirih Hiro sambil menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal.


"Kau pasti bercanda!" sahut Izumi, tak percaya. Dia menilik baik-baik ekspresi yang ditunjukkan dua lelaki di hadapannya. Tampak meyakinkan dan jujur. Shima bahkan mengiyakan pernyataan Hiro dengan anggukan kepala. Tidak bisa dipungkiri, semenjak ponselnya dijual oleh Akira, Hiro tidak pernah lagi memegang benda tersebut.


Dengan helaan nafas berat, Izumi tidak punya pilihan selain bertukar nomor telepon dengan Shima. Dia berharap bisa mendapatkan kabar persetujuan sebelum jam lima sore.

__ADS_1


"Jika memilih ikut denganku, aku akan pastikan kalian tidak akan kesulitan lagi dengan iuran sekolah!" kata Izumi seraya tersenyum miring. Dia lalu beranjak pergi menuju toilet.


Hiro dan Shima memanfaatkan waktunya untuk berbicara empat mata. Terutama mengenai tawaran Izumi yang terdengar menggiurkan. Kini keduanya sedang duduk di belakang sekolah. Di tempat yang sama ketika Hiro memberitahukan siapa jati dirinya kepada Shima.


"Aku pikir ada baiknya kita menerima tawarannya. Selain bisa sekolah tanpa menanggung biaya, kita juga dapat lebih akrab dengan Izumi. Ini peluang emas!" ungkap Hiro sembari mengguncang badan Shima penuh semangat.


"Kau benar. Tetapi apa kamu yakin? sebab suatu hari nanti kita akan berkhianat kepada Izumi kan? Jika dia tidak sengaja mengetahuinya, kemungkinan kita yang malah akan mendapatkan dendam paling sadis darinya!" Shima mengukir semburat kekhawatiran diwajahnya.


Hiro yang tadi menampakkan binar bersemangat disorot matanya, seketika merubahnya menjadi serius. Dia terperangah terhadap respon Shima. "Apa kau takut dengan gadis itu? Shima! yang jahat di sini adalah dia!" tegasnya sambil mengernyitkan kening. Tangannya menunjuk tegas ke arah dirinya mengira Izumi berada.


Shima menundukkan kepala. Dia memasang wajah masam. Sebelah tangannya mengusap tengkuk tanpa alasan. Shima sedikit malu dengan kecemasan yang dirasakannya. Sebab setelah mendengar penuturan Hiro, dia merasa kalau perkataan sahabatnya tersebut ada benarnya.


"Kau benar juga. Dia memang gadis yang jahat." Shima menganggukkan kepala beberapa kali.


Ponsel Shima tiba-tiba berdering. Mendendangkan sebuah potongan lagu pop berbahasa Jepang. Dia lekas-lekas memeriksa, dan menyaksikan nama Izumi tertera di layar ponselnya.


"Aku rasa Izumi sekarang sangat menyukaimu, baru berpisah beberapa menit, dia sudah menelepon!" keluh Shima sambil mengangkat panggilan dari Izumi. Kemudian menyerahkannya kepada Hiro. Dia sangat paham, kalau Izumi pasti hanya mau berbicara kepada Hiro.


"Hiro!! cepat bukakan pintu. Ada seseorang yang mengunciku di dalam bilik toilet!" Izumi sengaja memotong ucapan Hiro. Intonasi suaranya terdengar seperti tergesak-gesak.


Tanpa pikir panjang Hiro bergegas berlari menuju toilet. Dia bahkan tidak memikirkan kalau dirinya tengah berada di toilet khusus perempuan. Untung saja toiletnya sedang sepi, jadi Hiro tidak dicap sebagai lelaki mesum.


Hiro membuka satu per satu pintu bilik toilet. Hingga atensinya tertuju ke arah pintu yang pegangannya terlihat di ikat denga sebuah tali.


"Izumi? kau didalam?!" tanya Hiro, memekik lantang.


"Iya, aku didalam!" sahut Izumi. Suaranya terdengar parau.

__ADS_1


Bruk!


Pintu terhempas saat Hiro berhasil membukanya. Tampaklah Izumi dengan tampilan basah kuyup. Nampaknya seseorang telah mengerjainya habis-habisan. Wajah gadis tersebut terlihat suram. Menunjukkan kalau dirinya sedang merasakan kemarahan dan kesedihan secara bersamaan.


Izumi lekas-lekas berjalan menuju keran air yang ada di depan cermin. Di sana dia memperbaiki rambut basahnya yang berantakan.


"Aku semakin yakin dengan pilihanku. Pokoknya aku akan membuat sekolah ini terpuruk. Guru-gurunya pun tidak ada yang peduli kepadaku!" gerutu Izumi seraya mengeratkan rahang kesal.


Hiro memposisikan diri berada di sebelah Izumi. Menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Aku salut dengan tekadmu. Reputasimu tidak pernah berubah, meski dalam keadaan terpuruk sekali pun," ucapnya yang sontak menyebabkan Izumi melirik ke arahnya.


Izumi mendadak menarik kerah baju Hiro. Kemudian membuat lelaki itu lebih dekat. Dia lalu berkata, "Beginilah aku. Dan jika aku mengetahui dirimu suatu hari juga berkhianat, maka jangan harap hidupmu akan..." Izumi tidak melanjutkan ucapannya saat menyaksikan tatapan Hiro. Dia menjadi lupa kalau jarak wajah di antara dirinya dan lelaki itu sangat dekat. Kelupaannya mungkin disebabkan luapan amarahnya tadi.


"Tenang!" Izumi menyempurnakan kalimatnya. Dia melepaskan cengkeramannya dengan gelagapan. Kemudian segera membuang muka dari Hiro. Selanjutnya bel pertanda masuk berbunyi. Mengharuskan mereka kembali ke kelas.



Sepulang dari sekolah, Hiro langsung pergi ke sebuah cafe. Sebab Shima baru saja memberikan kabar, kalau Hana ingin bertemu dengannya. Katanya dia sudah mendapatkan informasi yang sempat ditanyakan Hiro tempo hari. Sepertinya Hana telah mengetahui siapa Keichi dan Manami. Dua nama mencurigakan yang sempat disebut oleh Itsuki ketika bicara di telepon.


"Apa kau dan Hana..." Shima menggerakkan alisnya dua kali. Mengira ada hubungan istimewa di antara Hiro dan Hana. Dia dan Hiro berderap bersama menyusuri jalanan trotoar.


Hiro terkekeh, lalu menggeplak kepala Shima. Dia tentu membantah dugaan sahabatnya itu. "Ah, hubungan seperti itu bukanlah gayaku." Hiro merespon dengan tenang. Tidak marah atau pun mengelak. Karena memang begitulah biasanya respon dari orang yang jujur.


"Kau tidak pernah pacaran atau menikah di kehidupanmu sebelumnya?" tanya Shima, penasaran.


"Tidak! dan... kau harus tahu," Hiro menjeda untuk tertawa kecil. "Wajahku dahulu jelek. Aku bahkan pernah membayar dua kali lipat wanita malam, karena mereka menolak tidur bersamaku." Hiro melanjutkan kembali tawanya.


"Kau pasti bercanda. Bukankah jika uangnya banyak, para wanita tidak akan peduli dengan tampilan seseorang?" imbuh Shima, perlahan ikut terkekeh.

__ADS_1


"Entahlah. Tetapi dahulu itu tidak berlaku kepadaku." Hiro menjawab santai.


Dari kejauhan terlihat Hana yang tengah mengenakan seragam sekolah. Dia mengangkat dagunya sekali, saat menyaksikan kemunculan Hiro dan Shima.


__ADS_2